
“ Biarkan anak dan menantuku masuk, kalian harus tahu kalau rumah sakit ini milik keluarga Adyatama yang artinya milik keluarga saya. Nyonya kalian tidak memiliki ha katas kepemilikan rumah sakit ini.” Ancam papa Hendra pada mereka.
Kedua pria yang bertugas saat itu saling menatap satu sama lain dengan bingung, setelah mendengar ucapan Hendra akhirnya mereka memberikan akses untuk Jingga dan Arkana masuk ke dalam.
“ Terima kasih pa, kalau nggak ada papa kita nggak bisa masuk.” Ucap Jingga.
“ Papa nggak banyak membantu selama ini, jadi biarkan papa membantu kalian dengan hal-hal seperti ini.” Balas papa Hendra.
Jingga, Arkana, dan papa Hendra pun sudah tiba di lantai tempat Bima di rawat. Mereka kembali di hadang sebelum memasuki kamar tempat Bima berada.
“ Beritahu nyonya kalian, saya Hendra Adyatama pemilik dari rumah sakit ini ingin datang menjenguk pasien bernama Abimana.” Ujar papa Hendra.
“ Maaf pak, kami menolak.”
“ Kalau begitu siap-siap untuk berhadapan dengan polisi, kalian pasti sekelompok orang-orang yang membantu Widya menyekap menantu saya dulu kan? Kalau masalah ini sampai di ketahui oleh polisi, kalian pikir kalian masih bisa bekerja dengan nyonya kalian.?” Ancam Hendra yang kali ini berhasil membuat mereka bungkam.
Kemudian salah satu dari mereka masuk dan memberitahu Widya tentang kedatangan ketiganya, tak lama setelah itu Widya pun keluar dengan ekspresi marah dan kesal.
“ Oh, jadi sekarang kau mengancam dengan kepemilikanmu atas rumah sakit ini.?” Sahut Widya sambil berkacak pinggang di hadapan Hendra.
“ Jingga dan Arkana hanya ingin melihat keadaan Bima saja, biarkan mereka masuk.” Balas Hendra.
“ Nggak ada siapapun yang boleh melihatnya, dan nggak ada alasan buat kalian bisa melihat putraku.” Lontar Widya.
“ Kalian berdua tetaplah masuk ke dalam, biarkan wanita ini bersama papa disini.” Hendra kemudian menarik lengan Widya sehingga membuat Jingga dan Arkana segera beranjak masuk.
“ Kalian kenapa tinggal diam? Cepat tahan mereka.” Sahut Widya kepada anak buahnya,
“ Maafkan kami nyonya, kami tidak bisa melakukannya.” Balas mereka sambil menundukkan kepala.
“ Kalian bekerja dengan siapa memangnya? “
“ Widya cukup.!!!” Gertak Hendra.
“ Biarkan mereka bertemu, kita nggak tahu sampai mana Bima akan bertahan.” Sambung Hendra membuat Widya akhirnya sedikit lebih tenang.
**
Jingga dan Arkana melangkah mendekati tempat tidur Bima, sampai saat ini Bima belum sadarkan diri. Kondisinya masih sama seperti kemarin, bahkan dokter berkata mungkin kesadarannya belum bisa kembali secepat mungkin mengingat kondisi sebelumnya sangat kritis.
“ Kalau dia nggak bangun-bangun gimana mas.?”
__ADS_1
“ Kamu jangan berpikir seperti itu, dokter mungkin bisa bilang kalau usianya hanya sebentar lagi. Tapi kami sebagi dokter hanya dapat memprediksikan, semua tergantung yang di atas.”
Jingga sudah berjanji tidak akan menangis lagi, dia harus terlihat bahagia seperti yang di katakan oleh Arkana. Dan untuk beberapa saat keduanya berada di sebelah Bima dan mengajaknya mengobrol sebagaimana dokter berkata bahwa mengajak pasien koma mengobrol santai dapat membantu kesadarannya segera kembali.
Karena mereka mendapat panggilan dari bi Inah bahwa Keenan sedang rewel di rumah, alhasil mereka harus kembali lebih awal. Jingga dan Arkana berjanji akan kembali menengok keadaan Bima setiap hari, sampai Bima sadar agar mereka bisa mengobrol lebih banyak.
Ketika Jingga dan Arkana keluar, dia melihat mama Widya dan papa Hendra sedang duduk bersebelahan di kursi koridor. Melihat keduanya yang sudah keluar lantas membuat mama Widya kembali masuk tanpa sepatah kata pun.
“ Papa masih disini.?” Tanya Arkana.
“ Papa sudah bicara dengan mama mu barusan, untuk perceraian kami berdua sepertinya akan di tunda.” Jawab papa Hendra.
“ Kenapa pa?” Tanya Jingga.
“ Ini masalah papa dan mama, jadi kalian berdua tunggu saja sampai hasilnya keluar ya.”
“ Jadi sekarang papa mau kemana.?”
“ Papa punya rumah sendiri kok, kalian jangan berpikir kalau rumah papa hanya yang di tempati mama kamu.”
“ Tapi papa baik-baik aja kan? Sekali-kali datang ke rumah kami, kita makan malam bareng.” Ajak Jingga.
“ Terima kasih, papa senang mendengar undangan kalian.”
Akhirnya tiba waktunya Jingga dan Arkana pulang. Begitu pun dengan Hendra yang harus pergi untuk mengurus sesuatu.
**
" Bima, kamu sudah sadar nak." Suara yang tak asing itu membuat Bima meliriknya dengan pelan.
" Ma..ma.? "
" Iya sayang, ini mama. "
Mama Widya langsung keluar dan memerintahkan anak buahnya untuk segera memanggil dokter, kemudian dia kembali ke samping putranya dan mulai menangis bahagia melihat Bima yang akhirnya siuman.
" Kamu buat mama khawatir setiap hari nak, mama bahkan nggak tahu kalau kamu lagi sakit. Seandainya kamu cerita ke mama sejak awal, kamu pasti nggak akan kaya gini. " Isak Mama Widya.
" Mama jangan nangis, aku nggak mau buat orang terdekatku sampai menangis karena aku. " Ucap Bima berusaha meraih wajah mamanya.
" Kamu jangan banyak gerak dulu, tunggu sampai dokter datang dan memeriksa keadaan kamu. " Balas mama Widya sambil meletakkan kembali tangan Arkana ke tempat tidur.
Dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan Arkana, mama Widya sedikit menyingkir dan memberi kesempatan untuk mereka menangani Bima.
__ADS_1
" Bagaimana keadaan anak saya dok.? " Tanya mama Widya ketika dokter telah selesai memeriksa keadaannya.
" Kondisinya masih belum stabil, melihat dia sudah siuman bukan berarti sel kankernya berhasil di atasi. Kami akan memantau perkembangannya ke depan, jadi untuk sementara waktu Bima harus di rawat di rumah sakit. " Jelas sang dokter.
Setelah dokter selesai memeriksa keadaannya, kini mereka keluar dan meninggalkan mama Widya sendirian. Terlihat mama Widya yang duduk di samping Bima dan kembali meraih tangan putranya dengan lembut.
" Mama akan melakukan apa saja untuk kesehatan kamu, nggak peduli berapa banyak uang yang harus di keluarkan. Kamu satu-satunya yang mama miliki saat ini, jadi jangan pernah tinggalin mama. "
" Maa., aku bukan hanya anak mama seorang. Masih ada Arkana, dia anak mama juga. Kenapa mama nggak mau mengakui dia sebagai anak mama juga? "
" Mama nggak bisa, dia anak dari laki-laki itu. "
" Selama ini Arkana sudah berusaha menjadi anak baik untuk mama, apa pernah dia mengeluh sama mama atas perbuatan mama selama ini? Mama coba pikir baik-baik, Arkana tidak pernah meminta untuk di lahirkan, seharusnya yang berpikir seperti mama itu Arkana. Tapi buktinya dia masih menganggap mama sebagai ibunya, dia memaafkan mama atas apa yang mama perbuat dengan istrinya. "
" Seandainya mama lebih membuka hati mama, aku yakin mama nggak akan pernah merasa kesepian lagi. Mama pasti akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini, aku pun akan sangat senang melihat wanita yang ku cintai hidup dengan bahagia. " Lanjut Bima berhasil membuat mamanya terdiam tanpa kata.
**
Jingga terlihat berusaha memberikan asi untuk Keenan, sebelumnya dia tidak memiliki banyak asi karena kondisinya sempat memburuk. Dan setelah itu dia sudah konsultasi dengan dokter dan di berikan vitamin serta asi booster yang membuatnya kini dapat memberikan asi yang banyak untuk putranya.
" Anak mama yang ganteng, maafin mama yang nak. Mama baru bisa kasih kamu asi, mama merasa bersalah banget selama ini biarin Keenan minum susu formula. Mulai sekarang mama janji, kamu akan dapat asi yang cukup. " Ucap Jingga sambil menimang putranya di atas sebuah sofa yang nyaman.
" Non, makan dulu. Bibi udah buatin sayur katuk sama ayam goreng bawang putih. " Sahut bi Ijah.
" Iya bi, Keenan belum tidur. Nanti aja. Mas Arka udah pulang belum.? "
" Belum non, ya udah nanti saya angetin lagi sayurnya. "
" Iya bi, makasih ya. "
Setelah beberapa saat akhirnya Keenan berhasil tertidur, Jingga telah selesai memberikan asi dan segera meletakkannya di atas tempat tidur.
Jingga kembali menatap wajah putranya dengan seksama, wajah Keenan benar-benar persis dengan Arkana. Dia juga berharap jika putranya besar nanti akan menjadi lebih tampan dari sekarang.
Perlahan namun pasti Jingga mulai beranjak dari tempatnya, dia memastikan Keenan tidak terbangun karena pergerakannya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering menandakan ada panggilan yang masuk.
" Halo mas, gimana.? " Tanya Jingga dengan nada yang pelan.
" Dia udah siuman. "
" Yang bener? Syukurlah, aku mau kesana mas. "
" Aku udah pesan taksi buat kamu, kamu siap-siap aja dulu. "
__ADS_1
" Iya mas, aku mau siap-siap dulu. "