
Dua minggu yang lalu, ketika Bima sekarat dan harus melanjutkan perawatannya di ruang ICU, pada saat yang bersamaan Jingga juga mengalami penurunun kondisi yang tidak stabil. Arkana di buat bingung dengan posisinya yang harus melihat dan menemani siapa terlebih dulu.
Sejak saat Bima sekarat dirinya sudah tidak pernah bangun lagi, dokter mengatakan bahwa dia sudah mengalami fase vegetative state atau kondisi dimana otak seseorang sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran.
Mama Widya menjadi satu-satunya orang yang di perbolehkan untuk masuk menemani Bima, dia senantiasa menjaga dan menemani putranya hingga lupa waktu untuk istirahat.
Tangisnya sudah tidak tampak lagi karena dia sudah menangis sebelumnya hingga tidak berhenti, sekarang hanya ada ekspresi datar seperti kehilangan perasaan apapun.
Selama satu minggu di rumah sakit, Jingga yang mengakami kondisi paling buruk membutuhkan secepatnya pendonor untuk menyelamatkannya dari kematian.
Arkana sudah berusaha mencari pendonor yang cocok, namun dia tidak berhasil mendapatkannya. Sampai pada akhirnya dia waktu yang tepat, dokter Ririn yang merupakan dokter Bima saat di Bandung datang menyampaikan sebuah pernyataan yang mengejutkan.
“ Bima meminta saya untuk menyampaikan permintaannya secara langsung di hadapan kalian semua.” Ucap dokter Ririn di depan Arkana, papa Aidan, dan juga mama Widya.
“ Katakan dok.” Sahut papa Aidan kemudian.
“ Bima ingin memberikan jantungnya kepada Jingga saat kondisinya sudah tidak dapat tertolong lagi.” Lanjut dokter Ririn sontak membuat semua orang terkejut.
“ Nggak, saya nggak terima kalau jantung anak saya di kasih ke orang lain. Dia belum meninggal, masih ada kesempatan untuknya hidup.” Sahut mama Widya jelas tidak terima dengan hal tersebut.
Sejak saat dokter Ririn menyampaikan permintaan Bima beserta bukti bahwa dia sudah menyetujui donor jantung itu, tetap saja mama Widya tidak menerimanya. Dia bahkan semakin menjaga ketat kamar Bima dari siapapun, sementara Jingga sudah tidak bisa menunggu lagi dan harus segera melakukan operasi selambat-lambatnya 24 jam dari sekarang.
Arkana pun merasa bingung dan tidak tahu lagi harus berbuat apa, dia sampai menangis di depan papa Aidan saking frustasinya memilih pilihan yang begitu berat. Dia tidak ingin kehilangan sosok kakak laki-lakinya, dan dia pun tidak ingin sampai kehilangan sosok istrinya.
Beberapa jam setelah itu, Bima di nyatakan meninggal dunia. Mama Widya yang sangat syok sampai pingsan di tempat setelah berteriak histeris melihat kepergian putra tersayangnya.
Di saat mama Widya pingsan, para Dokter mengambil tindakan secepat mungkin untuk melakukan pencangkokan jantung. Arkana sendiri masih syok sampai tidak bisa melihat kondisi Bima yang sebentar lagi akan menyelamatkan nyawa Jingga.
**
Wanita itu terbangun dari tidurnya dan menyadari di tangannya ada sesuatu yang menempel, cairan infus yang terpasang di tangan kananya serta seorang pria setengah baya yang tertidur tepat di sebelahnya.
“ Anakku, dimana anakku.?” Widya sadar dan berusaha mencari Bima saat itu juga.
Hendra terbangun dari tidurnya dan segera menahan Widya agar tidak turun dari tempat tidur, bahkan ketika Widya hendak melepas tali infusnya dengan cepat Hendra menahan pergerakan Widya sambil memeluk wanita itu dengan erat.
__ADS_1
“ Kamu harus istirahat lebih, kondisimu sedang memburuk.”
“ Lepasin aku, aku mau ketemu anakku.”
“ Widya, dengar, dengarkan aku sebentar.!!!” Ucap Hendra dengan nada yang cukup tinggi sambil menatap Widya serius.
“ Bima sudah meninggal, kamu pingsan setelah melihatnya menghembuskan nafas terakhir. Dan sekarang kondisi kamu sedang tidak baik, kamu harus di rawat selama beberapa hari.”
Kata-kata yang di ucapkan oleh Hendra terdengar menyakitkan di telinga Widya, dia sampai sulit mengekspresikan emosinya saat itu. Dari wajah yang datar berubah menjadi tawa yang cukup keras.
“ Kamu pasti bercanda kan, anakku tidak mungkin meninggal. Bima sudah janji untuk tetap bersamaku sampai akhir, jangan coba-coba menipuku.”
Widya lepas kontrol saat itu juga, dia terus tertawa seperti seseorang yang telah kehilangan kewarasannya. Dari tawa menjadi tangisan yang meraung-raung, Hendra yang tidak tahan melihatnya segera memberikan obat bius agar membuat Widya dapat merasa tenang kembali.
**
Kematian Bima benar-benar membuat Widya tidak mempercayainya, dia kembali ke rumah setelah Bima selesai di makamkan tanpa datang menghadiri pemakamannya.
Semua kehidupannya berjalan sebagaimana mestinya, emosinya naik turun dan dia selalu lepas kendali di saat sendirian. Dia menolak untuk bertemu dengan siapapun, bahkan Hendra sekalipun.
“ Nyonya, sudah waktunya makan.” Bi Ijah datang membawa makanan untuk Widya, dia melihat keadaan kamar yang hancur bak kapal pecah.
Bi Ijah berjalan melewati kepingan barang-barang yang sudah pecah, gorden yang sobek, serta barang-barang lain yang di biarkan terhambur dimana-mana.
“ Bi, Bima udah makan kan.?” Tanya mama Widya dengan mata sembab sambil menatap sebuah foto Bima ketika masih berusia satu tahun.
“ Sudah nyonya, den Bima baru saja pergi kerja.” Balas bi Ijah yang terpaksa harus berbohong kepada Widya.
“ Kalau Bima udah pulang, kabarin saya ya.”
“ Siap nya, tapi tolong makanannya di makan ya, nanti den Bima marah.”
“ Taro aja disitu, nanti saya makan.”
Bi Ijah sudah bertemu dengan Hendra dan seorang psikolog sebelumnya, karena yang dapat menemui Widya hanya bi Ijah, maka bi Ijah di minta untuk memantau keadaan serta memberikan perhatian yang dapat membuat kondisi Widya tetap normal.
Psikolong yang di bawa Hendra menemui bi Ijah waktu itu merupakan seorang psikolog yang ahli dalam penangan masalah mental. Telah di nyatakan bahwa Widya memang mengidap Bipolar yang cukup parah pada tingkatannya.
__ADS_1
Dan untuk membuat depresinya berhenti, biasanya bi Ijah akan memasukkan obat ke dalam minuman Widya sehingga hal itu dapat membantu emosinya lebih terkontrol kembali.
**
Masa kini..
“ Ma, ini Arka.”
Mendengar suara yang tidak asing baru saja terdengar membuat Widya tidak bergeming sebelumnya, posisi duduk Widya juga tidak menghadap ke depan, tapi menghadap ke samping membelakangi Arkana yang saat ini berdiri di belakangnya.
“ Aku datang dengan Keenan dan Jingga.” Sahut Arkana sekali lagi.
“ Jingga?” Benak Widya mulai bergeming.
Nafas Widya mulai menggebu-gebu, dadanya juga sesak, diikuti kedua mata yang terasa memanas sampai akhirnya mengeluarkan cairan bening.
Kesal.
Marah.
Sedih.
Perasaan itu mendominasi dengan mudahnya karena mendengar nama Jingga di sebut, terdengar sepele tapi susah di tangai oleh Widya yang mengalami gangguan bipolar.
“ Pergi dari sini sekarang, pergi.!!!” Akhrinya Widya mengeluarkan kata-kata yang sudah di tebak oleh Arkana sebelumnya.
“ Kami minta maaf ma, tolong jangan kaya gini.” Sahut Arkana berusaha meluluhkan hati mamanya.
Setelah ucapan itu keluar, hening kembali hadir. Mengisi ruang di antara keduanya, sebelum lagi-lagi Widya kembali berteriak.
“ Jangan panggil aku mama, pergi sekarang. Pergi.” Sentaknya sambil mendorong Arkana keluar dari kamarnya.
Arkana sudah berusaha untuk menahan dan mengendalikan emosi mamanya yang semakin tidak stabil, dan sekarang Arkana berhasil menahan pergerakan mamanya sambil menatapnya tajam.
“ Mama nggak sendiri, ada aku, curahkan semua perasaan mama ke aku. Biar aku yang mendengarkan semua perasaan mama selama ini, mama butuh teman ngobrol kan? Mama harus ingat, mama nggak sendirian.” Kata Arkana yang membuat mama Widya terlihat diam untuk beberapa saat.
__ADS_1