Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Cantik


__ADS_3


Jingga terlihat sedang sibuk memilih gaun yang akan dia gunakan untuk menghadiri pernikahan Qania dan Aizen, dari beberapa gaun yang dia miliki rupanya tidak satupun ada yang cocok dengan bentuk tubuhnya yang sekarang.


“ Nggak apa-apa nak, meskipun sekarang banyak baju yang nggak cocok sama mama, tapi mama nggak pernah nyalahin kamu kok.” Kata Jingga sambil mengusap perutnya.


Karena tidak ada yang cocok akhirnya Jingga menyerah untuk mencari, dia bisa saja memesan gaun di toko online atau mencarinya di mall. Tiba-tiba saja dia teringat dengan koleksi gaun yang masih ada di rumah kedua orang tuanya, Jingga berpikir untuk kesana dan mengambilnya beberapa.


Kemudian Jingga mencoba menghubungi Arkana untuk meminta izin, karena sekarang Arkana sedang berada di rumah sakit terpaksa dia harus meminta izin dengan cara menelpon pria itu.


“ Halo.” Arkana menjawab panggilan dari Jingga dalam waktu lima detik.


“ Aku mau izin ke rumah orang tuaku boleh nggak? Ada beberapa gaun yang mungkin cocok aku pakai besok.”


“ Kamu tunggu aku di rumah, bentar lagi aku pulang.”


“ Kamu serius? Aku beneran nggak ganggu pekerjaan kamu kan.?”


“ Kebetulan udah selesai semua pekerjaannya dan aku bisa pulang lebih awal, kamu tunggu di rumah sebentar lagi aku pulang.”


“ Baik mas.”


Jingga menatap ponselnya tak percaya dengan apa yang dia dengar, namun di satu sisi dia berpikir bahwa Arkana besikap seperti itu mungkin karena di hadapannya ada orang lain yang membuatnya ingin pamer kalau dia adalah suami yang pengertian.


**



Sore itu Jingga dan Arkana tiba di kediaman rumah orang tua Jingga, rumah yang dulunya hampir di jual oleh om dan tantenya sekarang di urus oleh seseorang yang merupakan kenalan orang tua Jingga.


Jingga memiliki kuncinya sehingga dia bisa masuk ke dalam, Arkana mengikutinya dari belakang sambil melihat seisi rumah itu yang begitu besar dan mewah.


Rumah kedua orang tua Jingga telah di wariskan sepenuhnya untuk Jingga, dia bisa menempati rumah itu kapan pun dia mau. Tapi karena Arkana tetap ingin tinggal di rumah mereka sekarang, maka tidak ada pilihan lain untuk Jingga selain menurutinya.


“ Kamar kamu yang mana.?” Tanya Arkana.

__ADS_1


“ Di atas mas.” Jawab Jingga menunjuk lantai dua.


“ Ya udah, kamu naik aja. Aku tunggu di bawah.” Kata Arkana sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


Jingga mulai melangkah menaiki satu persatu anak tangga, sementara itu Arkana terlihat sibuk melirik kesana kemari. Fokusnya tertuju pada sebuah bingkai foto berukuran besar yang memperlihatkan Jingga dan kedua orang tuanya.


Foto itu mungkin sudah di ambil sejak lama, terlihat Jingga yang masih terlalu muda dengan potongan rambut pendeknya. Arkana menatap foto itu lama hingga dia mendengar suara teriakan Jingga dari atas, dengan cepat pria itu berlari menuju ke kamar Jingga.


“ Ada apa.?” Tanya Arkana dengan ekspresi panik.


“ Itu.., ada laba-laba.” Tunjuk Jingga pada seekor laba-laba yang berlari di lantai.


Arkana dengan cepat menangkap laba-laba itu dengan tangan kosong, dia membuang laba-laba itu keluar jendela dan setelah itu memeriksa keadaan Jingga.


“ Kamu nggak apa-apa kan.?” Tanya Arkana membuat Jingga bingung dengan sikapnya.


“ Aku nggak apa-apa.” Balas Jingga lirih.


Arkana sadar dengan sikapnya dan langsung mundur beberapa langkah, kemudian dia kembali mempersilahkan Jingga untuk menyelesaikan urusannya.


Langkah Arkana berhenti di dekat sebuah meja yang memajang begitu banyak foto-foto disana, terlihat begitu banyak foto Jingga dari waktu ke waktu. Arkana mengambil salah satu bingkai yang memperlihatkan Jingga ketika dia berusia masih sangat muda.



“ Cantik.” Ucap Arkana sambil tersenyum.


“ Apa yang ku katakan? Dia nggak cantik sama sekali.” Arkana meletakkan bingkai itu ke tempatnya lagi.


“ Mas, aku mau minta saran kamu.” Sahut Jingga membuat Arkana segera menoleh kepadanya.


“ Bagusan yang biru muda atau ungu muda.?” Jingga menunjukkan dua gaun yang dia pilih untuk di pilih oleh Arkana juga.


“ Yang biru muda.” Tunjuk Arkana.


“ Oke, kalau gitu aku pilih yang ini aja.” Jingga juga suka dengan gaun biru muda itu, sehingga dia memutuskan untuk memilihnya.

__ADS_1


“ Nggak di coba dulu? Gimana kalau nggak muat.?” Tanya Arkana.


“ Muat kok, ukurannya udah pas. Aku tahu mana yang cocok sama aku dan mana yang nggak.”


Setelah selesai mengambil gaun, Jingga juga mengambil heels yang cocok dengan gaunnya. Koleksi Jingga masih begitu banyak di rumah itu, tapi dia juga tidak bisa membawa semuanya ke rumah dia sekarang.


“ Mas, kamu yakin besok mau kesana? Biar aku aja yang pergi, nanti aku bisa cari alasan yang bagus biar mereka percaya.” Kata Jingga saat mereka sudah ada di dalam mobil.


“ Aku tetap pergi, kamu nggak usah berpikir aku nggak bisa lihat Qania nikah sama pria lain. Pokoknya besok kamu harus bisa bantu aku terlihat bisa menerima semuanya, aku mau kamu sama aku terlihat lebih mesra dari sebelumnya.” Ucap Arkana melirik Jingga.


“ Terlihat lebih mesra.?” Benak Jingga bingung dengan kalimat yang dirinya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya besok.


**


Keesokan harinya setelah Jingga selesai make up, dia segera mencoba memakai gaun yang di pilih Arkana kemarin. Dan setelah di coba ternyata benar kalau gaunnya masih tidak muat, padahal kemarin dia berpikir kalau gaunnya sudah muat dengan bentuk tubuhnya yang sekarang.


Jingga pun merana di buatnya, padahal dua jam lagi acara akad akan dimulai dan dia tidak memiliki gaun yang cocok untuk dia gunakan. Sebuah ketukan pintu baru saja membuat Jingga bergeming, dia sudah tahu kalau itu adalah Arkana.


Jingga keluar dengan bathroab yang masih dia kenakan setelah melepas gaun yang tidak muat barusan, hanya kepalanya yang terlihat muncul di balik pintu dan mendapati Arkana yang kebingungan melihatnya.


“ Kamu kok belum siap.?”


“ Gaun yang kemarin nggak muat, aku nggak punya gaun lain.”


“ Gaun yang kamu buat waktu itu memangnya nggak muat.?”


Jingga baru saja ingat tentang dress yang dia baut sepasang dengan Arkana, dress itu memang cocok di gunakan ke tempat pesta pernikahan, Karena dress itu ada di ruangan sebelah, dia pun keluar untuk mengambilnya.


Dan setelah Jingga mencobanya ternyata cocok dengan bentuk tubuhnya, dia memang sengaja membuatnya sedikit besar tapi tidak pernah menyangka akan di pakai olehnya seperti sekarang.


“ Mas, aku udah siap.” Sahut Jingga baru saja keluar dari kamarnya.


Jingga tidak melihat Arkana lagi setelah dia selesai mencoba dress itu, dia pikir Arkana marah karena dia yang membuat waktu terbuang cukup lama. Setelah beberapa saat pintu kamar Arkana terbuka, terlihat Arkana yang keluar dari sana dengan kemeja yang di buat oleh Jingga waktu itu.


“ Kamu pakai kemejanya juga.?” Lontar Jingga merasa senang melihatnya, walaupun ini adalah kali kedua dia melihat Arkana mengenakan kemeja itu.

__ADS_1


“ Biar makin terlihat mesra, kan bagus kalau kita pergi pakai barang couple.” Kata Arkana membuat Jingga mengangguk setuju.


__ADS_2