
Arkana baru saja menutup pintu kamarnya, Jingga menatap punggung Arkana dengan takut. Jantung Jingga sudah berdetak sangat cepat sejak Arkana membawanya ke kamar, dan sekarang pria itu sudah menoleh menatapnya dengan tatapan tajam.
“ Kamu sengaja ya undang teman kamu ke rumah biar aku nggak bisa nyakitin kamu lagi.?” Arkana dan Jingga berdiri hanya dengan jarak beberapa centi saja.
“ Aku benar-benar nggak tahu kalau Diana bakal datang ke rumah kita, dan soal dia menginap pun dia nggak bilang sama aku. Aku minta maaf mas, aku bisa bilang ke Diana sekarang untuk cari penginapan diluar.”
“ Nggak perlu, itu akan buat image aku jelek nantinya. Karena sudah terlanjur, mau bagaimana lagi.” Sahut Arkana memutar tubuhnya membelakangi Jingga.
“ Sampai dia pergi dari rumah ini kamu harus bersikap baik sama aku, dan kamu harus tidur di kamar ini supaya dia nggak mikir macam-macam kalau ternyata kita nggak tidur sekamar.” Lanjut Arkana.
“ Baik mas, sekali lagi aku minta maaf.” Ucap Jingga menunduk bersalah.
“ Awas kalau kamu kasih tahu ke dia tentang sikap aku selama ini, dan soal bekas memar itu jangan sampai dia lihat.”
“ Dia udah lihat mas, tapi aku bilang ke Diana kalau ini penyakit trombosit.”
“ Bagus, jangan sampai dia tahu semuanya.”
**
Malam ini terasa sangat berbeda dari malam kemarin, Jingga duduk di samping Arkana menikmati makan malam bersama. Kehadiran Diana benar-benar membuat Arkana berubah derastis, dia memberikan sikap peduli yang luar biasa kepada Jingga.
Menu makan malam hari ini adalah steak yang di buat langsung oleh bi Inah, saat itu Arkana bahkan memotong daging steak milik Jingga agar dia bisa memakannya dengan mudah.
Diana memperhatikan mereka dengan tatapan lurus, sejak tadi dia memang melihat Arkana yang sangat peduli pada Jingga. Namun dia merasa ada yang di sembunyikan Jingga saat ini, Diana sudah hafal gesture tubuh Jingga jika dia sedang tidak nyaman.
“ Boleh aku bertanya sesuatu ke kamu.?” Tanya Diana pada Arkana.
“ Boleh, silahkan.” Jawab Arkana cepat.
“ Kenapa kamu memilih Jingga sebagai istrimu?”
__ADS_1
“ Soalnya Jingga adalah wanita yang baik dan pengertian, aku setuju menikah dengannya karena sifatnya tersebut.”
“ Seberapa besar rasa sayang kamu ke Jingga.?”
“ Tentu saja sangat besar, suami mana yang tidak menyayangi istri seperti Jingga ini.”
“ Kalau begitu, kamu pasti sudah tahu tentang Jingga. Tentang kesukaannya, apa saja itu.?”
Pertanyaan Diana membuat Jingga merasa Arkana tidak bisa menjawabnya dengan benar, dia harus mengakhiri semua itu sebelum membuat Arkana marah besar kepadanya nanti.
“ Dia suka menggambar dan menjahit.” Jawab Arkana sontak membuat Jingga kaget karena jawabannya benar.
“ Kalau sesuatu yang di benci?” Lanjut Diana.
“ Diana cukup, kita sedang makan malam. Nggak sopan bahas begituan sekarang.” Sahut Jingga.
“ Dia takut kegelapan dan serangga.” Jawab Arkana sekali lagi membuat Jingga terkejut dengan jawabannya yang benar.
“ Oke, aku percaya sekarang.” Ucap Diana mengakui bahwa Arkana memang peduli pada Jingga.
“ Kau tidak perlu meragukanku soal Jingga, aku sudah tahu semua tentangnya.” Lontar Arkana.
“ Kamu dapat poin 50 dariku, tapi sayangnya kamu belum terlihat seperti suami sempurna untuk Jingga.” Sahut Diana.
“ Apa maksudnya.?” Tanya Arkana heran.
“ Sudah cukup, Diana kamu seharusnya tahu batasanmu. Jangan menyudutkan mas Arka seperti itu.” Sahut Jingga merasa semuanya sudah keterlaluan.
“ Maaf ya kalau aku banyak bicara, habisnya aku sayang sama sahabatku dan aku mau dia mendapatkan suami yang benar-benar menjaganya dengan baik. Aku mengenal pria sebelum kamu yang menyayangi Jingga dengan tulus, di mataku hanya pria itu yang bisa menjadi suami 100 poin untuk Jingga. Tapi tidak menutup kemungkinan kamu bisa menjadi pria yang seperti itu, maka dari itu tolong jaga Jingga dengan baik.” Ucap Diana mengakhiri semuanya dengan penuh penegasan.
**
“ Apa? Butik kamu kebakaran? Kok bisa.?” Diana kaget setelah mendengar cerita Jingga bahwa butiknya telah terbakar.
__ADS_1
“ Polisi bilang kalau terjadi korslet waktu aku nggak ada di sana.” Jawab Jingga.
“ Terus gimana dengan koleksi kamu? Kamu nggak ada niatan buat bangun butik lagi.?”
“ Kayaknya nggak dulu, aku mau fokus jadi istri mas Arka aja.”
“ Apa-apaan itu, waktu Nawa ngejar kamu dan mau ngajak kamu nikah kamu nggak mau dan ingin fokus dengan karir, kenapa sekarang setelah menikah jadi berubah.?”
“ Kamu nggak akan ngerti kalau kamu belum menikah.”
“ Aku nggak mau nikah dulu, sukses nomor satu. Aku nggak mau nanti kalau sudah menikah terus suamiku tiba-tiba menceraikan aku dan aku nggak ada apa-apa, seenggaknya finansialku harus bagus dulu.” Ungkap Diana.
“ Kamu nggak pernah berubah ya sejak dulu, selalu melakukan apapun yang kamu pikirkan. Kaya tadi di meja makan, aku kaget kamu bersikap begitu berani di depan mas Arka.” Lontar Jingga.
“ Habisnya aku belum percaya sepenuhnya sama dia, bagiku sikapnya itu Cuma baik di depan aja.” Kata Diana membuat Jingga selalu merasa gugup dengan perkataannya yang seperti itu.
“ Kamu beneran bakal pergi dari sini besok.?” Tanya Jingga seakan tidak ikhlas jika sahabatnya itu sudah harus meninggalkannya lagi.
“ Aku nggak akan jauh-jauh, kita bisa ketemu setiap hari nanti. Lagi pula aku nggak enak jika harus tinggal disini lebih lama, walaupun suami kamu bilang nggak apa-apa.”
“ Belum tentu kita bisa ketemu.” Gumam Jingga.
“ Kenapa? kamu nggak mau keluar rumah karena sudah jadi istri orang.?”
“ Aku nggak bisa kemana-mana kalau mas Arka nggak kasih izin aku, kalau dia bilang aku harus di rumah ya aku harus dengar apa kata dia.” Ucap Jingga.
“ Sesekali aja kalau begitu, biar kamu nggak dosa sama suami kamu.” Lontar Diana kemudian.
Setelah Jingga selesai mengobrol dengan Diana, tiba saatnya dia harus kembali ke kamar Arkana. Kini wanita itu sudah membuka pintu dan masuk ke dalam kamar yang terlihat sudah gelap.
Arkana terlihat sudah tidur di atas tempat tidurnya, Jingga merasa takut jika dia naik dan akan membuat Arkana terbangun. Alhasil Jingga memilih untuk tidur di atas sofa, dia hanya mengambil bantal dan selimut saja untuk dia gunakan tidur malam ini.
“ Dia bakal pergi besok kan.?” Suara Arkana membuat Jingga kembali membuka kedua matanya.
__ADS_1
“ Diana? Iya, dia bilang mau pergi besok.” Jawab Jingga kemudian.
Rupanya Arkana belum tidur dengan benar, dia bahkan protes kepada Jingga akan sikap Diana yang kurang sopan saat di meja makan. Jingga pun meminta maaf atas nama Diana kepada Arkana, kemudian dia tidak mendengar suara Arkana lagi yang menandakan dia sudah kembali tidur.