Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Kebahagiaan Kamu


__ADS_3


Jingga kebingungan mencari botol obat pemberian Qania, dia sudah mencari berkali-kali di dalam tasnya namun tidak ketemu. Dia sangat yakin kalau botol obat itu dia simpan di dalam tasnya, namun dia tidak bisa menemukan botol tersebut.


Di luar sana Arkana sudah sangat bersemangat untuk berangkat ke stadion, Jingga mencoba untuk tetap tenang agar dia tidak merasakan sesak yang beberapa saat lalu di rasakan olehnya.


“ Mungkin nggak apa-apa kalau aku nggak minum obatnya sekarang” ucap Jingga menatap dirinya di depan cermin.


Tok…tok…tok..


“ Kamu lama banget? Nanti kita telat nih, jalanan pasti macet karena banyak yang mau nonton juga.” Suara Arkana diluar sana segera membuat Jingga untuk bergegas keluar dari kamar mandi.


“ Ngapain sih? Lama banget.” Keluh Arkana saat Jingga sudah berada di luar.


“ Maaf mas, barusan aku mules jadi lama deh.” Balas Jingga terpaksa bohong.


“ Kamu baik-baik aja kan?” Tanya Arkana memperhatikan wajah Jingga yang tampak sedikit pucat.


“ Aku baik, yuk berangkat sekarang.” Ajak Jingga segera mengajak Arkana keluar dari kamar hotel.


**


Jingga dan Arkana sudah tiba di stadion Wanda metropolitan Madrid, yang merupakan tempat di selenggarakannya pertandingan final liga champion UEFA kali ini.


Arkana sangat mengidolakan club bola Liverpool sejak dulu, namun karena terhalang oleh mamanya dia tidak bisa melanjutkan kegemarannya dengan sepak bola.


Berkat Jingga akhirnya dia bisa datang ke tempat itu dan menyaksikan sendiri pemain kesukaannya dalam bertanding memperebutkan kemenangan, sejak mereka berdua masuk ke dalam terlihat begitu jelas ekspresi bahagia dari seorang Arkana.


Hari ini dia memakai jersey Liverpool sebagai bentuk dukungan untuk club favoritenya, sedangkan Jingga hanya menggunakan sebuah wirstband dari Liverpool.


“ Gila, ini keren banget. Seumur hidup aku baru kali ini datang ke stadion bola, benar-benar mimpi jadi kenyataan.” Seru Arkana berdecak kagum.

__ADS_1


Jingga hanya bisa tersenyum senang melihat bagaimana Arkana sangat menikmati suasana hari ini, dia bahkan lebih semangat dari semalam dan tidak sabar untuk melihat langsung pertandingannya.


Pembukaan liga champion pun di laksanakan cukup meriah sampai di mulainya pertandingan pertama yakni Liverpool melawan Tottenham, Arkana sudah semakin bersemangat hingga kedua bola matanya terus fokus pada pertandingan di depannya.


“ Mas Arka kelihatan senang banget, aku harus mengabadikan moment ini biar dia bisa lihat seperti apa dia ketika dia menikmati dunianya sendiri.” Benak Jingga yang diam-diam merekam aksi Arkana.


“ GOOLLLL.” Seluruh pendukung Liverpool bersorak kompak merayakan gol pertama bagi club favorite mereka.


Jingga lebih suka memperhatikan bagaimana Arkana dalam menikmati pertandingan dari pada menyaksikan pertandingan itu sendiri, merasa sudah puas merekamnya dia pun menyimpan ponselnya kembali dan melihat suasana di lapangan yang masih lanjut bertanding.


Jingga tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh dari dirinya, dada sebelah kirinya mendadak nyeri yang tak tertahankan. Ini bukan sesak yang biasa dia rasakan, rasanya cukup sakit untuk sekedar bergerak ke samping.


“ Aku harus keluar dari stadion, mas Arka nggak boleh tahu kalau aku lagi nggak enak badan. Tapi, rasanya untuk bangkit dari tempat ini pun sangat sulit.” Benak Jingga berusaha mengatur nafasnya dengan pelan-pelan.


Butuh sepuluh menit untuk Jingga bisa bergerak bebas, dan saat itu dia sudah harus beranjak dari sana. Jingga melirik Arkana dan menarik lengannya sebentar, pria itu menoleh dan menatapnya bingung.


“ Aku mau ke toilet, kamu disini sendirian nggak apa-apa kan.?” Tanya Jingga.


Saat itu ada seorang pria setengah baya yang kebetulan lewat dan menanyakan keadaan Jingga, namun karena tidak mengerti bahasanya dia pun hanya bisa diam menahan rasa sakitnya.


Samar-samar Jingga mulai tidak bisa melihat pria di depannya dengan jelas, dia tahu kesadarannya akan segera hilang. Rasanya sangat sulit untuk bernafas dengan baik untuk sekarang, dia hanya berharap pria itu mau berbaik hati membawanya ke rumah sakit.


**


Pria itu berdiri di depan ruang gawat darurat sambil mengepal kedua tangannya dengan kuat, sudah dua puluh menit dia menunggu diluar dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda seseorang keluar dari ruangan itu.


“ Pak Arka, maaf saya telat. Ini botol obat bu Jingga ketinggalan di mobil saya, kayaknya obat itu penting untuk bu Jingga.” Ucap Mike yang merupakan tour guide mereka.


“ Obat? Tapi setahuku dia tidak minum obat.” Arkana terlihat bingung di buatnya.


Botol yang di tangannya tidak ada tulisan apapun, dan di dalamnya ada beberapa kapsul yang selama ini tidak pernah di lihat oleh Arkana sebelumnya.

__ADS_1


Seorang pria berjas putih baru saja keluar dari ruangan itu, kemudian dia menjelaskan kepada Arkana bahwa Jingga akan melakukan tes darah untuk mengetahui keadaannya lebih lanjut.


Dokter juga menjelaskan bahwa kondisi janin baik-baik saja, namun untuk saat ini sang ibu lah yang harus di khawatirkan. Jantungnya melemah saat dia datang ke rumah sakit, namun sekarang sudah kembali normal berkat pertolongan dari para dokter.


“ Lakukan dok, apapun yang harus di lakukan untuk istri saya silahkan di lakukan.” Ucap Arkana.


“ Baik pak, kami permisi untuk memindahkan nyonya Jingga ke ruang perawatan.”


Arkana terdiam di tempatnya setelah mendengar kalau jantung Jingga bermasalah, dia kemudian teringat dengan ucapan dokter Nala waktu itu. Dokter Nala memang menyuruhnya membawa Jingga periksa ke dokter spesialis jantung, tapi tidak dia lakukan karena baginya itu bukan urusannya.


**


Perlahan namun pasti Jingga mulai membuka kedua matanya, dia merasakan hal aneh masuk ke dalam hidungnya dan saat itu juga dia sadar kalau ada selang oksigen yang terpasang di sana.


Jingga mencoba mengingat apa yang terjadi, dan dia langsung teringat tentang Arkana. Pintu pun terbuka, sosok Arkana muncul dengan ekspresi yang tidak dapat di jelaskan oleh kata-kata.


“ Kamu kenapa nggak bilang sama aku kalau kamu minum obat untuk jantung.?” Tanya Arkana menatap Jingga serius.


“ Mas, aku..” Jingga tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat ini, dia masih merasakan nyeri di dadanya untuk beberapa saat.


“ Lupakan, aku nggak peduli kamu sakit atau nggak. Tapi setidaknya kamu bilang ke aku, kalau mama tahu soal ini dia pasti akan salahin aku.”


“ Aku nggak akan bilang ke mama, kamu..nggak usah, khawatir.” Jawab Jingga terbata-bata.


“ Jadi kamu mau rahasiain semua ini ke mama.?” Tanya Arkana di balas anggukan sekali dari Jingga.


“ Dokter sedang memeriksa darahmu, kita belum tahu dengan pasti sebenarnya kamu sakit apa. Jadi tunggu sampai hasilnya keluar, semoga saja bukan jantung.” Ucap Arkana lirih.


“ Qania tahu hasilnya, aku sudah periksa sekali di dia. Kamu bisa hubungi dia mas.”


“ Qania tahu soal ini? jadi obat ini dia yang kasih ke kamu.?” Arkana menunjukkan botol obat yang sempat hilang di hadapan Jingga.

__ADS_1


“ Iya mas, itu dari Qania.” Jawab Jingga kemudian.


__ADS_2