
Persiapan pindah tempat tinggal sudah hampir 90 % siap di lakukan, Arkana banyak mengurus segala persiapannya karena mereka bukan hanya pindah rumah, melainkan pindah kewarganegaraan juga.
Keputusan Arkana ini sudah di setujui oleh papa Aidan dan papa Hendra, hanya mama Widya yang tidak di beritahu olehnya karena sampai saat ini mama Widya menutup diri dari siapapun dan hampir tidak pernah terlihat.
Kematian Bima membuat mama Widya sangat syok, dia bahkan tidak menghadiri pemakaman Bima waktu itu karena menganggap bahwa Bima belum meninggal. Papa Hendra sendiri sudah berusaha untuk mengecek keadaannya, dan dia bahkan sulit untuk mendekatinya.
Di saat Arkana sedang keluar mengurus sesuatu, Jingga di temani oleh dua pembantunya yang besok sudah harus berhenti bekerja dengan mereka. Mereka sedang berkumpul di ruang keluarga dengan memperhatikan Keenan yang begitu menggemaskan.
“ Nanti den Keenan jadi orang Singapur deh, ketemu jodohnya disana, hidup bahagia sama papa dan mamanya.” Seru bi Salma.
“ Kita bisa kangen banget nanti sama den Keenan.” Sambung bi Inah.
“ Singapur kan dekat, kalian bisa jalan-jalan kesana kok.” Sahut Jingga.
“ Ongkosnya kan nggak ada non, apalagi setelah berhenti dari sini belum tentu kita bisa dapat majikan baru.” Jawab bi Salma.
“ Kalian siap jadi karyawa di butik saya nggak.?” Tawar Jingga.
“ Karyawan di butik non Jingga.?” Ucap mereka dengan bingung.
“ Iya, jadi saya tetap punya butik di Jakarta. Saya sudah menyelesaikan proses pembangunan gedung, karena saya di Singapur jadi saya butuh bantuan kalian untuk membantu butik saya, gimana.?”
“ Ya ampun non, kami benar-benar berterima kasih karena sudah di berikan pekerjaan seperti itu. tentu saja kita berdua mau non.”
Tiba-tiba saja suara bel membuat mereka menoleh dengan kompak, Jingga sudah tahu siapa yang datang dan menyuruh bi Salma untuk beranjak membuka pintu.
Selang beberapa menit bi Salma kembali dengan seorang pria yang langsung tersenyum ke arah Jingga. Erwin yang akhirnya muncul setelah sekian lama sudah mengetahui apa yang terjadi kepada Jingga, namun dia tidak banyak terlibat sebab dia tetap mengerjakan apa yang di perintahkan Jingga waktu itu.
“ Ini kunci butik kamu, aku udah tunggu kamu kabarin aku kapan butiknya bisa mulai launching, tapi baru sekarang kamu hubungin aku buat datang. Jadi kapan kamu mau launching.?” Tanya Erwin.
Jingga meraih tangan Erwin dan kembali menyerahkan kunci butik itu kepadanya, dengan bingung Erwin menatap kunci itu dan lanjut menatap Jingga.
__ADS_1
“ Kamu simpan kuncinya, mulai sekarang yang akan mengurus butik itu adalah kamu. Aku tunjuk kamu sebagai kepala butik yang akan mengurus semuanya, dan mereka berdua nantinya akan bekerja disana untuk membantumu. Aku juga akan merekrut beberapa orang yang paham dunia fashion sehingga kalian semua bisa saling bekerja sama.” Jelas Jingga.
“ Kamu nggak perlu melakukan semua ini ke aku, uang yang kamu kasih ke aku masih banyak.” Erwin merasa tidak enak dan hendak mengembalikan kunci itu.
“ Uang yang ku kasih kamu simpan saja, lagi pula kamu butuh pekerjaan kan? Kamu nggak akan kembali ke pekerjaanmu yang dulu kan? Jadi sekarang, kamu terima ini dan bekerjalah dengan baik. Kamu ingin mendekati Diana juga kan?” ucap Jingga sontak membuat Erwin tersipu malu.
“ Kenapa kamu bisa tahu soal Diana.?” Tanya Erwin heran.
“ Diana itu sahabat aku, tentu saja aku tahu semua tentang dia. Aku setuju kok kalau kamu sama dia, tapi kamu harus meninggalkan pekerjaan lama mu itu dengan sungguh-sungguh. Maka dari itu lanjutkan bisnis ini, dengan begitu kalian berdua akan sering-sering bertemu.” Ungkap Jingga kemudian.
“ Aku hanya bisa bilang terima kasih, kamu benar-benar wanita yang baik.” Ucap Erwin merasa bersyukur bisa mengenal Jingga.
“ Ini Keenan ya, halo Keenan. Ini om Erwin, kalau di ingat-ingat kamu jadi buat om teringat dengan kelakuan papa kamu.” Seloroh Erwin dan langsung mendapat cubitan dari Jingga.
“ Jangan di ungkit, itu masa lalu.” Sahut Jingga dan kemudian mereka semua tertawa lepas seakan tidak ada beban di kehidupan mereka.
“ Ngomong-ngomong suami kamu mana.?”
“ Dia ada urusan diluar, sebentar lagi pulang kok.
**
Ketika Arkana keluar dari tempat itu, tiba-tiba saja Arkana mendapat sebuah panggilan dari nomor yang tidak di kenal. Dia kemudian menjawab panggilan tersebut dan mendengar suara seorang perempuan di seberang sana.
“ Arkana ya?”
“ Iya, ini siapa.?”
“ Saya Ririn, dokternya Bima yang bertugas di Bandung.”
“ Iya dok? Ada apa yang nelpon saya.?”
“ Ada sesuatu yang mau saya kasih, bisa ketemu sebentar.?”
__ADS_1
“ Bisa dok, dokter dimana sekarang? Biar saya yang kesana.”
“ Saya ada di salah satu kafe di Kemang.”
“ Kebetulan saya ada di dekat Kemang, ya udah saya langsung kesana ya dok.”
Arkana langsung meluncur menuju lokasi dokter Ririn sekarang, jaraknya hanya dua puluh menit dari tempatnya barusan. Dan sekarang keduanya sudah bertemu dan duduk saling berhadapan.
“ Ada apa ya dok kalau saya boleh tahu.?” Tanya Arkana yang sudah sangat penasaran sejak tadi.
“ Jadi gini, Bima menitipkan flashdisk ini ke saya waktu dia masih di rawat di Bandung. Dia sudah berpesan kalau sesuatu terjadi padanya, dia ingin flashdisk ini di berikan ke kalian berdua.” Jelasnya kemudian.
Arkana menerima flashdisk itu dengan tatapan nanar, dia kemudian berterima kasih kepada dokter Ririn karena sudah repot-repot datang ke Jakarta untuk menyerahkan flashdisk itu secara langsung.
“ Kira-kira ada apa di dalam flashdisk ini dok.?”
“ Saya kurang tahu, mungkin saja sebuah video atau rekaman suara atau bisa jadi surat, dulu Bima sering melakukan sesuatu dengan laptopnya dan terkadang saya mendengar dia bicara sendiri. Mungkin dia memang sengaja meninggalkan sesuatu di dalam flashdisk itu untuk bisa kalian lihat.”
“ Terima kasih dok, dokter udah jauh-jauh datang dari Bandung untuk memberikan flashdisk ini.”
“ Santai aja, gimana kabar Jingga? Dia pasti sangat terpukul dengan kepergian Bima, apalagi jantung yang Bima berikan padanya adalah permintaan terakhir Bima.”
“ Dia sudah mulai menerimanya, dan sekarang pun dia sudah kembali tersenyum.”
“ Syukurlah, saya ikut senang mendengarnya.”
**
Sepulang dari pertemuannya dengan dokter Ririn, Arkana sudah kembali ke rumahnya. Dia di sambut hangat oleh Jingga sore itu, dan tanpa menunggu waktu lama, Arkana memberitahu Jingga kalau dia mendapatkan sebuah flashdisk dari dokter Ririn yang berisikan sesuatu dari Bima.
Jingga dan Arkana langsung bergerak menuju kamar mereka dan membuka laptop untuk segera melihat isi dari flashdisknya. Setelah di cek, ternyata ada dua file yang bertuliskan nama mereka berdua.
“ Kamu mau melihatnya sendiri? “ Tanya Arkana pada Jingga.
__ADS_1
“ Kita lihat sama-sama.” Balas Jingga yang kemudian di balas anggukan pelan dari Arkana.