
Suara klakson mobil baru saja terdengar diluar sana, bi Salma yang sedang berada di halaman rumah terlihat terkejut bukan main hingga tak bisa beranjak dari tempatnya.
Mobil berwarna hitam milik Arkana baru saja memasuki pelataran rumah, tak lama setelah itu Arkana turun dari dalam mobil yang membuatnya saling melakukan kontak mata dengan bi Salma.
“ Tuan pulang? Kok cepat banget? Bukannya besok baru mau pulang.?” Sahut bi Salma.
“ Apa urusan kamu kalau saya pulang cepat?” balas Arkana sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Bi Salma saling menatap sama pak Hasan sekarang, pak Jefri sampai di buat bingung dengan ekspresi ketakutan mereka saat ini. Sementara itu bi Inah ikut di buat terkejut ketika melihat Arkana muncul di hadapannya, dia bahkan sampai menjatuhkan sayuran yang dia pegang barusan.
“ Kalian semua kenapa sih? Emang saya hantu sampai kalian semua kaget lihat saya pulang.?” Tegur Arkana mulai kesal.
“ Kaget aja tuan, soalnya kan tuan baru pulang besok.”
“ Terserah saya dong mau pulang kapan.” Balasnya kembali melanjutkan langkah menuju kamarnya.
Melihat Arkana yang tidak mencari Jingga membuat bi Inah sedikit tenang, namun ketika Arkana berhenti tepat di depan pintu kamar Jingga tiba-tiba saja bi Inah langsung menghampirinya lagi.
“ Tuan mau minum apa? Biar saya buatin.” Hal itu di lakukan untuk menarik perhatian Arkana agar tidak menanyakan keberadaan Jingga.
“ Saya nggak mau apa-apa.” Lanjutnya dan kembali melangkah sehingga membuat bi Inah dapat bernafas dengan legah.
Setelah memastikan Arkana masuk ke dalam kamarnya, bi Inah segera keluar menemui bi Salma. Mereka kompak menghubungi Jingga untuk segera pulang, sebelum Jingga tiba di rumah mereka harus membuat Arkana tidak menyadari bahwa Jingga tidak ada di rumah.
**
Arkana baru saja keluar dari kamarnya setelah dia selesai mandi, masih dengan rambut yang setengah basah dia berjalan menuju dapur untuk mengambil sebotol air dingin.
Dia melihat keadaan rumah yang sepi sejak kepulangannya dari Solo, bahkan dia tidak melihat Jingga sejak tadi yang dimana biasanya wanita itu akan selalu muncul tiap kali dia pulang.
__ADS_1
Karena penasaran akhirnya Arkana berjalan menuju kamar Jingga, dia menatap pintu berwarna putih itu cukup lama sebelum akhirnya mengetuknya dengan pelan.
“ Mas.” Suara itu berhasil membuat Arkana terkejut dan menoleh ke belakang dengan cepat.
“ Kamu dari mana.?” Tanya Arkana menatapnya lurus.
“ Aku dari belakang ngobrol sama bibi.” Jawab Jingga lirih.
“ Waktu aku pulang kenapa kamu nggak ada? “
“ Aku di belakang kok, aku tahu kamu udah pulang dari bi Salma.”
“ Kenapa di belakang? Suami kamu pulang dari luar kota, kenapa justru sibuk sendiri.?”
“ Kamu marah karena aku nggak nyambut kamu pulang mas.?”
Arkana tertegun di buatnya, dia merasa sudah salah ucap sehingga berjalan meninggalkan Jingga. Sementara itu Jingga mulai menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Dia baru saja kembali lima menit yang lalu, dia berhasil membuat Arkana tidak tahu kalau dia baru saja keluar hari ini. Saat bi Salma menelpon beberapa saat yang lalu, dia yang masih berada di ruangan Gilang langsung pulang ke rumah tanpa berpikir panjang lagi.
**
Jingga baru saja keluar dari kamarnya, dia melihat Arkana sedang sibuk di ruang tengah dengan laptopnya. Hari ini Arkana tidak ke rumah sakit karena sedang libur, dan Jingga yang memiliki sesuatu untuk di bicarakan dengan berani menghampiri suaminya itu.
“ Mas, aku kayaknya ngidam liburan ke Thailand deh.” Seru Jingga seketika membuat Arkana berhenti menggerakkan jemarinya.
“ Kamu kalau ngidam jangan lebay bisa nggak sih?” Komentar Arkana kembali fokus pada layar laptopnya.
“ Ini keinginan bayi kita, aku Cuma mau kabulin aja.”
“ Dengar ya, bayi itu bukan anak aku. Jadi jangan menutut apapun soal anak itu, urus dirimu sendiri jangan manja.”
__ADS_1
“ Padahal aku Cuma mau sekalian ajak kamu refreshing mas, kamu pasti penat kan dengan urusan di rumah sakit. Dan juga kalau kita liburan berdua terus pamer kemesraan, orang-orang pasti mikir kalau kita pasangan yang harmonis.”
Jingga melihat Arkana yang tampak sedang memikirkan ucapannya, sepertinya dia mulai berhasil menarik perhatian suaminya itu.
“ Kalau kita sudah sampai disana, aku nggak apa-apa kok kalau kita pisah kamar. Yang penting aku sama kamu bisa me time berdua, kita bisa pamer dan tunjukin ke semua orang kalau kamu adalah suami yang baik dan pengertian.” Lanjut Jingga sekali lagi.
Ini merupakan ide dari Gilang kemarin, dia menyarankan Jingga untuk mengajak Arkana liburan. Hal ini bertujuan agar membuat emosi Arkana dapat terkontrol dengan baik, dia bisa menikmati waktu santai sebanyak yang dia mau dan bisa membuatnya jauh dari orang yang membuatnya trauma ketika kecil.
Arkana tiba-tiba beranjak dari tempatnya dan membawa laptopnya pergi, Jingga menatapnya bingung dan hanya menghela nafas panjang karena merasa tidak berhasil melakukannya.
“ Aku coba tanya mama, kalau dia setuju kita pergi aku akan memesan tiket dan reservasi hotel di sana.” Sahut Arkana sontak membuat Jingga terlihat langsung bersemangat.
**
Bukan hal yang sulit untuk meminta izin kepada mama Widya jika menyangkut masalah Jingga, hal ini sudah pasti akan di setujui oleh mama Widya. Setelah Arkana membicarakannya dengan beliau, keduanya di perbolehkan berangkat ke Thailand hari itu juga.
Semua tiket pesawat dan biaya hidup selama di Thailand akan di tanggung oleh mama Widya, dia bahkan menyewakan pesawat jet pribadi untuk anak dan menantunya dapat pergi dengan perjalanan yang lebih nyaman.
Jingga dan Arkana saat ini sudah berada di dalam pesawat, ini pertama kalinya Jingga naik pesawat jet pribadi sehingga dia merasa cukup bersemangat dengan hal tersebut.
Saat itu Arkana tidak banyak bicara dan fokus membaca buku yang dia pegang, tertulis anatomi dan fisiologi dari sampulnya yang dimana buku itu sudah sering di baca oleh Arkana bahkan sebelum mereka menikah.
Jingga ingat ucapan Jingga tentang seseorang yang selalu melakukan sesuatu terus menerus karena takut mencoba hal baru, apa yang di lakukan Arkana saat ini menggambarkan perlakuan tersebut.
“ Terima kasih ya mas.” Sahut Jingga tiba-tiba.
“ Terima kasih untuk apa.?” Arkana terlihat bingung mendengarnya.
“ Terima kasih karena kamu sudah mengabulkan permintaanku buat liburan berdua.”
“ Jangan sok bodoh kamu, sudah jelas mama kasih kita izin karena peduli sama kamu. Jadi semua itu bukan karena aku, tapi kamu.”
__ADS_1
“ Walaupun mama kasih kita izin tapi kalau kamu nggak mau sama aja bohong kan, kamu akhirnya mau dengan ajakan aku aja udah buat aku senang.”
Arkana melirik Jingga dengan tatapan yang datar, kemudian dia menutup bukunya dan mulai memperbaiki posisi duduknya. Arkana ingin tidur sebelum mereka tiba di Bangkok, sedangkan Jingga terlihat melirik keluar jendela dengan senyum yang merekah di bibirnya.