Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Thank You, Jingga


__ADS_3


Saat itu Jingga meminta pada pawang gajah apakah dia bisa menunggangi gajah tersebut atau tidak, dan setelah dia mendapat izin akhirnya dia di izinkan untuk naik ke atas menunggangi salah satu gajah tersebut.


“ Kamu ngapain.?” Tegur Arkana menatap Jingga yang sedang berusaha naik ke atas punggung gajah.


“ Jalan-jalan sambil naik gajah, kamu nggak mau ikut.?” Lirik Jingga sambil tersenyum.


“ Kamu lagi hamil, kalau kenapa-napa gimana? Nanti aku juga yang bakal repot.” Sahut Arkana.


“ Aman kok, pawangnya bilang aku boleh naik.”


“ Turun sekarang, itu bahaya. “


“ Nggak mau.” Jingga menjulurkan lidah pada Arkana ketika dia berhasil naik ke atas punggung gajah tersebut.


Arkana tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia hanya bisa duduk menunggu sampai Jingga kembali. Mau bagaimana pun dia tidak akan pernah mendekati gajah itu lagi, sejujurnya Arkana memang takut pada beberapa hewan besar sejak dia masih kecil.


Sejak kecil Arkana selalu menganggap bahwa hewan yang berukuran besar merupakan hewan buas yang akan menyakitinya, meskipun itu adalah pemikiran anak-anak pada masa lalu namun nyatanya masih membekas di ingatannya sehingga dia refleks takut pada hewan-hewan tersebut.


Pengunjung yang datang menunggangi gajah akan di ajak berkeliling di sekitar elepanth camp, melihat langkah gajah itu sangat lamban yang memastikan perjalanannya akan memakan waktu satu jam lebih.


Arkana benar-benar hanya duduk menunggu Jingga kembali, dan setelah kedatangan wanita itu dia pun langsung menarik Jingga menjauh dari sana.


“ Aku nggak mau ada disini lagi, sekarang kita pergi ke tempat lain.”


Arkana mendadak berhenti di tempatnya ketika jalan yang di laluinya mendadak banyak gajah yang mendekat, rupanya Arkana salah jalan. Dia melewati area yang di tempati oleh para gajah bebas berjalan kemana-mana, karena takut dia pun melangkah mundur ke belakang.


“ Nggak apa-apa mas, mereka baik kok.” Jingga berusaha meyakinkan Arkana untuk tidak takut pada semua gajah itu.

__ADS_1


Arkana mendadak merinding ketika dia menyadari ada sesuatu di belakangnya dan saat ini sedang menyentuh kepalanya, sesuatu itu sangat aneh dan menggeliat yang membuatnya semakin ketakutan.


“ Mas, jangan takut. Kalau kamu pikir mereka adalah hewan yang menakutkan maka mereka akan tetap menakutkan di pikiranmu, coba lihat mereka seperti seekor kelinci atau kucing yang tidak berbahaya.” Ucapan Jingga barusan seakan menghipnotis Arkana untuk tidak takut menghadapi gajah itu.


Sekarang Arkana mulai memutar tubuhnya ke belakang, ada seekor gajah berukuran kecil dan ternyata dia yang barusan menyentuh kepala Arkana.


“ Jangan takut, mereka tidak akan menyakiti manusia.” Kata tour guide yang baru saja mengartikan bahasa dari pawing gajah yang ada di samping mereka.


Arkana berhasil menyentuh mereka tanpa rasa takut, entah mengapa ketakutannya langsung menghilang. Kini dia bisa melihat sisi imut dari seekor gajah yang belum pernah dia saksikan secara langsung sebelumnya.


Jingga tersenyum di belakang sana melihat Arkana yang berhasil melawan rasa takutnya, ini adalah bagian dari terapi yang di beritahu oleh Gilang sebelumnya. Jingga di minta untuk mencaritahu apa yang menjadi ketakutan Arkana, dan jika dia bisa membuat Arkana melawan rasa takut itu maka akan lebih mudah mencaritahu masalah yang di alami olehnya.


**


Mereka kembali ke hotel sekitar pukul 9:00 malam, keduanya langsung memesan makanan yang di bawa langsung ke kamar mereka masing-masing. Jingga memilih untuk membersihkan tubuhnya terlebih dulu sebelum makan, dan setelah dia selesai wanita itu langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dan mulai menyantap makan malamnya sendirian.


Tok..tok…tok…


“ Ac di kamarku mati, aku mau numpang makan disini.”


Alasan yang sangat aneh baru saja membuat Jingga tertawa dalam hatinya, dia mungkin sedang kesepian di kamarnya dan memilih untuk makan bersama Jingga dengan alasan yang klasik tersebut.


Keduanya kini duduk saling berhadapan menikmati makan malam mereka, pintu kaca yang mengarah ke balkon di biarkan terbuka agar angin bisa masuk ke dalam.


Diluar sana cuacanya sedang cerah, bulan bersinar dengan baik dan ribuan bintang terlihat menghias langit malam yang sangat indah. Di bawah sana sepasang suami istri menikmati makan malam mereka dalam diam, entah pembahasan apa yang akan mereka obrolkan.


“ Besok hari terakhir kita di sini, giliran kamu mas yang memilih tempat.” Lontar Jingga setelah dia selesai menyantap makanannya.


“ Kamu sendiri nggak ada tujuan yang mau kamu kunjungi.?” Arkana balik menanyakannya pada Jingga.

__ADS_1


“ Kan hari ini aku yang pilih, besok biar kamu aja yang tentukan.” Balas Jingga.


“ Oke, besok aja kalau gitu.” Jawab Arkana kemudian.


Setelah mereka selesai makan malam bersama, Arkana pun kembali ke kamarnya. Sejurus kemudian saat dia masuk ke dalam kamar, lampu di seluruh hotel tiba-tiba saja padam.


“ Kamu nggak apa-apa.?” Arkana baru saja masuk kembali ke kamar Jingga, dia melihat wanita itu sedang duduk di sofa yang tadi sambil menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Arkana tidak tahu kenapa dia tiba-tiba datang mengecek keadaan Jingga, cahaya bulan yang masuk ke dalam kamar Jingga saat itu memperlihatkan dengan jelas bahwa dia sangat takut saat ini.


“ Sini, “ Arkana baru saja memeluk Jingga yang membuat Jingga terkejut dengan perlakukan manisnya.


Jingga belum pernah merasakan perasaan senyaman ini sebelumnya, berada di pelukan suaminya sendiri ternyata rasanya sangat nyaman hingga membuatnya tidak ingin berakhir dengan cepat.


Setelah beberapa menit akhirnya lampu kembali menyala, Arkana melepaskan pelukannya dari Jingga dan menatap wajah wanita itu dengan tatapan sayu.


“ Terima kasih mas, aku udah lebih tenang sekarang.” Kata Jingga lirih dan tak berani menatap wajah Arkana saat itu.


“ Aku yang terima kasih sama kamu.” Ucap Arkana sontak membuat Jingga mendongak dan menatap bola mata Arkana.


“ Kenapa?” Jingga bingung mendengarnya.


Arkana kemudian beranjak dari sana setelah kesadarannya kembali sepenuhnya, dia berdiri membelakangi Jingga dan mulai mengakhiri percakapan mereka tanpa melanjutkan arti ucapannya barusan.


“ Besok jam 9:00 kita harus sudah pergi.” Hanya itu yang di katakan oleh Arkana sebelum akhirnya meninggalkan Jingga dengan perasaan yang masih janggal.


“ Ini pertama kalinya aku melihat sifat lembut mas Arka yang sangat berbeda, apa sebenarnya itu adalah sifat aslinya? Kamu benar-benar buat aku semakin penasaran dengan kehidupan kamu mas.” Jingga menyenderkan kepalanya di sofa sambil menengok keluar jendela.


Bulan di atas sana bersinar sangat terang, kemudian Jingga menyentuh perutnya dengan membelainya sangat lembut.

__ADS_1


“ Semoga kamu juga bisa memahami sikap papa ya nak, mama sedang berusaha buat dia mengakui kamu sebelum kamu lahir nanti.”


__ADS_2