
Arkana masih syok dengan apa yang di dengarnya barusan, apa yang telah di berikan oleh papa Hendra kepadanya telah di tolak dengan alasan dia tidak berhak menerima semua itu.
Namun di samping itu Arkana memang sudah memikirkan untuk pergi dari Jakarta, dia merasa hubungannya dengan keluarganya sudah tidak perlu di pertahankan lagi.
Arkana hanya butuh Jingga dan anaknya nanti ketika lahir, dan dia bisa menciptakan keluarga yang penuh dengan kasih sayang. Arkana sudah memikirkan hal itu dari jauh-jauh hari, dan tidak menyangka bahwa hari ini membuatnya memutuskan untuk melakukan hal tersebut.
Langkah Arkana tiba-tiba terhenti saat dia tak sengaja melihat Jingga dan Diana, dari jarak yang cukup dekat itu dia menatap istrinya dengan perasaan rindu yang menggebu-gebu.
Arkana tidak takut jika dia di lihat oleh Jingga saat ini, kaca mata dan maskernya mampu menutupi wajahnya sehingga Jingga pasti tidak akan mengenalinya.
“ Aku mau menghampiri kamu, tapi kondisiku sekarang hanya bisa buat kamu khawatir nanti.” Benak Arkana sambil memutar tubuhnya.
“ Mas Arka.” Suara Jingga yang memanggilnya berhasil membuat Arkana terkejut dan segera pergi dari tempat itu.
Langkah Arkana kembali terhenti ketika dia mendengar suara Diana yang memanggil nama Jingga dengan khawatir, ketika Arkana menoleh dia sudah mendapati Jingga berada di lantai dan membuatnya tak bisa lagi untuk pergi.
Arkana meraih Jingga ke dalam pelukannya dan membiarkan rindu yang selama ini tertahan akhirnya dapat dia lampiaskan dalam pelukan tersebut.
“ Aku tahu itu kamu mas.”
“ Maafin aku.”
Cukup lama mereka berpelukan hingga akhirnya Jingga melepaskan pelukan itu lebih dulu, dia penasaran dengan penampilan aneh Arkana yang membuatnya hendak membuka kaca mata yang digunakan oleh Arkana.
“ Jangan di buka.” Ucap Arkana menjaga tangan Jingga untuk tidak melepaskanya.
“ Kenapa.?”
“ Aku lagi sakit mata.”
“ Terus kenapa pakai masker.?”
__ADS_1
“ Aku lagi flu juga, jadi harus jaga diri biar nggak menular.”
Jingga tahu kalau Arkana sedang berbohong, kemudian dia dengan cepat menarik masker di wajah Arkana hingga terputus dan memperlihatkan sebagian wajahnya yang masih lebam.
“ Wajah kamu kenapa mas.?” Tanya Jingga sambil menyentuh wajah Arkana dengan cemas.
Arkana sudah tidak bisa beralasan lagi sekarang, Jingga sudah melihatnya dan jika dia berbohong tetap akan membuat Jingga tidak mempercayainya. Alhasil Arkana ingin membawa Jingga pergi dari rumah sakit terlebih dulu, baru setelah itu menceritakannya kepada Jingga.
**
Malam itu Arkana sudah berada di rumahnya kembali, dia dan Jingga sepakat untuk menceritakan semua yang terjadi pada Arkana namun tidak dengan kejadian di rumah sakit.
Arkana berpikir bahwa jika dia memberitahu Jingga tentang perbuatan yang di lakukan oleh mamanya, hal itu tidak akan membuat Jingga terlalu syok sebab dia sudah tahu kalau mama Widya sering melakukan hal seperti itu kepadanya.
Kini mereka berdua berada di atas tempat tidur saling berdampingan dan terlihat Arkana yang merangkul tubuh Jingga, tangan kirinya menggenggam tangan Jingga dengan lembut sebelum memulai ceritanya.
“ Sekarang cerita, aku dengerin baik-baik.” Ucap Jingga lirih.
“ Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu karena udah bohongin kamu, tapi jujur aku nggak ada niat buat ngelakuin ini semua. Aku hanya nggak mau,”
Arkana mulai menarik nafas panjang setelah melihat ekspresi wajah Jingga yang seperti itu, dan kemudian dia memberitahu Jingga bahwa semua itu adalah ulah mama Widya karena dia sudah melakukan kesalahan di rumah sakit.
Arkana tidak menyebutkan alasannya, tapi dia hanya memberitahu kejadian rinci pada saat dia di hajar oleh orang-orang suruhan mama Widya waktu itu.
Setelah Arkana selesai memberitahunya, dia melihat Jingga yang menunduk diam. Saat dia cek ternyata Jingga sedang menangis, Arkana panik dan menyuruhnya untuk berhenti menangis.
“ Jangan nangis, aku baik-baik aja. Bima dan papa Hendra yang bantu aku selama ini, mereka yang mengurus aku waktu aku sakit.”
Jingga tidak mau mendengarkan kata-kata Arkana, dia tetap menangis hingga suaranya terdengar menyakitkan untuk di dengar oleh Arkana. Dia tidak sanggup melihat Jingga menangis seperti itu, tapi apa daya dia juga tidak bisa membuatnya berhenti untuk menangis.
“ cup….cupp, jangan nangis ya. Aku minta maaf udah buat kamu khawatir.” Ucap Arkana sambil memeluk tubuh Jingga dan sesekali mengusap kepalanya dengan lembut.
“ Gimana kalau waktu itu kamu nggak selamat mas? Aku takut hanya membayangkan kamu nggak sampai meninggal karena mereka.” Kata Jingga dengan suara yang parau.
__ADS_1
“ Buktinya aku baik-baik aja, kata papa Hendra nggak ada yang serius kok. Udah dong jangan nangis, aku jadi ikutan sedih dengar kamu nangis kaya gini.” Bujuk Arkana.
“ Kamu janji sama aku, tolong jangan merahasiakan apapun lagi. Aku tahu kondisiku sekarang sedang nggak baik, tapi kalau kamu begini justru semakin buat aku kepikiran.”
“ Iya aku janji, aku janji nggak akan begini lagi. Aku sayang banget sama kamu, jadi berhenti dong nangisnya.”
“ Cium.” Ucap Jingga pelan.
“ Apa.?” Tanya Arkana yang baru saja melepaskan pelukannya.
“ Aku minta di cium biar aku berhenti nangis.” Jelas Jingga lagi.
Arkana tersenyum malu di buatnya, dia cukup terkejut mendengar permintaan Jingga yang tidak biasanya.
Arkana meraih kedua wajah Jingga sambil menyeka air matanya, dia merasa sangat lega setelah melihat sikapnya yang tenang dan manja barusan.
“ Kamu tutup mata dulu.” Pinta Arkana dan langsung di turuti oleh Jingga.
Satu kecupan di kening, kemudian turun di kedua kelopak matanya, dan lanjut di hidung mancung istrinya, lalu kedua pipi, dan yang terakhir adalah bibir mungil istrinya.
“ Sekali lagi maafin aku ya.” Kata Arkana lirih.
“ Iya, aku maafiin.” Balas Jingga sambil tersenyum simpul.
**
Arkana terbangun dari tidurnya dalam kondisi terkejut seperti yang biasa dia alami akhir-akhir ini, namun ketika dia menoleh ke samping dan melihat ada sosok wanita yang di cintainya sedang tertidur perlahan membuat perasaannya menjadi lebih baik.
Arkana hampir tidak ingat kalau dia sudah kembali ke rumahnya, dan sekarang dia bisa menatap wajah istrinya dengan puas. Bagaimana pun juga dia masih merindukan sosok Jingga walaupun sekarang dia bisa menyentuhnya secara langsung.
Masih terlalu dini untuk bangun, namun Arkana juga merasa tidak bisa tidur kembali saat ini. Alhasil dia hanya menatap wajah istrinya dengan senyum yang merekah di bibirnya.
Di raihnya wajah cantik Jingga sambil menyingkirkan beberapa helai rambut yang sedikit menutupi wajah cantik itu, bagaimana bisa hanya dengan melihat wajah Jingga saja sudah mampu mengobati luka di hatinya.
__ADS_1
“ Aku janji kamu dan anak kita nanti akan hidup bahagia bersama, kita tinggalkan tempat ini dan memulai kehidupan yang baru. Masih ada sesuatu yang harus ku lakukan, tunggu sampai semuanya siap ya.” Gumam Arkana pelan.