Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Medication Error


__ADS_3


Arkana sudah kembali ke kamar Jingga, dia terlihat begitu senang menghampiri istirnya sampai membuat Jingga bingung. Arkana duduk di samping Jingga sambil menyentuh perut Jingga dengan lembut, Jingga meminta Arkana untuk menjelaskan keadaan Qania saat ini.


“ Anak kita nanti akan punya teman.”


“ Maksud kamu mas.?”


“ Qania hamil.”


“ Serius? Qania hamil mas.?”


“ Iya, kata dokter Nala usia kandungannya sudah berjalan 3 minggu.”


“ Aku mau ucapin selamat sama Qania mas.”


“ Nanti aja, dia lagi sama suaminya sekarang.”


Suara ketukan pintu baru saja membuat pandangan mereka tertuju pada pintu masuk, saat itu kemunculan Bima dan seorang wanita yang tidak mereka kenal membuat Jingga dan Arkana saling menatap satu sama lain.


“ Maaf kalau kami nggak bilang kalau mau datang.” Sahut Bima yang mulai melangkah masuk bersama wanita di sampingnya.


Jingga menyentuh tangan Arkana yang membuat pria itu langsung menatapnya, Jingga memberikan kode dari tatapan matanya untuk tidak bertindak impulsif lagi.


“ Waktu itu Arkana dan kamu tidak datang ke rumah saat aku memperkenalkan dia dengan mama dan om Hendra, jadi aku datang kemari untuk memperkenalkan kalian berdua.” Ucap Bima melirik wanita yang ada di sampingnya.


“ Kenalin, aku Zara pacarnya Bima.” Wanita itu menyodorkan tangannya pada Jingga terlebih dulu lalu pada Arkana.


“ Jingga ini istrinya adik aku, dan ini Arkana adik laki-laki yang selalu aku cerita ke kamu.” Sahut Bima.


“ Senang bertemu dengan kalian berdua.” Kata Zara sambil tersenyum simpul.


Jingga sendiri tidak tahu kalau ternyata ada pertemuan keluarga sebelumnya, Arkana tidak memberitahu apapun meskipun dia sudah tahu sebelumnya. Tapi Jingga merasa sedikit lebih tenang mengetahui Bima sudah memiliki kekasih, itu artinya Arkana tidak akan cemburu lagi jika Bima bertemu dengannya.


“ Bagaimana keadaan kamu Jingga.?” Tanya Bima.


“ Baik kok mas.” Balas Jingga.

__ADS_1


Sudah waktunya untuk Jingga mendapatkan perawatan ketika seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu, alhasil Bima dan Zara harus pamit undur diri. Setidaknya mereka sudah saling berkenalan, dan hari ini Arkana terlihat jauh lebih tenang dari biasanya.


**


Seorang wanita yang bertugas di bagian apoteker rumah sakit baru saja mendapat keranjang obat yang masih berada di atas meja, dia melihat nama seorang pasien yaitu Nitaria Jingga dan membuatnya langsung keluar membawa keranjang obat itu keluar.


“ Ini obat Ny. Jingga kenapa masih disini? Bukannya tadi saya sudah kasih petugas untuk memberikan obatnya tiga jam yang lalu? Pasien nggak boleh telat mendapatkan suntikan obatnya, ini kenapa bisa sampai begini.?”


“ Coba saya cek ke petugasnya dulu.”


Pria itu mencoba menghubungi petugas yang bertugas memberikan obat kepada Jingga hari ini, panggilan berhasil di lakukan dan petugas di seberang sana menjelaskan bahwa pasien telah menerima obatnya dari tiga jam yang lalu.


“ Katanya sudah di kasih ke pasien dari tiga jam yang lalu.”


“ Apa? Dia kasih obat apa sedangkan obatnya masih disini.?”


Keduanya saling menatap dengan panik, hal ini tentu bisa menjadi masalah besar sampai menimbulkan medication error yang merupakan suatu kejadian yang dapat membahayakan keselamatan pasien.


**


Jingga menatap kedua tangannya bergetar cukup hebat yang jarang terjadi padanya, selain itu dia juga merasa sangat lemas dan sedikit pusing. Kemudian dia merasa ingin buang air kecil, Arkana sedang tidur di sofa dan dia tidak ingin membangunkannya hanya karena dia ingin ke kamar kecil.



Arkana bangun saat mendengar suara orang terjatuh, dia mulai panik dan beralih menghampiri Jingga. Saat ini Jingga masih sadar meskipun kesulitan untuk bicara, Arkana kembali menggendong tubuh istrinya untuk kembali ke tempat tidur.


“ Apa yang kamu rasain?” Tanya Arkana setelah membantu Jingga berbaring.


“ Dingin mas, aku juga merasa pusing dan lemas.” Jawabnya pelan.


Arkana tidak tahu harus melakukan apa dengan kondisinya kali ini, dan tidak mungkin kondisinya ini karena efek obat yang di berikan. Karena sebelumnya jika mendapat pengobatan Jingga tidak pernah merasa seperti itu.


Arkana segera memanggil perawat untuk memastikan sesuatu, tak lama setelah itu perawat pun masuk ke dalam kamar dan Arkana meminta mereka untuk membawa keranjang obat yang di berikan kepada Jingga beberapa jam yang lalu.


“ Ini dok.” Perawat itu telah kembali membawa obat yang sebelumnya di berikan kepada Jingga.


Arkana tahu resep obat yang di berikan kepada Jingga sebelumnya, sehingga dia hanya ingin memastikan apakah benar obatnya telah sesuai dengan anjuran yang di berikan dari para dokter yang menanganinya.

__ADS_1


“ Ini resep dari siapa.?” Tanya Arkana.


“ Dokter Qania, dok.” Jawabnya pelan.


Arkana melihat komposisi yang terkandung dalam obat itu merupakan obat yang mengandung glibenclamide sebagai antibidetik untuk menurunkan kadar gula darah, sedangkan obat yang di anjurkan untuk di berikan kepada Jingga merupakan Clopidogrel yang berfungsi untuk melancarkan peredaran darah.


“ Panggil semua orang yang bertugas dalam penanganan obat-obatan, sekarang.!!!” Arkana terlihat sangat kesal dan marah setelah mengetahui ada kesalahan dalam pemberian obat untuk Jingga.


“ Ada apa mas.?” Tanya Jingga yang masih berusaha menahan perasaan aneh dalam tubuhnya.


“ Kamu salah di berikan obat, tunggu sebentar ya. Kalau ada sesuatu yang aneh cepat kasih tahu aku.” Jawab Arkana di balas anggukan pelan dari Jingga.


**


Dua orang dari apoteker, satu petugas pembawa obat, perawat yang memberikan obat, dan Qania baru saja di berkumpul di satu ruangan pertamuan. Sementara itu dokter Inka sedang menangani Jingga, gula darah yang rendah mengakibatkan Jingga merasa lemas dan pusing sehingga dia harus segera mendapat pertolongan.


Qania tidak tahu kalau ternyata ada kesalahan resep sebelumnya, dia sudah memastikan sebelumnya kalau obat untuk Jingga sesuai dengan tujuan pengobatannya. Dia tidak tahu kenapa pihak farmasi bisa salah memberikan kepada pertugas yang memberikannya langsung kepada Jingga.


“ Kami benar-benar minta maaf dok karena telah salah memberikan obatnya.” Ucap salah seorang farmasis.


“ Saya juga minta maaf dok, saya hanya menjalankan tugas untuk memberikan obat pada pasien.” Lanjut perawat.


Arkana ingin memastikan semuanya dengan jelas, dia sudah menghubungi pihak keamanan untuk memberikan hasil rekaman cctv di apoteker. Dan saat di putar, pada rekaman tersebut terlihat farmasis satu memberikan obat pada petugas dengan benar.


Dan dari rekaman lain menunjukkan petugas itu berhenti di sebuah ruangan sambil membawakan obat, kemudian tak lama setelah itu dia pergi. Karena cctv di ketiga tidak berfungsi dengan baik, mereka tidak bisa mengetahui apa yang terjadi setelah itu.


“ Saya bersaksi dok kalau obatnya tidak tertukar saat saya membawanya, dan benar-benar menyesal karena kejadian ini.” Sambung petugas yang membawakan obat pada perawat.


“ Kau yakin tidak bertemu siapapun disana?” Tanya Qania.


“ Saat itu saya memang bertabrakan dengan seorang suster dan membuat obatnya terjatuh, tapi saya langsung memungutnya kembali dan saya tidak memperhatikan wajahnya karena saya harus membawa obatnya tepat waktu. “ Jelasnya kembali.


“ Ini sangat aneh, tapi bagaimana caranya kita bisa tahu kalau rekaman cctvnya tidak berfungsi.” Benak Qania.


“ Dengar, saya sudah cukup bersabar untuk kesalahan yang fatal ini. Kalian bisa mendapat sanksi berat dari atasan kalau masalah ini sampai di telinga mereka, tapi saya masih memikirkan pekerjaan kalian yang sudah banyak membantu di rumah sakit ini. Jadi saya ingin hal ini tidak akan pernah terjadi lagi, kalian mengerti.?”


“ Mengerti dok.” Jawab semuanya dengan kompak.

__ADS_1



__ADS_2