
Waktu berjalan seperti biasa, Arkana terus belajar dan memperbaiki dirinya lebih baik lagi untuk mama Widya. Semua benar-benar telah dia lakukan hanya untuk mamanya, tidak peduli sedang sakit sekali pun dia akan terus belajar untuk mendapatkan nilai sempurna.
Biasanya sehabis pulang sekolah, Arkana akan menyempatkan menonton pertandingan bola anak-anak di sebuah lapangan di dekat rumahnya. Dia hanya akan menonton sampai ada yang mencetak gol, setelah itu dia harus pulang untuk kembali belajar.
Sore ini pun dia pulang dari sekolah dan asyik menyaksikan permainan bola anak-anak SMP lain, setiap menyaksikan pertandingan bola rasanya dia menjadi lebih bersemangat dan lebih hidup.
Tidak bisa di pungkiri bahwa cita-cita Arkana sesungguhnya adalah seorang pemain bola, namun dia tahu akan posisinya sehingga hal itu tidak mungkin akan terjadi dalam hidupnya.
“ Gooolllll.” Seru penonton yang lain dan itu menandakan bahwa dirinya sudah harus kembali ke rumah.
Sebuah bola baru saja terlempar ke arah Arkana, dengan cepat Arkana menerima bola itu dan sempat memainkannya dengan baik. Para pemain di lapangan merasa takjub dengan kemahirannya dalam memainkan bola, sampai salah satu di antara mereka menawarkan Arkana untuk bermaim bersama.
“ Aku nggak bisa main.” Ucap Arkana menolak karena dia harus segera pulang.
“ Bohong, barusan kamu memainkan bolanya sangat baik kok.”
Setelah mendapat ajakan dari mereka, Arkana merasa tertarik dan berpikir akan bermain sebentar sebelum dia pulang. Sore itu dia benar-benar bermain dengan anak sebayanya, perasaan bahagia yang belum pernah dia rasakan sebelumnya kini terasa memenuhi dadanya.
Sayangnya semua itu tidak berlangsung lama, mama Widya baru saja lewat di lapangan itu dan mendapati Arkana sedang bermain. Melihat tatapan mata mama Widya di ujung lapangan sudah membuat Arkana takut, dia pun harus menyudahi permainan dan segera menghampiri mamanya.
“ Besok datang lagi ya, kita main bareng.” Lontar anak laki-laki itu pada Arkana, namun sayang Arkana tidak menjawab apapun karena dia sendiri yakin kalau tidak ada hari esok untuk bermain.
**
Sepulang dari lapangan tadi, Arkana kembali mendapat siksaan dari mamanya. Namun kali ini dia tidak di kurung di kamar mandi, sebagai gantinya dia harus belajar sampai nanti malam.
__ADS_1
Saat Arkana sedang belajar tetesan darah segar baru saja keluar dari hidungnya, dia mencoba mendongak untuk membuat darahnya berhenti mengalir. Kepalanya mulai pusing, dia tidak bisa fokus belajar dengan keadaan yang seperti ini.
Suara ketukan pintu diluar sana membuat Arkana dan mama Widya menoleh dengan kompak, saat itu mama Widya beranjak dari tempatnya untuk membuka pintu.
“ Kamu.?”
Arkana penasaran dan melihat siapa yang baru saja datang, dia terkejut saat melihat papanya datang. Sudah hampir 3 tahun dia tidak bertemu dengan papanya, dan sekarang pria itu datang membawa sebuah undangan untuk mama Widya.
“ Aku akan segera menikah, aku tidak berharap kamu datang tapi Bima menyuruhku untuk mengundang kalian.” Ucap papa Aidan.
“ Kamu tega ya mas, bagaimana bisa kamu menikah lagi.” Mama Widya menatap undangan di tangannya dengan tatapan sendu.
“ Kita sudah lama berpisah, aku menemukan wanita yang jauh lebih baik sekarang.” Balas papa Aidan terdengar santai.
Arkana bersembunyi di balik tirai saat itu, papa Aidan bisa melihatnya dan dia ingin bertemu dengan Arkana. Mama Widya dengan ketus melarangnya melihat Arkana, kemudian papa Aidan di usir dari rumah oleh mama Widya.
“ Ku harap kamu juga bisa menemukan pria lain di hidupmu.”
Pintu baru saja tertutup dengan rapat, sekarang mama Widya terlihat terjatuh di lantai sambil menutup mulutnya dan menangis dalam diam. Lagi dan lagi Arkana harus melihat mamanya menangis karena ulah papa Aidan, dulu Arkana masih sangat muda sehingga dia tidak begitu kesal tapi sekarang ceritanya sudah berbeda.
**
Tak lama setelah papa Aidan menikah lagi, mama Widya kembali ke rumah kedua orang tuanya dan menerima perjodohan dengan Hendra. Pernikahan mereka pun terjadi meski sebelumnya kedua orang tua papa Hendra tidak setuju karena di awal mama Widya sudah menolaknya.
Arkana mendapat papa baru yaitu Hendra, kehidupan mereka berubah semenjak hari itu. Arkana di pindahkan ke sekolah internasional yang lebih bagus untuk membuatnya menjadi lebih berguna, dia masih tetap belajar untuk memenuhi harapan mamanya.
Nama belakang Arkana sekarang sudah berubah menjadi Arkana Adyatama mengikut nama papa tirinya, begitu pun dengan mama Widya yang sekarang sudah menjadi nyonya besar Adyatama.
__ADS_1
Mereka bertiga tinggal di sebuah rumah yang begitu besar di lengkapi fasilitas mewah yang belum pernah di rasakan sebelumnya, pelayanan dari para pembantu 24 jam nonstop, makanan enak, pakaian mahal, semua di rasakan oleh Arkana sekarang.
Di balik semua yang dia dapatkan nyatanya masih belum membuatnya merasa bahagia, sikap mama Widya masih sama seperti dulu. Bahkan sekarang dia di paksa untuk belajar tentang kedokteran, Arkana di paksa harus menjadi seorang dokter seperti papa Hendra.
“ Tapi aku nggak mau jadi dokter ma.”
“ Kamu itu sering sakit, kamu harus jadi dokter supaya kamu bisa mengobati diri kamu sendiri.”
“ Aku nggak perlu jadi dokter untuk menyembuhkan diriku sendiri.”
“ Kamu itu berisik banget sih, mama sudah mengorbankan perasaan mama menikahi papa tirimu itu supaya kamu bisa sukses, dengan menjadi dokter kamu akan mendapat warisan dari rumah sakit itu. Jadi nurut apa kata mama.”
Arkana tidak bisa berkata-kata lagi, dia terus menjalani kehidupan yang di atur oleh mamanya. Layaknya seperti robot yang telah di atur untuk melakukan ini dan itu, asal membuat mamanya merasa senang nampaknya akan di lakukan oleh Arkana meski harus menjadi seorang dokter sekali pun.
**
Sekarang Arkana sudah menginjak bangku SMA, dia masih bersekolah di salah satu SMA terbaik yang ada di Jakarta. Di sana dia menjadi seorang murid teladan yang mendapat prestasi yang cukup baik, nilainya selalu sempurna dan membuatnya sangat terkenal akan prestasinya tersebut.
Siapa sangka di bangku SMA ini Arkana menemukan kehidupan yang membuatnya merasa bahagia, dia bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Qania yang di kenalnya dari seseorang.
Qania adalah satu dari sekian banyak orang yang mengenal Arkana dengan baik, dia bisa tahu kalau Arkana tidak senang dengan kehidupan yang di jalaninya.
Menginjak bangku SMA kelas 2 keduanya pun semakin dekat, mereka sering jalan bersama dan menghabiskan waktu bersama. Keberadaan Qania seakan menjadi obat untuk Arkana, jika di rumah dia akan merasa sakit namun ketika berada di sekolah dia merasa begitu senang karena ada Qania.
“ Nia, aku mau ngomong serius sama kamu.” Ucap Arkana saat mereka berdua pulang bersama waktu itu.
“ Apa.?” Qania menoleh dengan tatapan penasaran.
__ADS_1
“ Aku suka sama kamu.” Lanjut Arkana menatap Qania dengan penuh keseriusan.