
Festival telah berakhir, kelas Lingga paling banyak memperoleh juara berkat dirinya yang serba bisa. Hampir semua lomba di ikuti olehnya, mulai dari lomba yang mengandalkan fisik hingga mengandalkan otak.
Namun ada yang membuat semuanya terasa kurang, dan entah mengapa Lingga merindukan sosok Sabrina. Gadis itu masih belum masuk sekolah sejak Lingga menemukannya terkurung di toilet sekolah.
Kabarnya Sabrina masih sakit meskipun sudah tidak di rawat di rumah sakit lagi, Lingga cukup penasaran dengan kabarnya. Tapi dia terlalu ragu untuk mengakui bahwa dirinya sedang mencari-cari gadis itu.
“ Gadis itu sudah kapok, mungkin dia sudah keluar dari sekolah ini.”
“ Baguslah, dia hanya menjadi benalu buat Lingga.”
“ Selama dia nggak ada, Lingga bebas kemana pun tanpa dirinya.”
“ Dan sekarang kita juga bisa dekat dengan Lingga.”
Tanpa sengaja Lingga mendengar obrolan tiga orang gadis di belakang kelas, saat Lingga mengintip, rupanya mereka adalah senior satu tingkat di atasnya. Barusan Lingga mendengar sangat jelas bahwa mereka tengah membahas Sabrina.
“ Jadi mereka yang melakukannya, dan semua itu karena aku.” Benak Lingga yang merasa bersalah pada Sabrina.
Lingga dengan berani menghampiri mereka, ketiga gadis itu terkejut melihat kedatangan Lingga dan langsung bersikap manis seolah-olah tidak memiliki salah apapun.
“ Barusan aku dengar kalau kalian mengerjai Sabrina? Jadi benar kalian yang mengurungnya di toilet waktu itu.?” Tanya Lingga menatap mereka satu persatu.
“ Dia lapor sama kamu.?” Tanya gadis berambut ikal.
“ Nggak penting dari mana aku tahu, aku hanya mau tahu apa benar kalian yang melakukannya.?” Ulang Lingga yang terdengar kembali serius.
“ Iya benar, kami melakukannya supaya dia kapok deketin kamu.”
“ Selama ini kamu risih kan karena dia selalu ngikutin kamu kemana pun kamu pergi.”
“ Kata siapa aku risih?” Lontar Lingga sontak membuat mereka bertiga terkejut.
“ Jadi kamu nggak risih di ganggu sama Sabrina.?”
“ Aku nggak pernah bilang risih di ganggu olehnya, justru tingkah kalian yang terlalu jahat buat aku risih. Kalian sangat tega menyakitinya hanya karena dia dekat denganku, aku bahkan bukan milik kalian jadi kalian nggak berhak berbuat seperti itu.” Balas Lingga penuh emosi.
“ Kami minta maaf.”
“ Bukan ke aku, kalau kalian mau minta maaf ke orangnya langsung. Temui Sabrina dan minta maaf sama dia.”
Ketiga gadis itu mengangguk paham, kemudian mereka pergi meninggalkan Lingga sendirian. Tampak Lingga yang kembali di buat frustasi, sekarang dia tahu alasannya dan hal itu kembali mengganggu pikirannya.
**
Keesokan harinya, Lingga yang baru saja memasuki kelas dan hal pertama yang dia lihat adalah bangku Sabrina. Kedua bola mata Lingga membulat sempurna ketika melihat sebuah tas yang tak asing berada di atas meja.
“ Dia kembali.?” Benak Lingga yang kemudian mencari ke sekeliling kelas sosok yang dia harap datang kali ini.
Dan tebakan Lingga benar, Sabrina baru masuk kelas yang entah dari mana. Tapi saat itu sikap Sabrina sedikit berbeda, yang biasanya ceria dan selalu menyapanya menjadi diam bahkan tidak melakukan kontak mata sama sekali.
Lingga meletakkan tasnya dan duduk dengan santai seperti biasa, dia melirik Sabrina yang ternyata mengambil tasnya dan pergi ke bangku belakang. Lingga memperhatikan bagaimana Sabrina memohon untuk bertukar tempat dengan salah satu siswa di kelas mereka.
__ADS_1
“ Aku sama Sabrina tukeran tempat duduk, kamu nggak masalah kan.?” Tanya Kevin setelah dia dan Sabrina berhasil bertukar tempat.
“ Nggak masalah.” Jawab Lingga meski dalam hatinya merasa kesal karena harus duduk di samping Kevin yang bahkan tidak begitu akrab dengannya.
Lingga terus bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa Sabrina bersikap begitu dingin dan cuek? Kenapa dia harus bertukar tempat duduk secara tiba-tiba? Padahal mereka tidak bertemu selama sepekan, tapi kenapa sikapnya seakan berubah derastis?
Sekali lagi Lingga menoleh ke belakang, dia dan Sabrina sempat saling menatap satu sama lain. Tapi hanya sedetik dan itu pun Sabrina langsung menoleh ke arah lain.
“ Dia kenapa.?” Benak Lingga mulai frustasi.
**
Sepulang sekolah Lingga sengaja menunda waktu keluar untuk mengajak Sabrina mengobrol berdua, saat itu Sabrina sengaja pulang telat karena harus mencatat pelajaran yang sempat tertinggal.
Namun tanpa Sabrina tahu, diam-diam Lingga membuatkan salinan catatan untuknya. Dan ini kesempatan Lingga untuk pergi menemui Sabrina sembari memberikan catatan yang telah dia buat sebelumnya.
“ Ini buat kamu.” Lingga meletakkan beberapa buku catatan yang dia buat di hadapan Sabrina.
Gadis itu berhenti menulis sejenak dan melirik buku Lingga sebentar.
“ Apa ini.?” Tanya Sabrina tanpa menatap Lingga.
“ Aku buat catatan buat kamu.” Jawab Lingga lirih.
“ Aku nggak butuh.” Sabrina meraih semua bukunya di atas meja dan memasukannya ke dalam tas secara cepat.
Tanpa sepatah kata pun Sabrina beranjak meninggalkan Lingga di tempatnya, saat itu Lingga terlihat syok sampai tak berkutik. Sekarang dia paham rasanya di cuekin oleh seseorang, selama ini dia yang selalu mengabaikan Sabrina, dan sekarang karma seakan datang kepadanya secara terang-terangan.
“ Apa salahku sampai dia melakukan ini?” Ucap Lingga sambil menggaruk kepala tak gatal.
**
Sebelum jam terakhir berakhir, Lingga mengirimkan pesan kepada Sabrina yang berbunyi.
LINGGA : Aku mau bicara sama kamu, kita ketemu di kafe Kemuning habis pulang sekolah.
Lingga melirik ke belakang memastikan Sabrina melihat pesannya atau tidak, dan saat itu dia berhasil membuat Sabrina melihat isi pesannya. Tapi sayang tidak ada balasan sama sekali, meskipun tanpa balasan Lingga akan tetap menunggu Sabrina untuk datang di kafe itu.
Jam pulang pun tiba, Lingga ingin pergi secepat yang dia bisa. Tapi ternyata dia di gagalkan oleh para fansya yang sudah mengepung di luar kelas.
Ternyata hari ini adalah hari valentine, dan mereka datang untuk memberi hadiah dan coklat kepada Lingga. Karena hal itu dia jadi tidak bisa pergi lebih awal, namun Lingga melihat Sabrina yang keluar dari kelas dengan cepat. Lingga mengira bahwa Sabrina mungkin akan kesana lebih dulu, untuk itu dia harus menyingkirkan semua orang ini agar bisa menyusul.
Jumlah mereka terus bertambah, Lingga hampir kesulitan keluar dari kerumunan mereka. Sampai akhirnya dia mendapatkan pertolongan dari Shanum dan teman-temannya. Sama seperti dulu, Shanum dan teman-temannya akan membantu Lingga keluar dari kerumunan para fansya.
“ Kau berhutang coklat padaku.” Kata Shanum saat dia berhasil membawa Lingga keluar dari kerumunan.
“ Akan ku kasih, tapi aku harus segera pergi. “ Balas Lingga yang berlari dengan cepat mengejar Sabrina.
**
Butuh waktu setengah jam Lingga bisa tiba di kafe dengan selamat, masih dengan nafas yang tersengal-sengal dirinya memasuki kafe dan mencari sosok Sabrina di antara para pengunjung kafe yang lain.
Lingga mengecek setiap meja yang ada dengan tatapan bingung, bagaimana tidak, sosok Sabrina tidak di temukannya dimana-mana. Sampai Lingga ragu apakah gadis itu akan datang atau tidak.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya Lingga kembali menghubungi nomor Sabrina, tapi sayang nomornya tidak aktif. Tak ingin meninggalkan tempat itu lebih awal, Lingga pun berpikir untuk tetap menunggu sampai Sabrina datang menemuinya.
Satu jam, dua jam, hingga tiga jam lamanya Lingga menunggu sampai waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Sabrina tak kunjung datang menemui Lingga, terlihat Lingga yang sudah putus asa dan hendak pergi dari kafe itu sekarang.
“ Lingga? “ Tegur seseorang yang membuat Lingga menoleh dengan cepat.
“ Siska?” ucap Lingga mengenal gadis yang memanggilnya barusan.
“ Jadi itu kamu, aku kira tadi siapa. Dari tadi aku perhatikan kamu duduk sendirian hampir berjam-jam, kamu nungguin siapa.?” Tanya Siska penasaran.
“ Hanya mau sendirian.” Jawab Lingga terpaksa bohong.
Lingga mengenal Siska karena selama ini Sabrina dekat dengan gadis itu, timbul rasa penasaran yang tinggi pada Lingga untuk mengetahui tentang Sabrina dari gadis itu.
“ Aku mau tanya sesuatu sama kamu, tapi kamu janji jangan bilang siapa-siapa.” Kata Lingga menahan diri di depan Siska agar tetap terlihat percaya diri.
“ Boleh, mau tanya apa.?”
Lingga kembali duduk bersama Siska di meja yang sebelumnya, Lingga bahkan memesankan makanan dan minuman untuk Siska sambil mereka bercerita tentang Sabrina.
“ Kenapa kamu tiba-tiba tanya soal Sabrina? Nggak seperti kamu yang biasanya cuekin dia.?”
“ Aku penasaran aja, jadi tolong kasih tahu aku tentang dia.”
“ Hmm, akhir-akhir ini Sabrina bersikap aneh. Mungkin karena dia mau pindah sekolah.”
“ Apa? Pindah sekolah.?”
“ Loh? Kamu nggak tahu.?”
“ Aku nggak tahu kalau dia mau pindah sekolah.” Jawab Lingga benar-benar terkejut mendengarnya.
“ Bokap nyokap Sabrina harus pindah tugas keluar kota, mau nggak mau dia harus ikut orang tuanya. Masih ada dua minggu sampai dia pindah sekolah.” Ungkap Siska lagi.
“ Kenapa hal ini jadi menggangguku? “ Benak Lingga mulai kebingungan dengan dirinya sendiri.
Percakapan Lingga dan Siska berlanjut terus sampai Lingga banyak mengetahui semua tentang Sabrina dari Siska, padahal selama ini dia hampir tidak peduli pada gadis itu. Dan sekarang dia seperti menjilat ludahnya sendiri.
**
Gadis cantik itu terlihat gelisah di dalam kamarnya, dia bingung sekarang apakah dirinya harus tetap tinggal di rumah atau pergi menemui pria yang di cintainya.
Sabrina telah memutuskan untuk menjauhi Lingga saat dia harus bersiap-siap pindah sekolah dua minggu ke depan, semua ini terjadi secara tiba-tiba dan membuatnya tak bisa menolak keputusan orang tuanya itu.
“ Ini keputusan yang baik, kalau aku dekat sama dia di detik-detik kepindahanku, maka akan lebih sulit bagiku jauh darinya.” Ucap Sabrina sambil menatap langit-langit kamarnya.
“ Tapi aku mau bertemu dengannya, dia kenapa sih ngajak aku ketemuan di kafe?”
Sabrina tak tahan lagi, dia berpikir harus segera ke kafe itu. Meskipun nanti dia tidak bertemu dengan Lingga, namun sebelum pergi dia ke dapur untuk mengambil sesuatu.
Kemarin Sabrina membuat coklat valentine khusus untuk Lingga, dia tidak tahu mengapa dia membuatnya begitu spesial. Dia hanya ingin membawa coklat itu bersamanya, jika di beri kesempatan dia juga ingin memberikan coklat itu kepada Lingga.
“ Ma, aku keluar sebentar.” Sahut Sabrina yang bergegas meninggalkan apartemen.
__ADS_1
Sabrina berlari dengan sangat cepat dan sadar bahwa dia melupakan ponselnya di kamar, jika hendak kembali rasanya akan memakan waktu cukup lama sehingga dia tetap pergi tanpa membawa ponselnya.