
Lahir di Singapura dan besar disana membuat Shanum dan Lingga sedikit sulit beradaptasi dengan suasana di Indonesia, keduanya di pindahkan di sekolah internasional dimana sekolah itu merupakan sekolah yang dulu di tempati oleh mamanya Jingga.
Besok mereka sudah harus masuk sekolah baru, segala persiapan pun sudah di lakukan sejak beberapa hari lalu. dan hari ini mereka di ajak oleh kedua orang tua mereka pergi mengunjungi rumah seseorang.
Semua pergi kecuali Keenan, pria itu harus mengerjakan projek filmnya yang sebentar lagi akan di tayangkan di bioskop Indonesia. Selama tinggal di Indonesia, Keenan benar-benar berusaha mengejar impiannya untuk menjadi sutradar hebat.
" Kita mau ke rumah siapa ma.? " Tanya Lingga penasaran.
" Rumah teman papa dan mama, dia juga punya anak yang hampir seumuran dengan kalian." Jawab Jingga.
Shanum dan Lingga saling menatap satu sama lain, hari ini sebenarnya mereka hanya ingin menghabiskan waktu di rumah seharian. Tapi karena ini permintaan Jingga dan mereka tidak ingin mengecewakan mama mereka, maka tidak ada alasan untuk mengatakan tidak.
Setibanya di sebuah rumah besar yang lokasinya berada tak jauh dari rumah mereka, Arkana dan Jingga turun terlebih dulu dan menyusul Lingga dan Shanum. Mereka di sambut hangat oleh pemilik rumah langsung, mereka tak lain adalah Qania dan Aizen.
" Udah lama banget kita nggak ketemu." seru Qania sambil memeluk Jingga.
" Hampir dua puluh tahun, kita ketemu terakhir waktu Shanum baru lahir. " Balas Jingga.
" Sekarang Shanum udah jadi gadis dewasa." Kata Qania sambil menatap Shanum dengan senyuman.
Qania dan Aizen sendiri sudah memiliki empat orang anak, anak pertamanya yang paling tua sekarang sedang magang di rumah sakit. Anak keduanya berumur dua puluh tahun dan sekarang sedang kuliah dengan jurusan Arsitektur.
Sedangkan anak ketiga seorang perempuan yang sekarang seusia dengan Shanum, dan anak bungsunya juga perempuan yang sekarang masih menginjak bangku SMP kelas tiga.
Tapi sayangnya pada hari itu anak-anak mereka sedang tidak di rumah, alhasil Lingga dan Shanum belum bisa bertemu dengan mereka. Tapi tak masalah, berkenalan dengan teman kedua orang tuanya saja sudah cukup bagi mereka.
**
Hari ini merupakan hari pertama masuk sekolah, Shanum dan Lingga kembali harus bertemu dengan orang-orang baru di sekolah mereka. Di hari pertama mereka masuk sekolah, keduanya di antar langsung oleh Keenan.
Dan di sekolah baru ini mereka mendapat banyak teman, semua orang di kelas sangat welcome terhadap keduanya termasuk Shanum. Banyak teman-teman perempuan di kelasnya langsung mengajak Shanum kenalan hingga bertukar nomor telepon.
Saat itu Shanum membatasi diri dari anak laki-laki, dia masih trauma dengan hubungan yang sebelumnya. Bagi Shanum untuk saat ini semua pria sulit di percaya kecuali keluarganya sendiri. Dan ada satu anak laki-laki yang begitu semangat berkenalan dengan Shanum, tapi sayang mendapat respon cuek dari gadis itu.
" Namaku Delon, kita boleh tukeran nomor WA juga nggak.?" Pinta Delon dengan penuh harap.
" Maaf, tapi aku nggak mau simpan nomor cowok di kontakku." Jawab Shanum monohok.
" Kenapa? Aku bukan cowok buaya kok."
" Maaf, "
" Delon minggir, lo jangan gangguin anak baru. Kalau dia bilang nggak, artinya nggak. " Seseorang bernama Hana datang membantu Shanum saat itu, dan sosok Hana sama persis seperti Helen sahabatnya di Singapura.
Delon pun pergi dari hadapan Shanum berkat bantuan Hana, kemudian gadis itu kembali melirik Shanum sambil mengajaknya mengobrol agar lebih dekat lagi.
" Kamu tenang aja, selama ada aku disini, nggak akan ada yang bisa gangguin kamu. " Seru Hana di balas senyuman simpul dari Shanum.
Bel pun berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai, saat ini Shanum harus lebih fokus dengan pelajarannya. Karena pelajaran disini dan di sekolahnya yang dulu begitu jauh berbeda, dia harus menyesuaikannya meskipun sekolah itu berbasis internasional school.
**
__ADS_1
Selama hampir satu bulan Shanum telah bersekolah di SMA barunya itu, dia mendapatkan banyak teman dan dari sana dia bisa melupakan masalahnya. Shanum ingin mencoba menjadi dirinya yang baru, dia akan memulai kehidupan yang baru dimana hanya ada kebahagiaan yang ingin dia ciptakan.
Shanum juga selalu membatasi diri dari para laki-laki di sekolah, dia akan dengan tegas menolak berdekatan dengan mereka dan akan selalu menjauh jika di dekati oleh para laki-laki lainnya.
Hampir dari sebagian teman Shanum sedikit bingung dengan sikap Shanum yang begitu anti pada laki-laki, sampai mereka menebak bahwa dulu Shanum pernah di campakkan oleh seseorang sehingga dia jadi anti dengan laki-laki.
Meski pernah di tanya kenapa dia melakukannya, jawaban Shanum akan selalu sama. Dia akan mengatakan alasannya bahwa dia tidak ingin mengenal laki-laki dulu, dia hanya ingin fokus belajar sampai pendidikannya selesai.
Semua berjalan baik selama Shanum tidak berinteraksi dengan laki-laki, dan satu lagi, selama Shanum bersekolah di SMA baru itu, Shanum merubah penampilannya dengan menggunakan kaca mata agar terlihat culun.
Katanya kalau perempuan culun di sekolah akan jauh dari laki-laki yang hanya memandang fisik, dan usaha Shanum cukup berhasil meski masih ada beberapa dari para laki-laki yang tetap ingin mengajaknya berkenalan.
“ Shanum.” Panggil seseorang ketika Shanum baru saja hendak memasuki kelas.
Sosok Hana yang berlari menghampiri Shanum dengan nafas yang tersengal-sengal membuat Shanum menatapnya bingung, dia tidak tahu apa yang membuat Hana sampai berlari seperti itu memanggilnya.
“ Ada apa.?” Tanya Shanum penasaran.
“ Aku di suruh guru ke ruangan buat ambil buku tugas, kamu mau nggak bantuin aku.?” Pinta Hana dengan wajah memelasnya.
“ Boleh, tapi aku simpan tasku dulu ya.” Balas Shanum langsung membuat Hana senyum sumringah.
Shanum telah selesai menyimpan tasnya, begitu pun dengan Hana. Kemudian mereka berdua berjalan menuju ruang guru yang berada di lantai satu. Saat mereka pergi menuju ruang guru, tanpa sengaja Shanum mendengar suara seseorang dari sebuah ruangan yang kosong.
“ Kamu dengar nggak.?” Tanya Shanum pada Hana.
“ Dengar apa.?” Hana tampak bingung sebab dia tidak mendengar apapun.
“ Masa sih.?” Kemudian mereka berdua kembali mendengarkan suara yang di katakan oleh Shanum, namun sayangnya tidak ada suara lagi setelah itu.
“ Nggak ada, yuk buruan.” Ajak Hana kemudian membuat langkah mereka kembali melangkah menuju ruang guru.
Shanum dan Hana telah selesai mengambil buku tugas di ruang guru, selanjutnya mereka berdua akan membawa semua buku itu di kelas mereka. Lagi-lagi Shanum mendengar suara tangisan dari ruangan yang sama, dan kali ini dia ingin pergi mengeceknya dengan memberikan semua buku itu kepada Hana.
“ Loh, ini berat. Kamu mau kemana.?” Tanya Hana menatap kepergian Shanum dengan tubuh yang hampir terhuyung akibat memegang semua buku-buku itu.
Shanum mencoba melirik ke dalam ruangan, awalnya dia tidak melihat apa-apa. Sampai pada akhirnya dia kembali mendengar suara seorang gadis meminta tolong di dalam sana.
Dengan kekuatan yang dia miliki, Shanum mendobrak pintu hingga berhasil terbuka. Shanum masuk ke dalam dan melihat kejadian yang tak seharusnya dia lihat.
Seorang siswi sedang di lecehkan oleh seorang guru di sekolah itu, Shanum memutar tubuhnya dengan takut. Entah mengapa melihat gadis itu di lecehkan membuat Shanum sangat kesal, yang tadinya dia hendak pergi kini berubah pikiran dengan meraih ponselnya.
“ Saya akan kirim video perbuatan bapak ke pihak sekolah.” Kata Shanum dengan penuh percaya diri.
Guru pria itu segera mengenakan celananya kembali, kemudian Shanum mendekati korban dengan membantunya menggunakan seragamnya kembali.
“ Awas kalau kamu sampai melaporkan hal ini pada kepala sekolah, kalian berdua akan menyesal.” Ucap guru itu dengan penuh ancaman, kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
“ Kamu nggak apa-apa kan.?” Tanya Shanum menatap gadis yang baru saja di lecehkan dengan kasihan.
“ Terima kasih, aku nggak tahu mau bilang apa. Tapi kamu udah nyelamatin aku.” Isak gadis itu sambil memeluk Shanum dengan tangisannya yang pecah.
“ Shanum? Apa yang terjadi? tadi ada pak Anton keluar dari ruangan ini. dia siapa? ” Hana baru saja muncul, dia melihat seorang guru keluar dari ruangan itu sebelumnya.
__ADS_1
“ Hana, aku mau ketemu kepala sekolah.” Ucap Shanum menatapnya serius.
**
Pak Anton di panggil ke ruang kepala sekolah ketika Shanum dan Fara datang melapor atas kejadian hari ini. Fara tampak ketakutan dengan bersembunyi di belakang Shanum saat pak Anton memasuki ruangan.
Tanpa basa basi lagi, kepala sekolah menegur pak Anton di depan mereka dengan bukti dan kesaksian keduanya. Karena laporan tersebut, pak Anton pun di nyatakan resmi di pecat dari sekolah.
“ Sekarang bawa semua barang pak Anton dari sekolah ini.” Ucap kepala sekolah dengan tegas.
Pak Anton terlihat menatap Shanum dan Fara sebelum keluar dari ruangan itu, tatapannya sangat tajam dan seperti memberikan isyarat kepada mereka berdua. Meski begitu Shanum tidak takut, dia tidak menyesal melakukan semua ini untuk menyelamatkan korban pelecehan.
“ Kalian berdua boleh kembali ke kelas sekarang.” Sahut kepala sekolah.
Shanum dan Fara pun keluar dari ruang kepala sekolah, dan mereka harus berpisah di koridor karena kelas Fara ternyata ada di lantai tiga. Sekali lagi Fara mengucapkan terima kasihnya kepada Shanum, dia berjanji akan membalas kebaikan Shanum karena telah menolongnya.
Akibat masalah ini, satu sekolah pun di buat heboh. Pak Anton yang di kenal oleh semua siswa ternyata memiliki sifat yang menyimpang, dan bukan hanya Fara korbannya. Banyak dari mereka yang mengaku telah di lecehkan tapi hanya bisa diam.
Berkat Shanum banyak korban yang mengucapkan terima kasih karena telah menyingkirkan pak Anton dari sekolah, dengan begitu semua korban yang pernah di lecehkan bisa kembali bersekolah dengan tenang.
**
Lingga sedang berada di kelasnya ketika beberapa temannya sibuk membahas kasus pelecehan, saat itu Lingga mendengar nama Shanum di sebut. Lingga yang tidak mendengarnya dengan jelas mengira bahwa kakaknya lah yang mendapat pelecehan dari oknum guru tersebut, sampai Lingga keluar dari kelas dan menuju kelas Shanum.
“ Kak Shanum.?” Suara Lingga yang memanggil Shanum di pintu kelas membuat semua mata tertuju kepadanya.
“ Lingga.?”
Lingga berjalan memasuki kelas Shanum tanpa memperdulikan mereka yang masih memperhatikannya, tampak Lingga yang mengecek keadaan Shanum dengan raut wajah khawatirnya.
“ Kamu baik-baik aja kan.?” Tanya Lingga khawatir.
“ Aku baik, kamu jangan khawatir. Bukan aku yang di lecehkan.” Jawab Shanum sontak membuat Lingga merasa lega mendengarnya.
“ Ku pikir itu kamu, aku sampai kaget dan berlari tanpa berpikir panjang.” Ungkap Lingga langsung mendapat tawa dari teman-teman Shanum.
Lingga mulai merasa malu ketika melihat semua mata tertuju kepadanya, dengan cepat cowok itu keluar dari kelas Shanum dengan wajah yang merah menahan malu.
“ Dia siapa Num.?” Tanya Hana yang masih belum mengenal Lingga.
“ Dia adikku, orangnya memang begitu. Dia sangat peduli padaku.” Balas Shanum ikut gemas dengan tingkah Lingga barusan.
“ Adikmu ganteng banget, dia di kelas berapa.?”
“ Dia di kelas 1-1.”
“ Berondong banget dong.”
Bukan hal baru lagi bagi Shanum mendengar hal itu dari temannya yang sudah melihat Lingga, mereka pasti akan langsung tertarik pada Lingga. Tapi anehnya meski banyak yang naksir, belum ada satu orang pun yang berhasil mencuri hati Lingga.
Ya, belum ada.
__ADS_1