Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Kebahagiaan Yang Sebenarnya


__ADS_3


Perlahan namun pasti Jingga mulai membuka kedua matanya, dia terkejut ketika menyadari tidak ada Arkana di sampingnya. Jingga kemudian beranjak dari tempat tidur sambil memanggil nama Arkana, saat di cek ke dalam kamar mandi dan tidak menemukannya disana sontak membuat Jingga panik.


Dia melangkah dengan cepat keluar dari kamar dengan terus memanggil-manggil nama Arkana, si pemilik nama yang mendengarnya pun ikut panik dan langsung berlari ke arahnya.


“ Ada apa? Kamu kenapa.?” tanya Arkana menatap istrinya khawatir.


“ Aku kira kamu menghilang, habisnya kamu bangun nggak bilang-bilang.” Rengek Jingga yang kemudian membuat Arkana gemas dan langsung memeluknya.


“ Aku nggak kemana-mana kok, barusan aku di dapur lagi belajar masak sama bi Inah dan bi Salma.” Jelas Arkana lembut.


“ Kamu nggak perlu belajar masak, aku kan bisa masak buat kamu.”


“ Tapi aku udah janji waktu itu, kalau aku mau belajar masak buat kamu.”


“ Memangnya kamu masak apa hari ini.?”


“ Sayur sop sama ayam goreng bawang putih, aku nemu resepnya di google dan kata bi Inah kamu lagi doyan makan sayu sop sekarang.”


“ Kalau gitu aku mau coba masakan kamu.”


“ Belum jadi sayang, sebentar lagi jadi kalau kamu nggak panggil-panggil namaku barusan.”


“ Kalau gitu aku mandi dulu, nanti aku balik ke ruang makan lagi.”


“ Ya udah, mandi sana.”


**


Sidang pertama untuk Tsania akhirnya dimulai, saat itu Arkana datang menghadiri sidang tanpa memberitahu Jingga karena tidak ingin membuatnya tahu akan masalah yang terjadi di rumah sakit.


Arkana di temani oleh pengacaranya memasuki ruang sidang yang telah di hadiri oleh orang-orang penting di dalamnya, kerena sidang di lakukan secara tertutup maka tidak sembarang orang yang bisa datang menyaksikan persidangan tersebut.


Selain Arkana, mereka juga ikut hadir yang tak lain adalah Qania, Nisa, Wulan, dan juga Gabriel. Mereka akan menyaksikan persidangan hari pertama ini sebelum giliran mereka yang memberi kesaksian atas kasus yang di lakukan oleh Tsania.


Tanpa memunda waktu lagi, sidang dimulai dengan seorang hakim yang membuka pertemuan hari itu. kemudian pembacaan surat dakwaan oleh penutut yang tak lain adalah Arkana sendiri.


Tsania terlihat manundukkan kepalanya sejak dirinya masuk ke dalam ruangan itu, dia bahkan takut untuk menatap wajah Arkana yang menatapnya dengan penuh kebencian.

__ADS_1


Pengacara dari pihak Arkana mulai menanyakan satu persatu pertanyaan yang berkaitan dengan kasus yang di lakukan oleh Tsania, pertanyaan bersifat tersusun dan di bawakan dengan cukup tegas oleh pengacara tersebut.


Ketika tiba waktunya Tsania harus menjawab, dia tiba-tiba menangis begitu keras. Dia tidak bisa berkata-kata lagi, dan pengacara dari pihak Tsania tampak berusaha menenangkannya.


Beberapa saat sebelum sidang dimulai…


“ Kamu benar-benar anak yang tidak tahu di untung, papa dan mama sudah menyekolahkan kamu dengan baik supaya kamu bisa jadi anak yang sukses. Tapi dengan kebodohan kamu itu akhirnya membuat kamu harus berada di balik jeruji besi, kamu sudah buat malu keluarga kita.” Sahut papa Tsania yang terus menerus menyalahkannya.


“ Mama sudah pernah bilang ke kamu, jangan coba-coba ikut campur dengan keluarga Adyatama. Tapi kamu tetap ngeyel, sekarang rasakan akibatnya.” Sambung mamanya.


“ Aku menyesal melakukannya, kalian tolong aku supaya bisa bebas di persidangan nanti.” Pinta Tsania memohon-mohon di hadapan orang tuanya.


“ Kamu pikir dengan semua yang kamu lakukan dengan mereka bisa menyelesaikan masalah dengan mudah? Kita melawan keluarga Adyatama, sudah pasti kita akan kalah.”


“ Papa nggak sayang sama aku? Aku ini anak kalian satu-satunya, kalian tega kalau aku di penjara.?”


“ Itu urusan kamu karena kamu sudah melakukan kesalahan besar, papa dan mama nggak akan ikut persidangan itu. Selesaikan urusan kamu sendiri, jangan melakukan hal yang tidak perlu lagi dan terima saja hukuman dari hakim.”


Tsania merasa begitu hancur melihat kedua orang tuanya bahkan tidak peduli dengan hasil persidangan nanti, pada siapa lagi dia bisa minta tolong sedangkan orang yang dia harapkan pun membiarkannya begitu saja.


**


Tsania pun mendapat dua kasus hukuman yang pertama pencemaran nama baik dan kasus percobaan pembunuhan, hakim menjatuhkan hukuman penjara selama dua puluh tahun atas dua kasus tersebut.


Namun Arkana masih memiliki hati nurani untuk Tsania, dia meminta agar masa hukuman di kurangi menjadi sepuluh tahun. Atas permintaan dari Arkana akhirnya hakim dan semua orang di ruangan itu setuju dengan keputusan tersebut.


Sekarang semua telah selesai di atasi, Arkana tidak lagi memikirkan apapun selain keputusannya untuk segera membawa Jingga meninggalkan Jakarta.


Sebelum pulang ke rumah, Arkana sempat menemui Tsania dan berbicara sedikit dengannya. Tapi saat itu Tsania bahkan tidak mengucapkan terima kasih atas pengurangan masa tahanan yang di minta olehnya.


“ Ini sebagai pelajaran untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikan orang lain, aku tahu kamu lahir dan di besarkan di keluarga seperti apa. Tapi bukan berarti kamu melampiaskan semuanya kepada orang lain, itu adalah kesalahan besar. Kamu harus lebih mencintai dirimu sendiri, kalau kau sudah melakukannya maka kebahagiaan lain akan datang menghampirimu.” Ucap Arkana yang sebelumnya sudah tahu bahwa Tsania terlihat sama sepertinya.


“ Dokter nggak perlu peduli sama urusan saya. Mending dokter pergi dari sini, saya nggak suka lihat wajah dokter lagi.” Protes Tsania mengalihkan wajahnya ke arah lain.


Arkana pun pamit undur diri, dan itu merupakan pertemuan terakhir mereka. Ketika Arkana beranjak pergi, terlihat Tsania yang menatap kepergiannya dengan tatapan yang sulit di artikan.


**


Arkana pulang ke rumah dalam keadaan hati yang senang, dia turun dari mobil dan berjalan ke belakang membuka bagasi mobil untuk mengambil buket bunga raksasa yang dia pesan di toko bunga saat perjalanan pulang dari persidangan.

__ADS_1


Arkana menghirup aroma bunga mawar merah itu dengan senyum yang merekah, kemudian dia membawanya masuk dan menemui Jingga di dalam rumah.


Jingga yang sedang duduk di ruang tengah langsung terdiam sejenak di tempatnya, melihat Arkana yang menghampirinya sambil membawa bunga sebesar itu tentu saja membuatnya terkejut.


“ Bunga mawar yang indah untuk istri tercantikku.”


“ Kamu kenapa tiba-tiba bawain aku bunga.?”


“ Emang nggak boleh ya kalau aku bersikap romantis buat kamu.?”


“ Nggak apa-apa sih, aku senang kamu kaya gini.”


Arkana meletakkan buket bunga tersebut di atas meja karena tak ingin membiarkan Jingga mengangkatnya dalam kondisi hamil seperti itu. Lalu Arkana duduk di samping Jingga dan menarik tangan wanita itu dengan penuh kelembutan.


“ Aku mau ngomong serius sama kamu.” Lontar Arkana yang membuat Jingga kembali penasaran.


“ Ngomong aja mas, silahkan.”


“ Aku mau setelah anak kita lahir nanti, kita bertiga pindah ke Singapur.”


“ Kamu serius mau meninggalkan Jakarta? Bagaimana dengan mama dan papa kamu? Mereka pasti nggak akan setuju.”


“ Aku sudah memutuskan hubungan dengan mamaku, aku sadar sekarang kalau keberadaanku memang tidak pernah di inginkan. Sekarang aku sudah punya kamu dan anak kita nanti, dengan kita bertiga saja itu sudah sangat cukup buat aku.”


“ Ke Singapur? Kenapa harus kesana.?”


“ Aku sudah membeli rumah disana, bukan hanya rumah, tapi butik untuk kamu tempati juga sudah ada disana. Selama ini aku menyiapkannya tanpa memberitahu kamu, bahkan sampai saat ini belum ada yang tahu soal itu.”


“ Jadi itu sebabnya waktu kita bulan madu kamu pergi ke Singapur.?”


“ Iya, aku harus tanda tangan penyerahan sertifikat waktu itu. Aku sudah cukup lama menyiapkannya, bahkan sebelum kita menikah.”


“ Aku mau mas.” Sahut Jingga yang membuat Arkana tercekat.


“ Kamu serius mau tinggal disana sama aku.?”


“ Iya mas, kemana pun kamu pergi aku akan terus ikut kamu.”


Arkana sangat senang sampai tidak bisa menutupi rasa bahagianya saat itu, dia memeluk Jingga dengan penuh rasa cinta. Dia tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.

__ADS_1



__ADS_2