
Shift malam kembali harus di lakukan beberapa dokter di rumah sakit bintang harapan, termasuk Arkana, Qania, Nisa, dan mahasiswa koas lainnya.
Qania dan Nisa sepakat memberi pelajaran untuk Tsania agar berhenti mengikuti Arkana kemana pun dia pergi, jadwal Arkana sudah cukup sibuk tapi Tsania terus menanyakan sesuatu tentang pasien kepada Arkana padahal hal itu bisa saja dia tanyakan pada Nisa.
Dan malam itu Qania mengajak beberapa mahasiswa koas yang perempuan dan beberapa perawat untuk makan cemilan yang telah dia pesan sebelumnya, semua berkumpul di satu ruangan khusus istirahat para pekerja di rumah sakit itu.
Tsania dan Wulan baru saja bergabung meskipun saat itu terlihat wajah Tsania yang sebal karena dia tidak berharap ada disana, tapi ini adalah salah satu cara Qania untuk memberikan pelajaran untuknya.
“ Silahkan masuk, kalian boleh makan cemilan dan minuman yang saya beli.” Ucap Qania mempersilahkan.
“ Terima kasih banyak dok.” Balas Wulan.
Tsania terlihat menatap Qania dengan tatapan tak suka, terakhir kali mereka mengobrol berdua seputar permasalahan Arkana yang ingin membuatnya cemburu. Tapi karena semua sudah terselesaikan, mereka pun sangat jarang mengobrol lagi.
“ Karena semua yang ada disini adalah perempuan, bagaimana kalau kita saling terbuka untuk malam ini.” Seru Qania.
“ Setuju dok, karena sesama perempuan pasti punya banyak masalah yang bisa di mengerti satu sama lain.” Sambung Nisa.
“ Kayaknya yang bagus mulai duluan itu mahasiwa koas deh, kalian kan masih muda. Dan saya penasaran dengan Tsania, kamu dari departemen bedah syaraf di bawah bimbingan dokter Arkana kan? Saya lihat di postingan instagram kamu, kayaknya kamu lagi dekat dengan seseorang di rumah sakit ini ya? Boleh di cerita sedikit ke kita-kita.?” Qania langsung menyerang Tsania dengan pertanyaan tak terduga yang di dengar oleh Tsania saat ini.
“ Saya nggak dekat sama siapa-siapa dok.” Balas Tsania tampak grogi.
“ Oh ya? Tapi kok saya sering lihat postingan kamu yang bilang kalau kamu senang bisa satu tempat kerja dengan dia di rumah sakit. Kamu mau bukti? Aku kasih lihat ya.”
“ Maaf dok, tapi ini privasi yang nggak bisa saya kasih tahu ke semua orang.” Sahut Tsania berusaha menggagalkan aksi Qania.
“ Kenapa? kamu nggak lagi dekat sama suami orang kan.?” Sambung Qania spontan membuat semua mata tertuju pada Tsania saat ini.
“ Bagusnya kamu jujur aja Tsania, apalagi kita satu departemen kan.” Lontar Nisa menambahkan.
Tsania merasa tidak nyaman dengan situasinya sekarang, semua mata tertuju padanya dan dia tidak tahu harus berkata apa. Kemudian Wulan yang duduk di sebelahnya pun langsung angkat bicara.
__ADS_1
“ Tsania sama Gabriel memang pacaran dok, laki-laki yang dokter maksud itu adalah Gabriel.” Ucap Wulan sontak membuat Tsania terkejut mendengarnya.
“ Kamu apa-apaan sih? Kenapa bawa-bawa nama Gabriel.?” Bisik Tsania kesal.
“ Kamu mau mereka menuduh kamu dekat dengan dokter Arka? Kamu harus ingat dia punya istri, dan dia juga anak pemilik rumah sakit ini. Kamu harus terima kalau kamu dekat sama Gabriel.” Balas Wulan baik menyelamatkan Tsania dari situasi tersebut.
“ Benar dok, saya dekat sama Gabriel. Dia pacar saya.”
Dan begitulah obrolan mereka semua berakhir setelah Tsania mengaku pacaran dengan Gabriel, karena sudah waktunya jam kerja semuanya pun harus kembali ke tempatnya masing-masing.
“ Rencana kita gagal dok.” Ujar Nisa dengan wajah memelas.
“ Kalau bukan karena temannya, aku yakin dia pasti takut kalau sampai ketahuan suka sama Arkana.” Balas Qania dengan ekspresi kesalnya.
“ Jadi selanjutnya apa dok.?”
“ Aku masih ada satu rencana lagi.”
**
“ Ada apa.?”
“ Kamu kenapa sok jadi pahlawan tadi? Dengar ya, aku nggak butuh bantuan kamu. Dan jangan pernah menyebarkan rumor palsu lagi tentang Gabriel.” Kata Tsania dengan penuh penekanan.
“ Kalau aku nggak bilang begitu, memangnya kamu mau semua orang tahu kalau kamu suka sama dokter Arka.?” Lontar Wulan ketus.
“ Memangnya kenapa? itu urusan aku mau suka sama siapapun, dan aku nggak peduli kalau dokter Arka sudah punya istri atau belum, aku tahu apa yang harus ku lakukan jadi kamu urus saja urusan kamu sendiri.” Tsania pun berlalu meninggalkan Wulan menuju toilet yang ada di depan koridor.
Saat ini Tsania sudah masuk ke dalam toilet, dia baru saja menendang tempat sampah yang ada disana hingga membuat isinya berserakan kemana-mana.
“ Sial…siallll…, berani sekali dia mempermalukanku di depan semua orang. Dia pasti sengaja melakukan hal ini padaku, kita lihat saja siapa yang akan berhasil melakukannya.” ucap Tsania begitu emosi.
Tak lama setelah itu Tsania mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi seseorang, tak cukup lama hingga panggilan itu berhasil di jawab oleh yang bersangkutan.
__ADS_1
“ Aku mau minta satu permintaan sama tante, dan aku mau tante harus melakukannya. Kalau tante menolak, siap-siap masalah tante akan di ketahui oleh banyak orang.”
**
Tsania baru saja keluar dari toilet dengan ekspresi yang sangat lega, akhirnya dia bisa pulang cepat dan sekarang dia ingin ke ruangannya Arkana untuk mengajaknya pulang bersama.
“ Tsania.” Suara yang tidak asing baru saja membuat Tsania menoleh.
“ Ada apa lagi sih.” Benak Tsania kesal ketika dia melihat Nisa baru saja berdiri di hadapannya.
“ Ada pesan dari dokter Arka, katanya kamu di suruh periksa pasien yang di ruangan mawar sekarang.”
“ Kenapa harus aku? Dan bukannya pasien di ruangan mawar itu tugasnya Wulan.?”
“ Sayangnya Wulan sibuk di bangsal, begitu pun dengan Gabriel. Jadi hanya ada kamu yang tersisa.”
“ Lalu kenapa bukan kak Nisa aja yang pergi.?”
“ Ini perintah dari dokter Arkana loh, kalau kamu menolak ya udah biar aku kasih tahu ke beliau.”
“ Tunggu, biar aku yang periksa.” Tsania pun terpaksa melakukannya, meskipun dia sudah berhasil mendapat izin pulang cepat tapi karena ini adalah permintaan Arkana mau tidak mau dia harus melakukannya.
Nisa tampak tersenyum puas melihat Tsania yang berhasil tertipu dengan rencana Qania itu, tampak Qania yang baru saja muncul ikut tersenyum puas melihatnya.
“ Kita lihat saja seberapa tahan dia dengan pasien di kamar mawar itu.” gumam Qania dengan senyum yang puas.
“ Kalau saya sih udah nyerah dok, pasien di kamar mawar nggak ada yang bisa handle kecuali dokter Arka.” Kata Nisa.
Pasien di kamar mawar merupakan pasien seorang wanita tua yang selalu banyak mau dan suka marah-marah, semua orang yang berhadapan dengannya akan mendapat perlakuan yang sangat menyebalkan. Dan sejauh ini hanya Arkana saja yang bisa menenangkannya, itu karena wanita tua itu suka dengan pria-pria tampan.
“ Tugas kita sudah selesai, aku yakin dia bakal lama di kamar itu jadi nggak akan gangguin Arkana lagi.” Seru Qania setelah dia merasa cukup puas untuk hari ini.
“ Baik dok, saya permisi kalau begitu.” Balas Nisa segera menuju ke tempatnya.
__ADS_1