Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
FLASHBACK ( Puncak Emosi)


__ADS_3


Arkana baru saja memasuki kamar mamanya, dia melihat mama Widya sedang berdiri di depan jendela kamar sambil menatap keluar jendela. Sebelumnya dia sudah mempersiapkan diri atas apa yang akan dia hadapi saat ini, dan saat mama Widya menoleh ke arahnya waktu terasa berhenti di sekitarnya.


“ Siapa gadis itu.?”


“ Dia teman Arka ma, namanya Qania.”


“ Teman? Kenapa kamu bawa seorang gadis ke rumah kalau statusnya hanya seorang teman, kamu nggak sedang bohong kan sama mama.”


“ Nggak ma, aku sama Nia benar-benar hanya seorang teman. Aku ajak dia ke rumah karena ingin memperkenalkannya sama mama.”


“ Mama nggak butuh kenalan sama teman kamu.”


“ Qania orang yang baik ma, dia sudah banyak bantu Arka sejak SMA.”


“ Mama nggak peduli, mama hanya ingin kamu fokus belajar supaya kamu bisa jadi dokter. Belum waktunya kamu mengenal seorang gadis, dan tidak ada kata teman di antara pria dan wanita.”


“ Baik ma.” Arkana hanya bisa pasrah, paling tidak kali ini dia tidak mendapat pukulan dari mamanya.


Arkana ingin sekali bertanya tentang apa yang dia dengar di bawah tadi, tentang hubungan mama Widya dan papa Hendra. Namun dia tahu menanaykannya pada mama Widya adalah kesalahan besar, sehingga dia akan pergi bertanya langsung pada papa tirinya itu.


**


Malam itu Arkana menemui papa Hendra dan mengajaknya bicara berdua, dia memastikan mamanya tidak mendengar percakapan mereka agar tidak membuatnya tersinggung dan marah.


“ Aku tidak sengaja mendengar kalian bertengkar, mama minta cerai sama papa kan? Aku ingin tahu kenapa mama bisa berkata seperti itu.?” Tanya Arkana dengan tatapan lurus ke papa tirinya.


“ Mama mu tidak pernah mencintai papa, dia menikah hanya untuk hidup dengan kecukupan. Mama mu ingin kamu sekolah yang tinggi dan membuat kehidupan kalian berdua lebih enak, dia telah melewati banyak hal sampai saat ini dan pilihan terakhirnya saat itu adalah menikah dengan papa.”


“ Apa maksudnya? Lalu kenapa papa menikahi mama kalau ternyata semua hanya untuk harta.?”

__ADS_1


“ Papa mencintai mama kamu.”


“ Cinta saja tidak cukup, percuma kalau hanya papa saja yang mencintai mama. Jadi kumohon jangan bercerai, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya kalau kalian sampai bercerai.”


“ Arka.” Papa Hendra menatap Arkana dengan tatapan yang berkaca-kaca, dia bisa merasakan kesedihan Arkana hanya dari melihat tatapan matanya saja.


“ Papa nggak akan cerai dari mama kamu, apapun akan papa berikan untuk membuatnya tetap bersama dengan papa.” Lanjut papa Hendra kemudian.


**


Keadaan semakin bertambah parah setelah itu, mama Widya memberontak pada semua orang di rumah. Dia menyakiti Arkana dengan kata-katanya bahkan sampai menyakiti papa Hendra, entah apa yang membuat mama Widya semakin kehilangan kendali dan berubah menjadi sangat menakutkan seperti sekarang.


Hingga suatu ketika dia melukai dirinya sendiri dan membuat dirinya harus masuk ke rumah sakit, Arkana sangat terpukul melihat mamanya masuk rumah sakit untuk pertama kalinya.


Dokter berkata bahwa mama Widya akan di rawat selama beberapa hari, dan Arkana harus kembali fokus pada kuliahnya seperti yang di katakan oleh mama Widya.


Selama mama Widya berada di rumah sakit, ujian kenaikan semester di langsungkan hari itu. Arkana tidak fokus dalam belajar karena dia khawatir, dia bahkan sampai mimisan karena merasa terbebani dengan segala sesuatu yang terjadi akhir-akhir ini.


Arkana pulang ke rumah dan langsung menyerahkan hasil ujiannya pada mama Widya, saat itu mama Widya menerima dan melihatnya dengan seksama. Namun kemudian mama Widya menatap Arkana dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


“ Berikan hasil ujian yang sebelumnya.”


“ Ada di kamar ma.”


“ Ambil.”


Arkana segera menuju kamar, dia tidak mengerti kenapa mamanya meminta hasil ujian sebelumnya yang dimana itu merupakan hasil ujian bulan lalu.


“ Ini ma.” Arkana menyerahkan lembar ujian sebelumnya dan di terima oleh mama Widya.


“ Kamu sudah berani berbohong sama mama ya.” Arkana mulai ketakutan saat mamanya berkata seperti itu.

__ADS_1


“ Maksud mama apa.?”


“ Hasil tes hari ini tidak memiliki stempel kampus, kamu membuat hasil palsu kan? Dimana hasil yang sebenarnya, mama mau lihat.”


Arkana sampai tidak menyadari tentang stempel tersebut, dia baru tahu setelah mama Widya menyadarinya. Hasil lembar ujian akan selalu di beri stempel oleh pihak kampus untuk menghindari manipulasi nilai, dan sekarang Arkana benar-benar dalam masalah karena telah berbohong.


Arkana terpaksa mengeluarkan hasil ujian yang asli pada mama Widya, dan saat dia menyerahkannya dia sudah yakin akan mendapat amarah yang luar biasa darinya.


“ B. Apa-apaan ini, kenapa turunnya sangat jauh?”


“ Aku sudah berusaha ma, waktu itu aku kepikiran mama di rumah sakit jadi aku nggak bisa fokus belajar.”


“ Alasan tidak masuk akal, bahkan tanpa kamu khawatirkan pun mama akan bisa sehat dengan cepat. Terus kenapa kamu berbohong dengan memanipulasi nilaimu.?”


“ Aku terpaksa melakukannya ma, aku mau mama bangga sama aku.”


“ Kamu benar-benar anak yang bodoh. Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti ini? bagaimana orang tua bisa senang jika anak mereka berbohong kepada mereka?” Gertak mama Widya dengan nada yang sangat keras.


“ Itu karena mama tidak akan pernah puas dengan hasil yang ku peroleh, mama pikir aku mau berbohong seperti ini? ekspresi mama akan selalu berubah saat melihat nilaiku jelek, hal ini yang membuat aku terpaksa memanipulasi nilai supaya mama bangga sama aku. “ balas Arkana yang tak tahan lagi dengan air mata yang di bendungnya.


“ Sini kamu.” Mama Widya menarik lengan Arkana menuju kamarnya, dan hal ini sekali lagi membuat Arkana kesal hingga akhirnya dia memberontak untuk pertama kalinya.


“ Aku bukan anak kecil lagi ma, aku nggak akan masuk ke kamar mandi lagi dan di kurung semalaman.” Ucap Arkana dengan nada yang keras.


Satu tamparan yang sangat keras berhasil mendarat di wajah Arkana, dia merasakan sakit yang luar biasa dari tamparan barusan. Dirinya diam di tempat dan mamanya kembali memarahinya dengan berbagai macam umpatan yang menyakiti perasaannya.


“ Masuk ke dalam kamarmu sekarang juga.” Ucap mama Widya sambil menunjuk pintu kamar Arkana.


Arkana langsung masuk saat itu juga, dan beberapa saat kemudian papa Hendra yang baru saja pulang dari rumah sakit melihat istrinya yang berdiri di depan pintu sambil menundukkan wajahnya.


“ Kamu memarahinya lagi.?” Tanya papa Hendra.

__ADS_1


“ Bukan urusanmu, ini urusanku dan anakku.” Balas mama Widya berlalu meninggalkan papa Hendra.


__ADS_2