
Pagi itu Jingga baru saja selesai keramas, dia berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil baju yang akan dia kenakan hari ini. Arkana sudah pergi ke tempat prakteknya beberapa menit yang lalu, Keenan masih tidur sehingga dia bisa menggunakan waktu senggangnya untuk bersih-bersih diri.
Untuk kebersihan rumah biasanya mereka hanya memanggil jasa pembersih yang datang setiap hari, setelah membersihkan mereka akan pulang sehingga Jingga tidak perlu repot-repot lagi dalam membersihkan rumah.
Jingga telah selesai mengenakan baju santainya, dan sekarang dia menatap wajahnya di depan cermin sambil tersenyum manis. Kejadian semalam dengan suaminya masih terbayang-bayang di memorinya, hal itu sampai membuatnya salah tingkah.
Di halaman rumah mereka sudah ada mobil pemberian Arkana, dan kuncinya di simpan Jingga baik-baik di dalam laci meja. Dia perlu melatih dirinya mengendarai mobil lagi agar tidak kaku saat mencoba mobil pemberian Arkana itu.
Suara ponselnya baru saja berdering menandakan ada panggilan yang masuk, Jingga melihat nama Diana disana dan langsung menjawabnya tanpa menunda-nunda.
“ Halo, kamu kenapa telpon pagi-pagi.?”
“ Kirim alamat kamu sekarang.”
“ Alamat rumahku? Buat apa.?”
“ Aku lagi di Singapura, mau mampir ke rumah kamu.”
“ Serius? Ya udah aku kirim alamatnya lewat pesan ya.”
Setelah panggilan berakhir, Jingga pun langsung mengirimkan alamat lengkapnya kepada Diana. Mendengar sahabatnya datang ke Singapura sungguh membuat perasaannya senang, sudah cukup lama juga mereka tidak berjumpa.
Saat Jingga pergi, terlihat Diana denagn cepat membuka ponsel Jingga dan melakukan sesuatu yang dia ingin lakukan. Tak cukup lama sampai akhirnya dia meletakkan ponsel itu kembali dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
**
Diana benar-benar datang ke rumah Jingga seperti yang dia katakan, dua sahabat itu langsung berseru gembira ketika mereka telah bertemu. Jingga sangat merindukan Diana, begitu pun dengan Diana yang hampir gila karena tidak memiliki teman dekat lagi di Jakarta.
“ Keenan mana.?”
“ Dia masih tidur.”
“ Suami kamu.?”
“ Kerja, sekarang mas Arka sudah punya tempat praktek sendiri di kota.”
“ Gimana hidup di Singapura? Kamu happy nggak.?” Tanya Diana.
“ Happy banget, selama disini aku merasa bahagia dan nggak pernah sedih lagi. Mas Arka juga cinta dan sayang banget sama aku dan Keenan, apapun yang aku mau pasti akan di kasih secepat mungkin.” Jelas Jingga dengan penuh bahagia.
__ADS_1
“ Syukurlah, aku senang mendengarnya.” Balas Diana sambil tersenyum simpul.
“ Btw, kamu ada acara apa ke sini? “ Tanya Jingga yang masih penasaran mengapa Diana bisa ada di Singapura.
“ Aku ada urusan disini, jadi aku mau mampir sebelum menyelesaikan urusanku.” Jawabnya kemudian.
“ Urusan apa.?”
“ Ada deh pokoknya.”
“ Ih, bikin kepo aja.”
“ Aku haus, kamu nggak mau kasih aku minum dulu.?” Seloroh Diana seketika membuat Jingga sadar dan bergegas menuju dapur.
“ Eh, bentar. Aku mau pinjem hp kamu bentar.” Sahut Diana cepat.
“ Hp aku? Buat apa.?”
“ Aku mau minta nomor Qania.”
Jingga langsung memberikan ponselnya kepada Diana tanpa menaruh rasa curiga sama sekali, kemudian dia beranjak menuju dapur untuk membuatkan Diana minuman.
**
Jingga naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh Arkana dengan manja, hal itu membuat Arkana sampai kehilangan fokus dalam bacaannya. Dia meletakkan bukunya di atas meja dan merangkul istrinya dengan penuh kasih.
“ Keenan nggak rewel lagi kan.?” Tanya Arkana setelah mengecup kening Jingga.
“ Nggak dong, sekarang dia makin pintar, aku senang deh lihat anakku tumbuh dengan baik.” Jawab Jingga.
“ Siapa dulu dong papanya.” Ucap Arkana dengan sombong.
“ Siapa dulu dong mamanya.” Balas Jingga tak mau kalah.
Dering ponsel yang nyaring berhasil mengusik mereka berdua, Jingga dan Arkana kompak melirik ke atas nakas dimana salah satu ponsel disana sedang menunjukkan panggilan masuk dari nomor yang tidak di ketahui.
Arkana meraih ponsel itu dan menatapnya bingung, kemudian dia melirik Jingga dengan tatapan penasaran. Jingga sendiri tidak mengenal nomor itu dan berkata kepada Arkana bahwa dia benar-benar tidak tahu siapa itu.
“ Udah, nggak usah di jawab.” Kata Jingga menyuruh Arkana untuk menyimpan ponsel itu kembali.
Arkana memang merijectnya sekali, dan setelah itu panggilan kedua kembali datang. Arkana yang kesal langsung menjawabnya tanpa waktu lama.
__ADS_1
“ Halo, ini siapa ya.?” Tanya Arkana dengan nada yang tegas.
“ Jingganya ada.?”
Mendengar suara seorang laki-laki lantas membuat Arkana menoleh ke Jingga, mode speaker pun di aktifkan sehingga Jingga juga bisa mendengar suara dari si penelpon.
“ Maaf, ini siapa ya.?” Tanya Jingga penasaran.
“ Ini aku, Erwin.” Jawabnya sontak membuat Jingga dan Arkana kembali saling melihat satu sama lain.
“ Kamu nomor baru.?” Tanya Jingga.
“ Sebaliknya aku yang tanya ke kamu, nomorku kamu blokir ya? Kok aku susah banget hubungin kamu.?”
“ Nggak kok, nomor kamu nggak aku blokir.”
“ Lupakan saja, aku mau tanya sama kamu. Apa Diana datang menemuimu hari ini? maksudku, apa dia ada di Singapura sekarang.?”
Jingga terdiam sejenak, dia mulai memikirkan sesuatu yang cukup mengganggunya. Awalnya kedatangan Diana memang sangat aneh, dari ekspresinya saja sudah dapat di tebak kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu.
“ Nggak ada, Diana nggak ada datang ke sini. Memangnya ada apa ya.?”
“ Dia tiba-tiba aja menghilang, sulit di hubungin, aku nggak tahu dimana dia sekarang.”
“ Ya udah nanti biar aku bantuin, kalau aku udah dapat kabar dari Diana, aku pasti kabarin ke kamu kok.”
“ Terima kasih ya Jingga, maaf sudah mengganggu waktu kamu dan suami.”
Panggilan Erwin baru saja berakhir, Arkana menatap wajah istrinya menunggu penjelasan dari Jingga yang telah berbohong kepada Erwin barusan.
“ Kayaknya Diana dan Erwin lagi ada masalah deh, aku nggak bisa kasih tahu Erwin kalau Diana ada disini. Aku mau kabarin Diana dulu, aku kenal Diana dan dia pasti marah sama aku kalau aku kasih tahu ke Erwin tentang keberadaannya disini.” Jelas Jingga.
“ Erwin pasti khawatir, seenggaknya dia tahu kalau Diana baik-baik aja.” Ucap Arkana merasa paham bagaimana perasaan Erwin sekarang.
“ Aku mau cari tahu dulu apa yang terjadi di antara mereka, lagi pula ini bukan urusan kita mas. Aku nggak mau terlalu terlibat.” Sambung Jingga.
“ Ya udah, besok kamu temuin Diana lagi. Suruh dia buat jelasin semuanya, jangan sampai kamu dapat masalah karena hubungan mereka berdua.”
“ Iya mas, kamu jangan ngambek gitu dong. Ayo senyum.” Jingga menarik bibir Arkana untuk tersenyum kepadanya, namun sayangnya Arkana balas mencium Jingga dengan cepat sampai membuat wanita itu tertawa geli karena perbuatan suaminya.
__ADS_1