Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Something Weird


__ADS_3


Pria itu memasuki ruang rawat inap dengan langkah yang pelan, dia melihat seorang wanita sedang tertidur pulas dengan tali infus yang terhubung di tangan kirinya.


Langkahnya terhenti ketika dia sudah berdiri tepat di sebelah tempat tidur, dia menatap lekat wajah yang terlihat begitu pucat. Dari wajah dia turun ke bawah sampai di perut yang sudah tampak sangat besar itu.


“ Dia bahkan bukan anakku kenapa kamu sampai merawatnya sampai sekarang? “ benak Arkana menatap perut itu dengan tatapan sayu.


Perlahan namun pasti Jingga mulai membuka kedua matanya, dia melihat Arkana yang berdiri di sampingnya dan langsung menegur pria itu.


“ Bagaimana hasilnya? Aku sakit apa.?” Tanya Jingga mulai memperbaiki posisinya.


“ Kamu berbaring aja, jangan banyak gerak dulu.” Kata Arkana memaksa Jingga untuk kembali ke posisinya semula.


“ Jadi bagaimana? Kasih tahu aku hasilnya.” Tanya Jingga sekali lagi.


“ Kamu mengidap kardiomiopati yang membuat jantungmu melemah dalam beberapa waktu, maka dari itu jangan terlalu capek dan istirahat yang cukup.” Jelas Arkana.


“ Itu nggak bahaya sama kandungan aku kan mas.?” Jingga melirik Arkana penasaran.


“ Dokter bilang sangat berbahaya kalau gejalanya timbul di saat kamu akan melahirkan, antara kamu dan anak itu yang akan hidup kalau gejalanya kambuh.” Jawab Arkana.


Jingga tanpa sadar meneteskan air mata mendengarnya, apa yang dia takutkan akhirnya terjadi. keduanya sangat berat untuk di pilih, jika dia membiarkan anaknya yang lahir dengan selamat, lalu dengan siapa dia akan tumbuh besar? Tapi jika dia yang selamat maka Jingga akan kembali merasakan sakitnya kehilangan.


“ Kenapa kamu nangis.?” Tanya Arkana terlihat bingung.


“ Kalau waktu persalinan nanti tiba, kalau memang aku atau anak ini yang bisa selamat. Aku mau, dia yang di selamatkan mas.” Ucap Jingga dengan nada yang terbata-bata.


“ Kenapa harus bayi itu yang selamat? Kamu seharusnya mikir kalau anak itu nggak akan berarti apa-apa, dia anak dari pria lain. Kamu masih bisa hamil lagi, pentingin nyawa kamu dulu.” Arkana tampak tak setuju dengan keputusan Jingga barusan.


“ Katamu mama kamu mau cucu kan? Bukannya lebih bagus kalau aku yang nggak ada? Kamu bisa bebas, bisa cari istri lain yang memang kamu sayang. “ Ujar Jingga seketika membuat Arkana bungkam.


“ Maksud aku.” Belum sempat Arkana melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Jingga kembali merasa nyeri pada dadanya. Arkana segera memeriksa keadaannya dengan cepat, namun bagian jantung bukanlah keahliannya sehingga dia keluar untuk memanggil dokter.

__ADS_1


Dokter pun datang bersama perawat yang mendapampinginya, Arkana berdiri di belakang dokter itu dan menunggu mereka mengecek keadaan Jingga saat ini.


“ Bagaimana dok?” Tanya Arkana setelah mereka selesai memeriksa keadaannya.


“ Dia merasa sesak akibat terlalu banyak pikiran, mungkin juga sejak awal dia sudah menyimpan masalahnya sendiri dan membiarkan itu menumpuk sampai saat ini. Jadi tolong untuk saat ini jangan buat dia terlalu banyak pikiran, biarkan dia tenang dan memilih apa yang dia inginkan.” Jelas sang dokter.


“ Baik dok, terima kasih atas bantuannya.” Balas Arkana dan akhirnya dokter beserta perawat itu pun pergi dari ruangan tersebut.


Saat Arkana berusaha untuk mendekati Jingga, tiba-tiba saja wanita itu memiringkan tubuhnya ke arah yang berlawanan agar dia tidak melihat wajah Arkana.


“ Aku mau tidur, tolong jangan ganggu aku.” Pinta Jingga lirih.


Arkana hanya dapat menatapnya dengan tatapan sendu, dia tidak mengatakan apapun lagi dan membiarkan Jingga untuk kembali beristirahat dengan tenang.


**


Setelah tiga hari di rawat di rumah sakit, akhirnya Jingga sudah boleh keluar dari rumah sakit. Namun Arkana menunda kepulangan mereka untuk kembali ke Indonesia sampai kondisinya benar-benar membaik untuk di bawa di perjalanan jauh.


Mungkin selama ini Jingga mendapat perlakuan tidak baik dari Arkana, namun jika menyangkut dengan bayi itu rasanya sudah sangat keterlaluan. Jingga tidak peduli kalau Arkana tidak mengakui anak itu, dia juga akan tetap merahasiakan anak itu bukanlah anak Arkana tak peduli apapun yang terjadi.


“ Kamu mau makan apa.?” Tanya Arkana ketika mereka tiba di hotel.


“…”


“ Kamu mau sampai kapan diam kaya patung? Kamu nggak budek kan.?” Arkana mulai di buat kesal olehnya.


“ Aku mau check in kamar baru, kita tidur pisah malam ini.” Pinta Jingga tiba-tiba.


“ Kenapa? kamu lagi kurang sehat.” Sahut Arkana tidak terima.


“ Kenapa kamu jadi kaya gini mas? Biasanya kamu nggak mau tidur satu kamar sama aku, kok sekarang kamu perhatian banget sih.? “ Tegur Jingga sontak membuat Arkana kembali bungkam.


“ Terserah kalau gitu, kamu tetap disini biar aku yang check ini kamar baru.” Ketus Arkana perlahan meninggalkan Jingga sendirian.

__ADS_1


Setelah Arkana keluar, Jingga pun menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia meluruskan kakinya dan mulai terdiam memikirkan nasibnya dan bayinya nanti, Jingga sangat khawatir yang membuatnya tidak bisa berhenti menangis jika mengungkit masalah ini.


“ Seandainya Nawa tidak meninggal, apa yang akan terjadi padaku hari ini? apa aku juga akan bernasib sama seperti ini? tapi jika itu Nawa, dia pasti akan lebih memperhatikanku dengan baik. Dan aku tidak akan pernah merasakan sakit seperti sekarang.” Ucap Jingga sambil mengusap perutnya dengan lembut.


**


Malam itu ketika Jingga sedang makan malam, Arkana tiba-tiba masuk ke dalam kamar dengan tujuan ingin mengambil sesuatu yang tertinggal di kamar itu. Tak hanya sekali, bahkan ketika Jingga selesai makan pun Arkana tetap keluar masuk dan entah apa yang dia ambil.


Sampai ketika Jingga hendak untuk ke kamar mandi, dia kembali mendengar suara pintu terbuka dan lagi-lagi Arkana masuk dengan alasan yang sama.


“ Kamu lupa apa lagi sih? Koper udah kamu bawa semua, dan sekarang apa lagi.?” Tegur Jingga kesal.


“ Aku nggak suka bantal yang ada di kamarku, jadi aku mau tukar bantal yang aku pake disini.” Arkana segera menukarnya dan setelah itu dia pergi.


Jingga benar-benar tak habis pikir dengan sikapnya yang seperti anak-anak, terhitung sudah sepuluh kali dia keluar masuk kamar itu dan selalu beralasan yang aneh-aneh.


Setelah Jingga selesai dengan urusannya di kamar mandi, ketika dia keluar lagi-lagi dia melihat sosok Arkana yang duduk di atas tempat tidur. Jingga menatapnya heran, begitu pun dengan Arkana yang balas menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


“ Apa lagi sekarang.?” Tanya Jingga ketus.


“ Ac di kamarku tidak berfungsi dengan baik.”


“ Panggil pelayana hotel dong, kenapa justru datang kemari? Kamu nyuruh aku benerin Ac di kamar kamu.?”


“ Mereka sibuk, jadi aku memutuskan untuk tidur disini lagi.”


“ Ya udah kalau gitu biar aku yang tidur di kamar itu.” Ketika Jingga hendak mengambil ponselnya untuk pergi, Arkana dengan cepat menarik lengannya sehingga dia langsung duduk di pangkuan Arkana.


Keduanya diam di tempat beberapa waktu, Jingga syok dengan sikap Arkana begitu pun Arkana yang sadar akan perbuatannya dan cepat-cepat menyingkirkan Jingga dari sana.


“ Aku kembali ke kamarku dulu.” Ucapnya dan bergegas pergi dengan cepat.


“ Dia kenapa sih? “ Benak Jingga benar-benar tak habis pikir.

__ADS_1


__ADS_2