
“ Aku ada kerjaan buat kamu, gajinya pun lebih besar dari pekerjaanmu yang sekarang.” Ucap Jingga membuat Erwin menatapnya penasaran.
“ Pekerjaan apa.?”
“ Rencananya aku mau bangun butik yang baru di tempat itu, tapi untuk kondisi ku yang sekarang kayaknya aku belum bisa. Kalau kamu mau, aku bisa kasih tanggung jawab itu ke kamu. Kamu bisa dapat penghasilan juga dari projek ini, caranya kamu hanya perlu mencari arsitek dan tukang bangunan yang bisa mengerjakannya. Dan soal uang, aku akan transfer ke rekening kamu, gimana.?”
“ Kamu serius mau kasih aku kepercayaan kaya gini? Kita bahkan belum kenal dekat, gimana kalau aku bohong dan bawa lari uang kamu.?”
“ Aku percaya sama kamu, berkat kamu juga aku bisa selamat dari niat mas Arka waktu itu.”
“ Oke, memangnya kamu mau gaji aku berapa.?”
“ Aku kasih 500 juta buat kamu sampai pembangunan itu selesai.”
“ Bentar..bentar, 500 juta itu buat pembangunan atau buat aku.?”
“ Buat kamu, aku kasih uang pembangunan terpisah jadi kamu tenang aja.”
Erwin tampak syok berat mendengar Jingga akan memberikan 500 juta untuknya, uang sebanyak itu bahkan tidak bisa dia kumpulkan meskipun satu tahun bekerja menjadi pria sewaan.
“ Baik, aku terima.” Erwin menyodorkan tangannya sebagai bentuk kesepakatan mereka terjalin.
“ Kalau gitu kita tukeran nomor, jadi aku bisa transfer uangnya ke kamu.”
“ Nomor aku 085676478xxx.”
“ Terima kasih ya Erwin, sekali lagi kamu bantuin aku.”
“ Justru kamu yang bantu aku, aku bisa keluar dari pekerjaan itu dan menikmati uang pemberian dari kamu. Atau bahkan aku bisa buka usaha, ya ampun Jingga, aku berterima kasih banget sama kamu.”
__ADS_1
Suara tepuk tangan baru saja membuat Jingga dan Erwin menoleh, mereka di buat terkejut dengan kemunculan Arkana yang secara tiba-tiba hadir. Bahkan Jingga tidak tahu bagaimana Arkana bisa tahu dimana dia sekarang, semuanya terjadi tanpa dia sadari.
“ Oh, jadi rupanya kamu diam-diam bertemu dengan ayah anak itu.” Ucap Arkana dengan senyum tipis di bibirnya.
“ Hey, dia Cuma nggak sengaja ketemu sama aku.” Sahut Erwin berusaha membela Jingga.
“ Pelacur kaya kamu sebaiknya diam, ini urusanku dengan istriku.” Tunjuk Arkana pada Erwin.
“ Dan untuk kamu, sekarang kamu udah berani ya keluar dari rumah? Terus bertemu sama pelacur ini, atau jangan-jangan kalian berencana menikah setelah kita pisah.?”
“ Jaga mulut kamu, dia itu istri kamu.” Erwin terbawa emosi sampai menarik kerah baju Arkana dengan kasar.
“ Jauhkan tangan kotormu dari bajuku.” Titah Arkana masih terlihat sabar.
“ Pekerjaanku memang kotor, tapi aku bisa menghargai wanita lebih baik dari pada kamu.” Balas Erwin tak mau mengikuti perintah Arkana.
Karena Erwin tidak mendengarkan apa katanya, Arkana pun memberikan bogeman mentah tepat di wajah Erwin hingga membuatnya tersungkur ke tanah.
“ Mas, cukup. Jangan berantem di tempat umum.” Tahan Jingga ketika Arkana ingin memukulnya sekali lagi.
Erwin tak terima dengan pukulan yang di dapat barusan, dia bangkit dan membalasnya kepada Arkana. Saling adu jotos mereka lakukan hingga membuat Jingga bingung harus memisahkannya dengan cara apa.
“ Wanita sebaik Jingga memang tidak pantas mendapatkan pria brengsek seperti kamu.” Kata Erwin dengan emosi di sertai tinjuan yang cukup kuat ke arah perutnya.
“ Dan kau pikir pelacur sepertimu yang sudah mencoba semua wanita berhak berkata seperti itu.” Arkana ikut membalasnya sekali lagi dan dia berhasil membuat Erwin tersungkur.
Arkana berusaha bangkit kembali, dan saat dia ingin memukul Erwin untuk kesekian kalinya, dengan cepat Jingga menahannya. Jingga memeluk tubuh Arkana dari belakang, namun emosi Arkana yang meluap membuatnya secara tak sadar mendorong Jingga hingga dia terjatuh ke tanah.
“ Jingga.” Teriak Erwin yang panik dan bergerak cepat mengecek keadaannya.
Arkana sadar atas apa yang dia lakukan barusan, ketika dia menoleh terlihat darah segar yang keluar dari balik dress putih Jingga. Melihat Jingga yang meringis kesakitan membuat Arkana tak bisa berkata-kata, dia diam di tempatnya sambil menyesali perbuatannya barusan.
__ADS_1
“ Apa yang ku lakukan? Bukan ini yang ku mau, kenapa justru aku yang menyakitinya.?” Benak Arkana merasa dunianya seketika berhenti, dia tidak bisa mendengar apapun di sekitarnya sampai tempat itu ramai dengan orang-orang yang ingin membantu Jingga, Arkana masih tetap berdiri di tempatnya.
**
Semua sudah ada di rumah sakit, Arkana dan Erwin menunggu diluar ruangan. Erwin adalah satu-satunya yang terlihat sangat panik, sementara Arkana masih termenung dan menyesali perbuatannya.
Saat ini Arkana berpikir bahwa keselamatan Jingga adalah nomor satu, kalaupun bayi di dalam kandungan Jingga kenapa-napa dia tidak akan merasa khawatir.
“ Kenapa kau masih disini? Dia bukan istrimu, sebaiknya kau pergi dari sini.” Sahut Arkana pada Erwin.
“ Tentu saja aku khawatir.” Balas Erwin sinis.
Arkana menarik kerah baju Erwin dan menatapnya dengan penuh emosi.
“ Kamu nggak ada hak untuk berada disini, sekarang pergi sebelum aku memukul wajahmu sampai hancur.” Ancam Arkana.
“ Memangnya salah kalau aku ada disini untuk mengetahui keadaan bayiku.?” Ucap Erwin terpaksa mengatakan hal itu.
Arkana yang kembali terbawa emosi pun langsung memukul wajah Erwin dengan penuh emosi, dia terus memukul Erwin sampai tidak sadar dirinya sedang menjadi bahan tontonan orang-orang di rumah sakit.
Arkana tidak peduli mereka menyaksikannya, saat ini dia bukan berada di rumah sakit bintang harapan. Karena lokasinya jauh, mereka hanya membawa Jingga ke rumah sakit terdekat yang ada di lokasi kejadin tadi.
“ Kenapa kamu marah? Bukannya kamu sendiri yang bilang bayi itu adalah anakku? Seharusnya kamu tidak marah hanya karena aku mengakuinya sebagai anakku kan.?” Erwin sengaja memancing emosi Arkana untuk mengetahui sesuatu.
“ Diam, ku sarankan untuk tutup mulut kotormu itu.” Ucap Arkana dengan tatapan yang lebih menakutkan dari sebelumnya.
“ Arka, apa yang sedang kamu lakukan sekarang.?” Suara itu berhasil membuat Arkana terdiam, dia melepaskan kerah baju Erwin dan menjauh darinya.
“ Apa yang terjadi disini? Dimana Jingga, bagaimana keadaannya.?” Tanya mama Widya menatap Arkana dengan penasaran.
Arkana diam, dia tidak bisa menjelaskan apapun untuk saat ini. Sedangkan Erwin terlihat maju dan menjelaskan semuanya kepada mama Widya, awalnya Arkana melarang Erwin untuk memberitahu mama Widya. Tapi mama Widya tetap menyuruh Erwin yang menjelaskan semuanya.
__ADS_1
“ Terima kasih, dan maaf atas perbuatan Arkana. Saya akan memberikan biaya pengobatan untukmu, dan tolong untuk tidak melaporkan Arkana ke polisi.” Ucap mama Widya sambil menyodorkan cek kosong kepada Erwin.
“ Nggak usah tante, saya Cuma minta supaya anak tante di didik jadi pria yang baik. Saya permisi.” Kata Erwin yang kemudian berlalu meninggalkan mereka semua.