
“ Sudah mau pulang dok.?” Tegur salah seorang perawat pada Qania yang baru saja keluar dari ruangannya.
“ Iya, tapi nanti malam harus lembur lagi nih.” Balas Qania tersenyum simpul.
“ Semangat ya dok.” Lanjut perawat tadi dan segera pergi meninggalkannya.
Qania pun berjalan keluar rumah sakit sambil tersenyum setiap kali ada yang menyapanya. Dan saat melewati sebuah kaca besar yang menghubungkan taman rumah sakit, langkahnya tiba-tiba berhenti.
“ Arkana dan Jingga.?” Ucap Qania yag memperhatikan dua insan yang sedang asyik mengobrol diluar sana.
“ Sepertinya Arkana memang sudah berubah, kelihatannya dia sayang banget sama Jingga.”
Sementara itu diluar sana Arkana tampak memainkan perannya dengan sangat baik, dia berhasil menarik perhatian semua orang bahwa dirinya adalah suami yang sangat perhatian.
Jingga memperhatikan Arkana dengan tatapan sayu, dia berharap sikap palsu Arkana ini akan selalu ada meskipun bukan di tempat umum sekalipun.
“ Kamu capek ya? Kita kembali ke kamar sekarang yuk.” Ajak Arkana yang kemudian di balas anggukan pelan dari Jingga.
**
Setelah empat hari di rawat, akhirnya Jingga sudah boleh pulang ke rumah. Biasanya orang-orang akan senang jika waktunya untuk pulang, namun tidak dengan Jingga yang dimana dia pasti akan merasakan kehidupan yang tidak di sukainya di rumah.
Selama di rumah sakit sikap Arkana sangat perhatian dan penuh kasih sayang, dia bertingkah seperti seorang suami siap siaga. Dimana pun Jingga berada maka disana juga akan ada Arkana.
Kepulangan Jingga saat itu di temani oleh mama Widya, mereka bertiga pulang di antar bersama supir mama Widya ke rumah mereka. Dan setibanya disana, Jingga langsung di bawa oleh Arkana ke kamarnya sampai mama Widya nanti pergi.
“ Ingat pesan dokter ya, jaga kesehatan kamu mulai dari sekarang.” Lontar mama Widya.
“ Mama nggak perlu khawatir soal itu, suamiku kan seorang dokter. Dia pasti tahu cara merawatku dengan baik.” Jawab Jingga.
“ Mama percayakan semuanya sama kamu ya Arka.” Sambung mama Widya di balas anggukan pelan dari Arkana.
“ Oh iya ma, aku mau minta tolong Sesutu sama mama.” Sahut Jingga.
“ Apa itu sayang.?”
“ Mama mau kan urus bisnis papa mama aku? Aku nggak tahu harus menyerahkannya pada siapa selain mama, om dan tante sudah di penjara dan semua bisnis papa mama pasti terbengkalai.”
__ADS_1
“ Kamu tenang saja, mama yang akan mengurusnya. “
“ Terima kasih ma, aku sangat bersyukur ada mama yang bisa ku andalkan.”
“ Kamu hanya perlu duduk manis, soal bisnis itu adalah keahlian mama.”
Jingga benar-benar merasa tenang sekarang, dia tidak perlu khawatir lagi dengan bisnis keluarganya karena sudah ada mama Widya yang dapat mengatur semua itu.
**
Sore itu Jingga dan Arkana sedang menikmati secangkir teh hangat di ruang keluarga, Arkana sibuk membaca buku sedangkan Jingga hanya menemaninya disana.
Kemudian bi Salma muncul dari arah luar yang memberitahu Jingga bahwa ada tamu diluar sana, Jingga bertanya siapa tamu yang datang dan bi Salma menjawab kalau tamu tersebut adalah Diana.
Mendengar nama Diana lantas membuat Arkana segera beranjak dari ruangan itu, dia mengancam Jingga untuk tidak memberitahu keberadaannya di rumah.
“ Baik mas, aku nggak akan kasih tahu Diana kalau kamu ada di rumah.” Jawab Jingga.
Arkana pun bergegas masuk ke dalam kamarnya, dia sudah tidak ingin bertemu dengan wanita itu lagi setelah sebelumnya di buat kesal oleh wanita itu.
“ Jingga, kamu kok nggak kasih tahu aku kalau kamu masuk rumah sakit kemarin.?” Diana yang baru saja masuk di ruang tamu langsung memeluk Jingga dengan khawatir.
“ Kalau saja aku nggak mampir hari ini, aku nggak tahu loh kalau kamu sakit. Barusan di luar satpam rumah ini bilang kalau kamu habis sakit, dan aku khawatir banget tahu.”
“ Maaf..maaf, tapi sekarang aku udah mendingan kok.”
Mereka akhirnya duduk di atas sofa, kemudian bi Salma keluar membawa minuman serta cemilan untuk mereka berdua.
“ Jadi kenapa kamu bisa masuk rumah sakit.?” Tanya Diana penasaran.
Karena Diana bukan orang asing bagi Jingga, dia pun menceritakan soal kejahatan om dan tantenya. Sebagai teman Jingga, tentu Diana juga mengenal keduanya dan sangat marah saat mendengar Jingga di perlakukan seperti itu.
“ Tapi syukurlah mereka mendapat balasan atas perbuatan mereka itu.” Lontar Diana merasa puas.
“ Suami kamu mana? “ Tanya Diana kemudian.
“ Mas Arka sedang keluar, dia ada urusan penting katanya.” Balas Jingga.
Sementara itu di dalam kamar, Arkana sedang memantau monitor cctv dimana dia memperhatikan Jingga dan Diana. Keduanya tampak sangat asyik mengobrol, dan melihat dari suasananya sepertinya Diana akan lama di rumahnya.
__ADS_1
“ Wanita itu selalu saja menjadi pengganggu.” Ucap Arkana meletakkan remot monitor dan berjalan menuju tempat tidurnya.
**
Jingga baru saja selesai mengantar Diana keluar, wanita itu bertamu sangat lama sampai malam tiba. Hal itu sudah membuat Jingga memikirkan nasib Arkana yang sejak tadi mengurung diri di dalam kamarnya.
Para pembantu juga sudah pamit pulang dan yang tersisa hanya pak Hasan, Jingga pun masuk ke dalam rumah untuk memanggil Arkana makan malam bersama.
Tok..tok..tok…
“ Mas, makan yuk.” Ajak Jingga di depan pintu kamar Arkana.
Karena tak ada suara dari dalam akhirnya Jingga kembali mengetuk pintu kamar itu, cukup lama hingga akhirnya seseorang membuka pintu dan membuat Jingga melihat sosoknya.
Jingga terkejut saat melihat penampilan Arkana yang hanya menggunakan celana pendek tanpa sehelai baju, melihat rambutnya yang masih basah menandakan bahwa dirinya baru saja selesai mandi.
“ Ada apa? “ Tanya Arkana dengan nada yang jutek.
“ Aku mau ngajak kamu makan malam.” Jawabnya tak berani menatap ke atas.
“ Dimana temanmu.?”
“ Dia sudah pulang.”
“ Lain kali kalau mau bertamu suruh bilang dulu, aku nggak suka sama teman kamu itu.”
“ Aku juga nggak tahu mas kalau dia mau datang, hp ku hilang jadi aku nggak bisa menghubunginya.”
“ Besok beli hp baru, jadi kamu bisa menghubungi dia untuk tidak datang ke rumah saat aku lagi di rumah.”
“ Iya mas, aku akan beli hp besok.” Kata Jingga patuh.
Arkana baru saja hendak menutup pintu kamarnya lagi, namun Jingga sempat menahannya.
“ Kok di tutup lagi.?”
“ Aku mau pakai baju dulu, kamu mau aku makan malam nggak pakai baju.?”
Ekspresi malu Jingga terlihat begitu jelas sampai membuatnya segera menoleh, dia benar-benar tidak terbiasa dengan penampilan Arkana yang seperti itu. Jantungnya terus berdegup kencang, tubuh Arkana memang sangat bagus dan siapapun pasti akan terpesona melihatnya.
__ADS_1