
Arkana menutup pintu ruangannya kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas sofa sambil menegadahkan kepalanya ke atas, langit-langit ruangannya saat itu terlihat mulai kabur sampai dia tersadar air matanya sudah jatuh ke pelipisnya.
“ Kenapa? kenapa bukan kamu yang jadi istriku.” Isak Arkana yang akhirnya kalah dengan dirinya sendiri.
Semua yang telah terjadi kepadanya dan Qania kembali menghantuinya, dan semua yang dia jalani selama ini nampaknya tak bisa membuat dia melupakan Qania sepenuhnya.
“ Kamu bohong kan Nia, kamu nggak mungkin melupakan hubungan kita secepat itu.?” Sekarang Arkana mulai tertunduk, air matanya masih mengalir sampai saat ini.
Beberapa bulan yang lalu
Pria itu terlihat sangat antusias dalam menyiapkan sebuah kejutan yang akan dia berikan kepada kekasihnya, sudah cukup lama dia merencanakan kejutan itu dan baru sekarang memiliki waktu untuk melakukannya.
Arkana yang saat itu memiliki kesempatan, sebentar lagi akan melamar kekasihnya yang telah dia pacari sejak mereka berdua sama-sama magang di rumah sakit.
Arkana dan Qania sudah saling mengenal sejak masa-masa SMA, namun keduanya berpisah di bangku kuliah karena tujuan universitas mereka berbeda. Namun setelah hampir menyelesaikan masa perkuliahan dan mendapat tugas untuk magang di rumah sakit, keduanya kembali di pertemukan di rumah sakit keluarga Adyatama.
Sejak saat itu keduanya memutuskan untuk berpacaran setelah mengaku saling menyukai satu sama lain, dan hubungan mereka pun berlanjut sampai mereka resmi menjadi seorang dokter di rumah sakit tersebut.
Sebuah mobil putih baru saja tiba di pelataran taman, tampak Arkana yang dengan setia menunggu di dekat mobil itu terparkir. Melihat yang datang adalah Qania lantas membuat pria itu langsung menghampirinya dengan penuh gembira.
“ Ada apa sih panggil aku ke tempat ini malam-malam.?” Tanya Qania bingung.
“ Kamu pakai penutup mata dulu, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat tapi syaratnya harus tutup mata dulu.” Lontar Arkana sambil menunjukkan kain penutup mata yang telah dia siapkan sebelumnya.
Qania pun menuruti apa kata Arkana dan membuat Arkana langsung menutup kedua matanya. Setelah itu Arkana menuntun Qania dengan sangat hati-hati menuju tempat yang telah dia siapkan sebelumnya.
__ADS_1
“ Dalam hitungan 3 2 1, kamu boleh buka penutup matanya.” Seru Arkana yang kini membuat Qania langsung melepaskan penutup mata tersebut.
Qania terkejut setelah dia membukanya, di sekelilingnya terdapat lampu hias berwarna warni dengan dekorasi yang sangat romantis. Belum lagi ada sebuah meja makan dengan dua kursi khas candle light dinner yang di siapkan Arkana dengan sempurna.
Ketika Qania memutar tubuhnya dia kembali di buat terkejut dengan sosok Arkana yang sudah bersimpuh di hadapannya sambil menunjukkan sebuah kotak kecil di tangannya.
“ Will you marry me.?” Lontar Arkana benar-benar membuat Qania tidak bisa berkata-kata lagi.
Dengan air mata yang mengalir di pelupuk matanya, Qania pun menjawab ucapan dari Arkana barusan.
“ Yes, I do.” Balas Qania yang akhirnya membuat Arkana bergerak menyematkan cincin tersebut di jari manis milik Qania.
Keduanya pun saling berpelukan setelah mendapat lamaran penuh suka cita tersebut, tak di sangka Qania akhirnya resmi di lamar oleh Arkana setelah cukup lama menjalin hubungan dengan pria itu.
Dan keesokan harinya setelah mereka menikmati malam berdua bersama, keduanta memutuskan untuk bertemu dengan mama Widya dan membicarakan soal pernikahan antar kedua belah pihak.
“ Mama nggak setuju kamu nikah sama dia.” Ucap mama Widya dengan penuh penegasan tepat di depan Arkana dan Qania.
“ Mama bilang nggak ya nggak, dan untuk kamu. Kalau kamu masih mau bekerja di rumah sakit saya, kamu harus jauhi anak saya.” Lontar mama Widya melirik Qania lurus.
“ Mama apa-apaan sih, kenapa jadi gini? Tolong dong ma, kasih aku kesempatan buat memilih hidup aku sendiri. Selama ini aku sudah menjadi anak yang patuh, aku nggak pernah membantah apa kata mama. Tapi kali ini, tolong…, aku mau menikah sama Qania, kasih kami restu.” Pinta Arkana yang untuk pertama kali dalam hidupnya dia memohon seperti itu di hadapan mama Widya.
“ Mama tetap nggak akan kasih kamu restu menikah sama wanita seperti dia, sekarang juga kamu pergi dari sini, jangan hasut anak saya lagi.” Mama Widya menarik lengan Qania untuk keluar dari rumahnya.
Arkana yang terlihat diam saja kemudian bangkit dan meraih Qania dalam dekapannya, dia melindungi wanita itu dari dorongan mama Widya yang seakan tak sudi melihatnya menginjakkan kaki di rumah itu.
“ Kamu lebih pilih wanita itu atau mama.?” Ketus mama Widya.
__ADS_1
“ Aku sayang sama mama, dan aku juga sayang sama Qania.” Balas Arkana.
“ Kamu hanya boleh memilih di antara kita berdua, mama atau dia.”
Arkana terdiam dan bingung harus mengatakan apa lagi, dia bahkan tidak tahu mengapa mamanya sangat membenci Qania. Padahal selama ini Qania di kenal sebagai wanita yang baik dan sangat pengertian, Arkana benar-benar tidak mengerti jalan pikiran mamanya sekarang.
Arkana kemudian menarik lengan Qania dan keluar dari ruangan itu, suara teriakan mama Widya menyuruhnya untuk tetap tinggal di abaikannya begitu saja.
Setelah mereka berada diluar, akhirnya Arkana menghentikan langkahnya dan dia terlihat sangat frustasi saat ini.
“ Udah Ar, kamu harus pilih mama kamu.” Sahut Qania menatapnya sayu.
“ Tapi aku juga sayang sama kamu Nia.” Arkana hampir terbawa suasana yang sendu saat itu.
“ Kita mungkin belum berjodoh, restu mama kamu juga penting. Aku nggak mungkin menikah sama kamu tanpa restu beliau.” Lanjut Qania lirih.
“ Pokoknya kamu tenang aja, aku akan menyakinkan mama untuk buat kamu bisa di terima sama dia.” Arkana meraih tubuh Qania dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
**
Nampaknya Arkana masih belum bisa membujuk mama Widya untuk memberikannya restu menikahi Qania, hal ini sudah berjalan hampir dua bulan dan dia tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.
Hingga suatu ketika mama Widya menyuruhnya untuk menerima perjodohan dengan seorang wanita yang lebih muda darinya. Arkana langsung menolaknya dengan ketus, dia tidak menyetujui rencana mamanya untuk di jodohkan dengan orang lain.
Selama hampir seminggu Arkana minggat dari rumah dan memilih tinggal di sebuah hotel, hal itu dia lakukan untuk berpisah dari mamanya sejenak. Hubungan keduanya semakin runyam setelah itu, banyak masalah yang terjadi dan semua di salahkan atas nama Arkana.
Saat itu Arkana mendengar bahwa Qania akan di pindahkan ke rumah sakit di Papua dengan cara mengirimnya untuk melakukan kegiatan sukarelawan terlebih dulu. Mengetahui hal itu lantas membuat Arkana tidak terima, dan dia pergi menemui mama Widya untuk membatalkannya.
__ADS_1
“ Tolong jangan pindahkan Qania ke Papua.” Pinta Arkana di hadapan mama Widya.
“ Boleh, asal kamu menuruti apa kata mama dengan menerima perjodohan itu.” Balas mama Widya.