
Jingga telah tiba di rumah sakit beberapa saat yang lalu, Arkana sudah menunggunya di lobby sehingga mereka bisa bersama-sama naik ke atas.
Saat mereka naik ke lantai atas, terlihat sudah tidak ada penjagaan lagi. Nampaknya Bima yang meminta mama Widya untuk tidak melalukan hal yang berlebihan seperti itu.
Begitu mereka tiba di kamar Bima pun terlihat tidak ada siapa-siapa, saat Bima menoleh dia pun di buat terkejut dengan kedatangan Jingga dan Arkana.
" Aku nggak mau ketemu dengan mereka dalam keadaan seperti ini. " Benak Bima hanya bisa diam ketika Jingga dan Arkana sudah berdiri di sampingnya.
" Gimana keadaan kamu? " Tanya Jingga lirih.
" Baik. " Jawabnya singkat tanpa menatap wajah Jingga.
Jingga melirik Arkana sebentar dengan tatapan yang langsung di mengerti olehnya, kemudian Arkana membiarkan mereka berdua untuk mengobrol dengan santai tanpa dirinya.
" Kamu mau kemana Ar? " Tanya Bima meliriknya serius.
" Cari angin, kalian boleh ngobrol sesuka kalian. " Jawabnya dengan santai.
" Nggak ada yang mau di omongin kok, aku sama Jingga" Sahut Bima lagi.
" Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. " Lontar Jingga berhasil membuat Bima bungkam.
Pintu baru saja tertutup kembali sesaat setelah Arkana keluar, keheningan pun terjadi dan dua insan manusia yang berada di dalam ruangan itu tampak diam satu sama lain.
" Kenapa nggak bilang selama ini kalau kamu sakit.? " Tanya Jingga lirih.
" Sejak kapan kamu merahasiakan penyakit kamu.? " Sambungnya lagi.
" Aku baru sadar kalau selama kita dekat dulu, aku satu-satunya yang nggak perna cari tahu apapun tentang kamu. Salahku karena tidak berusaha, sedangkan kamu melakukan semuanya tanpa ku ketahui. Memangnya kamu senang dengan yang kamu lakukan selama ini? Jawab, kenapa diam aja. " Sahut Jingga yang berusaha agar tidak menangis di hadapan Nawa.
" Ku jelaskan semuanya pun nggak akan merubah apapun, intinya sekarang kamu udah bahagia dengan keluarga kecil kamu, bagiku udah cukup. "
" Seenggaknya aku bisa buat kamu merasa bahagia. Selama ini cuma kamu yang selalu bahagiain aku, bahkan sampai sekarang pun kanu selalu berusaha bahagiain aku. "
__ADS_1
" Kata siapa aku nggak pernah bahagia? Aku bahagia kok kenal sama kamu, sejak awal kita ketemu aku udah merasa kalau kamu itu sumber kebahagiaan aku. "
Jingga tidak bisa lagi menahan air matanya, kenangan ketika dia dan Nawa pertama kali bertemu langsung terlintas di ingatannya saat itu juga.
" Jangan nangis, aku nggak suka lihat kamu nangis. " Sahut Bima yang mulai cemas dengan reaksi Jingga sekarang.
" Oke... Oke, kalau kamu mau buat aku bahagia, aku cuma punya satu permintaan sama kamu. " Lontar Bima yang akhirnya membuat Jingga berhenti menangis.
" Permintaan apa.? " Tanya Jingga penasaran.
**
Hanya selama tiga hari Nawa meminta waktu Jingga untuk menjadikannya sebagai miliknya kembali, Nawa tahu waktunya mungkin tidak akan lama lagi dan dia hanya ingin memiliki Jingga di waktu terakhirnya itu.
Namun sebelumnya dia sudah langsung meminta izin kepada Arkana, dan dengan lapang dada Arkana mengizinkan hal tersebut.
Meskipun Arkana sudah mengizinkan bukan berarti dia tidak merasa cemburu, Jingga punya cara tersendiri untuk membuat Arkana percaya kepadanya selama tiga hari dia menjadi milik Nawa.
Dan untuk memanfaatkan waktu tiga hari tersebut, Nawa yang telah di perbolehkan keluar dari rumah sakit pun langsung mengajak Jingga ke suatu tempat yang dulu pernah mereka kunjungi ketika masih berpacaran.
" Kamu ingat kan waktu itu aku ngajak kamu kesini buat nembak kamu. " Lontar Nawa.
" Tentu saja ingat, hampir tiap saat kamu ngajak aku pacaran lah, nikah lah, seakan nggak pernah bosan dengan ajakan itu. " Seloroh Jingga.
" Emang nggak bosan, setiap hari aku terus memikirkan cara buat dapetin kamu. Jujur aja, waktu itu kamu susah banget buat di dapetin, butuh waktu dua tahun biar kamu bisa luluh dengan usaha aku. "
" Alasan kamu suka sama aku apa sih? Sejak dulu kamu belum kasih tahu aku alasannya loh. " Tanya Jingga penasaran.
" Apa ya? Mungkin karena kamu cuek, galak, mandiri, dan sedikit sombong. " Balas Nawa.
" Kamu ngeledek aku.? "
" Hehe, aku nggak punya alasan apapun. Aku hanya jatuh cinta dengan gadis cantik yang pertama kali ku lihat saat memasuki kelas itu. Kepindahanku di sekolah itu membuatku merasa kalau kamulah orangnya, kamu yang bisa buat aku berubah menjadi lebih baik. "
" Aku ingat waktu pertama kali kamu pindah, kata-kata yang kamu ucapkan waktu itu buat semua orang kaget termasuk aku. "
__ADS_1
" Aku dalam keadaan sadat kok waktu bilang gitu, sejak saat itu aku nggak mau nyerah buat dapetin kamu. "
Mereka asik mengobrol sampai lupa waktu, cukup lama keduanya berada di tempat itu hingga akhirnya mereka memilih untuk pergi ke tempat berikutnya.
**
Arkana terlihat melamun sambil memberikan Keenan susu, dia bahkan tidak fokus saat botol susu Keenan tidak masuk ke dalam mulut mungil putranya.
Hingga suara tangis Keenan terdengar dan membuat Arkana sadar dengan aksinya, Arkana meminta maaf dan segera membersihkan sekitar mulut Keenan yang di penuhi oleh susu.
" Maafin papa ya nak, papa lagi nggak fokus sekarang. " Ucap Arkana merasa bersalah.
Arkana pun menggendong Keenan dan mengajaknya keluar dari kamar, dia tidak ingin larut dengan pikirannya barusan dengan cara membawa Keenan ke halaman rumah.
Ketika Arkana keluar, tanpa sengaja dia melihat sebuah mobil berwarna kuning baru saja berhenti tepat di depan pagar rumah. Karena bi Inah sedang berada diluar, dia pun segera membuka pintu karena tahu yang datang saat ini adalah Qania.
" Non Qania tumben datang sore-sore begini. " Tegur bi Inah setelah dia selesai membuka pagar.
" Iya bi, saya datang bawa sesuatu buat Keenan. Soalnya saya mau keluar kota besok, mau pulang ke rumah orang tua. "
" Kebetulan den Arka lagi gendong Keenan di halaman rumah. "
Qania dengan paper bag di tangannya segera menghampiri Arkana dan Keenan, dia melirik Keenan yang sedang di gendongan Arkana dengan gemas.
" Halo anak aunty, apa kabar.? "
" Tumben datang jam segini.? "
" Aku sama suamiku mau pulang ke rumah mama mertua, cuma sebulan jadi mau datang jenguk Keenan dulu. "
" Btw Jingga mana? " Tanya Qania melirik kesana kemari.
Arkana menunduk diam, dia memang tidak memberitahu siapa-siapa tentang permintaan Bima pada Jingga. Qania yang melihatnya bingung, namun dia tahu kalau ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Arkana sekarang.
__ADS_1