
Sudah beberapa minggu berlalu sejak Qania dan Aizen resmi mengikat diri untuk ke jenjang yang lebih serius lagi, di samping itu ada Arkana yang semakin tersadar bahwa dirinya tidak benar-benar sedih dengan keputusan Qania.
Pagi itu saat dia dan Jingga sedang sarapan bersama, beberapa kali Arkana melirik Jingga yang sibuk dengan sarapannya. Tampak Jingga yang sadar tengah di perhatikan dan membuatnya menoleh, Arkana dengan cepat memalingkan wajahnya saat dia hampir saja ketahuan memperhatikan Jingga.
“ Mas, hari ini Diana panggil aku ke butiknya. Katanya dia minta saran dari aku buat gaun pengantin Qania, aku boleh pergi nggak.?” Tanya Jingga tiba-tiba.
“ Kenapa dia harus minta bantuan kamu? Bukannya waktu itu dia bilang dia bisa sendiri.?” Balas Arkana.
“ Ya udah kalau nggak di izinin aku nggak pergi.” Lanjut Jingga.
“ Boleh, tapi aku yang antar kamu kesana.” Sahut Arkana membuat Jingga meliriknya tak percaya.
“ Tapi kamu kan mau ke rumah sakit? Aku di suruh datang jam 10:00 sama dia.”
“ Karena di rumah sakit ada mahasiswa koas, aku bisa datang agak siangan. Jadi aku bisa antar kamu dulu sebelum ke rumah sakit.” Jelas Arkana.
“ Ngomong-ngomong tentang mahasiswa koas, gadis yang bernama Tsania, kelihatannya dekat sama kamu ya.?” Tanya Jingga yang tiba-tiba saja mengingat ucapan Wulan dan Gabriel saat di lift waktu itu.
“ Kenapa? kamu cemburu kalau aku dekat sama dia.?” Kata Arkana spontan membuat Jingga menggelengkan kepala.
“ Aku nggak pernah cemburu kamu dekat sama siapa, sejak awal aku kan nggak pernah cinta sama kamu.” Balas Jingga sukses membuat Arkana syok berat.
Jingga telah menyelesaikan sarapannya, dan dia pun berkata pada Arkana bahwa dia ingin ke kamar lebih dulu. Arkana sendiri masih duduk di tempatnya, makanan di piringnya masih cukup banyak namun entah mengapa dia menjadi kurang selera melanjutkan sarapannya.
**
Jingga dan Arkana sudah tiba di pelataran butik milik Diana, sebelum Jingga turun dari mobil terlihat Arkana yang menyuruhnya untuk tidak kemana-mana selain tempat itu.
“ Dan juga satu lagi, kalau mau pulang kabarin aku, biar aku jemput.” Ucap Arkana.
“ Nggak usah mas, aku bisa pulang naik taksi kok.” Balas Jingga.
“ Aku itu suami kamu, bisa nurut apa kata aku aja nggak sih.?” Lanjut Arkana ketus.
__ADS_1
“ Ya udah, aku tunggu kamu nanti.” Ujar Jingga pasrah.
Jingga pun turun dari mobil Arkana, dia bahkan tidak menoleh sama sekali meskipun Arkana masih berada disana. Setelah Jingga benar-benar masuk ke dalam butik, tampak Arkana yang membuka laci di dasbor mobilnya.
Sebuah kotak kecil berwarna biru navy baru saja di raih olehnya, ketika di buka sebuah cincin pernikahan ada di dalam sana. Selama ini Arkana selalu menyimpan cincin itu di laci, biasanya dia akan menggunakannya ketika dia di rumah sakit saja.
Arkana kemudian menyematkan cincin itu di jari manisnya, dia menatapnya cukup lama dengan pikirannya sendiri. Setelah itu dia menyimpan kotaknya kembali dan melanjutkan laju mobilnya menuju rumah sakit.
**
Jingga masih berdiri cukup lama di dekat pintu butik begitu dia sudah masuk ke dalam, dia heran saat melihat Arkana yang bahkan belum pergi beberapa saat yang lalu.
“ Jingga, kamu udah datang.” Suara Diana yang muncul dari dalam baru saja membuatnya terkejut.
“ Iya nih, aku baru aja masuk.” Balasnya lirih.
“ Kamu datang sama siapa.?”
“ Mas Arka.”
“ Tumben, selain itu tumben juga dia kasih kamu izin. Bahkan waktu aku baru launching butik, dia bahkan nggak kasih kamu izin buat datang kemari.”
“ Ini bukan masalah masa lalu, tapi ini tentang sikap suami kamu yang nyebelin parah itu. Aku nggak ngerti dia posesif atau terlalu over protektif sama kamu.”
Jingga hanya bisa diam jika Diana sudah mulai mengutarakan keluh kesalnya pada Arkana, biasanya dia akan berhenti jika semuanya sudah dia katakan.
“ Btw, gimana hasil jahitan kamu? Aku penasaran kaya gimana gaun yang akan kamu buat buat Qania.” Tanya Jingga mencoba mengalihkan perhatian.
“ Sini ikut aku.” Diana menarik Jingga masuk ke dalam suatu ruangan khusus menjahit.
Setelah mereka masuk ke dalam, Jingga bisa melihat bagaimana gaun itu terpasang disana. Diana memang sangat hebat membuatnya hanya dalam dua minggu. Meskipun belum jadi dengan sempurna, tapi melihatnya saja sudah cukup memuaskan.
“ Kamu memang hebat, nggak salah masuk univ luar.” Decak Jingga.
“ Iya dong, aku membuat ini penuh cinta karena Qania yang akan menikah.” Ujar Diana.
__ADS_1
“ Satu bulan lagi Qania akan segera menikah, aku nggak tahu bagaimana perasaan mas Arka nantinya.” Ucap Jingga sambil menatap gaun itu dengan tatapan sayu.
“ Kenapa dengan suami kamu? Apa urusannya dia dengan Qania? “ Tanya Diana yang menatap Jingga penasaran.
Jingga sendiri terkejut karena sudah keceplosan, selama ini Diana tidak pernah tahu kalau Qania dan Arkana pernah berpacaran sebelum dia menikah. Ucapannya barusan berhasil membuat Diana yang semakin penasaran dan meminta Jingga untuk menjelaskannya.
“ Nggak.., maksud aku”
“ Mau sampai kapan kamu nutupin semuanya ke aku Jingga? Kita sudah teman dari SMA, aku tahu kamu dan kamu juga tahu aku. Sejak dulu kamu nggak pinter bohong, sekarang coba jujur sama aku. Sekarang kamu lagi ada masalah kan.?” Sambung Diana memotong ucapan Jingga barusan.
Jingga sadar kalau dirinya sudah banyak berbohong pada Diana, sebenarnya bukan karena dia tidak ingin mengatakannya. Tapi karena ini adalah urusan rumah tangga dia dan Arkana, Diana adalah orang luar meskipun dia adalah sahabat baiknya.
“ Dulu masalah Nawa kamu selalu kasih tahu ke aku, tapi sekarang kamu kaya nggak mau terbuka soal apapun ke aku. Sebenarnya kamu masih anggap aku sahabat kamu apa nggak sih.?” Tanya Diana menatap Jingga dan menunggu penjelasan dari wanita itu.
Jingga tidak punya pilihan lain, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan semuanya kepada Diana. Lagi pula dia dan Arkana akan bercerai sebentar lagi, Diana harus tahu semuanya agar tidak terlalu terkejut saat hari itu tiba.
**
Di luar sedang gerimis, dan Jingga tampak sedang menunggu jemputan dari Arkana. Setelah tadi menceritakan masalahnya pada Diana, tampak Diana mengurung diri di kamar dan entah apa yang dia lakukan sampai sekarang.
Setelah beberapa saat akhirnya Arkana datang, Jingga segera bangkit dari sofa menuju ruangan yang di tempati oleh Diana saat ini. Dia mengetuk pintu sebanyak tiga kali, kemudian dia memberitahu Diana bahwa dia sudah mau pulang.
“ Mas Arka udah datang, aku pulang ya.”
Cekrek…
Pintu baru saja terbuka, sosok Diana keluar dan melewati Jingga begitu saja. Rupanya Diana langsung menghampiri Arkana dan menarik kerah bajunya dengan sangat kuat dan tatapan yang tajam.
“ Dasar cowok sam..”
“ Diana.” Sahut Jingga yang berhasil membuat Diana tidak melanjutkan kalimatnya.
Diana melepaskan tangannya dari sana kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar, terlihat jelas Diana yang berusaha menahan emosinya setelah di hentikan oleh Jingga.
“ Maafin dia ya mas, yuk kita pulang sekarang.” Ajak Jingga menarik lengan Arkana.
__ADS_1
Diana menoleh menatap mereka yang keluar dari butik, terlihat Arkana yang memberikan ruang payung yang lebih luas untuk Jingga sampai ke dalam mobil.
“ Cowok sampah.” Kata Diana akhirnya mengatakan apa yang barusan ingin dia katakan pada Arkana.