Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Amnesia


__ADS_3


Hari ini Jingga telah selesai menemani Keenan untuk kelas pertamanya, besok dia sudah tidak perlu datang menemani lagi. Sesuai aturan sekolah, para orang tua hanya di perbolehkan untuk datang di saat mengantar dan menjemput anak setelah sekolah usai.


Keenan terlihat begitu gembira setelah menyelesaikan hari pertamanya sekolah, dia senang karena telah mendapatkan begitu banyak teman yang selama ini belum pernah dia temukan.


Jingga terlihat membawa tas milik Keenan sambil menggandeng tangan anaknya itu, sebelumnya Jingga telah menghubungi Arkana untuk datang menjemput tapi sayang, Arkana sedang menangani banyak pasien sehingga Jingga dan Keenan terpaksa harus pulang menggunakan taksi.


" Mama aku mau makan es klim. " Pinta Keenan dengan manja.


" Nggak dulu, jadwal makan es krim kamu setiap minggu. Mama nggak akan kasih kalau bukan di hari minggu. "


" Mama pelit, kalau papa pasti langsung ajak aku ke baskin lobin. "


" Oh jadi papa sering ngajak kamu makan es krim? "


Keenan langsung menutup mulut dengan kedua tangannya, namun Jingga sudah mendengarnya langsung dan membuatnya marah pada Arkana.


Keenan tampak berlari kecil menuruni anak tangga untuk menghindari Jingga, namun pada saat itu Keenan tersandung yang membuatnya terhuyung ke bawah.


Jingga dengan cepat bergerak meraih putranya, dia berusaha menarik tubuh Keenan dan berhasil menangkapnya. Tapi sayang yang jatuh tepat menghantam lantai adalah Jingga, dia tidak peduli dengan dirinya saat itu karena yang terpenting adalah keselamatan Keenan.


" Mama. "


Suara Keenan terdengar begitu pelan, entah sejak kapan suara anaknya terdengar sangat pelan. Atau mungkin kesadarannya yang mulai memudar seiring penglihatannya pada sosok mungil di depannya saat ini.


**


Tangis Keenan terdengar masih mendominasi ruangan, saat ini dia sedang di asuh oleh karyawan di butik milik Jingga setelah Arkana datang ke sekolah dan membawa Jingga ke rumah sakit.


Keenan sangat syok dengan apa yang terjadi pada mamanya, dia merasa takut sesuatu terjadi pada mamanya. Seandainya dia berhati-hati saat menuruni tangga itu, mungkin kejadian seperti tadi tidak akan pernah terjadi.


" Mama kamu pasti baik-baik aja nak, Keenan berhenti nangis ya. " Ucap Sofia dimana hanya wanita itu saja yang Keenan suka dan mau untuk di asuh bersamanya.

__ADS_1


Keenan tidak bisa berhenti menangis, dia terus menangis sampai nafasnya berburu dengan cepat. Sofia sampai takut sesuatu terjadi pada Keenan, dia tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menenangkan anak itu.


Sampai pada akhirnya kakek dan neneknya datang dari Indonesia, Widya dan Hendra langsung datang setelah mendengar kabar Jingga yang mengalami kecelakaan saat menyelamatkan Keenan.


" Cucu nenek, sini sayang." Widya meraih Keenan ke dalam gendongannya dan mencoba menenangkan cucu kesayangannya itu.


" Nenek disini nak, jangan nangis ya. Mama kamu pasti sembuh, dia akan pulang bersama papa kamu hari ini. " Lanjut Widya yang perlahan mampu membuat Keenan berhenti menangis.


" Mama benelan pulang kan nek? Mama nggak sakit palah kan.? " Ucap Keenan dengan tersedu-sedu.


" Iya sayang, mama pasti pulang dan dia nggak sakit parah. Jadi kamu berhenti nangis ya, nanti mama sama papa kamu khawatir kalau kamu nangis terus. " Balas Widya di balas anggukan pelan dari Keenan yang akhirnya berhenti menangis.


**


" Cepat ikut aku, sini. "


" Dengar ya, aku nikahin kamu itu karena terpaksa. "


" Bisa nurut apa kata suami nggak sih? "


" Kamu itu pembawa sial, hidupmu nggak akan tenang mulai sekarang. "


Wanita itu terlihat mulai gelisah dalam tidurnya, mimpi buruk yang menghantuinya kini berhasil membuatnya terbangun dari tidur panjangnya.


Jingga mengerjap pelan lalu melirik sekitar ruangan yang terlihat asing, namun satu yang dia tahu pasti bahwa saat ini dirinya sedang berada di rumah sakit.


Ingatan Jingga saat ini sedang kacau, dia baru saja mengingat alasan dirinya bisa berada di rumah sakit. Entah kemarin atau beberapa hari yang lalu, Arkana marah padanya dan membawanya ke kamar mandi hingga menyakitinya dengan perkataan dan pukulan yang masih terasa sakit dia rasakan.


" Aku nggak tahan dengan semua ini, pernikahanku sama mas Arka hanya menyimpan banyak kenangan buruk. Apa sebaiknya aku pergi aja dari hidupnya? Toh dia juga masih mencintai wanita di masa lalunya. " Benak Jingga berusaha bangun dari tempat tidur.


Kepalanya langsung terasa begitu sakit, dia sadar bahwa ada perban yang menempel di kepala bagian belakangnya. Rasanya sangat sakit hingga membuatnya sulit bergerak untuk beberapa saat.


Pintu baru saja terbuka dan memunculkan seorang perawat dan sosok yang membuat Jingga langsung ketakutan, dia mencoba untuk bersikap tenang namun tidak bisa.

__ADS_1


" Kamu udah sadar? Aku habis ke ruangan dokter untuk bertanya karena kamu tidur selama dua hari. Aku sudah khawatir banget sama kamu. " Sahut Arkana namun terdengar bulshit di telinga Jingga.


Rasa khawatir yang di tunjukkan Arkana sekarang hanya sebuah kepalsuan, dia tahu kalau pria itu selalu haus validasi dan sangat berbeda jika hanya ada dirinya dan Arkana di satu tempat yang sama.


" Gimana keadaan kamu.? " Tanya Arkana hendak menyentuh tangan Jingga, tapi di tepis olehnya.


Arkana terkejut melihat respon Jingga yang tidak biasanya, bahkan kali ini Jingga mengalihkan pandangannya seakan enggan melihat wajah Arkana.


" Sus, biar saya yang periksa keadaannya bisa kan? " Tanya Arkana pada perawat yang datang bersamanya tadi.


" Silahkan, panggil saya kalau ada sesuatu pak. " Jawabnya dan perlahan pergi meninggalkan ruangan itu.


" Hey, kamu kenapa? Kok nggak mau aku sentuh? Kamu baik-baik aja kan sayang.? " Tanya Arkana berusaha menyentuh Jingga sekali lagi namun gagal.


" Aku mau kita pisah, aku nggak mau mempertahankan pernikahan ini lagi. " Ucap Jingga sukses membuat Arkana terkejut bukan main.


" Kamu ngomong apa sih? Jangan bercanda, nggak lucu tau. Kamu koma selama dua hari, hal itu udah buat aku khawatir tahu. " Sahut Arkana seakan tak mau percaya pada apa yang di ucapkan Jingga barusan.


" Kamu nggak perlu bersandiwara mas, sekarang di ruangan ini hanya ada aku dan kamu. Kamu yang buat aku masuk rumah saki, dan sekarang kamu bertindak seolah-olah peduli sama aku. "


Arkana benar-benar di buat terkejut mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Jingga, dia tidak mengerti kenapa Jingga bersikap seolah-olah dia sedang berhadapan dengan sosok Arkana yang dulu.


" Kamu kenapa sih? Dua hari lalu kamu nggak kaya gini, kita masih baik-baik aja. Kamu tahu bukan aku aja yang khawatir, tapi Keenan juga. "


" Keenan? Siapa Keenan.? " Benak Jingga bingung.


" Kondisinya seperti orang yang mengalami amnesia, dia bersikap seperti ini apa karena dia melupakan semuanya? Tapi, kenapa harus begini? Sial. " Batin Arkana merasa begitu kesal.


" Kamu, apa jangan-jangan kamu lupa dengan Keenan.? " Tanya Arkana.


" Aku tidak mengenalnya, siapa Keenan.? "


Arkana mulai menduganya sekarang, Jingga mungkin mengalami amnesia dimana dia hanya mengingat sebagian kenangan setelah mereka menikah saja.

__ADS_1


Jika seperti itu, artinya Jingga hanya bisa mengingat Arkana dengan segala sikap buruk yang telah dia lakukan kepada Jingga selama ini.



__ADS_2