
Arkana terlihat tunduk diam saat Qania bertanya tentang Jingga, dia tidak berpikir bahwa masalah ini harus di ketahui orang lain. Qania sendiri menjelaskan kepada Arkana bahwa dia sudah berteman dengan Jingga waktu itu, dan merasa berhak tahu apa yang telah menimpa Jingga.
Arkana melirik Qania sebentar lalu menjelaskan semuanya kepada wanita itu, tampak Qania yang semakin khawatir mendengarnya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika hal itu menimpa dirinya.
“ Syukurlah kamu berhasil menyelamatkannya.” Lontar Qania.
“ Sudah tugasku menyelamatkannya, aku ini suaminya.” Balas Arkana terdengar ketus.
“Kamu memang belum pernah berubah ya, masih sama seperti Arkana yang dulu.” Sahut Qania justru membuat Arkana semakin memalingkan wajahnya.
“ Semoga Jingga bisa cepat sembuh, aku titip salam ya kalau dia siuman nanti.” Sambung Qania.
“ Kau sudah mau pergi.?” Tanya Arkana kembali menatap Qania.
“ Aku ada jadwal operasi sebentar malam, jadi aku harus siap-siap.” Jawab Qania.
“ Oke, semangat.” Balas Arkana kemudian.
**
Perlahan namun pasti Jingga sudah mulai membuka kedua matanya, dia menatap langit-langit ruangan yang tampak asing di pandangannya. Kemudian dia melirik ke kanan dimana terlihat sosok Arkana yang tertidur dengan posisi duduk bersandari pada sebuah kursi.
Jingga berusaha mengingat apa yang telah terjadi padanya, dan ketika ingatannya kembali dia pun langsung merasa sedih. Namun di samping itu juga dia penasaran bagaimana dirinya bisa berakhir di rumah sakit dengan Arkana yang menemaninya.
Saat itu Jingga merasa sangat haus, dia ingin meraih gelas yang ada di atas meja dengan hati-hati agar Arkana tidak terbangun. Namun sayangnya aksi Jingga membuat pria itu membuka mata dan mendapatinya sedang berusaha meraih gelas.
“ Kau sudah bangun? Sejak kapan.?” Tanya Arkana terdengar parau.
“ Baru saja mas.” Jawab Jingga pelan.
Tidak biasanya Arkana melayani Jingga seperti ini, dia bahkan dengan penuh perhatian menuangkan air ke dalam gelas kemudian memberikannya kepada Jingga.
__ADS_1
“ Terima kasih.” Ucap Jingga menerimanya dengan senang hati.
“ Sekarang jelaskan padaku, kenapa kamu bisa berakhir di rumah om dan tantemu? “ Sikap Arkana sudah mulai berubah setelah dia kembali duduk di kursi.
“ Aku hanya pergi untuk melihat rumah kedua orang tuaku, ternyata rumah itu ingin di jual oleh mereka. Aku melarang mereka menjualnya dan akan mengancam mereka masuk penjara, tapi saat aku ingin pergi keduanya langsung menarikku ke dalam dan mengikatku di dalam ruangan itu.” Jelas Jingga.
“ Aku nggak peduli soal itu, aku hanya ingin tahu kalau kamu pergi dari rumah bukan karena hal itu. tapi karena ingin menjauh dariku kan? Setelah aku menolak untuk berpisah kau memilih untuk melarikan diri kan.?” Lontar Arkana sukses membuat Jingga tak bisa berkata-kata lagi.
“ Bukan begitu mas.”
“ Nggak usah banyak alasan, aku tahu kamu sengaja mematikan kamera cctv supaya aku nggak tahu kamu kabur kan? Seharusnya kamu itu nurut apa kataku, karena ulah kamu itu akhirnya kamu berakhir seperti ini. Dan kamu harusnya berterima kasih karena aku sudah menyelamatkan kamu dari om dan tantemu itu.”
Jingga menangis mendengarnya, seakan tak cukup kesedihan itu menggerogoti perasaannya dan sekarang Arkana terus menuduhnya melakukan kesalahan yang dimana dia sendiri tidak sadar kalau pemicu segala permasalahan adalah sikapnya yang terlalu impulsive.
**
Pagi keesokan harinya, mama Widya kembali datang menjenguk Jingga yang dimana sekarang dia sudah siuman. Mama Jingga datang membawa berbagai macam buah potong yang telah di siapkan sebelumnya, dan sekarang wanita itu sibuk menemani Jingga.
“ Kamu jangan khawatir sekarang om dan tante kamu sudah di tahan oleh polisi, mereka pasti akan di jatuhi hukuman penjara yang sangat lama.” Ujar mama Widya.
“ Iya sayang, mama akan menjadi garda terdepan untuk kamu kalau kamu dalam kesulitan.”
Arkana baru saja kembali dari rumah setelah dia berganti baju, sekarang dia akan berganti tugas menjaga Jingga karena mama Widya masih memiliki banyak urusan yang harus dia selesaikan.
“ Kamu tolong jagain Jingga ya, jangan tinggalin dia apapun yang terjadi.” Kata mama Widya pada Arkana.
“ Serahkan padaku ma, aku akan menjaga Jingga sampai dia di nyatakan benar-benar sembuh.” Jawab Arkana.
Mama Widya pun pamit undur diri, dia memberikan pelukan hangat kepada Jingga sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan ruangan itu.
Sekarang di ruangan itu hanya ada Jingga dan Arkana, sejujurnya Jingga merasa lebih nyaman jika dia sendirian dari pada harus bersama Arkana yang datang untuk duduk di atas sofa dan sibuk dengan dunianya sendiri.
Minuman yang di pegang Jingga mendadak tumpah mengenai bajunya, hal itu membuatnya kesulitan untuk mengganti baju karena selang infus yang melekat di tangannya.
__ADS_1
Jingga melirik Arkana berharap pria itu mau membantunya, namun dia tahu hal itu tidak akan pernah terjadi. Akhirnya Jingga menekan tombol darurat agar perawat datang membantunya mengganti baju.
“ Apa yang kau lakukan.?” Tanya Arkana meletakkan ponsel saat Jingga menekan tombol darurat.
“ Aku mau ganti baju mas, bajuku basah.” Ungkap Jingga.
Perawat baru saja masuk ke dalam dan menghampiri Jingga, namun saat itu Arkana langsung mencegahnya. Dia menyuruh perawat itu untuk kembali ke tempatnya dan menyerahkan tugas itu kepadanya.
“ Kenapa kamu usir.?” Tanya Jingga melongo heran.
“ Apa kata mereka nanti kalau kamu menyuruh mereka sedangkan aku ada disini.” Balas Arkana.
“ Jadi kamu mau bantu aku ganti baju.?” Lontar Jingga mendadak membuat wajah Arkana merah merona.
“ Mau bagaimana lagi.” Arkana segera merogoh isi tas untuk mencari baju bersih yang baru.
Arkana merasa sangat malu untuk saat ini, dia membantu Jingga mengganti semua pakaiannya hingga pakaian dalam. Tak hanya Arkana saja, Jingga pun merasa sangat malu.
“ Makanya lain kali hati-hati, kamu memang sukanya bikin repot orang aja.” Kata Arkana berusaha memasang kancing baju Jingga setelah semua selesai di ganti.
“ Terima kasih mas.” Balas Jingga menyunggingkan senyuman tipis setelah Arkana selesai membantunya.
Arkana segera kembali ke tempatnya dan kembali fokus memainkan ponselnya, wajahnya masih merona akibat menahan malu. Sementara itu Jingga terlihat menyibukkan dirinya dengan memandang keluar jendela rumah sakit.
“ Aku bosan berada di tempat tidur, tapi kalau aku bilang mau keluar jalan-jalan pasti mas Arka akan menolak.” Benak Jingga.
“ Mas, aku boleh ngomong sesuatu nggak sama kamu.?” Sahut Jingga lirih sambil melirik Arkana yang juga sedang memperhatikannya.
“ Ngomong aja.” Balasnya cuek.
“ Kamu mau nggak biar orang lain lihat kamu lebih peduli sama istri kamu.?”
“ Maksud kamu.?”
__ADS_1
“ Ajak aku jalan-jalan ke taman rumah sakit, kamu mau kan.?”
Arkana terdiam sejenak menatap Jingga dengan bingung, apa yang di katakannya barusan memang dapat membuat orang-orang beranggapan dia adalah suami yang sempurna.