Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Pragnant


__ADS_3


Arkana baru saja selesai melakukan operasi pada salah satu pasiennya, dan sekarang dia merasa haus sehingga berjalan menuju ruang pantry yang di sediakan untuk para dokter di lantai empat rumah sakit.


Saat Arkana sedang sibuk menyeduh kopi, pintu di ruangan itu baru saja terbuka dan memunculkan seseorang yang membuat Arkana langsung menoleh.


“ Loh, Ar? Kamu kok ada disini, nggak ke ruangannya dokter Nala.?” Tegur salah satu dokter ketike bertemu Arkana di ruang pantry.


“ Dokter Nala kan dokter kandungan dok, ngapain saya kesana.?” Arkana terlihat bingung setelah mendengarnya.


“ Istri kamu kan lagi menjalani pemeriksaan sama dokter Qania, kok kamu nggak tahu. Mungkin istri kamu hamil, makanya mereka kesana.” Lanjutnya kembali membuat gelas yang di pegang Arkana jatuh ke lantai.


“ Kamu nggak apa-apa.?” Tanya dokter itu membuat kesadaran Arkana kembali.


Dia mengabaikan ucapan dokter di depannya kemudian mengecek ponselnya, dia melihat deretan pesan dari Qania bahwa Jingga sedang di rumah sakit karena mengalami gejala wanita hamil.


Arkana memang sengaja tidak mengaktifkan mode dering sehingga dia tidak tahu soal pesan dari Qania. Setelah mendengarnya, Arkana pun langsung berlari menuju ruangan dokter Nala, dia memberikan tugas untuk membersihkan kekacauan yang dia buat di ruang pantry kepada salah satu office boy di rumah sakit.


**


Sementara itu Jingga dan Qania saat ini sedang menunggu hasil dari pemeriksaan Jingga, membutuhkan waktu beberapa saat sebelum hasilnya keluar.


Qania yang saat itu terlihat lebih bersemangat dari pada Jingga, dia yang menyarankan Jingga untuk langsung memeriksa keadaannya di rumah sakit karena menganggap bahwa gejala itu adalah gejala wanita yang sedang hamil.


“ Kalau kamu beneran hamil, pasti Arkana bakal senang banget.” Ucap Qania sambil menggenggam tangan Jingga.


Jingga hanya tersenyum simpul di buatnya, dia tidak tahu apakah dia harus senang mendengar bahwa dia hamil atau tidak. Semuanya benar-benar tidak ada dalam rencananya, dan dia juga takut akan sesuatu yang mungkin akan terjadi ke depannya.


Arkana baru saja masuk ke dalam tepat sebelum dokter Nala memberitahu hasilnya. Eskpresi kebingungan Arkana terlihat dengan jelas, dokter Nala sampai menyuruhnya untuk tarik nafas sebelum mendengarnya.

__ADS_1


“ Selamat ya kalian berdua akan menjadi orang tua, ibu Jingga positif hamil dan sekarang usia kandungannya sudah menginjak lima minggu.” Jelas dokter Nala.


Arkana menoleh pada Jingga dan menatap perut Jingga dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Sementara itu Jingga sendiri hampir menangis di buatnya, dan Qania yang terlihat begitu senang mendengar kabar kehamilan Jingga.


“ Tolong jangan kasih tahu siapa-siapa dulu, saya sama Jingga mau membicarakannya terlebih dahulu. Ayo Jingga, ikut ke ruanganku.” Ajak Arkana menarik tangan Jingga meninggalkan ruangan itu.


Saat itu Qania masih menatap pintu keluar dengan tatapan yang sayu, dokter Nala menyadari perubahan suasana hati Qania sesaat setelah mereka pergi.


“ Baru kali ini loh aku melihat pemandangan langkah dimana mantan pacar bertemu dengan istri sah.” Lontar dokter Nala.


“ Mulai deh, aku mau balik ke rumah kalau gitu. Terima kasih ya dok.” Sambung Qania ikut meninggalkan ruangan dokter Nala.


**


Jingga dan Arkana saat ini sudah berada di ruangan Arkana, terlihat Arkana yang berdiri membelakangi Jingga. Dia terlihat frustasi sejak meninggalkan ruangan dokter Nala, ketika Jingga hendak menyentuh tangan Arkana dia pun langsung menoleh.


“ Kamu jangan kesenangan dulu ya, bayi itu bukan anakku. Kamu hanya perlu menjaganya sampai dia lahir supaya mama bisa punya cucu.” Lontar Arkana sambil menunjuk wajah Jingga.


“ Sstt, aku nggak mau kamu bahas soal aku menyuruhmu melahirkan bayi dari pria lain. Anggap semua itu tidak pernah terjadi, kamu hanya perlu menganggap kalau bayi itu adalah anakku.” Sambung Arkana tak memberikan kesempatan pada Jingga untuk menjelaskannya.


“ Kalau aku bilang ini anak kamu? Apa kamu juga mau mengakuinya.?” Tanya Jingga menatap Arkana serius.


“ Aku udah pernah bilang kalau aku nggak sudi punya anak dari kamu, aku bisa menganggap anak itu adalah anakku saat di depan orang-orang saja. Ngerti kamu.” Ketus Arkana.


Saat itu Jingga hampir menangis di buatnya, dia tidak tahan dengan cacian Arkana yang semakin keterlaluan. Namun apa daya, dia hanya bisa pasrah dan mengikuti apa katanya saja.


**


Jingga pulang dalam keadaan menangis sejadi-jadinya, dia pulang di antar oleh Jefri dan setibanya di rumah dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Kata-kata Arkana masih terngiang di kepalanya seakan tidak mau hilang.

__ADS_1


Biasanya wanita yang sedang hamil akan merasa sangat bahagia, namun tidak dengan dirinya. Jingga duduk di atas tempat tidur sambil menyentuh perutnya, di dalam sana ada sosok makhluk hidup yang akan menemaninya selama Sembilan bulan.


“ Maafin mama nak, mama sangat lemah untuk melawan papamu.” Ucap Jingga masih menitihkan air matanya.


Jingga mengingat kejadian di hotel itu lagi dan ketika dia pulang ke rumah, semua terjadi seperti keajaiban yang telah tuhan rangkai untuk hidupnya.


FLASHBACK ON


Erwin telah melepaskan kemejanya saat itu dan menatap Jingga yang menangis sesegukan menutup wajahnya di atas tempat tidur, kemudian Erwin melihat cincin yang tersemat di jari manis Jingga.


“ Kamu sudah menikah.?” Tanya Erwin perlahan membuat Jingga membuka kedua tangannya.


“ Pria yang berada di ruangan ini barusan adalah suamiku.” Jawab Jingga sukses membuat Erwin terkejut bukan main.


Erwin kemudian turun dari atas tempat tidur dan memakai kemejanya kembali, Jingga yang melihatnya pun di buat penasaran oleh sikap Erwin saat ini.


“ Maaf, aku nggak tahu kalau pelanggan kali ini sudah menikah. Seandainya aku tahu, aku nggak akan terima.” Jelas Erwin.


“ Kenapa? kamu kan di bayar lebih sama suamiku.?” Tanya Jingga.


“ Begini ya mbak, aku memang pria panggilan. Tapi aku tahu harus melakukan apa untuk diriku sendiri, soal kamu yang ternyata sudah menikah adalah pengecualian. Aku mengira suamimu menyewaku karena kamu itu bukan siapa-siapa, ternyata kamu adalah istrinya.”


“ Jadi? Kamu nggak mau ngapa-ngapain aku.?”


“ Tenang aja mbak, aku nggak akan melakukannya. Kamu berhak melakukannya dengan suami kamu, aku nggak mau wanita secantik kamu di sia-siakan begitu saja.”


Jingga kembali menangis yang kali ini dia menangis bahagia karena telah di pertemukan pria baik seperti Erwin. Jika waktu itu dia salah memilih, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi.


“ Mbak tenang saja, saya bisa membuat suami mbak percaya kalau kita sudah melakukannya. Masalah hamil atau tidaknya mbak nanti, itu bisa di rencanakan lagi.” Ungkap Erwin.

__ADS_1


“ Aku nggak tahu mau ngomong apa lagi sama kamu, aku hanya bisa bilang terima kasih banyak.” Lontar Jingga sambil menyeka air matanya dengan perasaan yang lega.


__ADS_2