Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Usaha Untuk Mengingatmu


__ADS_3


Jingga meraih ponsel yang di katakan Arkana barusan adalah miliknya, saat dia menyentuh layarnya dan menunjukkan foto seorang anak laki-laki yang adalah Keenan, dirinya langsung terdiam dan menatapnya cukup lama.


Jika di perhatikan lebih seksama, antara Keenan dan Arkana bagaikan pinang di belah dua. Keduanya sangat mirip satu sama lain sehingga tidak mungkin jika Keenan bukanlah anak dari Arkana.


Meski begitu masih ada keraguan dalam diri Jingga kalau dia telah melahirkan anak setampan itu, dan kemudian dia membuka ponsel itu dan menemukan galeri foto untuk mengecek foto dan video lain.


Ada begiti banyak foto Keenan dari waktu ke waktu, sejak bayi hingga saat ini. Dan tak hanya itu saja, ada foto ketika dia dan Arkana sedang menikmati makan malam berdua di sebuah resto mewah, dan foto-foto lain serta video yang memberikan bukti kuat bahwa kehidupan Jingga sebelumnya memang sebahagia itu.


“ Ini aneh, pikiranku selalu menyangkal, tapi hatiku berkata lain. Apa yang seharusnya ku lakukan sekarang.?” Benak Jingga sambil menggenggam erat ponselnya saat ini.


**


Jingga sudah dapat keluar dari rumah sakit keesokan harinya, dia menerima pulang ke rumah dimana tempatnya tinggal selama ini. Namun semua masih terasa begitu asing, semua hal yang terjadi lima tahun terakhir masih begitu baru dan tidak di kenalinya sama sekali.


Saat tiba di rumah pun dia terlihat ragu untuk melangkah masuk ke dalam, sementara di dalam rumah sudah ada Widya, Hendra, dan Keenan yang menunggu kedatangan mereka.


“ Kamu boleh langsung masuk ke dalam, ini rumah kamu juga.” Sahut Arkana yang tetap menjaga jarak dari Jingga.


Jingga pun melangkah memasuki rumah itu, dia di sambut oleh sebuah foto besar yang di pajang di ruang tamu. Foto-foto ketika dia dan Arkana melangsungkan pre wedding kedua, foto keluarga besar, dan foto bersama Keenan juga terpajang disana.


Jingga menatapnya dengan tatapan sayu, sampai teriakan Keenan yang menyebutnya sebagai mama kembali membuat Jingga menoleh. Kali ini dia menyambut Keenan dengan baik, dia menyentuh kepala Keenan lembut sambil tersenyum ke arah anak itu.


“ Mama pulang, aku senang melihat mama akhirnya pulang.” Seru Keenan menatap Jingga penuh bahagia.


“ Mama juga.” Balas Jingga meski dengan terpaksa karena tak ingin membuat hati Keenan terluka.


“ Ayo masuk nak, mama sudah buatin makanan buat kamu dan Arka.” Sahut mama Widya yang ikut menyambutnya dengan ramah.


Jingga mungkin merasa asing dengan semuanya, tapi ada kenyamanan yang dia rasakan setiap berada di dekat mereka. Dia berusaha menerima dan memahami keadaan meski sedikit terpaksa, dan beruntung Arkana tetap menjaga jarak karena yang paling membuat Jingga risih saat ini hanyalah Arkana seorang.

__ADS_1


Siang itu mereka menikmati masakan mama Widya yang telah di siapkan dengan penuh cinta sebelumnya, Jingga duduk di sebelah Keenan dan mama Widya. Sedangkan Arkana duduk di sudut tepat sebelah papa Hendra.


Setelah menikmati makan siang bersama, Keenan meminta Jingga untuk menemaninya tidur siang. Jingga menurut dan segera menuju kamar Keenan, keduanya pergi meninggalkan Arkana bersama orang tuanya.


“ Ar, apa kamu bisa mengatasi semuanya sendiri? “ tanya papa Hendra.


“ Akan aku usahakan pa, aku sudah sering bantu pasien yang mengalami amnesia. Jadi papa jangan khawatir soal itu.” Balas Arkana lirih.


**


Perlahan namun pasti, Jingga mulai membuka kedua matanya. Hal pertama yang dia lihat saat ini adalah wajah tampan anak laki-laki berusia lima tahun di depannya, sedang terlelap sambil memegang telapak tangannya meski tidak erat.


“ Dia benar-benar anakku? Wajahnya sangat manis dan tampan.” Benak Jingga sambil menyibakkan rambut Keenan yang di lihatnya sudah memanjang.


“ Aku harus membuat ingatanku kembali dengan cepat, kalau benar semua ini nyata, aku juga ingin merasakan kebahagiaannya.”


Pelan-pelan Jingga melepaskan Keenan dari genggamannya, kemudian dia turun dan merapihkan selimut yang di gunakan anaknya. Jingga sadar kalau sekarang sudah sore dan dia ketiduran saat menemani Keenan tidur siang.


Jingga membuka pintu kamar itu secara perlahan dan melihat ke dalam sana, dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Arkana. Kamar itu masih sangat dingin dan asing, bahkan saat Jingga sudah masuk dan duduk di atas tempat tidur ukuran king size itu.


“ Kamarku? Dengan mas Arka.?”


Sekali lagi Jingga melihat ada sebuah bingkai foto di atas nakas, foto dia dan Arkana saat menikah. Jingga ingat bahwa foto pernikahan mereka sebelumnya tidak seperti itu, tapi kenapa semuanya berubah? Senyum Arkana dan senyumannya terlihat tulus dan bahagia.


Pintu kamar mandi baru saja terbuka dan memunculkan Arkana yang keluar dengan balutan handuk menutupi bagian bawahnya, Jingga terdiam sejenak ketika melihat Arkana yang setengah telanjang dan langsung mengalihkan wajahnya dengan malu.


“ Maaf, aku nggak tahu kamu ada di dalam.” Jingga berusaha pergi, namun di tahan oleh Arkana.


“ Kamu nggak usah pergi, biar aku aja yang keluar.” Arkana meraih pakaiannya dengan cepat dan membawanya keluar dari kamar agar Jingga bisa menggunakan kamar itu dengan bebas.


Setelah Arkana keluar dari kamar, rasanya sangat aneh. Jingga merasa bahwa Arkana yang ada di ingatannya memang bukanlah Arkana yang sekarang.

__ADS_1


**


Keesokan paginya, ketika Jingga terbangun dia tidak melihat siapapun di sampingnya. Itu artinya semalam Arkana tidak masuk ke dalam kamar, dan mungkin dia tidur di kamar Keenan semalam.


Jingga melirik jam yang menunjukkan pukul 10:00 pagi, dia terkejut dan bergegas keluar untuk melihat keadaan.


“ Kamu sudah bangun.?” Sahut mama Widya yang membuat Jingga mengira bahwa hanya dia satu-satunya yang ada di rumah itu.


“ Mas Arka kemana? “ Tanya Jingga penasaran.


“ Arkana pergi bekerja kalau Keenan sedang di sekolahnya, di rumah hanya ada mama dan papa.” Jawab mama Widya.


“ Keenan sekolah?”


“ Iya, dia sudah masuk playgroup. Kamu dan Arkana yang menemaninya kesana saat dia pertama kali masuk kan? Kamu bahkan kirim foto Keenan ke mama waktu itu.”


“ Aku nggak ingat ma.”


“ Iya nggak apa-apa, kamu makan dulu ya. Mama udah buatin sayur sop dan ayam goreng kesukaan kamu.” Ajaka mama Widya.


Jingga melangkah menuju ruang makan bersama mama Widya, dan disana juga sudah ada papa Hendra yang datang untuk menyampaikan sesuatu kepada Jingga.


“ Jingga, kami mau bicara hal serius. “ Sahut papa Hendra tiba-tiba.


“ Silahkan pa.” Balas Jingga pelan.


“ Besok, papa dan mama akan kembali ke Indonesia. Kami tidak bisa berlama-lama ada disini, kondisi kamu masih belum membaik. Mungkin kamu dan Arkana akan sangat sulit untuk bersama, tapi kamu bisa kan mengatasi semuanya tanpa ada kami.?”


“ Kalian nggak usah khawatir soal itu, sejak kemarin aku sudah memikirkannya. Aku akan berusaha sembuh, aku ingin mengingat semuanya lagi.” Balas Jingga sungguh-sungguh.


__ADS_1


__ADS_2