
Anak itu di tarik paksa oleh mamanya ke dalam sebuah kamar mandi, dia di dorong dengan kasar yang kemudian di siram oleh air dingin. Dia sudah memohon ampun tapi mamanya tidak mendengarkan, dia tetap di siram hingga dia kesulitan untuk bernafas.
“ Ma.., Arka minta maaf.”
“ Anak pembawa sial, karena kamu semuanya jadi kaya gini. Kalau aja dulu mama nggak ngelahirin kamu, semuanya nggak akan jadi begini.”
Arkana di tarik yang kemudian di cekik dengan kuat oleh mama Widya, cekikannya semakin kuat hingga dia semakin sulit bernafas. Saat itu Arkana sangat takut dirinya akan mati, tapi di usianya yang begitu muda dia juga ingin mati cepat agar penderitaan yang dia alami semakin berkurang.
“ Mati saja kau dasar anak pembawa sial.”
Arkana tersadar dari tidurnya dan langsung bangun saat itu juga, dia merasa sesak yang membuatnya masih merasakan mimpi buruk itu. Tubuhnya bergetar dan penuh keringat dingin, dia berusaha mengatur nafasnya namun rasanya sangat sesak.
“ Obat.” Arkana mencoba membuka laci meja di samping tempat tidur, di sana ada beberapa obat anti depresan yang mampu membuatnya merasa lebih tenang.
Sudah lama Arkana tidak menggunakan obat itu, dan sekarang setelah dia selesai melakukan hipnoterapi hari ini. Semua ingatan buruk yang sempat dia lupakan kembali membekas di kepalanya, ketakutan itu menguasai dirinya dengan cepat hingga beberapa saat.
Obat yang dia minum berhasil membuatnya menjadi lebih tenang, tapi sekarang dia tidak bisa tidur. Dia beranjak dari kamarnya, kemudian dia menuju kamar Jingga.
Arkana menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur Jingga, dia merasakan aroma Jingga yang semakin menenangkannya. Bahkan sekarang dia bisa berhalusinasi kalau Jingga sedang berada di sampingnya, tangan lembut Jingga meraih wajahnya dan itu sangat menenangkan.
“ Aku kangen sama kamu.” Gumam Arkana sambil menitihkan air mata.
**
“ Nanti sore aku pulangnya agak telat, ada pasien yang harus di lihat. Nggak apa-apa kan pulangnya agak lambat.?” Ucap Aizen sambil berjalan beriringan dengan Qania.
“ Iya nggak apa-apa, yang penting habis itu kita langsung ke tempat yang kemarin aku bilang bagus.” Jawab Qania.
“ Siap bu bos, kemana pun ibu bos mau pergi akan saya antar.” Aizen membuat Qania tertawa dengan sikapnya yang selalu humoris.
Langkah Aizen dan Qania di buat berhenti saat mereka berdua mendengar ada keributan di kamar bangsal, saat di selidiki ternyata ada masalah yang terjadi disana.
__ADS_1
“ Ada apa Nis.?” Tanya Qania.
“ Dokter Arka buat kesalahan dok, harusnya pasien mendapat suntikan dengan dosis yang sedikit, tapi dia memberikan dosis yang berlebihan. “ Jelas Nisa.
Qania tidak pernah melihat Arkana sampai teledor seperti itu, dan ketika dia melihat Arkana dari dekat, tampak tangan Arkana bergetar dengan hebat. Saat itu Aizen bertindak cepat untuk menggantikan Arkana, dia juga menyuruh Qania untuk membawa Arkana pergi dari tempat itu setelah dia selesai meminta maaf pada pasien dan keluarganya.
**
“ Ada apa Ar? Kamu nggak pernah kaya gini sebelumnya.” Ucap Qania saat mereka sudah berada di tempat yang lebih tenang.
“ Kamu nggak usah peduli sama aku lagi, seharusnya kamu tinggalin aku sendirian.” Balas Arkana lirih.
“ Kamu itu kalau sudah kaya gini nggak boleh di biarin sendiri, kalau ada sesuatu kamu boleh cerita sama aku kok.”
“ Aku nggak butuh.”
“ Kalau Jingga gimana.?”
Arkana menoleh dengan ekspresi yang membuat Qania cukup terkejut, hanya dengan menyebut nama Jingga saja sudah berhasil membuat Arkana seperti itu.
“ Kamu yakin udah minta maaf yang benar sama dia?”
“ Maksud kamu.?”
“ Tentang semua yang kamu lakukan sama dia, seharusnya kamu meminta maaf dengan benar. Mungkin Jingga bisa memaafkan kamu, pasti belum kamu coba kan.?”
“ Bagaimana mau minta maaf kalau nomorku di block, aku nggak bisa datang kesana, semua akses ku terputus. “
“ Kamu mau aku bantu.?” Tawar Qania kemudian.
“ Bantu aku? Buat ketemu sama dia.?” Arkana melirik Qania dengan penasaran.
**
Jingga sudah tiba di lokasi tempat dimana dia dan Qania membuat janji sore ini, Jingga tiba sedikit lebih awal karena dia tidak memiliki kesibukan yang penting di rumah. Beruntung dia di izinkan pergi oleh mama Widya, dan sekarang Jingga sedang mencari tempat duduk yang bagus untuknya menunggu sampai wanita itu datang.
__ADS_1
Diluar sana tampak mendung dan mungkin akan turun hujan sebentar lagi, Jingga belum memesan apapun karena ingin menunggu Qania datang terlebih dulu.
“ Jingga.” Suara yang tak asing itu baru saja membuat Jingga terkejut dan langsung menoleh ke belakang.
“ Mas Arka? Kamu ngapain disini.?” Sahut Jingga kaget.
Arkana tidak menjawab dan langsung duduk di hadapan Jingga, karena tak ingin meladeni Arkana akhirnya membuat Jingga segera beranjak dari sana.
“ Jangan pergi dulu.” Arkana menahan lengan Jingga untuk tidak pergi.
“ Kenapa? aku nggak ada urusan sama kamu disini.” Jawab Jingga ketus.
“ Di luar hujan, kamu disini aja dulu.” Jingga melirik keluar yang ternyata hujan sudah turun mengguyur kota Jakarta.
Arkana melepaskan tangannya setelah Jingga tidak beraniat untuk pergi, karena terpaksa Jingga pun kembali duduk. Dia mengecek ponselnya dan melihat pesan dari Qania yang berbunyi.
“ Arka mau ngomong serius sama kamu, jadi tolong dengar apa yang ingin dia bilang. Maaf sudah bohong, aku mau kalian baikan.” Qania.
Sekarang Jingga sudah tahu alasan dirinya di panggil keluar, dan sekarang dia menatap Arkana yang juga menatapnya dengan tatapan yang belum pernah Jingga lihat sebelumnya.
Jingga melirik cincin yang tersemat di jari Arkana, dia jarang memakainya dulu tapi sekarang cincin itu tidak pernah lepas dari sana. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah berat badan Arkana yang terlihat turun drastis, wajahnya cukup tirus tidak seperti dulu.
“ Kamu mau ngomong apalagi mas.?” Jingga pun memulai obrolan mereka hari ini.
“ Aku mau minta maaf sama kamu, aku nggak tahu harus apa lagi. Dan aku tahu semua adalah kesalahanku, dan aku benci sudah membuatmu sakit selama ini. Aku benar-benar menyesal, aku minta maaf.” Ucap Arkana yang tak dapat menahan emosinya hingga dia tidak bisa menatap Jingga sekarang.
“ Kenapa baru sekarang? Kenapa kamu tiba-tiba jadi kaya gini.?” Tanya Jingga.
“ Karena aku cinta sama kamu, aku nggak bohong dengan perasaanku sekarang. Memang benar kalau di awal aku nggak ada rasa apa-apa sama kamu, sejak kita di jodohkan aku nggak pernah tertarik sama kamu. Tapi setelah kita menghabiskan waktu bersama, aku sadar kalau ternyata aku salah menganggapmu tidak berarti.”
“ Aku senang saat bersamamu, kebersamaan kita di Thailand, Madrid, dan di setiap kebersamaan yang pernah kita lakukan semuanya membuatku senang. Aku nggak bisa berhenti mikirin kamu, aku sayang sama kamu Jingga.” Ungkap Arkana dengan sungguh-sungguh.
“ Tapi aku nggak pernah cinta sama kamu mas.” Balas Jingga dengan tatapan datar.
“ Tolong, kasih aku satu kesempatan. Satu kali saja, dan kalau pun aku gagal membuat kamu cinta sama aku, itu hak kamu untuk pergi dari aku.” Pinta Arkana dengan sangat.
__ADS_1