
Hari minggu, Arkana tidak sibuk dan hanya menghabiskan waktu seharian penuh di dalam kamarnya. Sedangkan Jingga, dia sibuk berada di mini butiknya membuat sesuatu yang tidak sabar ingin dia berikan pada Arkana.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar, Jingga menyuruhnya untuk masuk. Ternyat bi Salma datang memberitahu Jingga kalau diluar ada tamu yang ingin bertemu dengannya.
“ Siapa bi? Diana ya.?”
“ Bukan non, yang datang wanita lain. Saya nggak kenal, dia cantik terus rambutnya pendek.”
“ Qania.?” Jingga kemudian beranjak dari tempatnya dan segera keluar menemui wanita itu.
Dan ternyata benar bahwa yang datang ke rumah adalah Qania, wanita itu datang seorang diri membawa sesuatu untuk Jingga.
“ Apa ini.?” Tanya Jingga penasaran.
“ Kue mochi, ada berbagai macam rasa sehingga kamu bisa coba semua.”
“ Terima kasih banyak, aku jadi nggak enak sama kamu.”
“ Loh, kenapa.?”
“ Terakhir kali kita ketemu pas aku cek ke rumah sakit, setelah itu kita jarang ketemu.”
Qania tertawa mendengarnya, dia melihat Jingga yang terlihat sangat lucu saat ini. Dia bahkan tidak perlu meminta maaf, semua memiliki kesibukan masing-masing dan hanya membutuhkan waktu luang saja untuk bisa bertemu.
“ Gimana kalau hari ini kita keluar jalan-jalan.?” Ajak Qania.
“ Jalan-jalan? Hari ini.?” Jingga ragu jika dia akan di beri izin oleh Arkana.
“ Kenapa? kamu takut nggak di izinin sama suami kamu ya.?” Tanya Qania namun Jingga tidak menjawabnya.
Kebetulan saat itu Arkana baru saja keluar dari kamarnya, dia terkejut melihat keberadaan Qania di rumahnya. Kemudian Qania beranjak dari tempatnya dan menghampiri Arkana untuk meminta izin padanya agar dia bisa pergi bersama Jingga.
“ Kalian mau kemana.?” Tanya Arkana lirih.
“ Aku hanya mau ajak Jingga keluar jalan-jalan biar dia nggak bosan aja.”
__ADS_1
“ Di rumah juga nggak masalah kan.?” Arkana melirik Jingga yang kemudian membuat Jingga berdiri dan membenarkan ucapan Arkana.
“ Aku nggak masalah kok di rumah aja.” Balas Jingga.
Qania melirik Jingga yang terlihat seperti takut, hal ini membuat Qania tidak mau menyerah mengajaknya keluar. Dia kemudian memohon kepada Arkana dengan sangat, dan setelah memikirkannya sekali lagi akhirnya Arkana mengizinkan Jingga untuk pergi bersama Qania.
“ Ingat, aku nggak mau Jingga sampai kenapa-napa. Kamu harus pastikan juga dia pulang dengan aman.” Kata Arkana dengan penuh penegasan.
“ Serahin sama aku, aku janji.” Balas Qania sambil mengacungkan jempol.
**
Hari ini Jingga dan Qania banyak menghabiskan waktu di salah satu mall yang ada di Jakarta, mereka bahkan mengunjungi pusat time zone untuk menghibur diri. Walaupun sudah dewasa, tapi bermain capit boneka, tembak-tembakan, dan juga lempar bola masih membuat siapapun merasa senang memainkannya.
Jingga pun terlihat begitu happy di buatnya, dia memang butuh hiburan seperti ini selama beberapa hari di rumah dan hanya menghabiskan waktu di ruangannya.
Setelah cukup puas bermain, keduanya pun beranjak menuju toko buku. Saat itu mereka tanpa sengaja bertemu dengan Diana, melihat Jingga berada diluar sontak membuat Diana merasa bahagia.
“ Aku nggak nyangka banget bisa ketemu kamu disini, kamu nggak sama suami kamu.?” Diana terlihat celingak celinguk mencari keberadaan Arkana.
“ Aku datang sama dia, kenalin dia temannya mas Arka.” Lontar Jingga.
“ Aku Diana.” Membalas jabatan tangan Qania.
“ Jadi Qania ini juga seorang dokter di rumah sakit yang sama dengan mas Arka, kami baru berteman selama hampir sebulan kalau nggak salah.” Jelas Jingga.
Kedatangan Diana saat itu membuat mereka memutuskan untuk ketiganya melanjutkan jalan-jalan bersama sesama wanita, hal ini sudah lama tidak pernah dilakukan oleh Jingga. Bisa di katakana dia terakhir jalan bersama teman wanita adalah ketika dia masih kuliah, dan ternyata Qania dan Diana pun sama. Mereka sama-sama terlalu sibuk dengan urusan mereka sampai tidak pernah meluangkan waktu pergi bersama teman.
**
Untuk mengakhiri kebersamaan mereka hari ini, ketiganya memutuskan untuk menikmati hotpot di salah satu restoran China di mall itu. Ketika semua sedang di siapkan oleh pramusajinya, segelas air tanpa sengaja menumpahi pakaian Jingga.
“ Maaf mbak, saya nggak sengaja.” Ucap pramusaji itu dengan menyesal.
“ Nggak apa-apa, aku ke toilet sebentar ya.” Kata Jingga kemudian.
“ Sini mbak, biar saya antar ke toilet.” Pramusaji itu pun perg mengajak Jingga, sedangkan sekarang hanya ada Qania dan Diana di meja itu.
__ADS_1
“ Aku boleh nanya nggak.?” Lontar Diana menatap Qania serius.
“ Boleh, silahkan.” Jawabnya pelan.
“ Kata Jingga tadi kamu temannya Arkana kan, jadi begini. Aku penasaran aja sebenarnya Arkana itu orangnya seperti apa? Kamu pasti tahu dong.” Sambung Diana.
“ Arkana orang yang baik, dia peduli sama seseorang yang dia sayang. Dan dia juga akan mempriorotaskan segalanya demi orang itu.” Jawab Qania.
“ Kamu kenapa tiba-tiba tanya hal itu.?” Tanya Qania menatap Diana penasaran.
“ Oh nggak, aku cuma penasaran aja sama suami Jingga.”
“ Kenapa kamu nggak langsung tanya sama Jingganya langsung.?”
“ Hhmm, nggak tahu kenapa semenjak Jingga menikah sama Arkana dia jadi lebih sering bohong.”
“ Kamu tahu dari mana kalau dia bohongin kamu.?”\
Belum sempat Diana menjawabnya, tiba-tiba saja Jingga sudah kembali dari toilet. Percakapan mereka pun harus berakhir untuk menjaga perasaan Jingga.
**
Sebuah mobil hitam baru saja berhenti di pelataran mall, terlihat seorang pria keluar dari dalam mobilnya. Dia mencoba mengecek ponsel melihat apakah ada pesan baru yang masuk, beberapa saat yang lalu Arkana di hubungi oleh Jingga untuk menjemput mereka semua karena mobil Qania mendadak tidak bisa jalan.
“ Mas Arka.” Suara Jingga baru saja membuat Arkana menoleh, dia bisa melihat tiga wanita di seberang sana sedang menunggunya.
Arkana terkejut saat melihat di antara mereka ada Diana, dia paling malas bertemu dengan wanita itu dan takdir membawanya bertemu disana. Kemudian mereka bertiga menyebrak sampai di hadapan Arkana.
“ Kamu nggak keberatan kan antar Diana sekalian pulang.?” Pinta Qania.
“ Lalu bagaimana dengan kamu.?” Tanya Arkana.
“ Aku sudah menghubungi montir untuk datang mengecek mobilku, jadi kamu bisa pulang sama mereka.” Balas Qania.
“ Kamu yakin nggak apa-apa kita tinggal.?” Sahut Jingga.
“ Nggak apa-apa, santai aja.” Ketika Qania hendak pergi dari hadapan mereka, Arkana dengan cepat menyahut.
__ADS_1
“ Biar aku antar pulang, kamu suruh orang lain aja yang bawa mobil kamu nanti.” Sahut Arkana menahan tangan Qania untuk tidak pergi.
Diana merupakan satu-satunya orang yang merespon hal itu dengan penuh rasa curiga, dia bisa melihat sorot mata Arkana kepada Qania pun terlihat berbeda dan tidak seperti ketika dia menatap istrinya sendiri.