
Keesokan harinya, Jingga sudah merasa lebih sehat dan bisa menikmati waktu bersama Arkana dengan baik. Keduanya meninggalkan hotel menuju Chiang Mai, disana mereka akan mengeksplor lebih banyak tempat wisata yang tak kalah dari di Bangkok.
Chiang Mai sendiri merupakan kota kedua terbesar yang ada di Thailand, dan sebenarnya sejak awal Arkana memang ingin ke Chiang Mai dan bukannya Bangkok.
Setibanya disana mereka langsung pergi ke taman nasional Doi Inthanon, taman nasional ini merupakan pegunungan tertinggi di Thailand. Daya tarik lainnya adalah tempat itu di kelilingi oleh pemandangan gunung yang cantik.
Pemandangan elok dari area taman dan dua kuil kembar yang indah terdapat di sana, puncak Doi Inthanon merupakan tempat yang paling populer di taman terutama menyaksikan matahari terbit. Tapi karena mereka berkunjung di waktu sore, mereka hanya bisa melihat senja yang membuat Jingga terlihat begitu senang menyaksikannya.
Tak lupa mereka berdua berfoto yang nantinya akan Arkana publish supaya orang lain bisa melihatnya, keduanya memang terlihat mesra di foto namun setelah itu mereka bersikap seolah-olah tidak saling tertarik satu sama lain.
Setelah puas menikmati wisata tersebut, keduanya memutuskan kembali ke hotel untuk istirahat dan di lanjutkan besok. Rencananya besok mereka akan ke pantai, kebetulan pantai dengan hotel tempat mereka menginap cukup dekat sehingga mereka bisa ke sana pagi-pagi.
**
Di hotel ini mereka mengambil dua kamar yang berbeda namun masih bersebelahan, Jingga masuk ke dalam kamarnya dan mulai menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Hari ini cukup melelahkan yang membuatnya merasa mengantuk, sudah waktunya untuk makan malam tapi dia merasa tidak lapar. Dan pada akhirnya Jingga menutup kedua matanya, dia hanya ingin tidur sekarang.
Sementara itu, di kamar sebelah. Arkana baru selesai mandi dan mengganti pakaian yang lebih santai, dia sudah menghubungi pihak hotel untuk membawa makanan masuk ke dalam kamar mereka masing-masing saja agar tidak repot keluar kamar lagi.
Arkana menikmati makan malamnya sambil mengecek ponselnya, dia terlihat bersemangat saat banyak yang mengomentari postingannya dengan kalimat yang menyebutkan bahwa dia adalah suami yang baik.
Ada alasan di balik semua ini, tak hanya untuk membuar mereka mengira bahwa dia adalah suami yang baik. Melainkan untuk membuat seseorang cemburu, namun sayangnya sejak awal dia tidak melihat ada respon apapun dari orang itu. Dia bahkan tidak melihat postingan tersebut, baik di story instagram maupun whatsapp.
Sebaliknya dia terus memantau Qania di instagram, terlihat postingan terakhir Qania dimana dia dan Aizen sedang mengunjungi salah satu panti asuhan dalam rangka kunjungan dokter di rumah sakit bintang harapan ke beberapa panti asuhan.
“ Memangnya cuma kamu yang bisa senang-senang, aku juga bisa.” Arkana kesal dan membuang ponselnya ke atas tempat tidur.
**
__ADS_1
Tiba di pantai keesokan paginya membuat Arkana tak sabar untuk segera mencoba banana boat, sayangnya Jingga tidak bisa ikut karena sedang hamil. Dia pun duduk di tepi pantai menunggu Arkana bersenang-senang sendirian, meskipun dia sendirian terlihat membuatnya begitu bersemangat.
Jingga menikmati air kelapa muda sambil duduk di atas sebuah kursi kayu, pemandangan pantai di pagi ini sangat cerah dan tidak begitu panas. Banyak wisatawan asing yang juga datang untuk bersenang-senang, mereka datang bersama keluarga dan orang terkasih yang sempat menarik perhatian Jingga.
“ Hello, excuse me.” Seseorang baru saja menegur Jingga yang membuatnya langsung menoleh ke arahnya.
“ ??? “ Jingga menatapnya bingung setelah pria di depannya merunduk sedikit menyamakan tinggi mereka.
“ Do you speak English.?” Tanya pria itu.
“ Yes.” Balas Jingga lirih.
“ My name is Brian and Im a photographer. So, you look so gorgeous with white dress. Can I take some picture of you please.”
Jingga merasa kurang percaya diri dengan permintaan pria itu, dia bahkan terlihat sangat sederhana dengan tampilannya sekarang. Namun karena pria itu tampak sangat sopan dan baik padanya, dia pun tidak bisa menolak.
“ Ok, sure.”
Jingga dan pria itu pun segera menuju satu tempat yang bagus untuk mengambil foto Jingga. Tanpa perlu arahan dalam berpose nampaknya Jingga berhasil membuat pria itu tak salah memilihnya sebagai objek, tiap pose yang di lakukan oleh Jingga menghasilkan gambar yang sangat menakjubkan.
Pria itu telah selesai mengabadikannya dalam beberapa gambar, kemudian dia memperlihatkan hasilnya kepada Jingga. Dia juga memberikan hasil yang dia cetak langsung dengan sebuah printer mini yang dia bawa kemana-mana.
Pria itu berkata bahwa foto Jingga akan dia unggah pada akun instagramnya, dan Jingga menyetujuinya begitu saja. Setelah itu dia kembali ke tempatnya semula sambil memperhatikan fotonya dengan senyum yang merekah.
“ Siapa pria itu.?” Rupanya Arkana baru saja kembali dari pantai, dia terlihat basah setelah habis berenang.
Jingga kemudian mengambil handuk kering yang dia berikan untuk Arkana, pertanyaan Arkana barusan belum di jawab yang membuat Arkana kembali mengulang pertanyaannya.
“ Dia fotografer, barusan dia ngambil fotoku. Ini hasilnya.” Jingga memperlihatkannya papa Arkana sebentar.
“ Dia orang asing, jangan sembarangan berinteraksi dengan mereka.”
“ Tapi dia kelihatan baik kok.”
__ADS_1
“ Orang yang kelihatan baik belum tentu baik, begitu pun sebaliknya.”
Jingga tertegun saat Arkana baru saja mengatakannya, entah mengapa Jingga berpikir bahwa saat itu dia sedang membicarakan dirinya sendiri.
“ Habis ini kita mau kemana mas.?” Tanya Jingga kemudian.
“ Kalau kamu, mau kemana setelah ini.?” Arkana balik bertanya padanya.
“ Aku sih terserah kamu aja.” Balas Jingga.
“ Kamu nggak mau datang ke tempat yang kamu mau emangnya.?”
“ Ada sih, tapi kamu pasti nggak mau.”
“ Kemana emangnya.?”
**
Di sinilah mereka sekarang, Arkana tiba di satu wisata yang banyak di kunjungi oleh turis seperti mereka. Namanya adalah Elephant Camp, dimana tempat ini merupakan sebuah tempat yang akan membuat pengunjung dapat berinteraksi dengan para gajah yang ada disana.
Para pengunjung dapat memberi makan, menunggangi gajah, memandikan gajah, bahkan menyaksikan atraksi dari gajah yang sudah terlatih oleh para pawing gajah sebelumnya.
“ Kenapa kita harus kesini.?” Ucap Arkana tampak tak bersemangat.
“ Kamu bilang terserah aku mau kemana.” Lirik Jingga tersenyum simpul melihat ekspresi Arkana saat ini.
“ Tapi bukan lihat gajah juga.”
“ Memangnya kenapa? atau jangan-jangan kamu takut gajah ya.?”
Arkana menyangkal bahwa dia takut dengan gajah, namun saat itu ada seekor gajah yang mendekati mereka dan sukses membuat Arkana melarikan diri darinya.
Jingga pun tertawa melihat tingkah lucu Arkana, dia tidak menyangka kalau suaminya itu takut dengan seekor gajah. Sebaliknya, Jingga terlihat berani memberikan gajah itu makanan dan memamerkannya pada Arkana.
__ADS_1
“ Mereka nggak ngegigit kok.” Sahut Jingga.
“ Nggak, Kamu nggak jijik sama belalainya yang panjang itu?” Balas Arkana masih menjaga jarak dengan gajah-gajah tersebut.