Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Suspicious


__ADS_3


Jingga dan Arkana kini sudah kembali ke Indonesia, mereka sepakat untuk tidak memberitahu beberapa orang tentang apa yang terjadi di Madrid kemarin. Semua kecuali Qania tentunya, bagaimana pun juga wanita itu sudah tahu kalau Jingga sakit dan mendapatkan perawatan disana.


Mengetahui bahwa Jingga telah kembali ke Indonesia kemarin, Qania pun memutuskan untuk datang menemuinya. Saat Qania tiba di halaman rumah Arkana, tiba-tiba saja ada sebuah mobil berwarna merah baru saja berhenti tepat di depan mobil Qania.


Melihat seorang wanita yang tidak asing baru saja turun dari sana lantas membuat Qania ikut turun dari mobilnya, Qania menyapa Diana yang saat itu juga datang untuk bertemu dengan Jingga.


“ Hai Diana, lama nggak ketemu.” Seru Qania.


“ Bu dokter, kok bisa kebetulan kita datang ke sini.” Sahut Diana.


“ Aku mau jenguk Jingga sekalian bawain dia makanan, kalau kamu.?”


“ Aku kangen sama Jingga, sekalian mau ngajak dia ngobrol bareng.”


“ Kamu sudah tahu kondisi Jingga sekarang.?” Tanya Qania tiba-tiba.


“ Nggak tahu, memangnya Jingga kenapa?” Diana mulai terlihat penasaran dengan pertanyaan Qania barusan.


“ Serius Jingga belum kasih tahu apa-apa ke kamu? Kalian berdua kan sahabatan, masa Jingga nggak ada kasih tahu kamu apa-apa.?”


“ Serius, aku nggak tahu apa-apa. Sebenarnya ada apa sih? Aku penasaran nih.”


“ Kalau itu sebaiknya kamu tanyakan langsung ke Jingga, aku nggak ada hak untuk kasih tahu ke kamu soal ini. “


Keduanya pun mulai beranjak masuk ke dalam, pak Hasan baru saja membuka pintu pagar untuk mereka. Kemudian di pintu masuk ada bi Inah yang kebetulan baru saja keluar, wanita itu pun mempersilahkan Qania dan Diana untuk masuk ke ruang tamu.


Beberapa saat kemudian Jingga pun keluar dengan senyum yang merekah melihat dua temannya datang menjenguk, tak lupa Jingga juga membawakan oleh-oleh dari Madrid kemarin untuk mereka.


“ Jingga, kamu kenapa? kok kamu nggak pernah terbuka lagi sama aku? Aku udah nggak layak di ajak curhat sama kamu ya.?” Sahut Diana menatap Jingga dengan tatapan yang penuh harap.


Jingga menoleh ke arah Qania dan mendapat kode dari wanita itu, Jingga lantas tersenyum dan meminta maaf kepada Diana karena belum memberitahunya apa-apa.


“ Sebenarnya aku mau merahasiakan ini dari siapapun, tapi karena kamu sudah tahu jadi aku perjelas aja sekarang.” Lontar Jingga.


**


Arkana baru saja kembali dari rumah sakit, padahal dia baru tiba di Indonesia kemarin. Tapi dirinya sudah harus masuk kerja walaupun hanya setengah hari, melihat ada dua mobil di halaman rumahnya lantas membuat Arkana bertanya-tanya.

__ADS_1


“ Yang putih mobil Qania, terus yang merah mobil siapa.?” Benak Arkana penasaran.


“ Siapa yang datang pak.?” Tanya Arkana pada pak Hasan.


“ Temannya bu Jingga pak.” Jawab pak Hasan.


“ Teman? Teman yang mana.?”


“ Ibu dokter sama non Diana pak.”


Arkana yang telah mendapat jawabannya pun segera masuk ke dalam, dan dia langsung bisa melihat ketiga wanita itu sedang asyik mengobrol yang entah apa mereka bahas.


“ Kamu udah pulang mas? “ Jingga spontan langsung beranjak dari sofa dan menghampiri Arkana untuk mencium tangannya.


“ Ada apa ini? kok kamu nggak bilang kalau mereka mau datang.?” Tanya Arkana dengan nada yang pelan.


“ Aku juga nggak tahu kalau mereka mau datang.” Jawab Jingga tak kalah pelan.


Arkana baru saja merangkul pundak Jingga sambil menatap Qania dan Diana secara bergantian, kemudian dia berkata dengan nada yang cukup serius.


“ Maafin aku, tapi kondisi Jingga saat ini sedang tidak sehat. Dia harus istirahat yang cukup, dan kalian tahu itu artinya apa kan.?” Lontar Arkana kemudian.


“ Kita bahkan belum cukup mengobrol.”


“ Aku nggak apa-apa kok mas.” Bisik Jingga.


“ Aku nggak mau mereka ada disini, jadi kamu nurut apa kata aku aja.” Balas Arkana.


“ Terima kasih atas perhatian kalian.” Sahut Arkana dengan senyuman tipis.


Qania dan Diana pun pamit undur diri pada Jingga, setidaknya hari ini mereka sudah mendengar kabar kesehatan Jingga. Dan melihat Arkana yang tampak peduli dengan keadaan Jingga membuat mereka terpaksa harus segera pulang.


Dan setelah mereka berdua pulang, terlihat Arkana yang segera membawa Jingga masuk ke kamarnya. Dia meminta Jingga untuk istirahat yang cukup, dia juga berkata bahwa besok dan seterusnya dia tidak boleh menerima tamu siapapun itu.


“ Terus aku harus bilang apa ke mereka kalau seandainya mereka mau datang?” Tanya Jingga.


“ Apa aja terserah kamu, yang penting mereka nggak harus datang ke rumah ini lagi.” Balas Arkana yang akhirnya pergi meninggalkan Jingga setelah urusannya selesai.


**

__ADS_1


Malam harinya Arkana di kejutkan dengan kedatangan mama Widya bersama pak Jefri, supir mama Widya yang dulu pernah bekerja bersama Arkana sekarang sudah kembali pada mama Widya yang itu artinya Arkana pergi ke rumah sakit tanpa menggunakan supir lagi.


“ Mama kenapa nggak bilang kalau mau datang.?” Tanya Arkana setelah mencium tangan mamanya.


“ Kenapa? memangnya mama harus lapor ke kamu kapan mama mau datang, lagi pula kedatangan mama kesini bukan untuk ketemu kamu. Dimana Jingga sekarang.?” Tanya mama Widya dengan nada yang tegas.


“ Jingga lagi istirahat ma.” Jawab Arkana lirih.


“ Kamu panggil dia sekarang, mama membicarakan sesuatu dengan dia.”


“ Baik ma.” Arkana kemudian beranjak menuju kamar Jingga, namun sebelum itu dia memastikan kalau mamanya tidak melihat dirinya masuk di kamar itu.


Saat Arkana sudah masuk ke dalam kamar Jingga, tampak wanita itu terkejut melihat kehadiran Arkana yang bahkan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


“ Ada apa mas.?” Tanya Jingga bingung.


“ Di luar ada mama, katanya ada sesuatu yang ingin di bahas.” Jelas Arkana sangat hati-hati.


Jingga yang penasaran pun segera keluar, dia tahu kalau sekarang Arkana pasti takut jika mamanya tahu kalau mereka tidak satu kamar. Namun sayangnya mama Widya juga sudah tahu semuanya, tapi untungnya sampai hari ini mama Widya tidak pernah membahasnya di depan Arkana.


“ Kamu nggak perlu khawatir, aku nggak akan ngomong yang aneh-aneh kok sama mama.” Sahut Jingga sebelum menemui mama Widya.


Arkana terlihat terkejut mendengar ucapan Jingga, padahal dia belum memintanya untuk melakukan itu tapi Jingga sudah melakukannya terlebih dulu.


**


Pertemuan yang cukup singkat antara mereka berdua, mama Widya kini baru saja meninggalkan rumah. Jingga menemaninya sampai di pintu masuk, kemudian Arkana muncul dan bertanya apa yang terjadi di antara mereka berdua.


“ Barusan mama suruh aku tanda tangan kesepakatan kerja sama perusahaan orang tuaku dan juga mama kamu.” Jawab Jingga lirih.


“ Apa? Kamu tanda tangan kesepakatan kerja.?” Tanya Arkana yang cukup terkejut mendengarnya.


“ Iya mas, aku senang karena bisnis keluarga aku bisa di urus sama mama. Jadi aku nggak perlu repot-repot mengurus semuanya, kamu tahu sendiri kan aku nggak ada siapa-siapa sekarang dan siapa yang mau mengurus semua itu kalau bukan mama Widya.”


“ Kamu yakin udah baca semua kontraknya sebelum kamu tanda tangan.?”


“ Nggak, aku percaya sama mama Widya.”


Arkana hanya bisa terdiam mendengar jawaban polos dari Jingga, namun di samping itu dia memiliki perasaan buruk tentang kesepakatan kerja tersebut. Arkana ingin mencaritahunya lebih jelas, tapi dia juga berpikir untuk apa dia melakukan semua itu demi Jingga? Dan pada akhirnya Arkana langsung beranjak pergi ke kamarnya, begitu pun dengan Jingga.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️



__ADS_2