
“ Mas, aku nggak curi apapun dari dia. Aku juga nggak tahu kenapa cincin itu bisa ada di dalam tas aku.” Ucap Jingga berusaha meyakinkan Arkana agar percaya padanya.
Wanita yang mengaku sebagai pemilik cincin bersih keras menuntut Jingga, jika dia tidak ingin di tuntut maka dia harus membayar sebesar 5 juta euro.
“ Kapan kamu merasa kehilangan cincin itu.?” Tanya Arkana yang menggunakan bahasa Spanyol dengan cukup baik.
“ Aku tidak tahu kapan cincin itu hilang, yang pasti aku baru saja menyadarinya hilang beberapa saat yang lalu dan mereka berdua memberitahuku kalau wanita itu yang mencurinya.” Dia menunjuk Jingga dengan tatapan yang sangat tajam.
“ Boleh ku lihat cincinnya sebentar.” Pinta Arkana pada wanita itu.
Cincin itu berhasil di perlihatkan oleh Arkana, kemudian dia meminta tour guide yang datang bersamanya untuk menghubungi seseorang dari toko perhiasan terdekat.
Masalah semakin panjang sejak saat itu, semua orang di pindahkan ke satu ruangan oleh manager resto untuk segera menyelesaikan masalah tersebut. Jingga masih tertunduk diam dan tak bisa berkata-kata lagi, entah mengapa dia mempercayakan semua ini kepada Arkana.
Seseorang dari toko perhiasan baru saja selesai memeriksa cincin berlian tersebut, dia menerangkan bahwa cincin itu palsu. Dan Arkana sudah menebak sejak awal kalau wanita itu mungkin saja sedang bersekongkol untuk memeras Jingga hanya karena dia adalah warga Negara asing.
Setelah di interogasi lebih lanjut, ternyata memang benar kalau ketiga wanita itu bersekongkol dan memang sengaja menjebak Jingga. Dengan menuduhnya sebagai pencuri untuk mendapatkan uang, hal itu mereka lakukan karena Jingga tampak seperti wanita lemah yang mudah untuk di tipu.
“ Aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk benda palsu seperti ini, sekarang minta maaf dengan istriku atau masalah ini akan ku bawa ke jalur hukum.” Ujar Arkana menatap ketiga wanita itu dengan tatapan yang tajam.
Ketiga wanita itu dengan kompak bersujud di bawah kaki Jingga sambil meminta maaf, Jingga tidak mengerti apa yang barusan di katakan oleh Arkana sehingga membuat mereka bertiga melakukan hal tersebut.
Masalah pun telah terselesaikan, Arkana merasa kesal dengan pelayanan di restoran itu dimana mereka dengan bebas membiarkan orang jahat berkeliaran di tempat itu.
Alhasil Arkana mencabut reservasi di tempat itu dan membawa Jingga pergi dari sana, mereka akan mencari tempat makan di tempat lain untuk malam ini.
Selama perjalanan menuju restoran lain, Jingga terlihat melirik Arkana dengan tatapan kagum. Ini kali pertama Arkana bersikap sangat gentle padanya, meskipun semua yang di katakan Arkana tidak ada yang di mengerti namun dia yakin kalau barusan Arkana sudah mau untuk membelanya.
__ADS_1
“ Mas, aku nggak tahu kalau kamu bisa bahasa Spanyol.” Sahut Jingga.
“ Aku sekolah di SMA internasional dulu, ada beberapa bahasa yang ku pelajari dan salah satunya bahasa Spanyol.” Jelas Arkana yang baru di ketahui oleh Jingga.
“ Hebat ya kamu, aku bahkan nggak tahu barusan kamu ngomong apa aja.” Balas Jingga.
“ Kamu nggak usah tahu, intinya kamu harus lebih hati-hati lagi ke depannya. Banyak orang jahat yang mencuri kesempatan seperti mereka, jadi jangan lengah.” Lontar Arkana di balas anggukan pelan dari Jingga.
**
Setelah makan malam berdua selesai, Jingga pulang sendirian ke hotel karena Arkana ada urusan diluar. Padahal sudah sangat larut tapi Arkana masih memiliki urusan yang entah apa itu, dan Jingga pun kembali ke kamar sendirian.
Setibanya di kamar dia membuka pintu kamar itu dan mendapati ruangan yang gelap, Jingga mencari saklar lampu dan berhasil menyalakannya. Sebuah kejutan yang di sediakan oleh Arkana di dalam kamar itu baru saja membuat Jingga terkejut, banyak balon dan juga tulisan HAPPY BIRTHDAY yang sangat besar terpasang di dinding kamar hotel.
Di atas meja ada buket bunga mawar merah yang berjumlah 99 mawar, dan juga ada sebuah kotak kado yang menarik perhatian Jingga untuk segera membukanya.
“ Selamat ulang tahun, aku nggak tahu kamu suka apa jadi aku kasih kamu kejutan ini dan juga kalung yang aku pilih sendiri saat di Jakarta. Aku harap kamu suka, udah itu aja. Aku nggak tahu mau ngomong apa lagi, dan juga terima kasih karena sudah bawa aku ke tempat ini. “ ARKANA.
Jingga tertawa kecil membaca surat dari Arkana, dia tidak menyangka kalau Arkana akan memikirkan hal ini. Kejutan tak hanya sampai di situ saja, Jingga mendengar suara ledakan diluar sana yang terdengar seperti kembang api.
Ketika Jingga berjalan mendekati balkon, dia bisa melihat penampakan kembang api yang menghiasi langit malam. Dia tidak tahu ada hari besar apa hari ini dan kenapa ada pertunjukan kembang api yang sangat indah, di ulang tahunnya ini dia merasa sudah cukup senang atas apa yang terjadi hari ini.
“ Terima kasih mas.” Ucap Jingga tersenyum simpul.
__ADS_1
**
Perlahan namun pasti Jingga mulai membuka kedua matanya, dia tidak melihat keberadaan Arkana di sampingnya. Melihat suasana di kamar hotel masih tetap sama seperti semalam pun membuatnya yakin kalau semalam Arkana memang tidak pulang ke hotel.
Jingga mengecek ponselnya dan melihat ada pesan dari Arkana semalam, dia sangat lelah dan mengantuk semalam jadi dia tidur lebih awal. Adapun pesan dari Arkana menyebutkan bahwa dia menunggu Jingga hari ini di satu titik lokasi yang telah di kirim kepadanya.
“ Kenapa mas Arka nggak pulang semalam? Terus dia tidur dimana? Dan lagi, kenapa sekarang dia kirim titik lokasi sama aku.?”
Jingga kebingungan di buat oleh Arkana, padahal dia ingin mengucapkan terima kasih secara langsung pada pria itu. Dan karena Arkana sudah menyuruhnya untuk pergi, Jingga pun mulai bangkit dari tempat tidurnya dan segera bersiap-siap.
**
Jingga tiba di salah satu lokasi yang di kirim oleh Arkana, dia tidak sendirian sebab di temani oleh tour guide yang datang menjemput Jingga hari ini.
Jingga tidak melihat keberadaan Arkana di tempat itu, dan setelah di lihat-lihat ternyata tempat yang Arkana kirim adalah sebuah galeri yang menyimpan begitu banyak benda-benda langkah, ada juga lukisan dari pelukis terkenal, serta deretan pakaian artis-artis dunia yang di simpan disana.
“ Mas Arka mana sih?” Gumam Jingga berusaha mencarinya di sekitaran galeri.
“ Excuse me, you looks gorgeous with your dress. may I take a picture of you.?”
Belum selesai Jingga menjawab, tiba-tiba datang seseorang yang langsung merangkul Jingga dan berkata pada pria itu.
“ Mi esposo no es objeto que pueda ser tomado a voluntad por otros, por favor vete.” Ucap Arkana menatap pria itu dengan tatapan yang tak bersahabat.
“ Oh sorry.” Akhirnya pria itu pun pergi dari hadapan mereka.
“ Kamu ngomong apa sama dia.?” Tanya Jingga penasaran.
Arkana melepaskan rangkulannya dan berjalan mendahului Jingga, dia tidak mau menjawab apa yang di tanyakan Jingga dan menyuruh wanita itu untuk mengikutinya.
__ADS_1
Pria yang menjadi tour guide mereka baru saja mendekati Jingga dan sedikit berbisik di telinganya, dia menjelaskan arti dari apa yang di katakan oleh Arkana barusan.
“ Dia bilang, istriku bukan objek yang bisa di ambil sesuka hati oleh orang asing, dan dia menyuruh pria itu pergi.” Jelasnya sukses membuat Jingga tersipu malu.