
Tersisa satu minggu lagi sampai Sabrina akhirnya pindah sekolah, Lingga belum melakukan apapun karena ragu untuk memulainya. Sebagai seorang pria yang baru saja merasakan namanya cinta, dia benar-benar tidak tahu hal apa yang harus di lakukannya terlebih dulu.
Hari ini setelah pelajaran olahraga selesai, Lingga tidak menemukan Sabrina dimana-mana. Dia mulai khawatir dengan kejadian waktu itu, sehingga Lingga keluar dari kelas dan pergi mencari Sabrina di setiap sudut sekolah.
Di toilet kemarin tidak ada, dan setelah di cari-cari, kali ini Sabrina terkurung di dalam gudang peralatan olahraga. Melihat gadis itu yang hanya bisa duduk diam sambil memeluk tubuhnya membuat Lingga merasa marah dan kesal.
“ Kamu tahu dari mana aku disini.?” Tanya Sabrina menatap Lingga tak percaya.
“ Siapa yang melakukannya.?” Lingga tak menggubris pertanyaan Sabrina, dan memaksanya menjawab pelaku yang melakukan hal ini terhadap Sabrina.
“ Nggak penting mereka siapa, sebaiknya kita kembali ke kelas sebelum terlambat.”
“ Aku bilang siapa mereka.?” Gertak Lingga sontak membuat Sabrina terkejut menatapnya.
“ Kamu nggak akan kenal sama mereka.”
“ Senior kelas dua? Mereka berjumlah tiga orang kan? Mereka juga yang mengurungmu di toilet waktu itu.?” Lontar Lingga semakin membuat Sabrina terkejut.
“ Kamu tahu dari mana.?”
“ Ikut aku.” Lingga menarik tangan Sabrina menuju suatu tempat, terlihat Sabrina yang hanya menurut dan mengikuti langkah Lingga yang cenderung cepat itu.
Akhirnya mereka tiba di sebuah kelas yang langsung membuat ekspresi wajah Sabrina berubah, dia sempat menahan langkah Lingga namun kalah kekuatan.
“ Erika, Yumna, Asma. Dimana kalian.?” Sahut Lingga dengan suara yang lantang dan membuat satu kelas melirik ke arahnya.
“ Lingga.?”
Setelah melihat ketiga pelaku yang sedang berkumpul di satu meja yang sama, Lingga kembali menarik tangan Sabrina sampai di hadapan mereka. Terlihat mereka bertiga dengan raut wajah yang bingung, di tambah saat Lingga datang bersama Sabrina.
“ Kalian berdua masih belum kapok dengan ancamanku waktu itu, sekali lagi aku memberitahu kalian. Jangan pernah sentuh pacarku, kapan pun aku tahu kalau kalian mengganggunya, maka aku nggak akan segan-segan membalasnya ke kalian.” Ancam Lingga sukses membuat semua orang terkjejut atas pengakuannya.
__ADS_1
Sabrina yang berdiri di belakangnya saja sampai membulatkan mata dengan sempurna, seorang Lingga yang terkenal cuek dan dingin baru saja mengaku adalah pacarnya. Meski itu terdengar seperti candaan saja, tapi bagi Sabrina sudah mampu membuat hatinya hampir meledak.
Setelah selesai memberitahu siapa Sabrina di hadapan semua orang, Lingga merasa itu cukup untuk menggertak mereka agar tidak mengusik Sabrina lagi. Dan Lingga pun segera pergi dari kelas itu masih dengan menarik tangan Sabrina.
Perlahan namun pasti ketika mereka berdua sudah jauh dari kelas senior mereka, Lingga pun melepaskan tangannya dari Sabrina. Untuk beberapa saat Lingga tidak menoleh karena merasa malu atas apa yang telah dia lakukan barusan.
“ Jadi benar kalau kamu yang menolongku di toilet waktu itu ya.?” Sahut Sabrina akhirnya membuat Lingga menoleh.
“ Siapa lagi yang menyadarinya kalau bukan aku.” Jawab Lingga malu-malu.
“ Terima kasih ya, dan juga soal tadi. Aku berterima kasih sama kamu, akhirnya mereka akan berhenti menggangguku lagi.”
“ Apa sebelumnya mereka belum meminta maaf.?”
“ Siapa? Mereka bertiga tadi? Bahkan belum ada kata maaf yang terlontar dari mulut mereka sejak saat itu.”
Lingga merasa kesal, padahal waktu itu mereka bertiga berjanji akan meminta maaf pada Sabrina. Namun karena semua sudah terselesaikan, dan melihat Sabrina yang sekarang mulai terbuka seperti dulu lagi.
“ Biarkan saja semua orang tahu, kita hanya perlu berpura-pura. Lagi pula aku capek selalu berhadapan dengan mereka, mungkin setelah mereka tahu kalau aku sudah punya pacar mereka akan berhenti mengejar-ngejarku. Gimana.?” Tawar Lingga pada Sabrina.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Sabrina bahwa dia akan menjadi pacar bohongan Lingga, awalnya dia sempat menolak tapi setelah memikirkannya baik-baik meskipun hanya kepura-puraan, dia akan memanfaatkannya dengan baik.
**
Satu sekolah sudah mengetahui tentang hubungan Lingga dan Sabrina, sejak saat itu banyak dari mereka yang fans dengan Lingga kini menyerah dan membiarkan hidup Lingga bebas dengan pacarnya.
Banyak yang kecewa namun tidak sedikit yang mendukung Lingga, terutama Shanum yang berpikir bahwa adiknya telah berkembang setelah waktu itu sempat curhat dengannya.
Shanum yang tidak tahu bahwa hubungan mereka palsu tampak mendukungnya dengan sepenuh hati, dia bahkan sengaja datang di kelas Lingga dan Sabrina untuk memantau hubungan mereka.
“ Hari ini mau main ke rumah nggak? Kamu harus kenal sama mama kami, dia baik. Dan dia juga udah tahu soal kamu.” Ucap Shanum seketika membuat Sabrina salah tingkah.
“ Kak Shanum ngapain sih.?” Tegur Lingga merasa kesal jika hubungan ini di usik oleh kakaknya.
__ADS_1
“ Kamu diam saja, aku lagi bicara dengan Sabrina. Gimana? Kamu mau kan.?” Lanjut Shanum dengan penuh harap.
Sabrina tidak bisa menolak, dia juga sangat ingin bertemu dengan mama Lingga. Bagaimana pun juga Lingga pernah bilang kalau tipe idealnya harus seperti mamanya.
“ Aku mau kak.” Jawab Sabrina sontak membuat Shanum berseru kegirangan.
**
Untuk kedua kalinya Sabirna datang di kediaman keluarga besar Adyatama, dan kali ini bukan hanya nenek Widya yang menyambutnya dengan hangat. Akan tetap Jingga yang sudah cukup mengenal Sabrina dari Shanum pun menyambutnya seperti bagian keluarga sendiri.
Saat itu Sabrina sedikit gugup karena dia tidak tahu harus berbuat apa, terlebih lagi semua orang percaya bahwa dia dan Lingga berpacaran. Dan mau tidak mau Sabrina hanya tetap menjalankan skenarionya bersama Lingga.
Sabrina di ajak oleh nenek Widya, Jingga dan Shanum ke halaman belakang, sedangkan Lingga akan ke kamarnya untuk berganti pakaian. Di halaman belakang, Sabrina di suguhkan dengan minuman dan cemilan enak yang ternyata di buat langsung oleh Jingga.
“ Kamu cantik banget nak.” Ucap Jingga sambil membelai rambut Sabrina.
“ Terima kasih tante.” Jawab Sabrina malu-malu.
“ Benar kan ma, aku udah bilang dari awal kalau dia ini cantik banget.” Seru Sahnum menambahkan.
“ Akhirnya kalian berdua jadian juga, ibu sudah duga hal ini akan terjadi.” Sahut nenek Widya.
Sabrina ingat kalau sebelumnya nenek Widya tidak mengetahui bahwa dia dan Lingga adalah teman sekelas, tapi ternyata nenek Widya sudah tahu dan berpura-pura tidak tahu.
“ Malam ini kamu ikut makan malam bareng kita ya.” Ucap Jingga dengan senyum merekah.
“ Tapi tan.”
“ Jangan khawatir, Lingga yang akan mengantar kamu pulang nanti.” Sambung Jingga seakan mengerti dengan apa yang di khawatirkan oleh Sabrina.
“ Boleh tante kalau memang nggak ngerepotin.” Balas Sabrina kemudian.
__ADS_1