Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Sesuatu Yang Di Sebut Cinta


__ADS_3


Arkana baru saja masuk ke dalam kamar setelah dia selesai menerima telpon dari rumah sakit, dia melihat Jingga yang sudah berbaring di tempat tidur dan kemudian memastikan apakah istrinya itu sudah terlelap atau belum.


" Kamu pasti capek." Gumam Arkana sambil mengecup kepala Jingga dan membiarkannya tetap tidur.


Sejak hari dimana Jingga meminta Arkana untuk memberitahu masa lalu dari dirinya langsung, tampak hubungan mereka seperti ada dinding besar yang membatasi mereka.


Arkana menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menundukkan wajahnya, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan pada Jingga. Sejujurnya dia hanya tidak ingin memberitahu masa lalunya kepada Jingga karena tak ingin ada orang lain yang tahu seperti apa dia dulu.


Bahkan Qania saja tidak mengetahui semuanya tentang Arkana, jadi apa yang telah di ketahui oleh Jingga hanyalah sebagian kecil dari masa lalu Arkana yang dia ketahui.


Sementara itu Jingga yang sebenarnya belum tidur terlihat baru saja membuka kedua matanya, saat di mobil ketika dia kembali ke rumah tanpa sengaja Jingga menemukan sebuah lipstick yang jelas bukan miliknya.


Jingga merasa bahwa lipstik itu adalah milik Tsania melihat postingan gadis itu yang memperlihatkan dia berada di dalam mobil, dan mungkin sebelum Arkana datang menjemput, mereka sudah pergi bersamanya.


“ Mas.?” Panggil Jingga yang membuat Arkana langsung menoleh dengan cepat.


Saat itu Jingga yang ingin menanyakan soal Tsania mendadak terkejut melihat ekspresi Arkana yang seperti orang bersedih.


“ Kamu kenapa? “ Tanya Jingga sambil bangun dari tidurnya.


“ Nggak apa-apa, kamu kenapa bangun.?” Arkana pun beranjak ke samping Jingga dan meraih wajah cantik istrinya itu.


“ Tidur lagi, aku temenin kamu sampai tidur.” Lanjut Arkana lembut.


“ Kamu juga tidur.” Sahut Jingga melirik wajah Arkana dan menyadari ada sesuatu yang tengah di sembunyikan oleh Arkana.


“ Aku minta maaf ya.” Gumam Arkana sontak membuat Jingga kebingungan.


“ Kamu minta maaf untuk apa lagi mas.?”


“ Aku belum bisa kasih tahu kamu soal masa laluku, aku nggak tahu kenapa aku sangat sulit memberitahu semuanya sama kamu. Aku benar-benar minta maaf.”


“ Nggak apa-apa mas, jangan terlalu di pikirkan. Aku nggak masalah kalau kamu belum siap menceritakan semuanya, yang penting saat ini kamu baik-baik aja dan bisa terus bahagia, itu udah cukup.”


Arkana merasa begitu senang sampai rasanya hampir meledak, dia meraih Jingga ke dalam pelukannya dan membiarkan hal itu terjadi sampai beberapa menit.


“ Besok jadwal terapiku bersama Gilang, kamu mau ikut.?”

__ADS_1


“ Mau mas, aku mau ikut.”


**


Setelah melewati terapi minggu lalu, akhirnya Arkana kembali datang ke tempat Gilang untuk memulai terapinya. Kali ini dia tidak sendiri karena ada Jingga yang ikut menemaninya, keberadaan Jingga seakan memberikan semangat untuk Arkana terus berjuang menyembuhkan luka pada inner childnya.


“ Sudah lama kita nggak ketemu ya Jingga, sepertinya bentar lagi aku bakal jadi om buat si kecil.” Seru Gilang membuat Jingga tersenyum simpul.


Kemudian proses hipnoterapi pun langsung di mulai saat itu juga, Arkana sudah duduk bersandar pada kursi terapi sementara Gilang sedang memberikan sugesti kepadanya untuk dirinya dapat masuk ke alam bawah sadarnya.


Jingga baru pertama kali melihat langsung proses hipnoterapi inner child dengan mata kepalanya langsung, Arkana terlihat mengikuti semua arahan Gilang dengan baik dan tampak Gilang pun sedang serius saat ini.


Gilang telah berhasil membuat Arkana jatuh ke alam bawah sadarnya, dan sekarang mereka hanya menunggu waktu sampai Arkana berhasil menemukan anak pada dirinya.


“ Biasanya mas Arka akan bereaksi apa setelah ini Lang.?” Tanya Jingga penasaran.


“ Macam-macam, waktu pertama kali dia memulai hipnoterapi dia terlihat takut dan menangis. Dan setelah itu dia terlihat mulai tenang, dan entah apa yang akan terjadi untuk hipnoterapi kali ini.” Jawab Gilang.


Reaksi Arkana yang muncul selama hipnoterapi pun terlihat, kali ini Arkana tidak menunjukkan emosional yang berlebihan dan itu artinya dia bisa mengatasi emosi masa kecilnya di dalam sana.


“ Dengarkan aku, kalau kau melihat ada sosok itu. Peluk dia dan katakan padanya seperti ini.”


“ Aku minta maaf atas semua rasa sakit yang telah kamu terima selama ini. Maaf atas trauma yang melukai seluruh ruang ingatan memori, maaf untuk saat-saat kamu merasa tidak aman dan membiarkanmu merasa kesepian.”


“ Aku minta maaf atas apa yang selama ini kamu dengarkan dari orang-orang yang tidak mencintaimu, maaf membuatmu merasa tidak dicintai atau bahkan membuatmu tidak diinginkan.”


“ Aku tahu luka itu amat dalam tapi saat ini kamu tidak sendirian, aku disini bersamamu dan kita telah melewati luka itu bersama. Kamu berhak untuk bahagia, aku memang tidak bisa merubah masa lalu tapi aku menyayangimu. Apapun yang terjadi ke depannya, aku tidak akan membiarkanmu sedih lagi. “


“ Kita sudah dewasa sekarang, sudah bisa melindungi dri sendiri. Tidak perlu takut lagi, kita aman sekarang. Ayo ikut aku di masa kini dan jangan biarkan masa lalu tetap memenjarakan kita.”


Arkana melepaskan dirinya dari pelukan itu dan menatap wajah anak kecil di hadapannya, terlihat wajah itu menunjukkan emosi yang selama ini tidak pernah dia lihat.


“ Pegang tanganku, kita pergi dari masa lalu dan bersama-sama di masa depan. “


**


Jingga melihat Arkana tersenyum saat ini, dia kemudian bertanya pada Gilang tentang apa yang di alami Arkana sekarang. Kemudian Gilang menjelaskan bahwa Arkana sudah berhasil menyelesaikan luka masa kecilnya dan sebentar lagi akan kembali sadar.


“ Apa dia bisa sembuh sekarang.?” Tanya Jingga penasaran.

__ADS_1


“ Inner child bisa sembuh kalau yang merasakan bisa menerima semua yang telah terjadi, setelah ini dia dapat mengontrol emosinya dan semakin dia bisa memahami tentang dirinya maka suami kamu pasti akan sembuh dari trauma masa lalunya.” Jelas Gilang kemudian.


“ Lang, terima kasih banyak ya atas semuanya. Aku senang kamu bisa membantu mas Arka sembuh, aku nggak tahu harus bilang apa lagi intinya aku berterima kasih banyak sama kamu Lang.”


“ Senang bisa membantumu, dan juga melihat kalian akhirnya memutuskan untuk terus bersama membuatku ikut senang. Semoga ke depannya kalian bisa menjadi keluarga yang lebih bahagia lagi.”


**


Sepulang dari tempat Gilang, mereka memilih untuk duduk berdua di sebuah pantai yang dulu mereka kunjungi sebelumnya. Seperti biasa, keduanya akan menyaksikan bagaimana matahari terbenam dan menunjukkan cahaya jingga yang begitu indah di atas langit.


“ Gimana perasaan kamu mas? Aku lihat dari tadi kamu lebih banyak diam.” Tegur Jingga.


“ Aku hanya berpikir, kenapa waktu itu aku tidak mencoba melakukan terapi seperti itu? mungkin dulu aku sudah sembuh dan aku tidak pernah menyakitimu sejak awal.” Ucap Arkana sambil menundukkan kepalanya.


“ Semua sudah ada garis waktunya, kalau pun kamu melakukannya di awal mungkin kita berdua nggak akan pernah bersama.”


Arkana mengangkat wajahnya dan melirik Jingga yang sedang sibuk menyeruput minumannya, benar apa yang di katakan oleh Jingga barusan. Jika dia sudah menyelesaikan masa lalunya di awal, mungkin pernikahan itu tidak akan pernah terjadi.


“ Aku merasa senang sekarang karena ternyata aku bisa sembuh karena ada sosok yang begitu berarti bagiku. Aku nggak akan pernah menyesal dengan semuanya kalau sekarang aku tahu ada kamu yang begitu berarti.”


“ Kamu jadi sering ngegombal ya sekarang.”


“ Siapa yang gombal? Aku serius kalau aku merasa beruntung punya kamu disisiku.”


Kemudian Arkana melirik perut Jingga sambil mengusapnya dengan penuh kelembutan, Arkana tersenyum sambil berkata.


“ Nak, kalau nanti kamu lahir papa akan memastikan kehidupan kamu akan lebih bahagia dari pada hidup papa dulu. Kamu akan menjadi anak yang tidak akan pernah kekurangan rasa cinta dan kasih sayang dari papa sama mama.”


Jingga yang mendengarnya merasa terharu sampai menitihkan air mata, sadar Jingga baru saja menangis lantas membuat Arkana langsung menenangkannya.


“ Jangan nangis, aku sakit hati kalau lihat kamu nangis.”


“ Aku nangis bahagia mas.”


Arkana membalasnya dengan senyuman bahagia, kemudian dia meraih Jingga ke dalam pelukannya. Jingga membalas pelukan itu dengan merasakan kehangatan yang selalu di berikan Arkana setiap dia mendapat pelukan itu.



__ADS_1


__ADS_2