Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Bebas


__ADS_3


Setelah kemarin pulang lebih awal, Jingga sampai tidak sempat memberikan hadiah pernikahan kepada Qania. Mendengar kabar bahwa Qania akan langsung pergi berbulan madu ke Swiss bersama Aizen, membuat Jingga berniat untuk pergi menemuinya hari ini.


Arkana tidak ada di rumah dan katanya akan bekerja sampai malam di rumah sakit, Jingga berpikir untuk pergi tanpa memberitahu Arkana. Dia hanya akan pergi sebentar dan setelah itu pulang begitu urusannya selesai.


Sebelumnya Jingga dan Qania sudah janjian untuk bertemu di sebuah kafe favoritenya, tanpa menunggu waktu lama Jingga pun pergi dengan memesan taksi online.


Setibanya di kafe tersebut dia segera masuk ke dalam, Jingga mengambil tempat di sudut ruangan yang memperlihatkan pemandangan kolam ikan yang dapat memanjakan mata.


“ Maaf ya, aku telat. Kamu udah nunggu lama ya.” Qania baru saja tiba dan mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi.


“ Aku juga baru nyampe kok.” Balas Jingga lirih.


“ Kamu mau kasih apa? Padahal kedatangan kamu sama Arkana kemarin sudah cukup kok.”


“ Aku khusus membeli hadiah ini untuk kamu, aku hanya ingin memberikannya dan berharap bisa berguna untuk ke depannya.” Jingga menyodorkan paper bag berwarna biru muda kepada Qania.


“ Apaan sih?”


“ Jangan di buka sekarang, nanti aja kalau mau pergi bulan madu.”


“ Aku jadi penasaran.”


“ Btw pesawatnya terbang jam berapa.?”


“ Sekitar tiga jam lagi.”


“ Berapa hari bulan madunya.?”


“ Sekitar dua minggu, aku sama Aizen harus kembali bekerja soalnya.”


“ Nggak apa-apa, kamu harus menikmati bulan madu kamu disana.”


Jingga terdiam sejenak, dia jadi teringat ketika dia dan Arkana pergi ke Maldives untuk bulan madu. Melihat Qania yang mendapat suami seperti Aizen rasanya tidak mungkin dia akan di biarkan sendirian, Aizen pasti akan selalu berada di sisi Qania.


“ Oh iya Jingga, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan sama kamu.” Kata Qania terlihat mulai serius.

__ADS_1


“ Apa itu.?” Jingga mulai penasaran di buatnya.


“ Aku penasaran dengan hal ini, kamu bilang kalau sikap Arkana selama ini tidak pernah baik ke kamu. Lalu bagaimana kamu bisa hamil? Apa Arkana melakukannya tanpa sadar, atau bagaimana.?”


Jingga diam mendengarnya, dia ingat percakapan Qania dan Arkana di tangga darurat waktu itu. Jingga berpikir apakah dia harus memberitahu Qania soal ini, meski begitu Qania termasuk orang yang tahu tentang masalah dia dan Arkana sejauh ini.


“ Maaf kalau aku lancang, kalau kamu nggak mau jawab juga nggak masalah.” Lanjut Qania merasa tidak enak.


“ Nggak apa-apa, biar aku kasih tahu semua sama kamu.” Balas Jingga kemudian.


**


“ Selamat atas kerja kerasnya dok.” Ujar Tsania pada Arkana yang baru saja keluar dari ruang operasi.


“ Bukan apa-apa, kamu juga sudah bekerja cukup baik di dalam tadi.” Balas Arkana.


“ Dokter memang hebat bisa melakukan semuanya di usia yang cukup muda, padahal di dalam tadi ada banyak dokter senior. Tapi dokter Arkana yang menjadi pemimpin operasi hari ini.”


Arkana hanya diam mendengarkan Tsania terus berceloteh, sampai tiba-tiba dia menghentikan langkahnya setelah dia melihat ponselnya. Tsania yang menyadari Arkana tidak melanjutkan langkahnya pun ikut menoleh dengan heran.


“ Ada apa dok.?” Tanya Tsania menatapnya penasaran.


Setelah melepaskan atribut operasi, Arkana segera ke ruangannya secepat yang dia bisa. Namun sebelum itu dia menemui Nisa dan meminta untuk semua jadwal hari ini di tangani olehnya, dia akan bergegas pulang karena ada urusan penting.


“ Serahkan semuanya pada saya dok, lagi pula ada mahasiswa koas juga yang bisa bantu saya.” Kata Nisa membuat Arkana legah mendengarnya.


**


Jingga berdiri di depan sebuah tempat yang membuatnya kembali mengingat masa lalu, tempat dimana dia merintis usahanya sendiri tanpa bantuan kedua orang tuanya.


Bekas puing-puing benda terbakar masih ada disana, begitu pun dengan batas garis polisi yang di biarkan tetap terpasang sejak saat terakhir kali dia datang ke tempat itu.


Jingga berpikir untuk membangun kembali bangunan di lahan itu, dia bisa menggunakan uang warisan orang tuanya yang sampai sekarang masih utuh. Namun untuk sekarang dia tidak tahu apakah dia bisa melakukannya atau tidak.


“ Mungkin setelah berpisah nanti aku bisa membangunnya kembali, tapi sebelum itu ada baiknya mencari orang yang bisa mengurusnya. Tapi siapa?” Benak Jingga bingung.


“ Mungkin Diana bisa membantu, sebaiknya aku menemui Diana sekarang sebelum pulang.” Lanjut Jingga yang kemudian memutar tubuhnya menuju jalan raya.

__ADS_1


“ Mbak, awas.” Teriakan itu membuat Jingga terkejut sampai membuat dirinya jatuh di atas trotoar jalan.


Sebuah mobil baru saja melintas tepat di depannya, dan jika dia tidak berhenti mungkin mobil itu sudah menabraknya. Suara yang menyuruh Jingga untuk berhenti barusan kini sudah tiba di samping Jingga, rupanya dari kejauhan dia sudah menyadari hal itu sehingga dia hanya bisa berteriak.


“ Kamu nggak apa-apa mbak.?” Tanya seorang pria yang membantu Jingga untuk berdiri.


“ Aku nggak apa-apa.” Jingga terlihat gemetar saat itu, dia bahkan tidak membalas tatapan pria yang ada di sampingnya.


“ Jingga? Ya ampun aku kira siapa, kamu beneran nggak apa-apa.?” Kata pria itu lagi dan akhirnya membuat Jingga meliriknya.


“ Erwin? Jadi kamu yang barusan teriak.” Ucap Jingga pelan.


“ Habisnya kamu jalan nggak lihat-lihat kanan kiri, kalau saja aku nggak teriak mungkin mobil itu sudah,” Erwin menggantung ucapannya karena tak ingin sampai membuat Jingga semakin syok.


“ Sini, biar aku bantu berdiri.” Erwin meminta izin untuk menyentuh Jingga, dan akhirnya Jingga sudah berdiri kembali dengan benar.


“ Kamu kenapa ada disini sendirian?” Tanya Erwin ketika mereka sudah menepih ke tempat yang lebih aman.


“ Aku keluar sebentar karena ada urusan, dan aku sengaja singgah disini buat liat butik aku yang beberapa bulan lalu kebakaran.” Tunjuk Jingga pada tempat itu.


“ Oh jadi itu butik kamu? Aku tinggal dekat sini, dan waktu butik itu kebakaran aku yang sempat menelpon pemadam.”


“ Kamu serius?”


“ Iya aku serius, ya ampun nggak di sangka ya kalau ternyata tempat semewah ini punya kamu. Padahal aku sering lewat sini kalau mau berangkat kerja.”


“ Kamu masih kerja, kaya waktu itu.?” Tanya Jingga penasaran.


“ Gitu deh, wajahku yang tampan ini Cuma bisa bekerja di tempat seperti itu untuk mendapatkan uang yang banyak.” Ucapnya dengan penuh percaya diri.


“ Tapi itu kan bukan pekerjaan yang baik.”


“ Zaman sekarang yang apa-apa serba mahal, kerja halal atau haram yang penting uangnya besar, dan cukup buat bertahan hidup.“


“ Memangnya orang tua kamu nggak marah.?”


“ Aku anak yatim piatu, hidup sendirian jadi bebas mau ngapain aja.”

__ADS_1


Jingga kemudian terpikirkan sesuatu yang menarik, entah mengapa dia sudah menganggap Erwin sebagai temannya. Mungkin dia bisa memberikan projek renovasi butik kepadanya, sekaligus untuk membantunya keluar dari pekerjaan yang tidak baik itu.


__ADS_2