Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Trauma Masa Kecil


__ADS_3


“ Mas.” Jingga baru saja menyentuh pundak Arkana dan membuatnya sadar dan mulai membuka kedua matanya.


Arkana terkejut mendapati dirinya menitihkan air mata, kemudian dia sadar kalau tempat itu sudah kosong dan hanya ada dia dan Jingga saja disana.


“ Kamu nggak apa-apa mas.?” Tanya Jingga sekali lagi.


“ Acaranya.?” Arkana memastikan sekitarnya, kemudian Jingga memberitahu bahwa acaranya sudah selesai dua puluh menit yang lalu.


“ Kenapa kamu nggak kasih tahu aku.?” Lontar Arkana mulai kesal.


Jingga menyeka air mata Arkana terlebih dulu, kemudian mereka saling menatap satu sama lain.


“ Gimana aku mau kasih tahu kamu, kalau kamu terlihat sangat menghayati mendengarkan audioterapi barusan.” Ucap Jingga membuat Arkana langsung memalingkan wajah darinya.


Arkana kemudian beranjak dari kursinya dan mengajak Jingga untuk pulang, namun saat itu Jingga menahan Arkana dan ingin mengajaknya menemui seseorang.


“ Menemui siapa.?” Arkana tampak bingung mendengarnya.


Tak lama setelah itu sosok Gilang baru saja muncul dari bawah podium, dia sudah menunggu sejak tadi sampai Arkana sadar. Kini pria itu sudah berjalan menghampiri mereka berdua, Arkana yang melihatnya pun semakin bingung di buatnya.


“ Halo, saya teman SMA Jingga. Sepertinya saya tidak perlu memperkenalkan nama lagi.” Ucap Gilang sambil menyodorkan tangannya.


“ Arkana, suami Jingga.” Balas Arkana ikut menjabat tangan Gilang.


“ Terima kasih telah datang ke seminar ini.” Lanjut Gilang.


“ Sama-sama.”


“ Bagaimana dengan seminar hari ini? apa penjelasan saya tentang inner child membuat kalian merasa tertarik untuk berkonsultasi? Mungkin kalian berdua ingin mengetahui seperti apa inner child yang ada pada diri kalian berdua.?” Jelas Gilang.


“ Saya rasa tidak perlu, saya dan istri saya baik-baik saja kok.” Arkana terlihat tersenyum di hadapan Gilang saat ini.


“ Sudah sore, Jingga mungkin lelah dan dia harus pulang untuk istirahat.” Lanjut Arkana sambil merangkul Jingga ke dekapannya.

__ADS_1


“ Baiklah kalau begitu, ini kartu nama saya. Kapan pun butuh bantuan, silahkan hubungi saya.” Gilang memberikan kartu namanya untuk Arkana karena tidak berhasil mengajaknya untuk berkonsultasi bersama.


**


Setibanya di rumah, Arkana menarik lengan Jingga menuju kamar wanita itu. Dia mendorong Jingga duduk di atas tempat tidurnya dan mulai menatap mata wanita itu dengan tajam.


“ Sekarang jelaskan, sebenarnya apa alasan kamu ajak aku ke acara seperti itu.?” Tanya Arkana.


“ Buat temenin aku.” Balas Jingga.


“ Kamu bahkan nggak perlu di temenin pun nggak ada masalah, aku justru berpikir kalau kamu sengaja ajak aku kesana karena kamu pikir aku ini ada masalah mental kan?”


“ Nggak gitu mas.”


“ Kamu nggak usah bohong, selama ini aku bersikap kasar sama kamu dan kamu pikirnya aku gila kan.?” Arkana mulai menaikkan nada suaranya yang membuat Jingga merasa takut.


“ Kamu mulai lancang semenjak kita pulang dari Thailand ya, jangan pikir karena aku udah bersikap baik artinya aku mulai sayang sama kamu. “ Lanjut Arkana.


Jingga hanya bisa menundukkan kepalanya saat itu, dan setelah Arkana pergi dari kamarnya barulah dia mengangkat wajah sambil menatap pintu kamar yang baru saja tertutup.


**


Arkana menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya semakin menjadi-jadi. Trauma yang selama ini tidak begitu dia pikirkan nyatanya semakin membuatnya terusik, semua karena seminar hari ini yang membuat segala ingatan buruk kembali satu persatu.


Semua kalimat yang pernah di lontarkan oleh mamanya terngiang begitu jelas, dari semua kalimat yang menusuk itulah yang membuat Arkana tidak bisa mengontrol emosinya jika dia terus mengingat kejadian di masa lalu.


“ Semua salah kamu.”


“ Kamu itu anak yang tidak berguna.”


“ Kamu nggak akan bisa kaya Bima, selamanya nggak akan bisa.”


“ Nakal ya kamu, mau mama kurung di kamar mandi.?”


“ Nilai kamu pokoknya harus sempurna, mama nggak mau lihat ada nilai jelek di mata pelajaran mana pun.”

__ADS_1


Arkana mengamuk di dalam kamarnya sendiri, dia kembali membuat kekacauan yang akhirnya kamar itu langsung berantakan dalam sekejap. Kemudian Arkana jatuh di lantai, dia kembali merenungi segalanya dengan emosinya yang tak terkendali.


**


20 tahun yang lalu


Anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu baru saja mendengar suara keributan diluar sana, dia sudah tahu siapa yang membuat suara keributan itu dan memutuskan untuk tidak keluar dari kamarnya.


Arkana memeluk sebuah bantal kesayangannya yang berbentuk bulat berwarna hijau dengan sangat erat, suara-suara itu membuatnya menutup kedua mata dengan rapat sampai kedua tangan seseorang berhasil menutup telinganya dan membuat dia tidak lagi mendengar suara itu.


“ Kamu harus tutup telinga, bukan mata untuk tidak mendengar papa dan mama bertengkar.” Ucap Bima kakak Arkana yang saat itu berusia 15 tahun.


Bima dan Arkana hidup di sebuah rumah kayu yang sangat sederhana di salah satu desa bernama Sukalarang. Kedua orang tua mereka terus bertengkar setiap harinya dan membuat Arkana dan Bima harus menjadi saksi pertengkaran mereka berdua.


“ Mulai hari ini aku talak kamu.”


“ Nggak mas, aku nggak mau kita pisah.”


“ Aku nggak peduli, dan soal hak asuh anak aku juga akan memperjuangkannya meskipun hanya salah satu di antara mereka yang bisa ikut sama aku.”


Mama Widya menangis sejadi-jadinya mendapat ucapan seperti itu dari suaminya sendiri, setelah membina rumah tangga selama hampir 17 tahun akhirnya mereka harus berpisah.


Arkana masih sangat muda saat itu sehingga dia tidak begitu paham apa yang terjadi kepada kedua orang tuanya, berbeda dengan Bima yang sudah paham dengan permasalahan tersebut.


Malam itu papa mereka pergi dari rumah, dia berkata akan kembali setelah urusan perceraian selesai di buat. Mama Widya masih menangis di dapur, kemudian kedua putranya datang memeluknya dan berusaha menenangkan mama mereka.


“ Mama jangan nangis terus.” Arkana menyeka air mata mama Widya dengan punggung tangannya.


“ Mama nggak terluka lagi kan.?” Bima kemudian mengecek tubuh mama Widya dan memastikan bahwa wanita itu tidak mendapatkan pukulan dari papa mereka.


“ Kalian berdua harus sama mama terus ya.” Ucap mama Widya sambil meraih mereka ke dalam pelukannya.


“ Kita nggak akan pernah ninggalin mama.” Balas Arkana memeluk mamanya dengan penuh kasih sayang.


“ Mama istirahat yuk, udah malam.” Bima membantu mamanya bangkit dan mengantarnya sampai di kamar.

__ADS_1


Arkana dan Bima kompak membantu mama mereka ke kamar dan beristirahat, semua kekacauan yang terjadi hari ini cukup membuat mereka juga sedih. Apalagi saat melihat mama mereka harus menangis karena ulah papa mereka sendiri.


__ADS_2