
Arkana terpaksa harus mendengar ucapan kakaknya, dia tidak bisa menemui Jingga dalam keadaan seperti ini. Tapi untuk menyembuhkannya pun pasti akan memakan waktu yang cukup lama, Jingga pasti akan curiga jika terus di bohongi.
“ Bisa kita bicara sebentar? Aku penasaran bagaimana kau bisa berakhir seperti ini, siapa yang melakukannya.?” Tanya Bima menatap Arkana lurus.
“ Kau berpihak pada mama kan?”
“ Aku nggak berpihak sama siapa-siapa, kamu dan mama sama-sama berharga buatku. “
“ Mama yang melakukannya.”
“ Terus kenapa kau mau menerima di perlakukan seperti ini? kau itu sudah dewasa, bukan anak-anak lagi.”
Arkana menatap Bima dengan tatapan kesal, ucapan Bima terdengar sangat mudah di ucap karena bukan dia yang mengalami kehidupan bersama mamanya yang penuh dengan penderitaan.
“ Maafin aku kalau selama ini kamu banyak mengalami masalah, aku nggak tahu kalau semuanya akan berakhir seperti ini.” Sahut Bima yang tiba-tiba sadar bahwa bukan itu yang ingin di dengar oleh Arkana.
Bima sudah tidak bisa menanyakan apapun pada Arkana, sebagian kisahnya sudah dia tahu dari Hendra. Bertanya pada Arkana pun belum tentu akan di jawab, Arkana sangat sensitif jika membahas soal masa lalunya.
“ Kau mau ketemu sama papa nggak? Dia kangen sama kamu, terakhir kali ketemu dia bilang sama aku kalau aku harus ajak kamu ketemu sama dia.” Ucap Bima tiba-tiba.
“ Dia bahkan bukan papa kandungku, nggak ada alasan buatku ketemu sama dia.” Balas Arkana.
“ Kandung atau bukan, tapi dia masih menganggap kamu sebagai anaknya. Kamu mau kan ketemu sama papa.?”
Arkana tidak menjawab apapun, sejujurnya dia tidak benar-benar membenci papa Aidan karena sejak kecil dia mendapatkan kasih sayang yang lebih dari pria itu.
“ Hp ku mana? Aku mau lihat apa ada pesan dari Qania atau tidak soal Jingga.?” Pinta Arkana mengalihkan pembahasan untuk malam ini.
Bima segera beranjak dari tempatnya menuju sebuah meja yang ada di dekat mereka, kemudian dia meraih ponsel Arkana dan mengembalikannya kepada pria itu.
“ Aku mau kembali ke kamar.” Ucap Arkana beranjak pelan-pelan dari hadapan Bima.
**
Arkana baru saja menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia masih memikirkan ucapan Bima untuk menemui papa Aidan. Tak hanya itu, dia juga memikirkan kondisinya dan juga Jingga, ada banyak hal yang bersarang di kepalanya sekarang dia dia sangat lelah memikirkan semua itu.
Arkana menatap layar ponselnya, ada panggilan tak terjawab dari Qania sekitar beberapa menit yang lalu. Karena penasaran dia mencoba untuk menghubunginya kembali, perasaannya mendadak tidak enak dengan panggilan tak terjawab itu.
“ Halo.?” Terdengar suara Qania di seberang sana yang itu artinya dia belum bangun.
“ Nia, ini aku Arkana.” Jawab Arkana lirih.
__ADS_1
“ Kamu udah sadar Ar? Ya ampun, aku khawatir banget sama kamu.”
“ Kamu tahu dari mana aku nggak sadar sejak tadi.?”
“ Dari Kak Bima, dia yang jelasin ke aku kalau kamu mengalami kecelakaan dan nggak sadarkan diri. Gimana keadaan kamu sekarang? Kamu baik-baik aja kan.?”
“ Jingga tahu nggak soal ini.?”
“ Nggak kok, dia tahunya kamu lagi lembur di rumah sakit.”
“ Tolong jangan kasih tahu apa-apa ke dia, aku nggak mau kondisinya ngedrop karena aku.”
“ Kamu tenang aja, aman kok.”
“ Gimana keadaan Jingga sekarang.?”
“ Dia udah tidur, tapi barusan dia bangun dan nangis karena khawatir sama kamu. Dia kangen sama kamu Ar, besok kamu bisa pulang lihat dia kan.?”
“ Nggak bisa Nia, kondisi wajahku sekarang nggak bisa buat di tunjukin ke Jingga.”
“ Sebenarnya kamu kecelakaan apa si Ar? Seberapa parah.?”
“ Kamu mungkin kaget kalau lihat kondisiku sekarang, tapi aku nggak apa-apa kok. Aku mau fokus menyembuhkan lukaku, jadi selama itu tolong temani Jingga ya.”
Dan panggilan mereka pun harus berakhir mengingat sekarang sudah memasuki pukul 3:00 pagi, Arkana tidak ingin mengganggu Qania apalagi sekarang dia sedang hamil dan pastinya butuh waktu istirahat yang banyak.
**
Arkana kembali membuka matanya setelah dia tidur selama lima jam, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 8:00 pagi dan dia merasa tidak kelelahan lagi setelah cukup banyak tertidur kemarin.
Dia bangun dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi, setelah selesai membersihkan tubuhnya dia kembali berdiri di depan cermin sambil menatap wajahnya yang lebam akibat pukulan orang-orang kemarin.
Di butuhkan sekitar dua minggu untuk membuat wajahnya kembali normal, tapi waktu dua minggu sangatlah lama untuk membohongi Jingga. Arkana juga merasa tidak tahan untuk berjauhan dari Jingga, semuanya semakin membingungkannya.
“ Aku harus menelponnya sekarang, dia pasti khawatir walaupun di beritahu kalau aku sedang lembur.”
Arkana baru saja keluar dari kamar mandi, dia meraih ponselnya dan mulai menghubungi nomor Qania, setelah beberapa saat akhirnya panggilan tersebut di jawab oleh Qania.
“ Halo Nia? Bisa tolong kasih ke Jingga sebentar.?”
“ Halo mas, ini aku Jingga.”
Hanya mendengar suara Jingga saja rasanya Arkana ingin memeluk dan mendekapnya dengan lama, dia pun sangat merindukan sosok istrinya itu sampai berusaha menahan emosinya dengan kuat.
__ADS_1
“ Kamu apa kabar? Baik-baik aja kan?”
“ Aku baik mas, kamu sendiri gimana? Kapan pulang ke rumah.?”
“ Aku belum bisa pulang ke rumah, tugas di rumah sakit padat banget. Maafin aku ya.”
“ Nggak usah minta maaf, aku ngerti kok. Kemarin aku khawatir karena aku nggak bisa tahu kabar kamu, hpku masih ada sama kamu jadi aku hanya bisa menunggu Qania yang kasih tahu ke aku tentang kabar kamu.”
“ Maaf ya, untuk sementara waktu kita komunikasinya lewat hp Qania dulu.”
“ Iya, tapi kamu yakin nggak mau pulang ganti baju hari ini?”
“ Kamu bisa nggak kirim lewat kurir aja? Soalnya aku benar-benar nggak bisa pulang ke rumah.”
“ Gitu ya? Ya udah deh, nanti aku suruh kurir buat bawa baju kamu ke rumah sakit.”
“ Kamu serahin ke Qania aja ya, kamu lagi hamil besar jadi jangan banyak gerak. Apalagi aku nggak bisa ada disana temenin kamu.”
“ Iya mas, terima kasih ya kamu sudah nelpon.”
“ Aku yang terima kasih, suara kamu buat aku semakin bersemangat.”
Suara ketukan pintu baru saja membuat Arkana menoleh, dan ternyata sosok Bima sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan lurus ke arahnya.
Arkana pun mengakhiri percakapannya dengan Jingga, kemudian kembali fokus pada kakaknya itu.
“ Waktunya sarapan, aku sudah buatin makanan kesukaan kamu.” Lontar Bima lirih.
Saat Bima hendak kembali ke ruang makan, tiba-tiba saja Arkana menyahut.
“ Aku mau pergi dari tempat ini nanti siang.”
“ Kenapa buru-buru? Aku sudah bilang kan jangan pergi menemui Jingga dalam keadaan seperti ini.?”
“ Bukan itu, aku hanya nggak mau tinggal disini.”
“ Terus kamu mau tinggal dimana.?”
“ Aku akan mencari tempat tinggal sementara sampai kondisiku pulih.”
“ Nggak usah, kamu biar disini aja sampai sehat. Biar aku yang pergi, apartemen ini pemberian papa jadi kamu nggak perlu sungkan. Sarapan dulu gih, nanti siang aku harus berangkat kerja jadi kamu bisa menggunakan tempat ini sepuas kamu.”
__ADS_1