
Arkana beranjak dari tempatnya dan mulai menarik Jingga untuk masuk ke dalam kamar mandi, Jingga menahan tarikan Arkana untuk pertama kalinya dan dia melawan atas kehendaknya saat itu.
“ Mau sampai kapan kamu nyakitin aku kaya gini mas? Dari pada kamu capek melakukannya berkali-kali, kenapa kamu nggak bunuh aku aja sekalian mas.” Kata Jingga menatap Arkana serius.
Pria itu kembali mendekati Jingga dan mendorongnya ke tempat tidur, Arkana kemudian menyekik leher Jingga dengan sekuat tenaga. Saat itu Jingga sudah pasrah jika ini adalah akhir dari hidupnya, dia lelah jika setiap harinya mendapat penyiksaan dari Arkana dan ingin mengakhiri semuanya sekarang.
“ Kalau kita bercerai akan banyak rumor buruk tentangku nanti, aku nggak mau orang-orang menganggap aku gagal dalam membina rumah tangga. Dan terlebih lagi aku nggak mau mama kecewa, kamu seharusnya paham dengan hal itu.” Arkana masih tetap menyekik Jingga hingga membuat tubuh Jingga lemah tak berdaya.
Jingga mulai tidak bisa melihat wajah Arkana dengan jelas, dia akan segera pingsan sebelum akhirnya Arkana menyudahi aksinya tersebut. Arkana yang tersadar segera menepuk wajah Jingga pelan, taka da respon darinya sama sekali.
Arkana kemudian mengecek denyut nadi Jingga yang masih berdenyut meski terasa lemah. Arkana segera memperbaiki tubuh Jingga untuk dapat tidur dengan nyaman, kemudian dia segera mengambil tindakan untuk membuatnya tidak dalam masalah besar.
**
Jingga baru saja membuka kedua matanya, dia melihat seisi ruangan yang tak lain adalah kamarnya sendiri. Kejadian kemarin membuatnya sangat sedih hingga kembali membuatnya menangis, dia masih merasakan sakit pada lehernya akibat cekikan Arkana.
Jingga benar-benar tidak pernah menyangka akan bernasib sial seperti ini, seandainya waktu itu dia tidak pernah menerima tawaran om dan tantenya untuk menikah, mungkin dirinya tidak akan pernah sesedih ini.
Terlintas di pikiran Jingga untuk melarikan diri dari rumah itu, jika dia tidak bisa bercerai dengan Arkana maka jalan satu-satunya adalah pergi jauh darinya.
Jingga kemudian bangkit dari tempat tidurnya, dia segera mengambil tas untuk mengisi beberapa barang-barang yang di anggapnya penting. Dia tahu sekarang Arkana tidak ada di rumah sehingga dia bisa melarikan diri tanpa ketahuan olehnya.
Kini Jingga telah selesai untuk melarikan diri dari rumah itu, agar rencananya berhasil dengan baik dia pergi ke kamar Arkana untuk mematikan remakan cctv.
__ADS_1
Saat Jingga keluar pun tidak ada siapa-siapa diluar sana, bahkan bi Inah dan bi Salma tidak di lihatnya sama sekali. Ini benar-benar kesempatan emas yang tidak boleh sampai dia lewatkan.
Jingga akhirnya berhasil keluar dari rumah, dia bahkan berhasil masuk ke dalam sebuah taksi yang telah dia pesan sebelumnya. Saat menjauh dari rumah itu perasaannya begitu legah, dia merasa bebas sekarang dan seterusnya dia tidak akan pernah kembali lagi ke rumah itu.
**
Jingga tiba di salah satu alamat yang dia tuju setelah pergi dari rumah Arkana. Kini dia berdiri di depan sebuah rumah besar yang sudah lama tidak pernah dia kunjungi, rumah kedua orang tuanya yang kosong semenjak mereka meninggal dunia.
Saat Jingga hendak masuk ke dalam, dia melihat sebuah tulisan DI JUAL yang terpampang sangat besar disana. Bahkan di tulisan itu tertera nomor om Jaya yang artinya rumah kedua orang tuanya yang menjadi salah satu warisan untuknya akan segera dijual.
Jingga kembali memberhentikan taksi yang dia tumpangi barusan untuk membawanya ke rumah om dan tantenya, saat ini Jingga benar-benar marah karena dia sama sekali tidak tahu akan hal tersebut.
Setibanya di kediaman om dan tantenya, Jingga langsung masuk ke dalam tanpa permisi terlebih dulu. Jingga menemukan om Jaya di ruang tamu sedang sibuk menghitung uang, melihat kedatangan keponakannya tentu membuat dirinya sangat terkejut.
“ Jingga? Kenapa kamu bisa ada disini.?” Tanya Om Jaya berusaha terlihat tetap tenang.
“ Ada apa ini, kenapa Jingga ada disini.?” Terlihat tante Nia yang muncul dari dapur dan ikut terkejut melihat kehadiran Jingga,
“ Kamu salah paham, om nggak bermaksud jual rumah itu kalau saja perusahaan tidak mengalami masalah.” Lontar om Jaya berusaha menjelaskan.
“ Kalian bohong, pasti kalian tidak mengurus perusahaan papa dengan baik kan? Jujur sama aku.”
“ Bukan begitu Jingga.”
“ Aku nggak mau tahu, pokoknya rumah itu nggak boleh di jual. Kalau kalian sampai melakukannya, aku nggak akan tanggung-tanggung bawa masalah ini ke pengadilan.”
__ADS_1
Saat Jingga hendak meninggalkan rumah om dan tantenya, tiba-tiba saja om Jaya langsung menarik tubuh Jingga dan membawanya masuk ke dalam. Jingga sudah memberontak hingga berteriak meminta tolong, tapi tante Nia ikut membantu suaminya dengan membuat Jingga pingsan.
**
Perlahan namun pasti Jingga mulai membuka kedua matanya, dia menyadari dirinya duduk di atas kursi kayu dengan ikatan yang sangat kuat. Tak hanya itu, mulutnya pun di bekap menggunakan kain yang membuatnya sulit untuk berteriak meminta tolong.
Jingga merasa sangat sedih mengetahui bahwa om dan tantenya sampai melakukan kejahatan seperti ini hanya karena warisan, dia merasa di dunia ini tidak ada yang benar-benar tulus padanya.
Jingga pun menangis, pelariannya dari rumah Arkana hanya membawanya dalam masalah baru. Dan sekarang dia tidak tahu apa yang akan terjadi kepadanya, pasrah adalah pilihan terakhir sekalipun dia akan di bunuh nantinya.
Pintu baru saja terbuka dan membuat Jingga menangkap sosok om Jaya yang masuk ke dalam dengan tatapan khawatir yang palsu. Ketika pria itu sudah duduk di hadapannya, dia pun tertawa sangat puas.
“ Sini biar om buka kain di mulut kamu.” Om Jaya kemudian melepaskannya sehingga Jingga bisa bicara sekarang.
“ Kenapa om tega melakukan ini? om itu saudara papa kan, kenapa om sangat jahat.?”
“ Biar om kasih tahu ya sama kamu. Om ini sebenarnya bukan saudara kandung papa kamu, dan saat mendengar kabar kematian mereka cukup membuat om merasa sangat senang.”
“ Jadi semua ini adalah rencana om Jaya? Termasuk pernikahan aku.?”
“ Tentu saja, om sama tante kamu sengaja menjodohkan kamu sama pengusaha kaya raya itu supaya kami bisa fokus menikmati warisan dari orang tua kamu.”
“ Om padahal nggak usah melakukan hal sejauh itu, aku bisa kasih om separuh harta orang tuaku tanpa membuat pernikahan ini terjadi.”
“ Kamu hanya anak kecil yang nggak usah sok ikut campur urusan orang tua, lagi pula kamu seharusnya bersyukur bisa menikah dengan putra orang kaya itu. Hidupmu akan jauh lebih mewah dari pada hasil warisan orang tua kamu.”
__ADS_1
Jingga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, dia hanya bisa menangis mendengar pengakuan om Jaya yang jauh lebih menyakiti hatinya. Om Jaya bahkan sampai di baut bingung dengan tangisan Jingga saat ini.