
Besok, Arkana dan keluarga kecilnya akan berangkat ke Singapur. Dia telah memberitahu semua pihak keluarga dengan kepergiannya itu, sekarang dia dan Jingga tidak bisa menunda keberangkatan mereka lagi karena ada sesuatu yang cukup penting harus segera mereka lakukan disana.
Keadaan mama Widya juga sudah mulai berubah, semua berkat papa Hendra tentunya. Namun sampai saat itu Arkana dan mama Widya masih belum bertemu kembali. Kabarnya mama Widya masih belum siap menemui Arkana, dan Arkana pun tidak bisa memaksa untuk bertemu jika memang mamanya belum siap.
Semua barang-barang bawaan mereka sudah di kirim lebih awal, dan hanya beberapa saja yang nantinya akan mereka bawa ke Singapur. Semua itu mereka lakukan agar tidak repot saat perjalanan menuju ke Singapur.
Suara bel baru saja terdengar diluar sana, Arkana sedang menjaga Keenan karena dia membiarkan Jingga beristirahat setelah semalaman menjaga Keenan. Akhir-akhir ini Keenan memang sangat rewel, dia hanya ingin bersama Jingga saat malam hari, dan beruntung Keenan masih mau di jaga oleh Arkana di waktu siang.
Arkana menggendong Keenan sambil berjalan keluar untuk membuka pintu. Dengan satu tangan saja dia membuka pintu dan menyambut siapa yang datang.
Arkana terdiam di tempatnya selama beberapa saat, dia sangat terkejut ketika melihat yang datang ternyata adalah mama Widya dan papa Hendra. Keduanya bahkan datang tanpa memberitahu dulu sehingga membuat Arkana kaget bukan main.
Melihat mama Widya yang sudah datang menemuinya itu artinya beliau sudah mau untuk bertemu dengan Arkana, kemudian Arkana mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam.
“ Mama kamu mau bicara sama kamu, sini Keenan biar papa yang gendong.” Sahut papa Hendra segera mengambil Keenan dari Arkana.
Sekarang hanya ada Arkana dan mama Widya saja di ruang keluarga setelah papa Hendra mengajak Keenan ke tempat lain. Sejenak suasana di antara mereka berdua terasa begitu canggung, Arkana hanya menunduk sedangkan mama Widya bingung memikirkan kata-kata yang tepat untuk di sampaikan ke putranya itu.
“ Maafin mama.” Ucap mama Widya tanpa berani menatap Arkana.
Arkana sendiri langsung terkejut mendengarnya dan menatap mama Widya dengan tatapan tak percaya, kata-kata maaf akhirnya terlontar dari mulut mamanya sendiri. Sudah lama dia ingin mendengar hal itu, tapi kali ini rasanya sangat berbeda, entah mengapa terasa begitu menyakitkan.
“ Atas apa yang mama perbuat selama ini, mama menyesal, dan mama benar-benar minta maaf sama kamu Ar. “
“ Mama tahu, kamu pasti sudah membenci mama sejak dulu. Perbuatan mama ke kamu nggak bisa di maafin, dan rasanya kata maaf itu nggak cukup atas semua yang mama lakuin ke kamu.” Lanjut mama Widya sambil menangis tersedu-sedu.
Arkana pun tak tahan dengan emosinya saat ini, dia ikut menangis melihat mamanya menangis. Semua rasa sakit yang masih tersisa perlahan menghilang, nyatanya semua itu bisa sembuh setelah dia mendengar kata maaf dari mamanya sendiri.
__ADS_1
Arkana kemudian mengusap air matanya dan mencoba untuk tetap tenang, dia harus bersikap rasional untuk saat ini. Perlahan namun pasti dia mulai menatap mama Widya kembali, kemudian Arkana berdiri dari tempatnya dan menghampiri mama Widya.
“ Arkana juga minta maaf kalau selama ini nggak peka dengan kondisi mama, kita sama-sama salah dan di kuasai oleh emosi yang nggak stabil. Arkana udah maafin mama kok, bagaimana pun surge Arkana ada pada mama. Arkana akan selalu memaafkan kesalahan mama, terima kasih ya ma karena sudah datang untuk meminta maaf.” Ucap Arkana tepat di hadapan mama Widya.
Mama Widya langsung meraih putranya itu dan memeluknya dengan tangisan yang lebih pecah dari sebelumnya. Arkana balas memeluk mamanya dengan tangis yang tak kalah dari mama Widya.
**
Setelah saling memaafkan bersama dengan putranya, sekarang tiba saatnya mama Widya meminta maaf kepada Jingga atas apa yang dulu dia perbuat kepada wanita tak bersalah itu.
Jingga sudah bangun dari tidurnya dan dia juga sudah selesai mandi sebelum menemui mertuanya. Arkana menemani Jingga saat dia dan mama Widya menyelesaikan masalah antara mereka, sedangkan Keenan masih betah bersama kakeknya di dalam kamar.
“ Jingga, mama minta maaf sama kamu. Maafin mama karena sudah menjebak kamu selama ini, maafin mama karena telah merebut warisan orang tua kamu demi balas dendam tak berdasar, maafin mama karena telah menculik kamu dan memisahkan kamu dari Arkana, mama mengaku salah dan menyesal. Kamu mau kan maafin mama.?”
Tidak seperti Arkana yang terbawa suasana, Jingga terlihat lebih dewasa dalam menyikapi keadaan saat ini. Dengan senyum simpul Jingga menerima permintaan maaf mama Widya, dan dia juga datang memeluk mama Widya seperti yang di lakukan oleh Arkana.
“ Aku maafin semua kesalahan yang mama perbuat, aku juga minta maaf ya ma kalau ada salah.”
“ Kita baikan ya ma, di dunia ini aku udah nggak punya mama lagi. Jadi sekarang aku mau mama Widya menjadi mamaku juga.”
“ Iya sayang, kamu boleh menganggap mama sebagai mama kandung kamu juga.”
Jingga melepaskan pelukannya dan menarik tangan mama Widya ke dadanya. Jingga ingin mama Widya merasakan debaran jantungnya yang sekarang berdetak sangat tenang.
“ Bima pasti senang kalau dia tahu semua permasalahan terselesaikan dengan baik, mama bisa kembali melanjutkan kehidupan mama sebagai mama Widya yang baru.” Ucap Jingga lirih.
“ Mama janji, mama akan berubah menjadi lebih baik.” Balas mama Widya sambil tersenyum penuh bahagia.
**
__ADS_1
Kata apa yang dapat mendefiniskan rasa lega bercampur bahagia yang tak terkira? Kalau ada, biarlah kata itu yang menggambarkan perasaan Arkana dan Jingga saat ini.
Senyum keduanya tak kunjung luntur setelah kepulangan mama Widya dan papa Hendra hari ini. perasaan senang begitu menguasai mereka, sampai mereka terus bersyukur atas apa yang telah terjadi hari ini.
“ Akhirnya ya mas, mama bisa berubah dan permasalahan kita sudah selesai.” Kata Jingga yang duduk di sebelah Arkana.
“ Dengan begini kita bisa pergi ke Singapur tanpa ada masalah, janji kita ke Bima pun sudah selesai. Nggak ada lagi alasan kita untuk tetap tinggal disini.” Balas Arkana yang merangkul Jingga dengan lembut.
“ Aku nggak sabar memulai kehidupan baru bersama kamu dan Keenan nantinya, aku ingin melanjutkan cita-citaku menjadi seorang desainer dan kamu boleh bekerja menjadi dokter dan pemain bola lagi, dan Keenan yang bebas memilih jalan hidupnya jika dia beranjak dewasa nanti.”
“ Jingga.” Panggil Arkana dengan suara yang pelan.
“ Hmm.?” Jingga melirik suaminya dengan penasaran.
“ Terima kasih ya, sejak mengenalmu aku sadar ternyata masih ada yang bisa mensyukuriku dari banyaknya memori menyakitkan dari bagian masa laluku. Kamu mencoba membuatku merasa aman setiap berada di dekatmu, merasa terjaga di setiap harinya, dan merasa di cintai setiap waktu. Terima kasih karena telah mencintai laki-laki sepertiku.” Ungkap Arkana yang berhasil membuat Jingga terharu sampai akhirnya harus menangis mendengar kalimat barusan.
“ Kamu kok nangis.?” Arkana panik dan langsung meraih wajah Jingga dan menatapnya cemas.
“ Siapa yang nggak akan nangis kalau dengar kata-kata kamu barusan.?” Protes Jingga.
Arkana tersenyum senang yang kemudian menghujani wajah Jingga dengan ciuman mesra, Jingga tertawa geli dengan sikap Arkana sekarang yang barusan sangat romantis dan sekarang begitu agresif.
“ Aku minta jatah boleh kan.?” Bisik Arkana lirih.
“ Nanti aja.” Balas Jingga langsung memasang mode siaga.
“ Dosa loh kalau nolak ajakan suami, kamu tahu kan surga seorang istri ada di telapak kaki suami? “
“ Aku tahu kok mas, aku nggak nolak tapi nanti aja pas kita udah di Singapur.” Balas Jingga langsung memasang mode siaga satu.
__ADS_1
Arkana pun hanya bisa pasrah dan akhirnya menggantinya dengan memeluk istrinya dengan pelukan yang sangat erat.