
Arkana sangat marah dan kesal saat ini, dia mengamuk di dalam kamarnya sendirian dan membuat seisi kamar tersebut berantakan dalam waktu yang singkat. Dia bahkan dengan berani melukai tangannya sendiri setelah memukul cermin di kamarnya hingga pecah berkeping-keping.
Arkana terpaksa menerima tawaran mama Widya agar membuat Qania tidak di pindahkan ke Papua, dan dia pun harus menerima perjodohan itu dalam waktu dekat ini.
Setelah amukan Arkana selama dua hari dan mengurung diri di dalam kamarnya, dia pun keluar atas panggilan mamanya. Arkana tidak bisa menolak jika mamanya sudah memanggil untuk segera menemuinya.
Saat itu Arkana berdiri di hadapan mama Widya dimana wanita setengah baya itu memberikan sebuah foto kepada Arkana, foto seorang wanita yang akan di jodohkan dengannya. Dan besok, mereka sudah harus bertemu secara kekeluargaan.
“ Mama mau kamu harus bersikap ramah di depan mereka, kamu harus buat Jingga terpikat sama kamu. Kalau kamu gagal, mama tetap akan mengirim Qania ke Papua.” Ucap mama Widya hanya dapat membuat Arkana mengepal kedua tangannya dengan kuat.
**
Jadwal di rumah sakit terpaksa di cancel untuk menghadiri pertemuan wanita yang akan di jodohkan dengannya, dan sekarang Arkana bersama kedua orang tuanya sudah tiba di salah satu lokasi tempat pertemuan mereka.
Arkana sudah mendengar dari mama Widya bahwa calon wanita yang akan di jodohkan dengannya baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan juga calon suaminya yang mengalami kecelakaan baru-baru ini.
Dalam benak Arkana merasa bahwa perjodohan ini pasti tidak akan berjalan dengan lancar, seorang wanita yang baru saja kehilangan cintanya tidak mungkin dapat menerima orang baru di kehidupannya.
“ Ma, aku mau ke toilet sebentar. Kalian berdua silahkan pergi duluan.” Lontar Arkana.
“ Kamu nggak akan melarikan diri kan? Mama nggak mau malu di depan mereka semua.” Sahut mama Widya.
“ Mama tenang aja, aku akan kesana secepatnya.” Balas Arkana kemudian berlalu menuju toilet.
Setibanya di toilet, Arkana terlihat tidak sanggup untuk bertemu dengan wanita itu. Dia langsung memikirkan Qania dan mencoba untuk menghubunginya.
“ Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkaun.”
“ Sial.” Arkana memukul wastafel toilet dengan kesal karena tidak bisa menghubungi Qania sejak kemarin dan hari ini.
Sebelumnya Arkana sudah memberitahu Qania bahwa hubungan mereka sudah berakhir, namun Arkana ingin memperbaikinya kembali dan jika Qania menyetujuinya maka dia akan meninggalkan keluarganya demi Qania.
Setelah beberapa saat akhirnya Arkana kembali harus bertemu dengan wanita itu, dan dia pun berjalan menuju satu ruangan yang telah di reservasi sebelumnya.
Pintu besar itu baru saja terbuka sehingga membuat Arkana dapat melihat apa yang ada di dalam, seorang wanita cantik duduk di sana menatap ke arahnya dengan ekspresi yang datar.
__ADS_1
“ Maaf aku terlambat.” Ucapnya dengan senyum yang merekah.
**
Arkana termenung di dalam kamarnya sendirian, dia sudah mengurung diri sejak kepulangannya dari pertemuan hari ini. Dia melirik ponsel yang memperlihatkan room chat dirinya dan Qania.
“ Kamu kenapa nggak balas sama sekali sih Nia.” Keluh Arkana terlihat sangat sedih.
Jemari Arkana sedang sibuk melihat satu persatu story whatsapp rekannya di rumah sakit, hingga dia tidak sengaja melihat satu postingan temannya yang memvideokan Qania.
Arkana langsung me reply postingan tersebut dimana dia langsung menanyakan keberadaan Qania saat ini.
Farhan : Lo gak tahu kalau besok dokter Qania mau pergi ke Papua jadi sukarelawan.?
Arkana di buat terkejut mengetahui jawaban itu, dia langsung teringat ucapan mama Widya yang berjanji tidak akan mengirim Qania kesana. Namun yang terjadi adalah Qania tetap di kirim kesana.
Arkana kemudian keluar dari kamarnya menuju ruangan kerja mama Widya, dia masuk ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dulu karena sudah sangat kesal.
“ Mama janji sama aku nggak akan kirim Qania ke Papua, tapi kenapa mama melakukannya.?”
“ Dia Cuma pergi melakukan kegiatan sukarelawan, hanya dua bulan dan dia akan kembali ke rumah sakit.”
“ Dia sendiri kok yang menerimanya, kamu nggak usah emosi gitu. Kalian kan sudah nggak ada hubungan apa-apa, sebaiknya kamu fokus mendekatkan diri sama Jingga biar dia mau terima kamu jadi suaminya.”
Arkana kemudian keluar meninggalkan ruangan itu, dan dia bertemu papa Hendra diluar ruangan itu yang ternyata tak sengaja mendengar percakapan mereka barusan.
“ Seharusnya kamu lebih tegas menghadapi mama, yang memiliki rumah sakit itu kan kamu dan kamu direktur utamanya. Kenapa jadi mama yang mengatur semuanya.?” Arkana menatap ayah tirinya dengan penuh emosi, dia tahu selama ini ayah tirinya hanyalah sebuah boneka untuk mama Widya dalam mengatur urusan rumah sakit.
“ Maaf kalau papa nggak bisa bantu kamu.”
Arkana tidak ingin mendengarya, dia pun tidak pernah menganggap pria itu sebagai ayahnya. Selama dua puluh tahun terakhir mereka hidup di atap yang sama, tak pernah sedetik pun Arkana peduli pada ayah tirinya itu.
**
Arkana tiba di rumah sakit sekitar pukul 10:00 malam, dia tahu kalau saat ini Qania belum pulang dan berniat menemuinya saat itu juga. Untuk membuat dirinya tidak di kenali oleh orang-orang di rumah sakit, dia berpenampilan cukup tertutup dengan menggunakan masker dan hoddie yang menutup kepalanya.
Sekarang Arkana sudah berdiri di depan pintu ruangan Qania, dia mencoba untuk mengetuk pintu itu dan terdengar suara Qania yang mempersilahkannya untuk masuk.
__ADS_1
Arkana yang sudah masuk ke dalam langsung melepas maskernya hingga membuat Qania sampai terkejut melihatnya.
“ Arka.?”
“ Kenapa kamu nggak balas pesan aku.?”
“ Untuk apa lagi? Kita kan sudah putus, aku nggak mau berurusan dengan seseorang yang mengakhiri hubungan lebih dulu.”
“ Aku minta maaf, dan aku mau kita balikan.”
Qania menghentikan pergerakan tangannya saat sedang menyusun beberapa dokumen pasien, kemudian dia menatap Arkana yang saat ini menatapnya dengan tatapan sayu.
“ Kalau aku nggak mau, gimana.?” Jawab Qania.
“ Ya kamu harus mau, aku tahu kamu belum melupakan perasaan kamu ke aku.”
“ Maaf ya Ar, bagiku masa lalu akan menjadi kenangan yang sudah usai. Aku nggak mau kembali ke masa lalu, begitu pun dengan hubungan kita.”
“ Kamu harus tahu aku di paksa sama mama untuk memutuskanmu, dan aku di minta menikahi seorang wanita yang tidak ku cintai sama sekali. Aku bisa melepaskan wanita itu asal kamu mau menerimaku lagi.”
“ Sudah cukup, aku mau pulang. Kalau kamu masih mau tinggal disini silahkan saja.” Qania meraih tasnya dan mulai melangkah menuju pintu.
Arkana langsung memeluk Qania dari belakang, dia mempererat pelukannya seakan tak mau wanita itu pergi dari hadapannya.
“ Pikirkan sekali lagi, aku nggak bisa menikah sama wanita lain kalau bukan sama kamu.”
“ Lepasin Ar, kalau ada yang lihat bisa bahaya.”
“ Nggak mau, aku nggak mau lepasin kamu.”
“ Kamu sebaiknya dengan apa kata mama kamu, dan soal wanita itu. Aku yakin suatu saat kamu pasti akan mencintainya seperti aku, semua hanya butuh waktu.”
“ Kalau aku sampai menikah dengan wanita itu, aku akan jamin hidupnya tidak akan bahagia. Aku akan buat dia menyerah sama hubungan kita, supaya kita berpisah.”
“ Kamu orang yang baik Ar, jangan melakukan kekerasan pada seorang wanita.”
“ Aku nggak peduli.”
__ADS_1
Qania mulai kesal hingga melepaskan Arkana dengan sekuat tenaga, saat dia sudah terlepas dia menampar Arkana cukup keras untuk membuatnya sadar.
“ Lupakan aku, dan cobalah untuk menerima wanita pilihan mama kamu.” Kata Qania sebelum akhirnya pergi meninggalkan Arkana sendirian.