Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Pelaku Sebenarnya


__ADS_3


Wanita itu menatap sebuah rumah besar di hadapannya dengan penuh kebencian, dia mengepal kedua tangannya dengan kuat sebelum akhirnya menyuruh supir pribadinya untuk turun dan meminta akses untuk masuk ke dalam.


“ Nyonya, di sekitaran rumah telah di jaga oleh beberapa orang asing.” Ucap pak Jefri.


“ Turun, dan bilang kalau saya mau bertemu dengan Arkana.” Titah mama Widya.


Pak Jefri pun turun dari mobil dan menemui beberapa dari mereka, mama Widya masih duduk di dalam mobil dengan suasana hati yang buruk. Tak lama setelah itu pak Jefri pun kembali, dia berkata bahwa mama Widya tidak di perbolehkan masuk ke dalam.


“ Dasar anak itu.” Mama Widya yang kesal akhirnya turun dari mobilnya dan menemui mereka yang tengah berjaga.


“ Buka pintu pagarnya sekarang.” Perintah mama Widya pada mereka.


“ Maaf bu, kami sudah di perintah untuk tidak membiarkan anda masuk ke dalam.”


“ Kalau begitu beritahu tuan kalian, jika dia tidak membiarkan saya masuk. “ Belum sempat mama Widya melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja pintu pagar terbuka dan memunculkan sosok Arkana yang keluar dengan mobilnya.


Melihat kehadiran mama Widya disana lantas membuat Arkana segera turun dari mobilnya, dia tidak membiarkan bi Salma turun dari mobil dan memintanya terus menjaga Keenan sampai dia kembali.


“ Ada apa mama datang kemari.?” Tanya Arkana yang kini sudah berdiri di hadapan Arkana.


Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di wajah Arkana, bagi Arkana rasa sakit dari tamparan itu tidak begitu terasa dan dia merasa bahwa rasa sakit di hatinya jauh lebih besar.


“ Berani sekali kamu melaporkan Bima atas tuduhan penculikan Jingga, nggak ada alasan Bima buat menculik istri kamu itu. Dia sudah punya calon istri sendiri, untuk apa dia merebut istri yang seperti Jingga itu.”


“ Jaga ucapan mama. Jingga adalah istri terbaik yang pernah ada, bahkan dia lebih baik dari mama. Dan mama jangan sok tahu soal Bima, bahkan mama nggak pernah mengenal anak mama 100 % dengan baik. “


“ Kamu berani mendikte mam.?”


“ Mama seharusnya sadar, kenapa mama jadi lebih menjadi-jadi sekarang? Papa Hendra sudah mengajukan gugatan, dan sekarang mama masih saja memiliki sifat sombong dan keras kepala seperti itu. Memangnya mama mau hidup sendiri? “

__ADS_1


Mama Widya terlihat begitu menahan emosinya, dia menatap wajah Arkana dengan sangat marah. Kemudian dari rasa marah menjadi tawa yang aneh, mama Widya tertawa seperti baru saja mendengar jokes dari Arkana.


“ Mama pastikan, yang bakal nggak bahagia duluan itu kamu.” Kata mama Widya yang akhirnya pergi meninggalkan Arkana.


Arkana menatap kepergian mama Widya dengan tatapan sendu, dia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi mamanya itu. Kemudian Arkana sadar bahwa dia harus segera ke rumah sakit untuk membawa Keenan check up mingguan.


**


Wanita itu kembali mendatangi sebuah rumah yang jauh dari perkotaan, dia bersama supir pribadinya memasuki rumah yang di kelilingi oleh beberapa orang berpakaian serba hitam.


Melihat kedatangan nyonya mereka lantas membuat mereka berbaris dan menyambut kedatangannya dengan penuh hormat, kemudian Widya yang baru saja di bukakan pintu oleh salah satu dari mereka tampak menuruni mobilnya dengan tatapan yang serius.


“ Bagaimana dengannya? Apa dia sudah sadar.?” Tanya Widya pada seorang pria yang menjadi pemimpin dari kelompok pria lainnya.


“ Dia sudah sadar nyonya, kemarin saat dia memberontak dokter sudah memberikan obat penenang. Dan obat itu bekerja sangat baik, terbukti akhirnya dia sadar hari ini.”


Widya terus berjalan memasuki rumah besar itu yang merupakan salah satu rumah persembunyiannya selama ini, dia sengaja membeli rumah itu untuk berjaga-jaga dan tidak menyangka akan menggunakan rumah itu untuk menyembunyikan seseorang.


“ Bagaimana keadaan kamu, Jingga.?”


“ Seperti yang mama lihat, aku hanya ingin menunggu mama membebaskan aku dari rumah ini.”


“ Sayang sekali, tapi mama tidak bisa melakukannya.”


“ Kenapa? memangnya apa salahku sampai mama membawaku ke tempat ini.?”


“ Kesalahanmu? Mama tidak berpikir kalau semua ini adalah salahmu, lebih tepatnya ini adalah salah kedua orang tuamu. “


“ Apa yang papa dan mama perbuat sampai mama Widya melampiaskannya ke aku.?”


“ Kau lupa ya, waktu itu umur kamu memang masih kecil. Mungkin sekitar lima tahun, dan aku yang sekarang adalah mama mertuamu dulunya adalah pembantu di rumah kamu.”

__ADS_1


Jingga yang mendengarnya lantas di buat terkejut, dia tidak tahu sama sekali soal itu. Dan jika saat dia berusia lima tahun dan mama Widya pernah menjadi pembantu di rumahnya, tentu saja hal itu tidak di ingat oleh Jingga.


“ Lalu apa salah kedua orang tuaku?”


“ Mama kamu yang menuduhku mencuri waktu itu, dia sengaja melakukannya karena dia mengira aku akan merebut papa kamu darinya. Sejak saat itu, aku nggak pernah lupa bagaimana dia melakukan tuduhan yang tidak benar, dia membuatku malu dan hampir menjebloskan ku ke penjara. Sejak saat itu aku sangat membenci keluarga kalian, dan kamu pikir tujuanku menjodohkan mu dengan Arkana semata-mata karena harta? Kau salah besar, semua ini aku lakukan untuk bisa balas dendam padamu.”


“ Tapi semua itu bukan salah aku ma, kenapa harus aku yang menanggungnya.”


“ Memang bukan salahmu, tapi karena aku nggak bisa balas dendam ke mama kamu, jadi kamu yang harus menanggungnya.”


Jingga menangis mendengar penjelasan mama Widya barusan, sekarang dia pun tahu alasan mama Widya yang sebenarnya. Bahkan Arkana sendiri pun tidak tahu soal ini, ternyata memang semua ini terjadi bukan karena suatu alasan sederhana.


“ Mengetahui Arkana sering melakukan kekerasan sama kamu setelah kalian menikah membuatku tidak perlu repot-repot melakukannya lagi, Arkana secara tidak sadar telah membantuku melakukannya. Dan sisanya aku hanya akan menguras semua harta yang di miliki oleh keluargamu, kau ingat kan waktu itu sudah menanda tangani surat-surat di rumah kalian? Kamu bahkan tidak membaca isinya dan melakukannya dengan ceroboh, sebagai akibatnya semua aset dan properti yang dimiliki oleh orang tuamu semuanya jatuh untuk perusahaanku.”


“ Silahkan ambil semua yang mama inginkan, tapi tolong balikin aku ke mas Arka dan anak aku. Aku nggak butuh harta yang mama inginkan, aku hanya butuh keluarga yang aku punya saat ini.” Ucap Jingga seketika membuat Widya tercekat mendengarnya.


“ Keluarga? Aku bahkan sudah tidak memiliki keluarga yang utuh sekarang, kau pikir keluarga yang kau inginkan bisa kau dapat dengan mudah sedangkan aku harus menderita sekali lagi karena kehilangan mereka? Nggak akan, aku nggak akan membiarkan hal itu terjadi sama kamu.” Benak Widya yang terliha tidak senang pada permintaan Jingga barusan.


“ Asal kamu tahu saja, Arkana sudah membawa bayi kalian ke panti asuhan dan sebentar lagi dia akan menikah dengan wanita lain. Kau harus tahu kalau Arkana akan selalu mendengar apa kata mamanya, jadi jangan pernah berharap kalian bisa bersama lagi.”


“ Mas Arka melakukan itu?”


“ Tentu saja, makanya waktu itu aku sudah membawa surat cerai untuk kau tanda tangani tapi sampai sekarang kau masih belum manandatanganinya.”


“ Aku nggak percaya, mas Arka nggak mungkin melakukan hal itu.”


“ Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas semuanya sudah ku katakan. Sekarang aku harus pergi karena ada urusan lain, sebaiknya kau jangan macam-macam dan bertindak seperti kemarin.”


Ketika Widya pergi dari kamar itu, terlihat Jingga yang masih syok mendengarnya. Selama hampir tiga minggu di kurung di kamar itu, dia belum mendengar kabar apapun tentang Arkana dan juga anaknya. Dan sekarang dia mendengar semua itu dari mama mertuanya, hatinya sedikit sakit tapi dia masih sedikit tidak percaya dengan ucapan barusan.


__ADS_1


__ADS_2