
Jingga sedang di ruang keluarga bersama Keenan dan bi Ijah, sudah cukup lama Arkana berada di atas dan sampai sekarang belum juga kembali. Jingga di buat penasaran apakah Arkana kesulitan menangani mama Widya sehingga memakan waktu begitu lama.
Perlahan namun pasti, kini Jingga bisa melihat sosok Arkana dan mama Widya yang berjalan bersama menuruni anak tangga. Jingga serta bi Ijah saling menatap satu sama lain, mereka tak percaya dengan apa yang di lihat mereka saat ini.
“ Mas, mama.” Ucap Jingga menatap kedatangan mereka berdua.
Arkana berhasil membawa mama Widya ke hadapan Jingga dan Keenan setelah sebelumnya memberontak dan penuh penolakan, tampak mama Widya yang hanya fokus ke Keenan dengan ekspresi yang datar.
“ Mama apa kabar? “ Tanya Jingga dengan hati-hati.
“ Mama ingin menggendongnya.” Pinta mama Widya yang mengalihkan pertanyaan Jingga barusan.
“ Tentu saja boleh ma, mama kan neneknya Keenan.” Jingga dengan cepat memberikan Keenan ke tangan mama Widya.
Terlihat mama Widya yang sudah menggendong Keenan dan menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan, kemudian mama Widya bergerak menuju kea rah dapur, Arkana dan Jingga bingung melihatnya dan bergegas mengikuti mama Widya.
Mama Widya sudah tiba di dapur, dia hendak mengambil sebuah pisau di dapur yang membuat Arkana dengan cepat mengejarnya. Tapi sayangnya mama Widya sudah menunjukkan tajamnya pisau yang dia pegang dan mengancam akan membunuh Keenan jika Arkana sampai mendekat.
Jingga dan Arkana sudah sangat ketakutan, mereka tidak menyangka apa yang di lakukan mama Widya sekarang sangatlah berbahaya untuk mereka berdua.
“ Ma, mama jangan melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Keenan masih bayi ma, mama nggak boleh melakukannya.” Pinta Arkana dengan sangat berhati-hati.
“ Istrimu sudah mengambil nyawa putraku, dan sekarang kalian harus membayarnya dengan nyawa putra kalian, biar semuanya impas.” Sahut mama Widya yang setiap pergerakannya selalu membuat Jingga dan Arkana ketakutan.
Jingga menangis memohon kepada mama Widya untuk tidak menyakiti Keenan, namun tangisan Jingga di anggap palsu oleh mama Widya. Beliau justru mengaku lebih terpuruk atas semua yang terjadi, dan seberapa besar mereka menjelaskan pun rasanya tidak akan bisa membuat mama Widya sadar dan mengembalikan Keenan.
Mama Widya mulai mendekatkan pisau dapur itu ke arah Keenan dengan tatapan lurus ke wajah Keenan, terlihat Keenan yang begitu tenang di gendongan mama Widya dan sukses membuat wanita itu terdiam sejenak.
__ADS_1
“ Wajahnya, dia sangat mirip dengan Bima ketika masih kecil.” Benak mama Widya.
Tangisan Keenan mulai terdengar yang membuat mama Widya langsung panik, dia melempar pisau dapur itu ke sembarang arah dan mulai berusaha menenangkan Keenan dengan caranya.
“ Cup..cup.., anak mama. Tenang ya sayang, mama disini.” Ucap mama Widya yang membuat Jingga dan Arkana kembali terheran-heran.
Nampaknya kehadiran Keenan saat ini membuat mama Widya berhalusinasi bahwa yang di gendongnya adalah Bima ketika kecil, Arkana sedang menyingkirkan semua benda tajam di sekitar mama Widya, kemudian dia mendekatinya secara perlahan.
“ Terima kasih karena mama tidak menyakiti Keenan, dia adalah cucu mama, dan mama harus menyayanginya seperti sayangnya mama ke Bima.” Ucap Arkana pelan.
“ Dia anak mama, mama akan menyayanginya, mama akan membesarkannya dengan penuh kasih sayang, mama nggak akan buat dia menderita seperti mama.” Arkana sadar bahwa saat ini mamanya sedang dalam keadaan tidak sadar dengan kenyataan yang ada.
Arkana segera mengambil obat bius untuk membuat mamanya tenang, dia sudah memberitahu papa Hendra sebelumnya dan beliau menyarankan untuk memberikan obat bius di saat mama Widya sudah mulai tenang dan tidak sadar pada kenyataan.
Arkana berhasil melakukannya dengan cepat, Keenan sudah berada di tangan Jingga kembali. Sementara itu Arkana membawa mama Widya kembali ke kamar lain yang lebih bersih dan tidak berantakan oleh barang pecah belah.
**
Jingga, Arkana , dan papa Hendra sedang berada di salah satu ruangan di rumah itu. Papa Hendra memutuskan untuk datang setelah dia mendengar keadaan mama Widya dari Arkana, dan dia pun ingin ikut andil dalam menyembuhkan istrinya itu.
Mereka bertiga memikirkan metode penyembuhan untuk mama Widya yang terkadang sulit di ajak bicara, bahkan sulit bertemu dengan psikolog yang telah di pilih oleh papa Hendra sebelumnya.
“ Aku rasa masa lalu mama sudah membuatnya sampai seperti ini, sebagai seseorang yang dulunya trauma dengan masa lalu, aku paham betul rasanya berada di titik itu. “ Ucap Arkana.
“ Kau bisa melewatinya karena ada Jingga, sedangkan mamamu, dia bahkan hampir tidak mempercayai semua orang.” Sahut papa Hendra.
“ Sebenarnya ada satu orang, dia adalah papa Aidan. Maaf pa, kalau aku harus mengatakannya. Tapi sebenanrnya mama masih sangat mencintai papa Aidan, dan mungkin salah satu masalah mama seperti ini karena papa Aidan.”
“ Papa sudah tahu kok kalau mama kamu masih menyimpan perasaan ke mantan suaminya, papa sudah bertemu papamu dan mereka berdua sudah betemu juga sebelumnya. “
__ADS_1
“ Justru papa merasa, satu masalah yang belum terselesaikan di masa lalu Widya adalah, papa kandung kamu Ar.” Lanjut papa Hendra sukses membuat Arkana terkejut.
Sudah lama sekali masalah ini tidak pernah di bahas, Arkana bahkan tidak ingin tahu siapa ayah kandungnya sebenarnya. Mama Widya memang sering menyamakannya dengan sosok pria itu, tapi dia hampir tidak tahu seperti apa rupanya.
“ Maksud papa, mama harus ketemu sama orang itu?” Tanya Arkana.
“ Papa tidak yakin, ini hanya perasaan papa saja. “ Balas papa Hendra.
“ Tapi dimana dia sekarang? Kalau memang dengan membawanya bertemu mama dapat membuat traumanya sedikit terkendali, aku akan mencari orang itu sampai ketemu.” Lontar Arkana.
**
Keesokan harinya, Arkana mendatangi sebuah perusahaan di kawasan Jakarta pusat seorang diri. Dia telah menerima informasi yang cukup akurat berkat bantuan papa Hendra, alasan dia datang seorang diri saat itu adalah karena dia ingin mengetahui tentang sosok papa kandungnya lebih dulu sebelum membawanya pergi menemui mama Widya.
“ Apa pak Wirawan Caksono ada .?” Tanya Arkana pada seorang resepsionis di lantai satu.
“ Apa sebelumnya sudah berbuat janji.?”
“ Beritahu beliau bahwa yang datang menemuinya adalah Arkana Adytama putra dari seorang wanita yang bernama Widya Raharjo.”
Resepsionis itu segera menelpon seseorang dengan tatapan yang bingung ke arah Arkana, setelah panggilannya selesai, terlihat Arkana sudah di perbolehkan naik ke lantai empat ruangan pria yang ingin di temuinya.
Sekarang Arkana sudah berada di lantai empat, dia kembali bertemu dengan seorang wanita yang tak lain adalah sekretaris yang bekerja di tempat itu.
“ Silahkan masuk, pak Wira sudah menunggu di dalam.” Ucapnya sambil membukakan pintu untuk Arkana.
“ Terima kasih.” Balas Arkana yang beranjak masuk ke dalam.
Arkana bisa melihat seorang pria yang sedang duduk di kursi kerja yang sedang menatapnya dengan seksama, sejenak Arkana diam di tempatnya dan ikut terkejut setelah melihat wajah Wirawan Caksono yang merupakan ayah kandungnya.
__ADS_1
“ Pak Wirawan Caksono.”