Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Cemburu


__ADS_3


Hari ini mesin jahit pesanan Jingga akan segera datang ke rumah, dia sudah tidak sabar untuk segera membuat baju lagi. Selama masa kehamilannya ini, Arkana memang tidak pernah menyakitinya secara fisik dan cenderung lebih sibuk dengan urusannya sendiri.


Meski begitu, dia mendapatkan semua yang dia inginkan jika dirinya tetap berada di rumah. Para pembantu di rumah juga di minta untuk bekerja full time agar ada yang menjaga dan menemani Jingga selagi Arkana sibuk.


Selama satu minggu ke depan Arkana akan lembur dan memungkinkan dia untuk jarang pulang ke rumah, itu sebabnya dia memerintah orang-orang di rumah yang memantau Jingga selagi dia tidak ada.


Kini mesin jahit dan beberapa pesanan Jingga sudah tiba di rumah, kemudian semua benda itu di bawa ke dalam satu ruangan khusu dimana Jingga meminta izin kepada Arkana untuk menggunakan ruangan itu sebagai ruang pribadinya.


Ruangan yang tidak begitu besar itu telah di ubah Jingga menjadi mini butik untuknya menggambar dan menjahit, meskipun seharian berada di rumah pun tidak akan membuatnya bosan jika sudah bergelut dengan kesukaannya.


“ Terima kasih ya pak.” Ucap Jingga pada orang-orang yang membawa pesanannya hari ini.


Setelah mereka semua pergi, kini Jingga yang akan mengoperasikan semuanya seorang diri. Dia tidak butuh bantuan orang lain untuk menggunakan mesin tersebut, dirinya sudah cukup mahir dalam menggunakannya meski dalam keadaan yang masih baru.


“ Oke, sekarang aku akan melanjutkan rencanaku waktu itu.” Seru Jingga terlihat begitu bersemangat.


**


Saat ini di rumah sakit Bintang harapan sedang di sibukkan dengan beberapa pasien yang mengalami kecelakaan beruntun, unit gawat darurat bahkan sampai full sehingga beberapa pasien lain di larikan ke ruang perawatan untuk di tindak lanjuti.


Arkana menjadi salah satu dokter yang harus berpesan banyak, dia memang bertugas dalam pembedahan namun dirinya sangat di butuhkan untuk memeriksa keadaan syaraf pada pasien untuk memastikannya baik-baik saja.


“ Dok, pasien yang disana juga membutuhkan perawatan segera.” Sahut Nisa pada Arkana.


Arkana memainkan perannya sebagai dokter dengan sangat baik, dia membantu semua proses di UGD jadi lebih cepat sehingga semua pasien bisa langsung di pindahkan ke ruang perawatan.


“ Karisma dokter Arkana kalau sedang bertugas emang gak ada obat ya.”


“ Benar, aku juga sampai kepincut setiap kali lihat dia bertugas.”


“ Tapi sayangnya sudah jadi suami orang.”


Para perawat yang sedang asik membicarakan dokter Arkana kembali mendapat teguran dari dokter Alan, tugas mereka di anggap hanya sibuk membicarakan orang lain sedangkan tugas mereka masih banyak yang harus di selesaikan.

__ADS_1


**


Sekitar pukul 4:00 sore barulah Arkana memiliki waktu istirahatnya, nanti malam dia harus melakukan operasi sehingga dia akan memanfaatkan waktu istirahatnya sore ini dengan baik.


Langkah Arkana terhenti saat melihat seseorang yang tidak asing di ujung koridor, senyumnya terpancar dan melanjutkan langkahnya untuk menyapa wanita itu. Namun, senyuman Arkana kembali pudar saat mengetahui bahwa dia tidak sendirian.


“ Siapa pria itu.?” Tanya Arkana dalam benaknya.


Qania terlihat begitu senang mengobrol dengan seorang pria di sana, Arkana bahkan tidak mengenal siapa pria itu. Keberadaan Arkana sekarang nampaknya di sadari oleh pria yang bersama Qania, dia langsung menyapa Arkana dengan sopan.


“ Senang bertemu denganmu langsung dok, perkenalkan nama saya Aizen.” Ucap pria itu menyodorkan tangannya pada Arkana.


“ Arkana.” Balasnya masih dengan ekspresi yang kebingungan.


“ Dia dokte baru disini, dia juga yang akan mengganti tempat dokter Zidan setelah beliau keluar dari rumah sakit.” Jelas Qania.


“ Kenapa aku baru tahu soal itu.?” Arkana benar-benar tidak mengerti sekarang.


“ Soalnya Aizen datang sebelum dia di perkenalkan, besok aka nada rapat pertemuan dengan petinggi rumah sakit. Di situ baru Aizen akan di perkenalkan.” Ungkap Qania lagi.


“ Ya sudah kalau begitu aku lanjut kenalin Aizen tentang rumah sakit ini ya, permisi.” Lanjut Qania.


“ Permisi dok.” Sambung Aizen kemudian mengikuti langkah Qania.


Terlihat sangat jelas di wajah Arkana saat ini bahkan dia sedang cemburu, dia belum pernah melihat Qania dekat dengan seorang pria. Dan jika di lihat Aizen memiliki umur yang sama dengan mereka, ini benar-benar membuatnya sangat terganggu.


**


Dan keesokan harinya semua para dokter di rumah sakit bintang harapan akan mengadakan rapat pertemuan dengan seluruh petinggi rumah sakit, papa Hendra tentu akan ada disana dan tentunya di damping oleh mama Widya yang menjadi pengawas dalam rapat tersebut.


Arkana menjadi orang yang terakhir masuk ke dalam ruangan itu, dan tatapan matanya saat masuk ke dalam langsung fokus pada Qania dan Aizen yang duduk bersebelahan.


Rapat pun dimulai dengan pembukaan dari direktur utama yaitu papa Hendra, semua berjalan dengan lancar sampai pada akhir dimana Aizen pun di perkenalkan ke semua orang.


Aizen Mahendra Putra merupakan seorang dokter bedah toraks yang sudah lama bertugas di rumah sakit yang ada di Papua, dia baru berusia 35 tahun dan menjadikannya dokter termuda disana dengan banyak melakukan kesuksesan dalam operasi yang di lakukan.

__ADS_1


Aizen memiliki kulit yang putih, rambut hitam yang sedikit panjang, serta senyuman yang sangat manis. Tingginya sekitar 189 cm menjadikan tubuhnya sangat proporsional, kemudian wajahnya yang sangat tampan meskipun menggunakan kaca mata tapi tidak terlihat culun.


Sekarang Arkana mengerti mengapa Qania dan Aizen terlihat cukup akrab, itu karena Aizen juga ikut kegiatan sukarelawan yang sama dengan Qania waktu itu.


“ Mohon bantuannya, saya masih baru dan masih belajar disini.” Ucap Aizen terlihat sangat ramah.


“ Santai saja dok, kita semua sama-sama belajar disini.”


“ Selamat ya dok, sudah bergabung di bintang harapan.”


Semua orang mengucapkan selamat atas Aizen kecuali Arkana, dia memilih untuk diam dan menyimak sampai rapat berakhir. Satu persatu dokter keluar dari ruangan itu kecuali Arkana, mama Widya, dan papa Hendra.


“ Ada apa dengan wajah kamu.?” Tegur mama Widya.


“ Nggak ada apa-apa ma.” Balas Arkana pelan.


“ Bagaimana kabar Jingga? Mama dengar dia membuat mini butik di rumah kalian, kenapa kamu nggak kasih butik baru aja ke dia? Bukannya kamu sudah janji waktu itu.?”


“ Jingga baik-baik aja ma, lagi pula di rumah ada pembantu yang menjaganya.”


“ Pembantu aja nggak cukup, kamu harus jadi suami siaga dong. Istri lagi hamil tapi masih sibuk kerja.”


“ Aku sibuk ma, banyak tugas yang harus aku selesaikan.”


“ Nggak usah sok sibuk, sekarang sudah ada dokter Aizen. Dia juga bisa menghandle apa yang kamu handle.”


“ Departemen kita beda ma, dia mana tahu soal tugas aku.”


“ Mama pilih dia untuk bergabung di rumah sakit kita bukan tanpa alasan, jadi kamu nggak usah banyak membantah apa kata mama.”


“ Ma, sudah cukup. Jangan menekan Arka terus menerus.” Sahut papa Hendra.


“ Papa juga diam aja, dia ini anak laki-laki yang harus di bentuk biar nggak salah langkah.”


“ Cukup ma, aku capek. Dan soal butik, aku nggak akan kasih ke Jingga dulu. Dia lebih baik di rumah, jadi mama berhenti ngasih tahu aku soal itu.” Arkana meraih buku catatan yang dia bawa dan beranjak meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2