
Jingga menatap ruangan tempat Nawa di rawat setelah dia di larikan ke rumah sakit, dokter telah memeriksa keadaannya dan kabarnya Nawa harus mendapat perawatan lebih setelah kejadian yang menimpanya di taman hiburan.
Arkana sedang mengurus pria yang melukai Nawa di kantor polisi sehingga Jingga menjadi satu-satunya yang hadir di rumah sakit. Sebelum masuk ke dalam dia mencoba untuk menarik nafas perlahan, kemudian tangannya meraih knop dan membukanya dengan sangat pelan-pelan.
Ketika Jingga masuk, ternyata Nawa sudah dalam keadaan sadar. Dia bahkan sempat menoleh menatap Jingga degan senyuman kecil, Jingga pun menghampirinya dengan ekspresi sedih.
Tanpa suara, Nawa tidak dapat mengatakan apapun seperti biasa. Tidak peduli seberapa keras dia mencoba bahkan ketika dia bisa berbicara, dia tidak bisa berbicara dengan lama mengingat keadaan dia saat ini. Gerakannya tidak terkoordinasi dengan baik dan cenderung melambat.
“ Kamu nggak apa-apa kan.?” Tanya Jingga dan di balas anggukan pelan dari Nawa.
“ Pria yang melukaimu sudah di laporkan, mas Arka pasti akan menjebloskan dia ke penjara jadi kamu tenang aja.” Sambung Jingga.
Jingga merasa lebih sedih sekarang, melihat wajah Nawa yang begitu picat dan lemah yang bahkan tidak mengatakan sepatah kata pun. Ketika Nawa seperti itu, Jingga langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Tetapi pada saat yang bersamaan dia tidak punya pilihan selain menyaksikan Nawa dengan penyakit yang menggerogoti tubuhnya itu.
“ Kenapa kamu diam saja.?”
Jingga memejamkan mata dan menghela nafas, merasa semakin putus asa setiap detiknya. Dia takut dia tidak bisa keluar dari keadaan yang seperti ini, sesuatu yang buruk mungkin saja akan terjadi tapi dia belum siap menerima hal itu.
Sentuhan lembut berhasil membuat Jingga membuka kedua matanya, dia menatap seseorang yang menyentuhnya dengan bingung.
“ Aku baik-baik saja.” Suara Nawa mulai terdengar kembali namun sangat kecil dan hampir tidak terdengar.
Jingga menatapnya dengan memelas dan mengangguk sekali, dia mendapati dirinya sudah tidak bisa mengatakan apapun. Dia berpikir Nawa tidak bisa mengatakan apa-apa, ternyata dia salah.
Sekali lagi dia merasakan sentuhan dari Nawa, Jingga pun langsung merubah posisi berdirinya sedikit lebih dekat agar dia bisa mendengar suara Nawa kali ini.
“ Ada apa? Kamu mau ngomong apa.?” Tanya Jingga lirih.
Nawa menatap Jingga dan mencoba menyampaikan beberapa kalimat, namun pada akhirnya dia gagal. Dia melihat sekeliling dan menunjuk tas Jingga. Lantas dengan cepat Jingga memberikan tasnya, dia kembali mendapat kode dari Nawa untuk mengeluarkan ponselnya.
__ADS_1
“ Kamu mau mengetiknya.?” Tanya Jingga di balas anggukan pelan Nawa.
Jingga pun langsung membuka aplikasi notes miliknya dan memberikan ponsel itu kepada Nawa, saat itulah Nawa berusaha mengetik sesuatu yang membuat Jingga penasaran dengan isinya.
Butuh beberapa waktu bagi Nawa untuk menyelesaikan apa yang ingin dia tulis, kemudian setelah dia menyelesaikannya, Nawa pun memberikan ponsel itu untuk di baca oleh Jingga.
Jingga melihat ponselnya untuk membaca tulisan yang di ketik oleh Nawa, dimana bunyinya :
“ Terima kasih untuk dua hari yang tidak terlupakan ini, aku minta selama tiga hari tapi sepertinya kita hanya bisa melakukannya selama dua hari saja. Kamu tahu nggak? Dua hari itu sangat berarti buatku, kalaupun sekarang aku pergi, kayaknya aku akan pergi dengan damai.”
Jingga yang baru saja membacanya langsung menatap Nawa dengan sedih, saat ini dia benar-benar takut dan tidak tahu harus berkata apalagi.
“ Aku juga senang bisa membuatmu senang.” Itulah kata-kata yang akhirnya di ucapkan oleh Jingga.
Kemudian Nawa kembali memberikan kode untuk lanjut mengetik kata-kata yang ingin dia sampaikan kepada Jingga. Dan Jingga pun harus menunggu selama satu menit untuk Nawa selesai menulisnya.
“ Kamu sangat cantik kalau tersenyum, tolong tetap tersenyum.”
Suara pintu yang terkuak membuat Jingga dan Nawa kompak menoleh ke arahnnya, mama Widya masuk ke dalam ruangan itu dan langsung menampar wajah Jingga tepat di depan Nawa.
“ Dasar wanita tidak tahu diri, kau sudah punya suami dan ingin kembali dengan masa lalumu? Kau tahu dia sedang sakit, kenapa justru kau membawanya kemana-mana.?” Protes mama Widya terlihat begitu kesal.
Nawa terlihat tidak terima Jingga di perlakukan seperti itu, dia berusaha untuk bangun namun sayang tubuhnya tidak bisa bergerak sebebas dulu. Mama Widya tidak tahu apa-apa dan menganggap bahwa semua ini adalah salah Jingga, bahkan ketika Jingga hendak menjelaskannya pun terlihat mama Widya yang tidak ingin mendengarnya.
“ Sekarang keluar, kau tidak boleh bertemu dengan putraku lagi.” Mama Widya menarik Jingga dengan kasar keluar dari ruangan itu, dan saat dia membuka pintu dia kembali mendorong Jingga hingga tersungkur ke lantai.
“ Jingga.” Suara teriakan yang berasal dari ujung koridor membuat mama Widya sempat menoleh.
Arkana berlari menghampiri Jingga dan berusaha membantunya untuk berdiri kembali, kemudian Arkana melirik mamanya dengan tatapan kesal karena telah memperlakukan istrinya seperti itu.
“ Baguslah kamu sudah datang, cepat bawa istrimu pergi dari sini. Kau bahkan tidak bisa menjaganya dengan baik sampai dia harus menggoda pria lain.”
__ADS_1
“ Jaga ucapan mama.”
“ Kalau sesuatu sampai terjadi pada Bima, kamu yang harus tanggung jawab.” Ancam mama Widya pada Jingga.
Pintu ruangan itu pun tertutup, Jingga tak kuasa menahan air matanya lagi. Arkana langsung memeluknya dan menenangkan Jingga dengan caranya.
“ Jangan nangis, kita pergi dari sini.” Ajak Arkana.
**
Semalaman Arkana memeluk Jingga dan membantunya untuk tidur, namun sayang Jingga belum bisa tidur. Jingga memang sudah tidak menangis lagi, namun diamnya saat ini membuat Arkana merasa gusar.
“ Kamu harus tidur, nanti kondisi kamu ikut memburuk. Kalau kamu sakit, Keenan nggak ada yang rawat.” Ucap Arkana lirih.
“ Aku nggak bisa tidur mas, di kepalaku ini ada begitu banyak pikiran yang belum terselesaikan. Aku mau semua ini berhenti terjadi, tapi aku nggak tahu caranya.” Balas Jingga.
Arkana membelai lembut kepala Jingga lalu mengecupnya dengan lembut, meskipun saat ini sedang banyak pikiran, tapi sikap Arkana sekarang sedikit membantu Jingga.
“ Ngomong-ngomong, kenapa hari ini kamu datang ke tamah hiburan.?” Tanya Jingga penasaran.
“ Aku nggak tahu kenapa, setiap kali lihat kalian berdua rasanya ada yang mengganggu. Aku sadar aku cemburu, dan sikapku hari ini dengan datang kesana tanpa bilang-bilang terkesan sangat kekanak-kanakan. Maafin aku ya.”
“ Nggak apa-apa kok, aku ngerti perasaan kamu. Justru kalau kamu nggak melakukan apa-apa, aku nggak akan tahu perasaan kamu yang sebenarnya.”
“ Dan soal pre wedding, aku juga mau melakukannya dengan kamu. Kita bahkan nggak punya foto pre wedding bersama. Bahkan foto pernikahan kita di lakukan dengan keadaan terpaksa.”
“ Kalau gitu kita coba melakukannya juga nanti, aku pun memikirkan hal yang sama saat melakukan foto pre wedding dengan Nawa hari ini. Aku berpikir kita juga harus melakukannya walaupun terlambat.”
Arkana senang mendengarnya, perasaan aneh yang di tahannya sejak tadi mendadak menghilang. Dia kembali memeluk istrinya dan mengecupnya terus menerus, kemudian dia kembali mengajak Jingga untuk segera tidur.
__ADS_1