
Arkana baru saja tiba di rumah dan masuk ke dalam hingga terus menuju ke kamarnya, bi Salma berkata bahwa Keenan sudah tidur setelah selesai minum susu.
Saat Arkana hendak masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba saja bi Inah memberikan sebuah amplop coklat yang di kirim oleh seseorang melalui jasa kurir.
“ Apa ini bi.?” Tanya Arkana penasaran.
“ Saya nggak tahu den.” Balasnya pelan.
“ Terima kasih ya bi.” Dan Arkana pun kembali masuk ke dalam kamarnya dengan membawa amplop tersebut.
Arkana menjatuhkan tubuhnya tepat di sebelah Keenan yang saat ini sedang tertidur dengan pulas, melihat Keenan setelah seharian mencari Jingga rasanya membuat perasaan Arkana menjadi sedikit lebih baik.
“ Sekali lagi papa minta maaf ya nak, papa belum berhasil menemukan mama.” Ucapnya dengan penuh kelembutan menyentuh tangan mungil Keenan.
“ Papa nggak mau berhenti mencari mama kamu, tapi kenapa rasanya hampir tidak ada harapan untuk papa menemuinya? Bahkan untuk sekali saja, rasanya sangat sulit.” Lanjutnya kemudian.
Arkana menatap amplop pemberian bi Inah dengan tatapan penasaran, dia kemudian meraih amplop tersebut dan mulai mengeluarkan isinya. Saat di buka, Arkana terlihat begitu terkejut karena ternyata isinya adalah sebuah surat gugatan perceraian yang dimana sudah ada tanda tangan Jingga di atasnya.
“ Apa-apaan ini? kenapa ini datang sekarang? “ Arkana merasa marah dan kesal dan membuang surat itu ke lantai.
Dan saat di cek lagi ternyata ada sebuah surat lain yang di tinggalkan, Arkana mulai membuka dan membacanya.
“ Mas, aku ingin segera bercerai dengan kamu. Tolong tanda tangan secepatnya dan kirim surat ini ke kantor pos besok pukul 10:00 pagi dan sebut saja namaku pada salah satu petugas disana. Aku harap kamu segera menandatanganinya supaya hubungan kita benar-benar selesai.”
Arkana langsung meremuk surat itu dengan sangat kuat, dia masih tidak percaya jika ini semua adalah perbuatan Jingga. Kemudian Arkana kembali meraih surat itu dan menatapnya dengan tatapan penuh arti.
“ Kita tunggu saja, aku nggak sebodoh yang kamu pikirkan.”
__ADS_1
**
Pukul 10:00 pagi lebih awal dari seharusnya, Arkana kini sudah tiba di kantor pos dengan sebuah amplop coklat di tangannya. Dia kemudian berjalan menghampiri seorang petugas yang bekerja di kantor pos itu dengan menyerahkan amplop tersebut dan menyebutkan nama Jingga.
Setelah semua selesai barulah Arkana pergi dari tempat tersebut, dia masuk ke dalam mobilnya dan melaju dengan kecepatan yang sedang. Beberapa menit kemudian dia sengaja menepi di sekitar kantor pos sambil membuka ponselnya yang menunjukkan sebuah titik GPS yang sengaja dia selipkan ke dalam ampolop tersebut.
“ Kau tidak bisa lolos, sekalipun mereka membawa surat itu pergi ke suatu tempat, aku akan tahu siapa pelakunya.” Ucap Arkana dengan tatapan lurus ke ponselnya.
Pergerakan sudah mulai terlihat, Arkana pun mengikutinya dengan sangat hati-hati. Dia bisa melihat ada sebuah mobil hitam di depannya yang saat ini melintas menuju arah tol.
“ Lagi-lagi tol Cipularang. “ ucap Arkana yang terus mengikutinya dari belakang.
Setelah menempuh perjalanan dua jam empat puluh Sembilan menit, kini mereka sudah memasuki kawasan Bandung. Arkana pun semakin penasaran kenapa surat itu di bawa ke Bandung? Terakhir kali dia mengikuti Bima ke Bandung tapi tidak menemukan apapun.
Kini mobil yang di ikuti oleh Arkana terlihat berhenti di sebuah apartemen mewah yang menarik perhatiannya, Arkana melihat bagaimana seorang pria turun dari mobil itu dan membawa amplop yang dia serahkan di kantor pos hari ini.
Arkana sudah masuk ke dalam dan terlihat pria yang membawa amplop sedang berbicara dengan seorang resepsionis, tak cukup lama sampai akhirnya dia bergegas menuju lift dan membuat Arkana ikut mengikutinya dari belakang.
Saat ini Arkana dan pria itu sudah berada di dalam lift yang sama, ada sekitar lima orang di dalam sana dan terlihat Arkana yang berdiri di pojok sudut dengan berpura-pura memainkan ponselnya.
Pintu lift baru saja terbuka di lantai sepuluh, pria itu keluar terlebih dulu. Untuk membuatnya tidak curiga, Arkana sengaja memberi jarak sampai pintu lift hampir tertutup dan dengan cepat dia tahan agar kembali terbuka.
“ Maaf, saya mau turun di lantai ini.” kata Arkana pada orang-orang yang juga menggunakan lift tersebut.
Sekarang Arkana melanjutkan pengintaiannya dengan memperhatikan pria itu yang kini baru saja mengetuk salah satu pintu kamar apartemen. Arkana sudah bisa melihat nomor dari unit apartemen itu sehingga dia bisa langsung mengeceknya setelah pria itu pergi.
Tepat saat pria itu meninggalkan kamar tersebut, butuh beberapa waktu sampai akhirnya Arkana mendatangi kamar tersebut. Arkana yang sudah terbawa emosi pun langsung menggedor pintu itu dengan keras, dia tidak sabar untuk melihat siapa yang sebenarnya melakukan semua ini.
Suara knop yang baru saja terbuka langsung membuat Arkana mendorong pintu tersebut dan memaksa masuk ke dalam. Dia terus berjalan sampai akhirnya dia melihat seorang wanita yang tidak di kenalnya tengah duduk di atas sofa sambil menikmati makanannya.
__ADS_1
“ Maaf, kamu siapa ya? Kenapa masuk ke apartemen orang tanpa izin.?” Sahut pria yang membuka pintu barusan.
“ Dimana kalian menyembunyikan Jingga.?” Tanya Arkana menatap mereka berdua dengan serius.
“ Siapa Jingga? Kami nggak kenal.” Jawab mereka.
“ Bohong, pasti kalian yang menyembunyikan Jingga di suatu tempat. Pria yang datang membawa amplop barusan buktinya, aku sudah mengikuti pria itu sejak tadi.” Lanjut Arkana.
“ Amplop yang ini.?” Wanita itu kemudian menunjukkan sebuah amplop coklat kepada Arkana.
“ Ya itu amplopnya, isinya adalah surat gugatan cerai kan.?”
“ Maaf pak, tapi ini adalah hasil lab suami saya. “
“ Apa katamu.?”
Arkana yang tak percaya langsung merebut amplop tersebut dan mulai mengeceknya, dan setelah di cek ternyata memang benar bahwa isi dari amplop tersebut adalah hasil dari lab rumah sakit.
Sejenak Arkana terpaku di tempatnya, dia sudah sangat yakin bahwa pria yang membawa amplop tersebut adalah pria yang sama yang dia ikuti sejak tadi. Lalu bagaimana bisa amplop tersebut berbeda? Siapa yang salah disini.
Gps yang di simpan Arkana pun ada di dalam amplop tersebut, yang itu artinya pria barusan sadar bahwa dia tengah di lacak dan membuat skenario seolah-olah amplop yang asli di berikan kepada orang yang di hadapi oleh Arkana sekarang.
Karena telah mengusik ketenangan mereka berdua, Arkana pun meminta maaf yang sebesar-besarnya dan menjelaskan kepada mereka bahwa dia hanya panic sebab istrinya menghilang selama tiga minggu.
Kedua pasangan suami istri itu memahami Arkana dan memaafkannya, sehingga Arkana bisa pergi tanpa ada permasalahan yang terjadi lagi. Begitu Arkana sudah keluar, dia kembali di buat kebingungan dengan kurir pengantar amplop itu.
“ Apa sekarang aku gagal lagi mencaritahu tentang kamu.?” Benak Arkana yang terlihat begitu putus asa.
__ADS_1