Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Tunangan


__ADS_3


Jingga baru saja keluar dari kamarnya setelah mendengar ketukan pintu dari luar, dia mendapati bi Inah yang memberitahunya kalau Arkana sudah pulang dan menunggunya di ruang makan sekarang.


“ Iya bi, saya kesana.” Jawab Jingga sambil menutup pintu kamarnya.


Wanita itu berjalan dengan langkah yang santai menuju ruang makan, padahal belum waktunya untuk makan malam tapi Arkana sudah memanggilnya kesana.


“ Ada apa mas.?” Tanya Jingga menatapnya penasaran.


“ Duduk.” Titah Arkana sedikit tegas.


Jingga pun menuruti perintah Arkana untuk segera duduk, setelah itu terlihat Arkana yang melirik Jingga dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


“ Sekarang kamu pilih, makanan aja yang mana kamu mau makan.” Arkana menujuk semua makanan yang ada di atas meja dimana semuanya telah dia beli saat perjalanan pulang ke rumah hari ini.


Makanan yang di beli oleh Arkana antara lain adalah sushi box dengan beraneka macam rasa, martabak manis dan asin, pizza, pie, salad buah, jus sayur dan buah, buah-buahan premium, dan beberapa snack kesukaan Jingga.


“ Kenapa kamu belinya banyak banget mas?” Tanya Jingga heran.


“ Biar kamu bisa pilih yang mana yang kamu mau.” Jawab Arkana.


“ Kan kamu bisa hubungin aku kalau mau beli apa-apa, ini kebanyakan.”


“ Kamu jangan geer dulu, semua yang aku beli ini bukan keinginan aku. Tapi karena mama yang suruh aku bawain kamu makanan, karena aku nggak tahu kamu suka apa jadinya aku beli semua yang aku lewatin saat aku pulang.” Jelas Arkana dengan nada yang sedikit kesal.


“ Tapi ini kebanyakan, mana bisa aku habisin semua.?”


“ Kamu ajak yang lain buat makan sama kamu, pokoknya kamu harus makan salah satu di antara makanan itu. Aku capek, mau istirahat.” Arkana kemudian beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Jingga begitu saja.


Setelah Arkana pergi, Jingga pun memanggil semua yang bekerja di rumah itu untuk makan bersamanya. Ada bi Inah, bi Salma, dan pak Hasan. Mereka berempat mulai menikmati makanan yang di bawa oleh Arkana bersama-sama.


“ Semua yang ada disini sesuai pesanan non Jingga ya.” Sahut bi Salma.


“ Iya, padahal saya Cuma kasih tahu ke bi Salma aja tadi sore saya mau makan apa. Nggak nyangka kalau mas Arka beliin semuanya sebanyak ini.” Balas Jingga tersenyum tipis.


“ Bagus dong non, ngidam non Jingga akhirnya terpenuhi.” Sahut bi Inah.

__ADS_1


“ Tunggu, ini bukan karena kalian yang kasih tahu mas Arka kan kalau aku ngidam beberapa dari makanan yang ada disini.?” Tanya Jingga menatap mereka serius.


“ Nggak kok non, kami nggak kasih tahu mas Arka.” Jawab mereka kompak.


Sementara itu di dalam kamar, Arkana sedang merapati dirinya di depan cermin. Dia tidak menyangka akan berbuat sejauh ini, tadinya dia tidak sadar dan sekarang dirinya sudah sadar sepenuhnya.


“ Kenapa aku jadi peduli banget sama dia? Ah, nggak mungkin. Ini Cuma karena aku takut mama marah, kondisi Jingga sekarang harus lebih ku perhatikan. “ Ucap Arkana pada dirinya sendiri.


Beberapa jam yang lalu…


“ Terima kasih ya dok, sudah antar saya pulang.” Seru Tsania setelah dia turun dari mobil Arkana.


“ Sama-sama.” Jawab Arkana lirih.


Setelah Arkana selesai mengantar Tsania pulang, dia pun melaju meninggalkan tempat itu. Hujan sudah reda beberapa saat yang lalu, dan saat dia berhenti di lampu merah tiba-tiba saja dia melihat banner yang mempromosikan kesehatan wanita hamil.


Melihat banner tersebut lantas membuat Arkana teringat pada Jingga, dan dia mencoba menghubungi seseorang di rumah. Tak menunggu waktu lama, panggilan pun berhasil terhubung.


“ Ada apa tuan?”


“ Siap tuan, saya ke kamar non Jingga dulu.”


Arkana mengakhiri panggilannya dan kembali melaju setelah lampu berganti warna menjadi hijau, beberapa saat kemudian dia mendapat pesan jawaban dari bi Salma tentang makanan yang di inginkan oleh Jingga.


Dan setelah mendapatkan jawaban tersebut, Arkana pun singgah di beberapa tempat untuk membeli semuanya. Beberapa daftar telah dia beli, dan ada juga yang tidak termasuk dalam daftar namun dia tetap membelinya. Itu sebabnya semua yang dia beli hari ini begitu banyak, bahkan untuk di nikmati berempat pun masih sangat banyak.


**


Hari minggu pagi, Jingga yang baru saja selesai sarapan menyapa Arkana yang baru saja keluar dari kamarnya. Biasanya Arkana tidak akan keluar kamar sampai siang di hari minggu, tapi kali ini dia bangun cukup pagi dan terlihat ingin sarapan di meja makan.


Bi Salma baru saja menyajikan makanan untuk Arkana, Jingga yang barusan hendak pergi terpaksa harus duduk menemani suaminya sampai selesai makan.


“ Hari ini kamu siap-siap, nanti jam 10:00 kita ke mall.” Ucap Arkana tiba-tiba.


“ Ke mall? Ngapain mas.?”


“ Belanja, apalagi.?”

__ADS_1


“ Kamu mau aku temenin belanja.?” Tanya Jingga lagi.


“ Iya, aku dan kamu belanja bareng. Aku nggak mau kalau mama lihat kamu pakai baju yang itu-itu aja, dan kamu juga belum punya baju hamil yang banyak kan.”


“ Ya udah mas, aku nurut apa kata kamu aja.”


**


Jingga dan Arkana kini sudah tiba di Grand Indonesia, dan mereka langsung mengunjungi salah satu toko pakaian dengan merk terkenal. Arkana menyuruh Jingga untuk memilih pakaian yang dia inginkan, begitu pun dengan dirinya yang akan mencari stelan khusus pria.


Jingga hanya memilih dua dari sekian banyak pakaian yang di pajang di toko itu, Arkana menyuruhnya untuk mengambil yang banyak dan tidak perlu mengkhawatirkan soal harga karena dia akan tetap membelikannya meskipun harganya sangat mahal.


“ Aku bukan nggak mau beli, hanya saja aku lebih suka buat sendiri. Gimana kalau uangnya di pake beli kain aja, biar selama di rumah aku nggak bosan dan bisa buat pakaian yang banyak.”


“ Nggak. Kalau bisa beli yang udah jadi, kenapa harus bikin.” Tolak Arkana.


Karena Jingga tidak memilih yang lain, akhirnya Arkana lah yang memilihkannya. Bahkan sekarang belanjaan Jingga lah yang paling banyak dari pada Arkana, padahal niat awal Jingga lah yang menemaninya belanja.


Setelah cukup belanja semua pakaian, Arkana meminta kepada pemilik toko untuk mengantarnya ke rumah menggunakan jasa kurir. Itu karena dia dan Jingga tidak langsung pulang, keduanya masih ingin mengunjungi tempat lain.


Langkah Arkana tiba-tiba berhenti yang membuat Jingga ikut berhenti dan melihatnya dengan bingung, Arkana tidak mengatakan apapun tapi Jingga bisa melihat dari sorot matanya dan ikut melirik apa yang di lihat oleh Arkana sekarang.


“ Jingga.?”


“ Qania.?”


Di depan Jingga dan Arkana saat ini terlihat Qania dan Aizen yang baru saja keluar dari sebuah toko perhiasan. Arkana melirik toko itu sebentar dan kembali melirik mereka berdua.


“ Nggak nyangka bisa ketemu pasangan so sweet disini, bagaimana kalau kita makan bareng.?” Ajak Aizen.


“ Maaf, kami sibuk.” Jawab Arkana tegas.


“ Sayang sekali, padahal kita berdua ingin meminta saran dari kalian. “ Lanjut Aizen.


“ Saran apa.?” Tanya Jingga penasaran.


“ Aku dan Qania akan bertunangan.” Balas Aizen sambil meraih tangan Qania dan menggenggamnya erat.

__ADS_1


__ADS_2