Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Sinar Kehangatan


__ADS_3


Arkana tiba di ruangan mama Widya, begitu dia masuk hal tak terduga pun terjadi dimana mama Widya langsung menghajar wajah Arkana sampai membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.


“ Lihat perbuatanmu, kamu benar-benar sudah membuat nama keluarga kita hancur. Mama sudah pernah bilang sebelumnya, kalau kamu nggak tahan dengan Jingga jangan biarkan dia tinggal sama kamu.” Sahut mama Widya dengan emosi yang meluap.


“ Ma, jangan menyalahkan Arkana terus. Biarkan dia menjelaskan semuanya terlebih dulu.” Papa Hendra mencoba menangkan istrinya meskipun dia tahu itu tidak akan berhasil.


“ Anak ini sudah buat aku malu, aku sudah bilang untuk tetap merahsiakan ayah dari bayi itu. Tapi kebodohannya membuat semua ini terjadi, apa kata orang-orang nantinya.”


“ Mama nggak perlu khawatir, karena ayah dari anak itu sebenarnya aku.”


“ Apa maksudmu? Kenapa sekarang kau mengakui anak itu sebagai anakmu.?” Mama Widya tampak tidak paham.


“ Memang benar kalau sebelumnya aku menyuruh Jingga mengandung anak dari pria lain, tapi yang sebenarnya terjadi mereka tidak pernah melakukan hal itu. Justru aku yang membuatnya hamil, aku mabuk pada saat itu sehingga aku nggak ingat apa-apa. Itu sebabnya kalian nggak usah khawatir, aku bisa menyelesaikan masalah ini sendirian.” Jelas Arkana sukses membuat mama Widya dan papa Hendra terkejut mendengarnya.


“ Jadi anak itu adalah anak kalian.?” Tanya mama Widya tak percaya.


“ Aku terlambat mengingatnya, tapi Jingga sudah menjelaskan semua yang terjadi hari itu. Jadi benar kalau anak itu adalah anakku, dan soal Qania. Aku nggak pernah selingkuh sama dia, sejak aku dan Qania putus dia sudah nggak mau sama aku lagi. Sekarang benar-benar hanya ada Jingga di hatiku, aku nggak akan pernah melakukan semua hal itu. Jadi tolong kalian percaya sama aku.”


**


Tak pernah terbayangkan oleh Arkana sebelumnya bahwa topeng yang selama ini dia pakai akan hancur dengan rumor yang menyebar, mulai sekarang semua orang pasti akan memandangnya buruk dan dia tidak lagi mendapat julukan sebagai dokter tampan dan baik hati di rumah sakit itu.


Banyak hal yang telah terjadi dalam hidupnya dan semua sangat menyakitkan hingga membuatnya sesak, menjadi diri sendiri mungkin akan jauh lebih baik untuk sekarang.


Sekarang Arkana berhasil melewati semua orang dari ruangan mamanya menuju kamar Jingga, dia bisa mengetahui semua mata tertuju kepadanya dengan berbagai macam persepsi mereka masing-masing.


Ketika Arkana membuka pintu, dia melihat Jingga yang sudah bangun dan menatapnya bingung. Belum sempat Jingga bicara, Arkana sudah memeluknya dengan sangat lembut.


“ Mas? Kamu kenapa.?”


“ Aku nggak peduli lagi apa yang orang katakan, aku nggak masalah menanggung semua luka ini asal bukan Jingga yang merasakannya.” Benak Arkana seakan tak ingin melepaskan Jingga untuk saat ini.

__ADS_1


Jingga tidak mengerti kenapa Arkana bersikap demikian, yang bisa dia lakukan hanya membalas pelukan itu. Arkana pasti sangat sedih dan tidak bisa menunjukkan kesedihannya untuk sekarang, Jingga bisa mengerti dan akan menunggu sampai suaminya mengatakan semuanya.


Setelah beberapa saat kemudian akhirnya Arkana melepaskan pelukannya dari Jingga, kemudian dia menatap wajah cantik itu dengan penuh senyuman.


“ Pipi kamu merah.?” Tegur Jingga sambil menyentuh pipi Arkana.


“ Barusan ada paisen yang gemes sama aku, dia cubit pipiku sampai merah begini.” Arkana terpaksa berbohong dari pada tidak mengatakannya sama sekali.


“ Kamu pasti sering ketemu pasien yang begitu ya? Habisnya wajah kamu emang cubit able banget.” Seloroh Jingga dengan tawa kecilnya.


“ Aku nggak mau di cubit mereka, aku Cuma mau di cubit sama kamu.” Arkana kembali dengan mode manjanya yang membuat Jingga akhirnya menyerah.


Arkana kembali memandang wajah Jingga dengan penuh arti, sebaliknya Jingga di buat tersipu malu dengan tatapan itu.


“ Kapanpun aku bersamamu, rasanya masalahku jadi berkurang. Aku seperti berada di bawah sinar matahari yang hangat dan menenangkan.” Benak Arkana yang kemudian meraih wajah Jingga dan mendaratkan bibirnya di kening wanita itu.


“ Mas Arka aneh, sebenarnya apa yang terjadi dengannya.?” Batin Jingga berusaha terlihat tidak khawatir.


“ Emang boleh?”


“ Aku sudah bicara dengan doker kamu, untuk sementara kamu boleh rawat jalan. Jadi hari ini kita bisa pulang ke rumah.”


“ Aku mau banget mas, aku udah bosan banget di rumah sakit.”


**


Untuk sementara waktu forum rumah sakit tidak bisa di akses dan postingan tersebut tidak bisa lagi di lihat oleh semua orang, namun ada beberapa dari mereka yang telah mengambil bukti tersebut untuk di simpan oleh mereka masing-masing.


Semua orang di rumah sakit masih bertanya-tanya dengan rumor tersebut, tapi mereka tidak bisa menanyakannya langsung pada yang bersangkutan. Arkana dan Jingga sudah meninggalkan rumah sakit beberapa saat yang lalu, sedangkan Qania masih berada di ruangannya seorang diri.


Pintu baru saja terbuka dan yang datang saat itu adalah Aizen, pria itu lantas menghampiri istrinya dan memeluk Qania dengan penuh kelembutan. Dia sudah mendengar semuanya dari beberapa perawat setelah dia selesai melakukan operasi, saat mendengar berita tersebut jelas membuatnya langsung mencari Qania karena khawatir.


“ Aku percaya sama kamu, berita itu palsu. Dan aku yakin ada seseorang yang sengaja melakukan semua ini sama kamu.” Ucap Aizen mulai terpikirkan sesuatu dengan kejadian yang menimpa istrinya.

__ADS_1


“ Terima kasih karena kamu sudah mau percaya sama aku mas.” Balas Qania setidaknya merasa jauh lebih baik saat Aizen datang menenangkannya.


Suara ketukan pintu baru saja membuat Qania dan Aizen menoleh, tiba-tiba saja datang seseorang yang memberitahu Qania untuk ke ruangan direktur utama.


“ Kamu mau aku temenin.?” Tanya Aizen.


“ Nggak usah, aku bisa sendiri. Kamu tunggu aku disini ya, habis ini kita sama-sama pulang ke rumah.” balas Qania di balas anggukan pelan dari Aizen.


Setelah melihat kepergian istrinya, Aizen kembali memikirkan sesuatu yang entah mengapa sudah mengganggunya sejak tadi. Dia belum melihat postingan itu, tapi mengenai rekaman hanya satu orang yang dia tahu memiliki bukti rekaman itu.


**


Kembali ke rumah setelah sekian lama membuat Jingga merasa begitu bebas, dia tidak lagi harus berbaring di atas tempat tidur rumah sakit karena sekarang dia bisa berbaring di tempat tidur yang empuk.


Jingga baru saja menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, kemudian Arkana datang memeluknya dengan manja seperti biasa. Saat di tanya Arkana hanya menjawab bahwa dia sangat merindukan istrinya, di rumah sakit dia jarang menunjukkan perasaannya tapi sekarang dia ingin menunjukkan perasaannya setiap saat.


“ Aku boleh minta tolong sama kamu nggak.?” Bisik Arkana.


“ Apa mas.?” Tanya Jingga penasaran.


Arana melepaskan pelukannya dan berkata, “ Selama kamu di rumah, hp kamu aku yang pegang ya.”


Jingga kemudian meraih tasnya dan merogoh isinya sampai dia berhasil menemukan ponselnya, kemudian benda pipih itu dia berikan kepada Arkana dengan suka hati.


“ Kamu nggak bertanya kenapa aku mau simpan hp kamu.?” Tanya Arkana menatapnya sendu.


“ Demi kesehatan aku kan? Lagi pula aku jarang pakai hp selama kamu ada di sampingku.” Jawab Jingga yang membuat Arkana kembali memeluknya dengan penuh kasih sayang.


“ Aku janji nggak akan buat kamu sedih, terima kasih ya. Aku sayang banget sama kamu.” Kata Arkana yang entah sudah berapa kali dia mengungkapkan perasaan sayangnya pada Jingga.


“ Aku juga sayang sama kamu mas.”


__ADS_1


__ADS_2