
Jingga merasa cukup bosan berada di kamarnya, sekarang dia sudah tidak menggunakan selang oksigen lagi. Tapi tali infus masih terhubung di tangannya karena untuk saat ini semua obat-obatan bisa masuk dari benda tersebut.
“ Mas Arka kemana sih? Kok lama banget baliknya.” Keluh Jingga.
Pintu baru saja terbuka dan memunculkan sosok Diana dengan ekspresi yang membuat Jingga kebingungan, tak lama setelah itu muncul sosok lain di belakangnya.
“ Kenapa kalian bisa datang bersama.?” Tanya Jingga penasaran.
“ Aku nggak sengaja ketemu dia di lift, sama seperti kamu waktu itu. dia juga mengira kalau aku ini Nawa.” Jawab Bima.
Diana terlihat diam dan tak mau menatap siapapun, entah apa yang terjadi sebelumnya di antara mereka sampai membuat Diana yang biasanya ceria jadi pendiam seperti ini.
“ Dan juga aku sudah jelasin ke dia kalau aku ini Bima, tapi anehnya dia terus bilang kalau aku Nawa. Aku jadi nggak enak kalau kehadiranku buat kalian terus mengingat Nawa.” Kata Bima lagi.
“ Kalian berdua memang sangat mirip, nggak heran kalau Diana mengira kalian orang yang sama.” Balas Jingga.
“ Btw bagaimana keadaan kamu? Aku dengar dari mama kalau kamu sakit sampai masuk rumah sakit, apa kata dokter? Kamu sakit apa.?” Tanya Bima penasaran.
“ Nggak tahu mas, aku belum di kasih tahu sama dokter ataupun mas Arka. Dan katanya sih mereka lagi berkumpul membahas hasil labnya, mungkin saat mas Arka kembali baru dia mau kasih tahu ke aku.” Jawab Jingga.
“ Diana? Kamu kenapa diam terus.?” Tegur Jingga yang mendapati Diana diam seribu bahasa.
“ Kenapa kamu nggak pernah bilang ke aku kalau kamu mengidap lemah jantung.?” Tanya Diana yang mulai menatap Jingga dengan serius.
“ Kamu lemah jantung.?” Tampak Bima yang ikut terkejut mendengarnya barusan.
“ Aku nggak berniat merahasiakannya dari kamu, tapi masalah ini sudah banyak di tahu oleh orang-orang jadi aku berpikir untuk kasih tahu kamu setelah ini.” ungkap Jingga.
Di ruangan itu tiba-tiba saja kedatangan Arkana, dia terkejut melihat kehadiran Diana dan juga Bima tentunya. Kemudian Arkana menyuruh mereka semua keluar dari ruangan itu untuk membiarkan Jingga tetap beristirahat.
“ Semua ini karena dia kan? Dia yang udah buat kamu jadi sakit kaya gini kan? “ Diana mulai terbawa emosi dan menunjuk Arkana dengan tatapan penuh kebencian.
“ Diana cukup. Mas Arka nggak salah apa-apa, kamu jangan bilang begitu.” Sahut Jingga tak ingin memperburuk suasana, terlebih lagi ada Bima saat ini di ruangan itu.
“ Aku sudah cukup sabar menghadapimu selama ini, kalau bukan karena Jingga mungkin aku sudah melakukan hal kasar padamu.” Lontar Arkana ikut kesal di buatnya.
__ADS_1
“ Lihat. Lihat kelakuan adikmu itu, dia memiliki sikap yang buruk dan selalu membuat Jingga dalam masalah. Sebelum menikah dengannya, Jingga tidak pernah mengidap penyakit apapun. Tapi setelah bersamanya, Jingga terus menerus mengalami nasib sial. “
“ Diana, cukup.!!!” Teriak Jingga dengan sekuat tenaga hingga membuat dadanya kembali sesak.
Arkana langsung menghampiri Jingga dan memeriksa keadaannya, kemudian Arkana kembali mengusir mereka berdua. Setelah melihat Jingga yang kembali merasa sesak akhirnya membuat Diana dan Bima keluar dari ruangan itu, tapi bukan berarti Diana akan berhenti menyalahkan Arkana atas apa yang terjadi kepada Jingga.
“ Hey, kamu mungkin bukan Nawa tapi setidaknya bersikaplah seperti Nawa. Aku bilang begini karena aku nggak mau sahabatku Jingga berakhir dengan adikmu itu, dia benar-benar sudah membawa nasib sial untuk Jingga. “ ucap Diana melirik Bima.
“ Apa maksudmu? Kenapa aku harus bersikap seperti Nawa.?” Tanya Bima tak mengerti.
“ Karena orang yang bernama Nawa itu tidak akan pernah membuat Jingga sedih apalagi sakit, dia akan menjadi orang yang rela berkorban demi Jingga bahkan untuk nyawanya sekalipun.” Lanjut Diana.
Diana merasa frustasi berat hari ini, pertama dia mengetahui bahwa Jingga mengidap lemah jantung dan kedua dia telah bertemu dengan Bima yang mirip Nawa. Dan yang terakhir dia harus di usir dari ruangan itu padahal dia hanya ingin melihat kondisi sahabatnya.
“ Lupakan saja apa yang ku bilang barusan, aku pulang dulu.” Kata Diana segera berlalu meninggalkan Bima sendirian.
**
Arkana tidak banyak bicara sejak Diana dan Bima keluar dari kamar itu, Jingga melihatnya dengan tatapan sendu kemudian meraih wajah Arkana dan membuat mereka saling menatap satu sama lain.
“ Bukan itu, aku hanya memikirkan hal lain.”
“ Hal lain apa? Hasil pemeriksaan aku? Memangnya apa kata dokter.?”
“ Penyakitnya masih sama, tapi kamu beresiko mengalami gagal jantung kalau kondisi kamu semakin memburuk. Untuk itu kamu harus tetap di rawat disini sampai hari persalinan tiba.”
“ Jadi selama dua bulan aku tetap berada di tempat tidur ini? “
“ Aku minta maaf, tapi semua ini demi kesehatan kamu dan anak kita.” Arkana meraih tangan Jingga dan mendekatkan ke wajahnya cukup lama.
“ Nggak apa-apa mas, aku nggak masalah kalau harus di rawat selama dua bulan disini. Yang penting kamu nggak akan pernah tinggalin aku, dan juga semua ini ku lakukan untuk anak kita.”
Arkana tidak bisa menahan air matanya, entah sejak kapan dia menjadi secengeng ini jika mengingat kondisi Jingga. Melihat suaminya yang menangis lantas membuat Jingga langsung menghiburnya, dia pun tidak bisa melihat Arkana menangis dan terus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.
“ Aku mau makan puding lava coklat yang ada di kafe Seruni, kamu mau kan beliin aku pudingnya.?” Pinta Jingga.
“ Aku mau, kamu tunggu disini aku suruh orang pergi beli pudingnya.” Balas Arkana cepat.
__ADS_1
**
Jingga masih menunggu Arkana di kamarnya dengan sabar, karena Jingga ingin di bawakan pakaian ganti alhasil Arkana lah yang harus ke rumah untuk mengambilnya sekaligus membeli puding pesanan Jingga.
Terdengar suara ketukan pintu diluar sana sebelum akhirnya pintu itu terbuka, terlihat seorang gadis baru saja memasuki ruangan itu dengan senyum yang merekah di bibirnya.
“ Ku dengar kak Jingga sedang sakit, aku datang kemari untuk menengok.” Ujar Tsania lirih.
Jingga merasa bingung mengapa Tsania harus datang menengoknya, padahal mereka tidak cukup dekat untuk sekedar bertemu seperti itu.
“ Bagaimana keadaan kak Jingga.?” Tanya Tsania.
“ Untuk sekarang udah lebih baik.” Jawab Jingga masih penasaran dengan niat Tsania datang menemuinya.
“ Oh iya kak, aku mau kasih tahu kak Jingga sesuatu yang mungkin selama ini belum kakak tahu.”
“ Tentang apa.?”
“ Tentang dokter Arkana sama seseorang yang lagi dekat dengannya.”
“ Maksud kamu.?”
Tsania tampak tersenyum simpul dan kemudian mendekatkan wajahnya di telinga Jingga.
“ Kak Jingga nggak tahu kalau suami kak Jingga diam-diam mendekati dokter Qania? Aku tahu kalau mereka berdua masih saling menyukai satu sama lain, barusan aku lihat mereka berdua dari atap rumah sakit loh.”
“ Aku nggak ngerti kenapa kamu kasih tahu ke aku soal ini, tapi tolong jangan menyebarkan fitnah pada mereka berdua.”
“ Aku nggak fitnah mereka, nih buktinya kalau kak Jingga nggak percaya.” Tsania menunjukkan foto dimana Arkana dan Qania sedang bersama di atap rumah sakit hari ini.
“ Dan juga ada satu lagi, kak Jingga harus waspada sama suster kepala di departemennya dokter Arkana. Namanya kak Nisa, aku tahu kalau dia naksir sama dokter Arkana.” Lanjut Tsania lagi.
“ Oh iya, aku sengaja kasih tahu ke kak Jingga soal ini karena aku peduli sama perasaan kak Jingga. Ada banyak orang yang berkhianat di kehidupan kita, jadi jangan terlalu percaya sama mereka.” Tsania mengatakannya dengan penuh percaya diri.
“ Karena kak Jingga baik-baik saja sekarang, saya permisi undur diri dulu.” Sambung Tsania yang akhirnya pergi meninggalkan Jingga sendirian.
__ADS_1