Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Menjauh


__ADS_3


Arkana baru saja tiba di butik Jingga setelah dia menyelesaikan pekerjaannya di klinik, pria itu turun dari mobilnya dan mendapati sebuah mobil yang asing tengah terparkir di depan butik Jingga.


Arkana memperhatikan mobil itu dengan penasaran, sampai dia berpikir bahwa mobil itu adalah milik pelanggan. Dan ketika Arkana masuk ke dalam, dia langsung di sambut oleh putranya dengan penuh ceria.


Namun Arkana di buat terkejut dengan keberadaan seorang pria yang duduk tak jauh dari Jingga berada, kemudian ada dua anak kembar yang tengah menatap Arkana sedikit takut.


“ Kamu kedatangan tamu.?” Tanya Arkana.


Jingga langsung berdiri dan mulai memperkenalkan Mike kepada Arkana, dia juga tak lupa memperkenalkan Daisy dan Lily kepada suaminya itu. Sekarang Arkana sudah mengenal Mike dari Jingga, dia mengira bahwa Mike adalah pelanggan ternyata bukan.


Tak banyak yang harus mereka bicarakan sore itu, Jingga harus segera ke rumah sakit untuk mengecek keadaannya. Sedangkan Keenan akan di jaga oleh Sofia selagi mereka pergi.


Mike dan kedua putrinya pun harus pulang, sebenarnya sejak tadi Mike hanya ingin mengantar Jingga dan Keenan. Tapi kedua putrinya tertarik dengan butik Jingga, sehingga mereka harus berada di butik sedikit lebih lama.


“ Kamu kelihatan akrab banget sama Mike, sejak kapan kalian kenal.?” Tanya Arkana saat mereka sudah meninggalkan butik.


“ Belum lama kok, waktu itu kita nggak sengaja ketemu di sekolahnya Keenan.” Jawab Jingga santai.


“ Kenapa bukan istrinya yang datang menemani anaknya sekolah.?”


“ Dia duda, istrinya meninggal setelah melahirkan.”


“ Duda? “ Arkana tampak terkejut setelah mendengarnya.


“ Iya, kasihan ya mas. Dia masih muda dan anaknya masih sangat kecil sudah di tinggal ibu mereka, aku nggak bisa bayangin kalau hal itu terjadi sama Keenan.”


“ Kamu jangan ngomong yang nggak-nggak. “


Jingga bisa berkata seperti itu karena dia tidak ingat kalau dulu nyawanya pun dalam bahaya saat melahirkan Keenan, tapi Arkana tidak ingin membahasnya kali ini. Yang mengganggu pikiran Arkana saat ini hanyalah pria bernama Mike itu, terlebih lagi statusnya yang ternyata adalah seorang duda beranak dua.


**


Sore itu Jingga telah selesai melakukan serangkaian pemeriksaan pada otaknya, dan dokter menjelaskan bahwa kondisi Jingga saat ini sedang stabil meskipun dirinya masih belum mengingat memorinya yang hilang.


Dokter juga menjelaskan bahwa benturan yang terjadi waktu itu mungkin sangat keras sehingga menggeser sebagian sarafnya, banyak kasus yang menyebutkan bahwa benturan kedua biasanya akan membuat ingatan kembali. Tapi tak ada yang menjamin akan hal itu, dan Arkana pun menentang jika Jingga harus mengalami benturan lagi.


“ Untuk sekarang, perbanyak melakukan sesuatu yang dulu sering di lakukan. Jauhkan dari hal yang membuatmu mudah marah dan emosi, rutin minum vitamin dan obat yang telah di berikan. Mungkin hanya itu saja untuk hari ini.” jelas dokter Steve.


“ Terima kasih banyak dok.” Kata Arkana dan Jingga kompak.


Setelah mereka selesai dengan pertemuan bersama dokter Steve, sekarang tiba waktunya mereka kembali ke butik untuk menjemput Keenan. Jingga berjalan sedikit di depan Arkana, dan terlihat Arkana yang memperhatikan istrinya dengan tatapan sendu.


“ Dokter Arka.” Suara itu baru saja membuat Arkana dan Jingga menoleh secara bersamaan.

__ADS_1


Tampak seorang wanita dengan seragam dokternya menghampiri Arkana dengan penuh senyuman, Jingga yang melihatnya merasa risih namun tetap memperhatikan wanita yang bahkan tidak menyapanya sama sekali.


“ Dokter ngapain disini? Jangan-jangan mau praktek di rumah sakit ini juga ya.?”


“ Nggak kok, saya habis antar istri periksa ke dokter Steve.”


“ Loh? Dokter Steve kan dokter bedah saraf sama kaya dokter Arka? Kenapa periksanya ke dia.?”


“ Ceritanya panjang, intinya dia harus di tangani oleh dokter Steve untuk sementara waktu.”


“ Lain kali datang kesini untuk mampir ya dok, anak-anak di departemen kangen banget sama dokter Arka.” Seru wanita itu sambil menarik tangan Arkana dan mempermainkannya dengan santai.


Arkana langsung menariknya saat menyadari tatapan Jingga yang saat ini sangat menakutkan, kemudian Arkana mengakhiri obrolannya dengan wanita itu dan segera pergi bersama Jingga.


Begitu tiba di mobil, Arkana tidak melihat Jingga mengatakan sesuatu tentang wanita tadi. Dia yakin tatapan Jingga sebelumnya ada tatapan marah, biasanya jika Jingga cemburu dia akan sangat marah dan cerewet. Tapi sekarang dia hanya diam dan tidak melakukan kontak mata sama sekali.


“ Mungkin dia tidak cemburu.” Benak Arkana hanya dapat menghela nafas pelan.


**


Sejak hari itu Arkana selalu mendapati Mike yang datang ke butik Jingga meskipun datang bersama kedua putrinya, Arkana tidak tahu apa maksud Mike terus menerus datang kesana selagi dirinya tidak berada di dekat Jingga dan Keenan.


Sekali dua kali bisa di pahami oleh Arkana, tapi sekarang sudah hampir dua minggu berturut-turut hal itu di lakukan oleh Mike. Arkana yang tidak bisa menahan perasaan cemburunya lagi langsung mengajak Mike untuk bicara berdua tanpa sepengetahuan Jingga tentunya.


Arkana dan Mike bertemu di jam sekolah anak-anak, Jingga sedang berada di butiknya sehingga dia tidak akan tahu soal ini. Kemudian dua pria yang sudah berstatus sebagai ayah itu pergi ke sebuah kafe yang tak jauh dari sekolah anak-anak.


“ Sejujurnya iya, aku tidak tahu kenapa pak dokter ngajak saya ketemu diluar.” Jawab Mike lirih.


“ Saya langsung to the point saja, kamu tidak menyukai Jingga kan.?” Lontar Arkana sontak membuat Mike terkejut bukan main.


“ Maaf? Pak dokter bilang apa barusan.?” Pinta Mike yang berpikir bahwa dia salah mendengar ucapan Arkana barusan.


“ Aku bilang, kamu mendekati Jingga selama ini bukan karena kamu menyukai dia kan? Kamu harusnya sudah tahu soal itu, Jingga milikku dan dia sudah punya anak. Kamu harus sadar diri, ingat statusmu.” Ulang Arkana ketus.


“ Maaf pak, saya benar-benar tidak menyangka kalau sikap saya akan membuat kesalahpahaman pak dokter. Saya tidak menyukai Jingga dan tidak memiliki perasaan apapun dengannya, saya tahu kalau saya hanya seorang duda. Mungkin aneh jika saya dekat dengan seorang wanita yang memiliki istri, tapi anak-anak sangat menyukai Jingga. Saya hanya membawa mereka untuk bisa bertemu dengan Jingga, hanya itu pak.”


“ Kau seharusnya mencari wanita lain, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya kan? Mungkin sekarang hanya anak-anakmu saja yang menyukai Jingga, bagaimana jika kau juga sampai menyukainya?”


“ Saya benar-benar minta maaf pak, saya janji nggak akan datang ke butik itu lagi. Dan di sekolah pun saya akan menjauh dari Jingga dengan anak-anak.”


“ Baguslah kalau kau mengerti dengan cepat.”


**


Hari ini adalah jadwal Jingga menjemput Keenan sekolah, Arkana sedang di sibukkan oleh pekerjaannya yang sangat sibuk. Jingga datang ke sekolah dengan taksi seperti biasanya, dan hal pertama yang dia lakukan adalah menyapa Mike yang saat itu sedang menunggu putrinya keluar kelas.

__ADS_1


“ Mike? Kamu baik-baik aja kan.?” Tanya Jingga saat dia tidak mendapat respon baik dari Mike hari ini.


“ Aku baik.” Jawabnya singkat.


“ Papa.” Seru Daisy dan Lily yang berlari menghampiri Mike.


“ Mama.” Di susul oleh Keenan yang juga menghampiri Jingga dengan penuh semangat.


“ Pa, hari ini kita main di rumah Keenan ya.” Pinta Daisy.


“ Iya pa, Keenan punya banyak mainan bagus.” Sambung Lily.


“ Aku ajak mereka main ke rumah, boleh kan ma.?” Ucap Keenan menatap Jingga penuh harap.


“ Boleh dong, mereka boleh main ke rumah kita.” Jawab Jingga sontak membuat ketiga anak itu bersorak gembira.


“ Tapi papa nggak bisa, hari ini kita ada urusan sama nenek. Jadi kita harus pulang lebih awal.” Lontar Mike tiba-tiba.


Daisy dan Lily langsung merengek memohon agar bisa pergi, namun Mike tetap membantah dan akan membawa mereka pulang. Kedua gadis kecil itu pun menangis keras, Mike sampai membentak mereka untuk berhenti menangis.


Jingga bingung dengan sikap Mike yang tidak seperti biasanya, dia bahkan baru pertama kali melihat Mike membentak putrinya sekeras itu. Alhasil mereka pun harus berpisah setelah Daisy dan Lily menuruti apa kata papanya.


“ Ayo nak, kita pulang.” Ajak Jingga yang tidak bisa melakukan apa-apa lagi.


**


Sekali, dua kali, hingga ketiga kalinya. Mike masih seperti waktu itu, selalu menolak ajak Jingga, bahkan ajakan Keenan dan dua putrinya sekalipun. Tak peduli seberapa sering putrinya merengek, Mike tetap tidak mengabulkan permintaan mereka.


Sampai pada akhirnya Jingga memberanikan diri mengajak Mike bicara empat mata, saat itu kelas anak-anak berakhir lebih lambat dari biasanya. Dan Jingga menarik Mike untuk mengajaknya bicara walau sebentar.


“ Aku nggak ngerti kenapa kamu kaya gini, sikap kamu yang terus menghindari aku dan Keenan terlihat begitu jelas. Aku ada salah apa sama kamu? Bahkan Daisy dan Lily sampai menjadi korban keegoisan kamu tau nggak.?”


“ Jangan di pikirkan, ini yang terbaik untuk kamu.”


“ Untuk aku? Maksud kamu apa.?” Jingga tidak mengerti dengan ucapan Mike saat ini.


“ Kau tidak lihat para orang tua lainnya yang melihat kedekatan kita? Aku ini seorang duda, mereka pasti akan salah sangka kalau kita terus dekat.” Jawab Mike terpaksa berbohong.


“ Tapi kan nggak ada yang terjadi di antara kita berdua? Apa salahnya kalau kita berteman dan anak-anak kita juga berteman.?”


“ Kamu mungkin berpikir seperti itu, tapi tidak semua orang memiliki pemikirkan yang sama dengan kamu.”


“ Jadi kamu mau pertemanan kita dan anak-anak terputus hanya karena ketakutan kamu itu.?”


Mike merasa sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, dia segera pergi setelah mengetahui bahwa kelas anak-anak telah berakhir. Jingga hanya bisa menatap kepergiannya dengan bingung, dia juga tidak tahu harus berbuat apa dengan sikap Mike yang seperti itu.

__ADS_1



__ADS_2