Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Perceraian Kedua


__ADS_3


" Apa? Papa mau bercerai dengan mama? Ini sangat mendadak, tapi bagaimana dengan respon mama.? " Arkana sangat terkejut mendengar pengakuan papa Hendra beberapa saat yang lalu.


" Sebenarnya papa sudah lama ingin melakukan hal ini, tapi papa bertahan karena papa berpikir kalau mama kamu akan berubah. Tapi sepertinya sudah tidak ada harapan lagi, papa benar-benar akan berpisah dengan mama kamu. " Jawab papa Hendra kemudian.


Arkana sudah tahu pasti bagaimana sosok papa Hendra selama ini kepada mamanya, papa Hendra adalah sosok suami yang baik dan bertanggung jawab. Namun sayang,dia mendapatkan seorang istri yang seperti mama Widya.


" Menurutku itu hak papa, tapi aku berpikir kalau mama pasti tidak akan setuju. Aku tahu sifat mama yang tidak bisa jauh dari orang-orang yang ada di dekatnya, sekalipun orang itu tidak pernah di perlakukan dengan baik. "Lanjut Arkana kemudian.


" Setuju atau tidak, papa tetap akan bercerai dengannya. Keputusan ada di papa, sekalipun dia ingin harta gono gini untuk perceraian itu, papa akan memberikan lebih untuknya." Balas Papa Hendra.


" Kalau begitu aku tetap akan mendukung keputusan papa, kalau memang bersama mama hanya membuat papa terluka. Mungkin lebih baik kalau kalian bercerai, kapan pun aku akan selalu menganggap papa sebagai papaku juga. "


Hendra tersenyum senang mendengarnya, ini merupakan obrolan pertama dia dan Arkana dengan santai layaknya ayah dan anak. Selama Arkana menjadi ayah, tampaknya sikapnya mulai berubah dari segala aspek.


" Papa akan mengabari kamu soal hasil akhirnya, dan juga tentang Jingga. Papa pun curiga bahwa mama mu lah yang melakukan hal itu pada Jingga. "


" Tapi sayangnya kita nggak punya bukti pa, kita bisa melaporkan mama tapi tidak ada bukti kuat kalau mama adalah pelakunya."


" Benar, kita memang nggak ada bukti apapun. Tapi kita tidak boleh lepas dari mama kamu, papa akan suruh seseorang untuk mengikuti pergerakannya sehingga kita bisa tahu sedikit demi sedikit sesuatu yang di sembunyikan olehnya. "


Sebelum pulang, papa Hendra memberikan sebuah black card kepada Arkana. Dia ingin Arkana menggunakan benda itu untuk keperluan Keenan dan dirinya, dia juga memberikan keamanan berupa beberapa orang yang akan berjaga di sekitaran rumah itu.


" Terima kasih banyak pa, walaupun kita tidak sedarah tapi papa sudah menganggap aku sebagai anak kandung papa."


" Papa tidak memiliki keturunan, jadi papa ingin menganggap kamu sebagai anak kandung papa sendiri. "


**


Hendra yang saat itu sudah memutuskan untuk berpisah dari Widya, kini telah menyerahkan semuanya kepada pengacara yang telah di tunjuk oleh Hendra sendiri.


Hendra tidak meminta Widya untuk setuju terlebih dulu, karena sebagai seorang suami apabila telah mengucapkan talak maka talak tersebut sudah jatuh dan tinggal menunggu proses persidangan.


Widya marah besar ketika Hendra melakukan semuanya tanpa persetujuannya, namun hal itu tidak membuat Hendra menarik kembali perbuatannya.

__ADS_1


Setelah menjatuhi talak, Hendra pun meninggalkan rumah yang di tempatinya selama ini bersama Widya dan Arkana.


Kepergian Hendra dari rumah membuat Widya mengamuk hingga merusak barang-barang yang ada di rumah, perceraian ini membuat traumanya kembali saat Aidan juga menceraikan dirinya secara sepihak.


" Arghhhhhhh..., sialan. "


Teriakan Widya sampai terdengar ke lantai satu, semua pembantu menatap lantai dua dengan tatapan takut. Jika Widya sudah dalam keadaan seperti itu maka mereka semua pun akan mendapat amarah yang tak terkontrol darinya.


" Sebaiknya kita hubungi den Bima, untuk sekarang hanya dia yang bisa menenangkan nyonya. " Ucap bi Ijah.


" Tapi katanya den Bima lagi di luar kota, di rumah papanya. "


" Nggak apa-apa, dia pasti kembali kalau tahu mamanya seperti ini. "


**


Bima kembali setelah mendapat panggilan dari pembantu mama Widya, pria itu menemui mamanya yang saat ini dalam keadaan terpuruk karena menangis seharian.


Bima sudah di beritahu sebelumnya bahwa mamanya akan bercerai dengan Hendra, mendengar hal itu tentu membuat Bima terkejut. Dia tidak menyangka kalau akhirnya Hendra akan mengajukan gugatan cerai kepada mamanya.


" Bima nggak akan pernah pergi dari mama, jadi mama jangan khawatir. "


" Kamu janji ya sama mama, sekarang mama hanya punya kamu. "


" Mama tenang sekarang, ada Bima disini. "


Bima memeluk mamanya dengan penuh kelembutan, kemudian setelah mama Widya lebih tenang barulah dia mengajak mamanya untuk duduk santai di atas sofa.


" Kamu nggak akan kembali ke rumah papa kamu kan? "


" Nggak ma, aku bisa suruh orang di rumah untuk mengirim barang-barangku. Jadi aku nggak akan pergi dari mama lagi. "


" Terima kasih ya Bima, mama senang karena masih ada kamu yang mau menemani mama. "


Bima hanya dapat tersenyum simpul menatap mamanya, semua menjadi begitu rumit sejak menghilangnya Jingga. Satu persatu dari mereka meninggalkan mamanya, dan sekarang hanya dia yang bisa d harapkan untuk selalu ada.

__ADS_1


**


Malam harinya ketika Bima beranjak keluar dari kamarnya, dia mendapat satu panggilan dari orang yang tidak asing. Bima tidak akan menjawab panggilan asing dari siapapun itu sebelum dia tahu siapa yang menelponnya, atau paling tidak dia bisa memberitahu lewat pesan terlebih dahulu.


" Den Bima, mau apa? Biar bibibuatin kalau aden lapar. " Sahut bi Ijah yang melihat Bima baru saja datang ke dapur.


" Oh, nggak kok bi. Saya cuma haus. " Balasnya sambil menuang air ke dalam gelas.


Sekali lagi ada panggilan dari nomor yang sama baru saja menghubungi Bima, dan ada pesan yang menyusul dimana seseorang yang menghubungi Bima barusan adalah Diana.


" Diana? "


" Ada apa den.? "


" Nggak ada apa-apa bi, saya mau balik ke kamar dulu. "


Bima pun beranjak dari dapur sambil menatap layar ponselnya dengan bingung, ketika dirinya hendak berjalan menuju kamar tanpa sengaja dia mendengar suara mesin mobil yang baru saja meninggalkan rumah.


Bima langsung berjalan menuju jendela untuk melihat mobil siapa itu, dan setelah di lihat ternyata mobil yang baru saja keluar adalah mobil milik mamanya.


" Mama mau kemana malam-malam begini.? " Gumam Bima bertanya-tanya.


Pada saat itu Bima tidak memperdulikan kemana mamanya pergi, dia berpikir bahwa mamanya keluar karena ada urusan penting. Dan saat Bima kembali ke kamarnya, dia pun kembali mendapat panggilan dari Diana.


" Halo.? " Jawab Bima akhirnya.


" Akhirnya di jawab juga, dari tadi udah aku telpon tapi nggak di angkat. " Sahut Diana di seberang sana dengan nada yang cukup kesal.


" Kamu ada apa telpon aku? " Tanya Bima penasaran.


" Boleh kita bertemu sebentar? Ada yang ingin ku tunjukkan padamu."


" Aku sibuk, maaf. " Bima hendak mengakhiri panggilan tersebut, namun Diana dengan cepat menyahut.


" Kamu Nawa kan. " Sahut Diana kembali.

__ADS_1



__ADS_2